
Hari-hari dilalui oleh Anjani dan Abimanyu, dengan belajar untuk mengerakkan kaki dan tangan. Meskipun Anjani sadar, jika mengajari suaminya itu lebih susah dari pada mengajari anaknya, Ara ataupun Nanda. Itu karena persendian otot Abimanyu, yang tentunya sudah tidak selentur milik anak-anak.
Tapi Anjani tetap sabar dan telaten. Meskipun hanya sedikit demi sedikit kemajuan yang dicapai oleh suaminya, Abimanyu, tapi itu sudah membuat Anjani merasa sangat senang.
"Maaf. Maafkan Aku Jani. Aku_aku cuma bisa merepotkan saja. Jika Kamu lelah, istirahatlah. Atau kalau Kamu ingin pergi, Aku tidak mencegahnya. Aku_aku sadar jika Aku tidak bisa melakukan apa-apa. Aku tidak mampu," kata Abimanyu pada suatu hari, saat dia gagal mengerakkan tangannya, untuk menyentuh rambutnya sendiri. Matanya berkaca-kaca, menahan air mata kecewa. Kecewa dengan keputusasaan yang dia rasakan sendiri.
Anjani mengeleng, dengan memeluk Abimanyu cepat. Dia tidak ingin melihat suaminya itu bersedih dan patah semangat.
"Mas. Jangan bilang seperti itu lagi. Jani tidak mau berpisah dengan mas Abi. Jangan usir Jani dari kehidupan mas Abi. Apapun yang terjadi, Jani akan ada di samping mas Abi," kata Anjani, sambil memeluk suaminya itu, yang dalam keadaan duduk di kursi roda.
"Tapi_tapi Aku tidak bisa melakukan apa-apa. Aku tidak bisa memberikan apa-apa lagi sekarang. Materi? Aku sudah tidak lagi bekerja kan? apalagi nafkah batin, Aku bergerak saja tidak mampu. Aku tidak berguna. Kenapa Aku tidak sama seperti koran kecelakaan yang kemarin. Meninggal dan tidak merepotkan orang lain!"
Abimanyu berteriak keras. Dia merasa kecewa dengan keadaan dirinya sendiri. Dia merasa tidak berguna sebagai seorang suami dan ayah.
Anjani terus memeluk suaminya itu. Doa berharap, Abimanyu sadar dan mengetahui bahwa semua orang yang ada di dekatnya, terutama dirinya, sangat membutuhkan dirinya, dalam keadaan apapun.
"Mas. Jangan bilang seperti itu lagi. Semua ini pasti ada hikmahnya. Mas Abi tahu, Jani sudah tidak punya siapa-siapa lagi di dunia ini. Hanya mas Abi dana Ara milik Anjani yang tersisa. Apa mas Abi tega, meninggalkan kami berdua? Hiks hiks hiks, jangan katakan itu lagi mas Abi. Hiks hiks hiks..."
Jani terus menangis. Dia merasa sangat sedih melihat keadaan suaminya yang sedang berada dalam keadaan seperti sekarang ini.
Mental Abimanyu, sedang berada dalam posisi dwon. Dia merasa putus asa, dalam keadaan yang tidak bisa melakukan apa-apa.
Abimanyu, akhirnya ikut menangis bersama dengan istrinya, Anjani. Dia, yang tidak ingin merepotkan istrinya itu, justru membuatnya merasa sedih.
"Sudah-sudah. Ma_maafkan Aku. Aku tidak bermaksud untuk membuatmu bersedih. Ak_aku tidak akan berkata seperti itu lagi," kata Abimanyu, mencoba untuk menenangkan hati istrinya, Anjani.
Anjani memeluk tubuh Abimanyu lebih erat lagi. Dia tidak ingin mendengar perkataan suaminya, sama seperti yang tadi dia katakan.
"Ma_maaf," kata Abimanyu lagi.
"Mas. Mas Abi tidak boleh putus asa. Mas Abi pasti bisa sembuh lagi. Kita harus tetap berusaha ya Mas. Jani tidak mau jika Mas Abi berkata seperti tadi. Demi Ara Mas, demi keutuhan keluarga kita."
Abimanyu mengangguk mengiyakan perkataan Anjani. Dia berjanji dalam hati, tidak akan pernah membuat Anjani menangis lagi, dengan perkataannya ataupun tingkahnya yang kekanak-kanakan.
__ADS_1
"Aku merasa kasihan padamu Jani. Tapi jika Kamu tidak mau pergi dari sisiku, Aku akan berusaha untuk kembali sehat dan tidak membuatmu bersedih lagi. Aku akan berusaha untuk bisa kembali normal dan mengingat semua tentang kita."
Abimanyu bertekad untuk bisa kembali normal lagi, karena tidak mau melihat Anjani menangis dan bersedih, hanya karena dirinya.
Untungnya, kejadian ini terjadi pada saat sepi, karena di rumah sedang tidak ada orang. Kedua orang tua mereka, sedang bekerja. Begitu juga dengan Sekar dan suaminya, Juna.
Sedangkan Ara dan Nanda, sedang di ajak baby sitter, bersama dengan bibi pembantu rumah satunya, untuk pergi bermain-main ke taman, yang ada di dekat rumah mereka ini.
Dan bibi pembantu yang satunya lagi, sedang berbelanja di tukang sayur yang baru saja berhenti di depan rumah.
Abimanyu jadi merasa lega, karena dia tidak harus menanggung malu, sebab tidak ada yang tahu, jika saat ini, mereka berdua saling berpelukan dalam keadaan menangis.
*****
Seminggu kemudian, jadwal penerbangan Yasmin dan kekasihnya tiba. Mereka berdua akan sampai di Jakarta sekitar pukul empat sore hari ini.
Ayah Edi dan ibu Sofie, sudah bersiap untuk berangkat ke bandara, menjemput Yasmin dan kekasihnya itu.
"Kamu beneran tidak ikut?" tanya ibu Sofie, pada anaknya, Sekar.
"Tidak Bu. Sekar di rumah saja. Bantu-bantu di rumah untuk menyambut Yasmin. Lagipula, kasihan Mbak Jani, kalau ikut repot-repot membantu bibi. Kan Mas Abi perlu perhatian khusus Bu," jawab Sekar memberikan alasan.
Akhirnya, yang menjemput Yasmin ke bandara hanya ayah Edi dan ibu Sofie, bersama dengan Nanda saja. Sedangkan yang lain, menuggu di rumah.
"Ara gak ikut?" tanya Nanda, saat dia masuk ke dalam mobil, dan tidak ada Ara di dalam.
"Ara di rumah Sayang. Kita kan mau jemput mamanya Nanda, mama Yasmin. Jadi, Nanda yang ikut ya," kata ibu Sofie, mencoba untuk membujuk cucunya itu.
Tapi, sepertinya Nanda tidak mau ikut ke Bandara, untuk menjemput mamanya, jika Ara tidak ikut bersama dengannya. Dia berontak dan ingin keluar dari dalam mobil.
"Eyang. Nanda di rumah saja kalau begitu. Nanda tidak mau meninggalkan Ara sendiri di rumah!" teriak Nanda dengan nada protes.
"Nanda," panggil eyang kakung nya, ayah Edi.
__ADS_1
"Tidak mau. Nanda tidak mau ikut!" Nanda kembali berteriak protes.
"Ya sudah Bu, biarkan saja."
Akhirnya, ayah Edi meminta kepada istrinya itu, untuk membiarkan Nanda keluar dari dalam mobil. Dia tidak mau memaksa cucunya itu, jika tidak mau ikut serta menjemput mamanya, Yasmin.
Ibu Sofie keluar dari dalam mobil lagi, untuk mengantar Nanda masuk ke dalam rumah.
"Lho Bu, kok balik lagi?" tanya Sekar, yang melihat ibunya masuk ke dalam rumah.
"Ini, Nanda tidak mau ikut jemput mamanya, kalau Ara juga tidak ikut," jawab ibu Sofie menjelaskan, kenapa dia balik ke dalam rumah lagi.
"Ya sudah Bu, biar Sekar yang jaga Nanda. Ibu berangkat sendiri sama ayah saja," kata Sekar memberikan jalan keluar.
Ibu Sofie akhirnya hanya mengangguk sambil menyerahkan Nanda pada Sekar.
"Ibu berangkat ya," kata ibu Sofie berpamitan pada anaknya, Sekar.
Sekar hanya mengangguk saja, kemudian mengajak Nanda ke halaman belakang.
"Ara ada di belakang sama ayah Abi. Dia menemani ayahnya, yang sedang latihan melempar bola."
Nanda dengan senang hati berjalan mengikuti langkah tantenya. Dia tidak mau, pergi-pergi, jika tidak ada Ara yang ikut bersama dengannya.
"Ara!"
Nanda memangil dan berlari menuju ke arah Ara.
"Lho, bukannya Kamu ikut eyang ke bandara Sayang? apa eyang kakung dan eyang putri belum berangkat?" tanya Anjani, yang tidak tahu, jika Nanda yang tidak mau ikut eyangnya.
Sekar, akhirnya menceritakan tentang kejadian tadi di depan. "Nanda gak mau ikut Mbak," kata Sekar, kemudian melanjutkan ceritanya lagi.
Anjani mengangguk mengerti. Dia tersenyum melihat ke dua anak-anak yang saat ini ikut bermain bola, bersama dengan suaminya, Abimanyu.
__ADS_1