Dia Milikku ( Berbagi Cinta )

Dia Milikku ( Berbagi Cinta )
Bukan Apa-apa


__ADS_3

Klinting!


Bunyi pintu toko kue, jika dibuka. Karena ada pengunjung yang datang. Dan ini membuat Awan sedikit terkejut saat bunyi itu tiba-tiba terdengar tepat di atas kepalanya.


"Eh, apa tadi?"


"Kakak. Itu!"


Ara menegur Awan, dengan menunjuk ke atas daun pintu. Di mana ada gantungan boneka khas Cina, yang biasa ada di pintu masuk toko-toko.


"Kaget Ra," ujar Awan, dengan memegang dadanya sendiri.


"Ih, ngelawak aja Kakak," sahut Ara, yang tahu jika, Awan juga tidak mungkin se_norak itu, jika ada di tempat yang tidak biasannya.


"Eh, gak apa-apa kan? orang kaget, buat diperhatikan juga."


Ternyata, Awan hanya ingin mendapatkan perhatian dari Ara. Dan tingkah konyol dan kekanak-kanakan nya, memang hanya ada di saat-saat tertentu. Jika sedang bersama dengan Ara saja.


"Ughhh... lucu banget!" sahut Ara, dengan bibir mengerucut. Meledek kelakuan tunangannya sendiri.


"Hai Kak Ara!"


Dari arah etalase kaca kue, muncul Ahmed yang memang sudah kenal dengan Ara.


"Hai Ahmed!" Ara pun menyapa balik teman dekat adiknya itu, yang saat ini juga menjadi murid dadakan bundanya.


"Dia... dia Ahmed. Yang tadi Kamu bilang jika pacarnya Anggi?" tanya Awan pada Ara, dan itu ada di depan Ahmed nya langsung.


Tentu saja, Ahmed jadi tersenyum malu-malu. Dia juga menundukkan kepalanya. Karena ternyata, di rumah Anggi, dia jadi bahan pembicaraan antara Anggi dan Ara.


Ara mengangguk mengiyakan pertanyaan yang diajukan oleh Awan.


"Kok masih bocil?" tanya Awan, yang tidak percaya jika, pengelola toko kue ini adalah Ahmed.


Karena menurut Awan, Ahmed itu tidak jauh beda dengan Miko, untuk umurnya.


Untungnya, perkataan yang diucapkan oleh Awan, tidak di mengerti oleh Ahmed. Yang tentunya tidak akan bisa mengartikan istilah bocil.


"Emang dia beberapa tahun di atas Anggi Kak."


"Kok udah jadi pengusaha?" tanya Awan lagi, dengan mengerutkan keningnya memikirkan apa yang sekarang ini ada dihadapannya.

__ADS_1


"Mari Kak. Silahkan duduk. Mau pesan kue apa?" tanya Ahmed, mempersilahkan dua pengunjung nya. Yang sedari tadi masih berdiri di depan etalase kue.


"Ayo Kak duduk di sana dulu. Nanti kita bahas ini lagi. Hehehe..."


Akhirnya, Ara dan Awan duduk di kursi-kursi yang memang disediakan untuk pengunjung. Yang ingin menikmati kue dan minuman di toko.


Ahmed juga mengikuti mereka. Dan dia sendiri yang melayani keduanya. Sehingga dia bertanya pada Ara, tentang pesanan yang ingin diminta. "Kakak mau pesan apa? Ini semua halal dan minuman-minuman di sini juga halal."


Ara dan Awan melihat-lihat buku menu yang diberikan oleh Ahmed.


"Brother. Kamu benar suka dengan Anggi. Adikku?" tanya Awan. Membiarkan Ara yang memilih sendiri apa yang dia inginkan.


Tentu saja Ahmed kaget. Dia tidak menyangka jika, akan mendapatkan pertanyaan seperti ini dari orang yang tidak dia kenali. Meskipun sepertinya, dekat dengan kakaknya Anggi, Ara.


'Apa dia yang katanya tunangan kak Ara ya? Kok aku gak pernah liat dia?' tanya Ahmed dalam hati.


"Kak. Kasihan itu dia. Masak di tanya langsung gitu? Anggi aja gak pernah tanya sama dia. Hehehe..."


'Sepertinya mereka berdua sedang memberitahu Aku, bagaimana seharusnya bersikap,' kata Ahmed dalam hatinya lagi.


Padahal, kedua orang yang ada di depannya saat ini sedang menggodanya.


"Ah, gak gitu Ahmed. Sorry. Ini hanya gurauan jenaka. Jangan di ambil hati ya!" ucap Ara, yang tidak mau jika Ahmed akan berpikir lain.


Setelah mencatat pesanan yang diinginkan oleh Ara, Ahmed pergi ke pantry dan memberikan pesanan tersebut pada Koki.


"Ini pesanan kak Ara. Kakaknya Anggi. Dia pasti terbiasa dengan makanan dan kue yang lezat buatan bundanya. Jadi, buatkan yang spesial ya! Jangan sampai mengecewakan."


Koki mengangguk mengiyakan permintaan dari Bos kecilnya itu.


Setelah selesai memberikan instruksi kepada Koki, Ahmed kembali ke tempat duduknya Ara dan Awan.


"Anggi tidak ikut Kak?" tanya Ahmed, yang tentunya ingin bertemu dengan pujaan hatinya.


"Huh kan. Yang ditanyai Anggi Kak," ucap Ara, sambil mempermainkan matanya. Di saat menyahuti pertanyaan yang diajukan oleh Ahmed.


"Dia ikut kondangan ayah bundanya."


Sekarang, giliran Awan yang menjawab pertanyaan tersebut. Yang tentunya tidak dimengerti oleh Ahmed.


Ara dan Awan tersenyum kecil, karena baru sadar jika, apa yang mereka berdua bicarakan ini, belum tentu dipahami oleh orang yang sedari mereka ajak bicara.

__ADS_1


Akhirnya, dengan pelan-pelan. Ara menjelaskan pada Ahmed, apa maksud dari kondangan.


Dengan mengangguk-anggukkan kepalanya, Ahmed akhirnya paham dengan maksud dari kata kondangan. Dan ini, bisa menambah kosa kata yang dia pelajari.


"Ra. Dia benar pacaran dengan Anggi?" tanya Awan, yang masih belum mengerti bagaimana sebenarnya hubungan yang dikatakan oleh Ara tadi.


"Gak sih Kak. Cuma... jika diperhatikan, Ahmed itu suka gitu deh," tutur Ara, memberitahu tentang apa yang dia lihat.


"Tapi Anggi bagaimana?" tanya Awan, yang ternyata ingin tahu juga, bagaimana kisah cinta anak-anak kecil seperti Anggi.


"Ya... jika Ara ledekin cengar-cengir aja sih. Kadang ya ngambek-ngambek gak jelas gitu sama Ara."


Awan hanya mengangguk-anggukan kepalanya saja. Tapi beberapa detik kemudian, dia bertanya pada Ara lagi. "Kamu kayak gitu juga gak dulu pas jatuh cinta pada Kakak?"


Sekarang, Ara yang tidak bisa menjawab pertanyaan tersebut. Dia mengunci mulutnya, dengan menggigit bibirnya sendiri.


"Hahaha..."


Awan tertawa senang, karena melihat Ara yang tak bisa menjawab pertanyaannya. Ara juga tidak bisa berkutik, mendapat pertanyaan tersebut.


*****


Seminggu kemudian. Di rumah sakit kepolisian tempat Clarissa di rawat.


Kondisi Clarissa, yang sudah tidak berdaya akhirnya drop. Tubuhnya tidak kuat lagi, menahan sakit yang dia alami sebulan ini.


Alat bantu yang dipasang di tubuhnya, sudah tidak berfungsi lagi dengan baik.


Tim dokter sudah melakukan segala cara, agar bisa menyelamatkan dirinya. Tapi ternyata nasib berkata lain.


Pada akhirnya, tim dokter angkat tangan. Mereka semua, tidak bisa melakukan apa-apa lagi. Dengan sangat terpaksa, akhirnya mereka melepaskan semua peralatan, yang digunakan untuk menopang kehidupan pasien selama sebulan terakhir ini.


Setelah itu, pihak rumah sakit menghubungi kepolisian untuk memberikan laporan tentang keadaan pasien. Yang merupakan tahanan di tempat mereka.


Mereka juga menghubungi wali, yang bertanggung jawab atas pasien.


Tentu saja, berita ini membuat manager kaget. Dia pun akhirnya meminta ijin untuk bisa pergi ke rumah sakit. Melihat keadaan anaknya yang sudah pergi meninggalkan dirinya terlebih dahulu.


Abimanyu dan Awan, tentu saja memberikan ijin pada managernya itu. Bahkan, mereka berdua juga ikut pergi ke sana.


"Kita ikut ke rumah sakit Wan. Hubungi pihak pengacara juga."

__ADS_1


Awan mengangguk mengiyakan permintaan dari Abimanyu. Mereka berdua, segera pergi. Setelah memberikan beberapa instruksi kepada asistennya, yang ada di ruangan sebelah.


__ADS_2