Dia Milikku ( Berbagi Cinta )

Dia Milikku ( Berbagi Cinta )
Pertanyaan Yang Datang


__ADS_3

Kebingungan yang dialami oleh Anjani, dengan telpon dari suaminya tadi, belum terjawab hingga menjelang siang.


Dia hanya mematuhi permintaan dari Abimanyu, agar tidak pergi ke mana-mana. Anjani, diminta Abimanyu, untuk tetap berada di rumah sampai dirinya pulang.


Anjani tidak tahu, apa yang sebenarnya terjadi pada suaminya itu, karena saat menelpon tadi nada suara dan perkataan suaminya itu, tidak seperti Abimanyu yang dia kenal.


Ada nada marah, kesal, kecewa dan entah apa lagi yang Anjani sendiri tidak tahu.


Saat ini, Anjani menunggu kedatangan Abimanyu yang berkata, jika masih ada di perjalanan menuju pulang ke rumah.


Akhirnya, Anjani menidurkan anaknya, Ara, terlebih dahulu. Baby sitter Ara, sedang membantu bibi pembantu rumah, menyetrika baju-baju milik Ara.


Sambil menidurkan anaknya, Anjani bergumam, "apa Yasmin sudah ketemu? tapi kenapa mas Abi terdengar marah tadi, saat bertanya padaku?" Anjani tidak memiliki pemikiran yang lain, tentang suaminya tadi.


Dia hanya ingin tahu, apa yang sebenarnya terjadi pada Yasmin dan juga Nanda. Kalau sudah ketemu, Anjani tentu ikut merasa senang. Tapi, jika mereka berdua belum juga ditemukan dan membuat Abimanyu kesal dan marah-marah, mungkin bisa jadi, itulah sebabnya mengapa tadi Abimanyu kehilangan kontrol emosi.


Tin tin!


Tin tin!


Klakson mobil terdengar dari luar. Dibunyikan dengan cara yang tidak seperti biasanya.


Anjani bergegas turun dari tempat tidur Ara, dan keluar dari kamar, untuk menyambut kedatangan suaminya.


"Mas," sapa Anjani pada suaminya, Abimanyu, saat Abimanyu sudah masuk ke dalam rumah.


"Anjani, apa yang Kamu lakukan di belakangku?" tanya Abimanyu dengan cepat, tanpa menghiraukan sapaan isterinya, dan tidak ada basa basi seperti biasa.


Padahal biasanya, Abimanyu akan mencium kening istrinya, Anjani, saat dia berangkat dan pulang dari bekerja.


Tapi, kali ini dia tidak melakukannya. Bahkan, saat tangannya akan disambut oleh Anjani, dia menyembunyikan tangannya itu ke dalam saku celana.


Tentu saja, hal ini membuat Anjani merasa kaget. Apalagi saat mendengar pertanyaan dari suaminya sendiri, yang tidak biasa. Hal yang tidak seharusnya dia tanyakan.


Anjani tidak pernah melihat keadaan Abimanyu yang sedang marah seperti ini. Dia hanya sekali, melihat keadaan suaminya itu marah, dan menampar pipi adiknya, Yasmin, sebelum mereka berdua pindah ke rumah ini.

__ADS_1


"Anjani, jawab!" bentak Abimanyu, karena melihat Anjani hanya diam mematung.


Anjani bukan tidak mau menjawab. Tapi dia bingung, dengan pertanyaan yang diajukan oleh suaminya tadi. Dia tidak mengerti, apa yang sebenarnya dimaksud dengan 'belakang' tadi.


"Mas. Maksudnya apa ya?" tanya Anjani memastikan. Dia masih merasa bingung, dan tidak tahu apa-apa.


"Apa yang Kamu lakukan di belakangku? apa itu kurang jelas?"


Abimanyu, kembali bertanya pada Anjani, dengan pertanyaan yang sama seperti yang diajukan tadi.


"Tapi, Jani benar-benar tidak mengerti, apa maksud pertanyaan mas Abi," jawab Anjani, dengan wajah bingungnya.


"Jangan pura-pura polos Kamu!"


Tiba-tiba, Abimanyu membentaknya. Jani tentu saja kaget. Dia tidak menyangka jika Abimanyu bisa berubah sikapnya, dalam waktu singkat seperti ini.


"Mas. Jani benar-benar tidak tahu, apa maksud dari pertanyaan mas Abi ini. Dan kenapa mas Abi tiba-tiba bertanya hal yang tidak biasa. Jani tidak pergi kemana-mana. Jani, juga tidak pergi main dengan orang lain. Lalu, apa yang membuat mas Abi jadi bertanya seperti itu pada Jani?"


Anjani tidak habis pikir, kenapa tiba-tiba suaminya itu, berubah. Bahkan, panggilannya terhadap Anjani, istri yang dia cintai dan sayangi, juga berubah.


Duarrr!


Duarrr!


Bagaikan ada petir yang menyambar-nyambar Anjani, padahal ini musim kemarau, dengan suhu panas, yang bisa membakar setiap orang yang sedang 'tidak baik-baik' saja.


"Mas Abi. Apa maksud Kamu Mas?"


Anjani, menuntut penjelasan kepada Abimanyu, dengan semua pertanyaan dan pernyataan yang dia katakan tadi.


"Kamu ternyata tidak sama seperti yang terlihat. Aku sungguh menyesal, karena selalu mendahulukan dirimu, dari pada keluargaku sendiri."


Anjani semakin bingung. Dia tidak tahu apa-apa tentang semua yang terjadi pada suaminya, sebelum pulang ke rumah.


"Jika mas Abi tidak menjelaskan kepada Jani, Jani benar-benar tidak tahu, apa kesalahan Jani. Apa yang sebenarnya terjadi Mas. Katakan saja."

__ADS_1


Anjani mendesak suaminya itu, untuk menjelaskan tentang pertanyaan-pertanyaan yang dia ajukan padanya.


"Siapa papanya Ara?" -


Akhirnya, Abimanyu bertanya pada Anjani, dengan pertanyaan yang lebih jelas, agar Anjani segera berpikir dan memberikan sebuah jawaban, yang sebenarnya tidak ingin dia dengar juga.


"Maksudnya apa sih Mas? Papanya Ara, tentu mas Abi sendiri."


Anjani terkejut, dan langsung mengeleng kan kepalanya berkali-kali. Dia tidak menyangka, jika Abimanyu, meragukan Ara, sebagai anak kandungnya sendiri


"Munafik. Ternyata, Kamu lebih buruk dari Yasmin." Abimanyu, mengatai Anjani, dengan perkataan yang kasar, meskipun tidak sedang memaki.


Tapi, karena Abimanyu tetap tidak mau mengatakan apa-apa tentang semua tuduhannya yang tadi, Yasmin akhirnya mencoba untuk menenangkan hati suaminya itu, dengan menyuguhkan minuman teh hijau hangat, supaya Abimanyu bisa lebih tenang dan tidak lagi dalam keadaan marah.


"Jika Kamu ingin pulang ke Bogor, pulang saja ke rumah Kamu sana sendiri. Aku tidak mau ikut. Dan tidak lama lagi, jika semua terbukti benar, Aku akan memberikan kesempatan padamu, untuk menipuku untuk kedua kalinya "


Kembali Abimanyu mengatakan hal yang tidak pernah diketahui oleh Anjani. Dia merasa tidak pernah melakukan hubungan dengan orang lain. Kenapa tiba-tiba suaminya itu, menuduhnya sebagai seorang yang menipu, bahkan Ara ikut serta dalam masalah ini.


"Mas. Jani tidak tahu apa maksud Mas Abi. Tolong jelaskan Mas," kata Anjani dengan pelan. Dia masih berusaha untuk bisa melunakkan hati suaminya yang sedang marah seperti kesetanan.


"Aku tidak mau bicara sekarang. Aku akan menunggu dirimu di pengadilan agama, jika apa yang baru saja tadi Aku ketahui, terbukti benar."


Anjani semakin bingung. Dia merasa sangat takut, jika Abimanyu jadi semakin salah paham, jika dia tidak segera menjelaskan tentang keadaan yang sebenarnya terjadi.


Tapi sayangnya, Anjani tidak tahu duduk persoalan yang sebenarnya terjadi.


"Kamu pernah 'main ranjang' dengan siapa, untuk bisa 'menghasilkan' Ara?" tanya Abimanyu dengan wajah merah padam karena marah.


"Mas. Jani tidak pernah melakukan hubungan intim dengan siapa pun. Kenapa mas Abi tega menuduh Anjani seperti ini? hiks hiks hiks..."


Anjani menangis, karena tuduhan dari suaminya sendiri, yang tidak memberikan kesempatan kepadanya untuk mendapatkan jawaban dari pertanyaan-pertanyaan yang dia ajukan padanya.


"Apa Aku salah jika bertanya? Mas Abi sudah menuduh ku, dan Aku tidak punya kesempatan, untuk bisa tahu, apa permasalahan yang sebenarnya.


"Kamu tidak perlu repot-repot untuk tahu. Aku akan menyelidiki siapa sebenarnya papanya Ara," jawab Abimanyu, tanpa menghiraukan perasaan istrinya, Anjani yang sangat dia cintai.

__ADS_1


__ADS_2