Dia Milikku ( Berbagi Cinta )

Dia Milikku ( Berbagi Cinta )
Satu Keberuntungan


__ADS_3

Abimanyu belum sadar dari pingsannya. Dia masih berada di ruang IDG. Sedangkan anggota keluarga yang lain, masih menunggunya di luar ruangan.


Anjani, dipeluk oleh Yasmin dan Sekar. Ibu Sofie, menangis dan dipeluk juga oleh suaminya, ayah Edi.


Sedangkan suami Sekar, Juna, bersama dengan Aksa, sedang keluar membeli minuman untuk semua orang.


Clek!


Pintu ruang IDG terbuka. Ada salah satu dokter yang, tadi ikut menangani Abimanyu, keluar dari dalam ruangan tersebut.


"Keluarga bapak Abimanyu?" tanya dokter tersebut, pada ayah Edi, atau pada yang lainnya.


"Ya, Saya ayahnya."


"Ya Dok. Saya istrinya."


Ayah Edi dan Anjani, sama-sama berdiri dan mendekat ke tempat dokter tersebut berdiri, di depan pintu IGD.


Mereka berdua, juga menjawab pertanyaan dari dokter tersebut secara bersamaan. Ini membuat dokter tadi tersenyum tipis, karena kedua keluarga pasiennya, tampak sangat peduli dengan pasiennya tadi.


"Ehem!"


Dokter tersebut berdehem terlebih dahulu, sebelum melanjutkan kata-katanya, yang tadi belum juga dia katakan.


"Begini Bu, Pak. Pasien sudah sadar, tapi dia masih pusing dan karena kami beri obat penenang, akhirnya dia tertidur lagi. Jadi saat ini pasien sudah tidak dalam keadaan pingsan. Sebenarnya, dia tidak kenapa-napa. Tapi menurut keterangan yang diberikan tadi, sepertinya pasien sedang dalam keadaan mengingat sesuatu. Mungkin, hal yang membekas di hati atau pikiran bawah sadar. Makanya, saat dia amnesia pun, dia seakan-akan mengenal seseorang, atau teringat dengan suatu peristiwa yang terjadi dulu. Semoga, ini pertanda awal yang baik. Dan pasien, bisa ingat semuanya, tentang masa lalunya yang tidak dia ingat saat ini."


Dokter memberikan penjelasan kepada Anjani dan juga ayah Edi, yang sama-sama berdiri dan mendekat ke arahnya.


Anjani, menangis karena merasa haru. Dia juga merasa bahagia, karena Abimanyu, sudah siuman dan tidak kenapa-kenapa. Bahkan, ada kemungkinan besar, jika Abimanyu bisa mengingat semua tentang dirinya dan juga keluarganya. Meskipun itu berasal dari sisi buruk adiknya sendiri, Yasmin, yang tadi baru saja datang dari luar negeri, Taiwan. Dan itu membuat Abimanyu, ingat dan akhirnya pingsan, karena dirinya yang berpikir dengan keras, untuk mengingat semua hal tentang semua kelakuan adiknya itu, yang selalu membuatnya harus banyak berurusan dengan polisi dan juga yang lain.


Anjani berjalan menuju ke arah tempat duduknya Yasmin. Dia memeluk adik iparnya itu, dengan rasa terima kasih, yang tidak mampu dia katakan.

__ADS_1


"Mbak," panggil Yasmin, yang ikut memeluk Anjani juga.


"Hiks hiks hiks... terima kasih Yasmin. Kepulanganmu ini, membawa ingatan mas mu. Semoga, tidak hanya sekedar keburukan saja yang dia ingat. Tapi semua hal yang sudah dia lupakan selama ini. Aku tidak ingin, dia menyimpan dendam untukmu. Tapi, Kamu jangan benci mas mu ya! Dia sebenarnya sangat menyayangi dirimu. Dia hanya tidak mau mengatakannya saja, karena tidak ingin Kamu terus menerus manja dan tidak berpikir secara dewasa. Itu pernah dia katakan pada Mbak sendiri Yasmin."


Yasmin, ikut menangis bersama dengan kakak iparnya, Anjani. Dia merasa sangat menyesal karena telah banyak melakukan hal buruk, dan itu membuat banyak orang kesusahan.


Dia juga sadar, jika semua anggota keluarganya, sangat menyayangi dirinya hingga mereka harus melakukan berbagai macam cara, untuk bisa membuatnya berubah. Hanya dirinya saja yang tidak cepat menyadari semua itu.


Dan kini, dia bertekad untuk bisa berubah dan menjadi dewasa. Dia tidak mau lagi membuat keluarganya jadi kesusahan, karena ulahnya yang tidak panjang akal dan juga kekanak-kanakan.


*****


..."Bawa Adhisti ke Jakarta Lang, biar dia mendapatkan penanganan rehabilitasi yang lebih baik."...


Mama Amel, yang sedang berada di Jakarta, menghubungi anaknya, Elang, saat diberi kabar oleh anaknya itu.


Dia menyarankan agar, Adhisti di bawa pulang ke Jakarta saja, dan dirawat di panti rehabilitasi yang lebih baik.


Mama Amel, menghela nafas panjang, saat mendengar jawaban dari anaknya, Elang Samudra. Dia tahu, jika anak anaknya itu, tidak pernah mendengar perkataannya sedari dulu. Elang, akan mempunyai pemikiran dan pendapatnya sendiri. Dan itu, akan dia jalankan meskipun dirinya sudah melarang.


..."Ya sudah. Kalau Kamu berkonsentrasi pada kesembuhan Adhisti, dan juga usaha Kamu, biar Awan ke Jakarta saja. Kasihan dia Lang, kalau kalian tidak ada yang memperhatikan bagaimana perkembangannya dengan intens. Dia kan juga butuh perhatian dan pendidikan. Jika kalian sudah bisa kembali dalam keadaan membaik, Kalian bisa ambil Awan lagi. Mama hanya kasihan dengan Awan Lang."...


..."Iya Ma. Nanti Elang pikiran dulu ya."...


Sambungan telpon tertutup. Elang tidak lagi membicarakan tentang usahanya yang terancam bangkrut karena kehabisan modal. Dia merasa malu, dan tidak ingin merepotkan mamanya lagi. Dia ingin benar-benar bisa bangkit, dari usahanya sendiri untuk kali ini.


Elang merasa, jika selama ini sudah terlalu banyak merepotkan mamanya, dalam segala hal. Padahal, dia selalu tidak melakukan semua yang dikatakan mamanya. Dia sering membantah, dan semuanya sendiri.


"Maafkan Elang ma. Elang tidak bisa jadi anak yang berbakti dan selalu membantah pendapat mama. Mungkin, ini semua adalah teguran dari Tuhan, karena tingkah lakuku sendiri. Maafkan Elang ma." Elang berkata dengan penuh rasa penyesalan. Namun semua itu hanya bisa dia katakan dalam hatinya sendiri.


Akhirnya, Elang banyak berpikir tentang semua yang sudah dikatakan oleh mamanya. Dia pikir, jika apa yang dikatakan oleh mamanya tadi, ada banyak benarnya.

__ADS_1


"Sebaiknya, yang Aku bawa pulang ke Jakarta itu Adhisti atau Awan ya?" tanya Elang pada dirinya sendiri.


Dia jadi berperang melawan pemikirannya sendiri. Dia belum bisa memutuskan, apa yang harus dia lakukan untuk saran mamanya tadi.


Kring kring kring!


Kring kring kring...!


Handphone milik Elang berbunyi. Dia, langsung melihat ke arah layar handphone, untuk mengetahui siapa yang sedang menghubungi dirinya saat ini.


"Dari panti rehabilitasi. Ada apa ya?"


Elang merasa penasaran dengan telpon yang baru saja masuk. Bukan karena apa, ini karena tadi, Elang baru saja datang dari sana, panti rehabilitasi Adhisti.


Kring kring kring...!


Kali ini, deringnya semakin terdengar keras dan juga lama.


..."Ya halo!"...


..."Tuan Elang Samudra?"...


..."Iya, Saya sendiri. Ada apa ya? apa ini terkait dengan istri Saya? Tapi, Saya baru saja datang dari sana, kenapa tidak sekalian tadi?"...


..."Maaf Pak. Ini juga baru kami ketahui. Sebaiknya, bapak datang lagi saat ini juga ke panti."...


..."Lho, ada apa?"...


..."Silahkan datang saja Pak. Nanti akan di jelaskan di panti."...


Dengan rasa penasaran yang tinggi, Elang akhirnya ikut saran dari petugas panti, yang baru saja menghubungi dirinya. Dia tidak tahu, apa yang sebenarnya terjadi dengan istrinya, Adhisti.

__ADS_1


__ADS_2