
Ara merasa sangat senang, karena mendengar cerita bundanya. Yang memberitahukan bahwa, ayahnya setuju untuk membeli rumah yang dilihat tadi pagi.
..."Jadi, rumah itu ukurannya kecil Kak. Tapi memang tampak asri, khas pedesaan."...
..."Kelihatannya nyaman Bun, dari apa yang Ara dengar tadi."...
..."Iya Kak. Nyaman sekali. Tapi..."...
..."Tapi apa Bun?"...
..."Ayah... Ayah jadi tidak mau kembali ke Jakarta. Bunda khawatir Kak, dengan keadaan kalian di sana."...
Ara paham dengan maksud bundanya. Tentu saja, bundanya merasa khawatir dengan keadaan dirinya dan juga Anggi.
Meskipun sebenarnya dia sudah punya suami, dan tidak lagi menjadi tangung jawab ayah dan bundanya, tapi yang namanya orang tua akan tetap merasa jika anak-anak mereka masih kecil. Perlu di perhatikan dan di dampingi.
..."Ayah justru minta Anggi sekolah di Bogor saja Kak. Jadi, Anggi bisa pulang ke rumah, atau kost dekat sekolah. Tapi kan bisa sering pulang dari pada jika berada di Jakarta."...
Ara merasa dilema juga dengan keinginan ayahnya itu. Tapi...
..."Tapi Bun. Anggi justru ingin meneruskan sekolah di yayasan sekolah Ara dulu. Bagaimana?"...
Anjani tidak langsung menjawab pertanyaan dari anaknya. Dia juga bimbang dalam keadaan seperti ini. Ingin mengikuti kemauan suaminya, atau mengijinkan anaknya, Anggi, dengan cita-citanya saat ini.
..."Nanti kita bicarakan ini lagi. Di saat keadaan ayah baik-baik saja ya Kak."...
..."Iya Bun."...
..."Ya sudah. Kalian jaga diri dan kesehatan ya! Salam buat Anggi dan juga Awan."...
..."Ya Bun. Salam juga buat Ayah. Ara kangen Bun. Hiks..."...
..."Kak... Kakak akan tahu, bagaimana keadaan bunda dan Ayah, jika Kakak sudah punya anak nanti."...
..."Hiks... Bunda."...
..."Ya sudah. Jangan menangis Kak. Bunda jadi ikut nangis ini. Hehehe..."...
Klik!
Panggilan telpon tertutup. Ara menghela nafas panjang kemudian membuangnya perlahan-lahan.
Dia tahu, jika bundanya saat ini sedang menangis karena menahan diri dari rasa rindu, pada dirinya dan juga adiknya. Anggi.
Hal yang sama juga, dirasakan oleh Ara saat ini.
__ADS_1
Tapi dia juga tidak mau membuat ayahnya kecewa, dengan melarang ayahnya mewujudkan impian dan keinginannya di masa tuanya sekarang ini.
Ara hanya bisa berdoa, untuk semua harapannya. Agar kedua orang tuanya bisa tetap dalam keadaan sehat dan berumur panjang.
"Kita pulang sekarang?" tanya Awan, saat tiba di tempat Ara duduk.
Tadi, Awan pamit untuk pergi ke kamar kecil. Dan saat ini, mereka berdua masih ada di depan ruang observasi. Di mana Dika di rawat.
"Pak..."
"Itu dia sudah datang!"
Ara belum sempat menyelesaikan kalimatnya, yang ingin bertanya tentang pak supir. Tapi Awan keburu memotongnya. Dengan menunjuk ke arah datangnya pak supir, yang memang bertugas untuk menjaga Dika selama ini.
Tadi, pak Supir itu ijin pulang. Dia merasa kangen dengan istrinya yang sedang berada di rumah. Saat melihat kemesraan Awan dengan Ara tadi pagi.
"Maaf den Awan. Jadi den Awan dan mbak Ara yang nungguin di rumah sakit."
Orang tersebut meminta maaf, karena malah membuat Awan dan Ara menjaga Dika seharian ini. Padahal sebenarnya, dialah yang bertugas.
"Iya gak apa-apa. Sudah kan kangen nya?"
Awan justru bertanya hal yang tidak seharusnya. Tapi sebenarnya, itu hanya bertujuan untuk menggoda saja.
"Hehehe... den Awan bisa aja. Bapak kan jadi malu Den."
"Hehehe... den Awan bisa aja nih. Mentang-mentang sekarang ini udah punya bini. Gak kayak dulu lagi jaim nya."
Tapi Awan hanya menanggapi dengan senyuman miring. Kemudian bersiap untuk mengangkat tubuh Ara lagi.
"Eh, gak usah Kak! Ara bisa jalan sendiri."
Ara segera bangkit dari tempat duduknya, sebelum Awan benar-benar membopong tubuhnya lagi.
Pak Supir jadi terkikik sendiri, melihat Ara yang menolak dibopong Awan.
"Mbak Ara, tapi nanti malam jangan di tolak ya! Hehehe..."
Ara jadi merasa malu, dengan sindiran dari pak supir tersebut. Karena dia memang tidak mungkin bisa menolak permintaan dari suaminya, untuk urusan malam mereka nanti.
"Udah yuk! makin ngelantur nanti."
Awan menengahi pembicaraan mereka berdua, yang sudah menyerempet ke mana-mana.
Padahal sebenarnya, tadi dia duluan yang memulai pembicaraan ambigu ini.
__ADS_1
*****
Di rumah mama Amel.
Elang baru saja datang. Dia tidak langsung masuk ke dalam kamarnya. Tapi duduk di ruang tengah, yang kebetulan sedang ada mama dan papanya juga di sana.
"Ada apa Lang?" tanya mama Amel, menodong pertanyaan pada anaknya.
Tidak biasanya Elang duduk terlebih dahulu, di saat dirinya baru saja datang dari kantor. Karena biasanya, Elang akan langsung masuk ke dalam kamar. Untuk membersihkan dirinya terlebih dahulu.
Elang menghela nafas panjang terlebih dahulu, sebelum menjawab pertanyaan dari mama Amel.
"Ma, Pa. Bagaimana jika perusahaan yang ada di Amerika, diserahkan pada pemilik saham yang ada di sana saja?"
"Kasihan Awan dan Ara juga, jika harus berada di sana. Dalam keadaan Abimanyu yang sekarang ini."
Mama Amel dan papa Ryan, mengangguk-anggukkan kepalanya, mendengar perkataan yang disampaikan oleh Elang barusan.
"Mama juga berpikir hal yang sama Lang. Lagian ya, jika Ara hamil terus punya anak bagaimana? Mama gak bisa deket-deket gitu, sama cicit- cicit mama. Iya kan Pa?"
Mama Amel meminta dukungan dari suaminya. Dengan usulan dari Elang tadi.
Papa Ryan mengangguk setuju, dengan apa yang dikatakan oleh istrinya tadi. Apalagi, rumah ini juga sudah terlihat sepi sejak lama. Tidak ada tangisan bayi atau celoteh anak-anak. Yang bisa membuat rumah menjadi lebih ramai dan juga meriah.
"Ya sudah kalau begitu. Besok kita atur jadwal untuk pergi ke Amerika, untuk urusan serah terima jabatan di perusahaan yang ada di sana."
Akhirnya diputuskan oleh mereka bertiga, untuk segera mengurus semua urusan pekerjaan dan kepengurusan baru di perusahaan mereka yang ada di Amerika.
Mereka semua tentu tidak mau jika, Awan dan Ara pergi lagi ke Amerika. Karena dengan kepergian mereka berdua, mereka juga akan jauh-jauh dari anak dan cucu, serta cicit yang mereka dambakan.
Mama Amel dan papa Ryan, juga ingin menikmati masa tua mereka bersama dengan keluarga. Terutama bisa bermain dan bersenda gurau dengan cucu-cucunya nanti.
"Berarti kita tidak bisa ikut datang ke Bogor Ma," kata papa Ryan mengingatkan pada istrinya. Soal rencana mereka berdua untuk ikut bersama dengan Awan dan Ara saat pergi ke Bogor.
"Ya gak apa-apa Pa. Kita bisa datang kapan saja, setelah pulang dari amerika."
Elang pun mengangguk setuju. Dia juga tidak mau jika urusan ini tertunda-tunda.
"Kamu segera atur jadwal Kamu di kantor Lang. Jika bisa, lusa kita berangkatnya. Bagaimana?"
Elang terdiam sejenak, mendengar perkataan mamanya, yang memintanya untuk segera mengatur keberangkatan mereka.
"Nanti Elang tanyakan jadwal Elang di kantor. Sama sekertaris dulu ya Ma. Elang kan tidak bisa mengabaikan begitu saja dengan pekerjaan yang ada di sini juga."
"Ya-ya... itu pasti. Kamu atur aja bagaimana cara yang baik."
__ADS_1
Akhirnya, setelah pembicaraan mereka bertiga dirasa cukup. Elang pamit untuk pergi ke kamarnya. Dia ingin mandi terlebih dahulu, sebelum mereka makan malam.