
Nanda tiba di rumah sakit, pada saat Awan mengurus administrasi yang diperlukan untuk mendapatkan ruang rawat inap untuk Wawan, dan juga istrinya.
Karena ternyata bukan hanya ada Wawan saja yang ada di IGD. Selain ada banyak sekali korban, ada Mami juga. Yang ikut dalam kecelakaan tersebut. Karena sebenarnya, Wawan memang bermaksud untuk membawa istrinya itu, untuk berobat ke rumah sakit.
"Kak Awan!"
Nanda memangil Awan, yang baru saja selesai dan keluar dari dalam ruangan administrasi.
"Hai. Gak ngebut kan tadi?" tanya Wawan, begitu Nanda tiba di depannya.
"Eghhh, bagaimana papa Wawan Kak?" tanya Nanda, yang merasa sangat khawatir dengan keadaan papanya. Sehingga dia tidak menjawab pertanyaan dari Awan tadi.
"Ya gak apa-apa kok. Tadi sudah ditangani oleh dokter, dan Aku udah pesan kamar rawat inap. Tapi Aku juga minta untuk dijadikan satu bersama dengan Mami. Istrinya om Wawan."
"Mami? Maksudnya, Mami ikut dalam kecelakaan itu juga?"
Awan mengangguk mengiyakan pertanyaan yang diajukan oleh Nanda.
"Lebih baik kita lihat ke IGD yuk. Nanti kita bisa bicara banyak setelah selesai dan ada di ruangan inap aja!"
Nanda pun mengiyakan ajakan Awan. Dia juga sudah tidak sabar, ingin melihat keadaan papanya dan Mami juga. Karena hanya Mami juga, yang selama ini sudah mau menerima keadaan papanya. Yang memang seperti itu watak dan karakter orangnya.
"Ayah Abi bagaimana Kak?"
Nanda bertanya tentang keadaan Abimanyu pada Awan, di saat mereka berdua berjalan beriringan menuju ke arah ruang IGD.
"Tadi pas Aku tinggal ke sini, ayah masih ditangani oleh dokter."
Akhirnya, mereka berdua tidak lagi berbincang. Karena mereka berdua sudah sampai di ruangan IGD. Di mana Wawan dan Mami, siap untuk dipindahkan ke ruang rawat inap umum.
"Papa," sapa Nanda, pada saat melihat keberadaan Wawan.
"Nanda."
Wawan pun tersenyum senang, melihat kedatangan anaknya.
Tadi, dia sudah sempat berbicara dengan Awan. Jadi dia memang sudah tahu jika, Nanda akan datang ke rumah sakit ini. Wawan juga meminta bantuan pada Awan, untuk mengurus segala sesuatunya untuk bisa mendapatkan ruang rawat inap umum. Tapi bisa jadi satu dengan Mami.
"Kita bicara nanti saja Nda. IGD sedang ramai."
Nanda mengangguk mengiyakan perkataan yang diucapkan oleh Awan. Karena situasi IGD memang sedang dalam keadaan sibuk. Akibat kedatangan para korban kecelakaan beruntun tadi.
"Aku ke tempat ayah Abi dulu ya! Biar Ara dan bunda juga gak merasa khawatir," pamit Awan, di saat Wawan dan Mami akan dipindahkan ke ruang inap.
"Nanti kami menyusul ke kamar inap."
"Iya Kak. Terima kasih banyak ya Kak."
Awan hanya mengangguk saja, kemudian berlalu menuju ke arah Abimanyu sedang melakukan pemeriksaan.
__ADS_1
Tak lama kemudian.
"Bagaimana Kak dengan om Wawan?"
Ara langsung bertanya, saat melihat kedatangan suaminya.
Dia dan bundanya, bersama dengan Anggi, sudah merasa khawatir. Jika terjadi sesuatu pada papanya Nanda itu.
"Alhamdulillah gak apa-apa kok. Cuma beberapa luka ringan. Tapi tetap diminta untuk istirahat dulu. Justru Mami yang lemes banget. Soalnya, dia memang dalam keadaan sakit saat kecelakaan itu terjadi."
"Mami? Mami ikut kecelakaan juga?" tanya Ara kaget.
"Iya. Nanti kita jenguk mereka di ruangan. Setelah ayah selesai."
Baru saja Awan selesai bicara, Abimanyu tampak keluar dari ruangan dokter spesialis tulang.
"Ada apa?" tanya Abimanyu, yang melihat keluarga berwajah cemas semua.
"Ayah tidak apa-apa ini," ujar Abimanyu, sebelum ada yang menjawab pertanyaannya tadi.
"Wawan sama Mami kecelakaan Yah. Sekarang mereka berdua ada di rumah sakit ini juga. Sudah ada di ruangan inap."
Abimanyu terkejut juga, mendengar penjelasan yang diberikan oleh istrinya.
"Oh, ya sudah ayo kita ke sana!" ajak Abimanyu, pada istri dan anak-anaknya. Dia ingin melihat keadaan mantan adik iparnya. Wawan.
*****
Kecelakaan lalu lintas di awali dengan mobil Mercedes Benz, dengan mobil sport mewah yang dikendarai oleh anak muda.
Karena keadaan jalan yang sedang ramai, kecelakaan tersebut akhirnya mengenai mobil-mobil dan pengendara sepeda motor yang ada disekitarnya. Karena jalan tersebut juga jalanan umum yang memang ramai.
Wawan yang sedang dalam keadaan cemas karena melihat keadaan Mami yang lemas dan suhu badannya sangat panas, tidak sempat menghindar dari tabrakan tersebut.
Mobil pick up yang dia kendarai, ada di belakang Mercedes Benz, yang sedang dalam keadaan menyalip mini bus didepannya. Karena itulah, dia dan Mami juga menjadi korban kecelakaan beruntun tadi.
Tapi untungnya, mereka berdua tidak terlalu parah. Sama seperti korban kecelakaan yang lain.
Wawan tersenyum tipis, setelah selesai menceritakan tentang kronologi kejadian yang terjadi. Dia pun melihat ke arah Mami, yang berbaring dalam keadaan tertidur pulas. Akibat obat yang diberikan oleh dokter.
"Aku sangat bersyukur karena masih bisa selamat dari kecelakaan maut itu. Mami juga tidak begitu banyak lukanya." Wawan menutup ceritanya.
Abimanyu, Anjani dan kedua anaknya, juga ikut mengucapkan syukur. Karena Wawan dan istrinya masih bisa selamat.
"Oh ya kak Awan. Terima kasih atas semua bantuan Kakak ini."
"Iya Nda. Sama-sama. Kebetulan saja ini. Aku juga bersyukur, karena ayah Abi akhirnya mau menjalani pemeriksaan dan pengobatan ini."
Awan dan Nanda memang berbincang sendiri, dan tidak ikut dalam pembicaraan papanya dengan Abimanyu.
__ADS_1
Tak lama setelah itu, keluarga Abimanyu pamit untuk pulang terlebih dahulu.
"Kamu perlu teman gak Nda? Buat nungguin papa Kamu ini?" tanya Abimanyu, di saat berpamitan.
"Eh, gak usah Yah. Nanda bisa kok sendiri."
"Yakin?"
"Iya Yah."
"Ah boong tuh kak Nanda Yah!" Anggi menyahut.
"Lho, kok boong Dek?" tanya Abimanyu cepat. Sedang Nanda, hanya tersenyum canggung, karena merasa jika Anggi sedang ingin mengolok-olok dirinya.
"Iyalah boong. Sebentar lagi juga, pastinya kak Mita datang ke sini. Wekkk!"
"Eh, hehehe..."
Nanda terkekeh sendiri, karena dugaannya tadi memang benar.
"Ah Kamu Dek. Buka kartu kak Nanda aja!" ucap Ara, sambil mencubit lengan adiknya gemas.
Yang lain jadi ikut tertawa-tawa, dengan gurauan receh Anggi yang tidak tahu tempat.
*****
Di rumah Abimanyu.
Malam ini, Ara dan Awan sedang bersiap-siap berkunjung ke rumah mama Amel. Karena omanya itu, sudah rewel minta disambangi kedua cucunya. Awan dan Ara
"Kalian berdua hati-hati ya! ingat Wan. Jangan ngebut!"
"Iya Bun," jawab Awan, atas nasehat yang diberikan oleh bunda Anjani.
"Kak. Jangan lama-lama di rumah Oma Amel ya!"
"Bekum juga berangkat Dek," ujar Ara protes, dengan apa yang dikatakan oleh adiknya barusan.
Anjani membawakan kue-kue yang dia buat untuk buah tangan anaknya, pergi ke rumah mertuanya. Padahal Awan sudah melarangnya.
"Gak apa-apa Wan. Ini kue juga kesukaan Oma dan opa kamu kok."
"Kesukaan ayah Elang juga gak Bun?"
"Hahaha... iya. Bunda Kamu itu juga tahu, makanan dan kue apa yang disukai ayah kamu Wan." Abimanyu justru menyahuti pertanyaan Awan pada Anjani. Dengan tertawa senang.
Dia tidak ada rasa was-was ataupun cemburu. Karena semua itu tidak perlu dirisaukan lagi.
Abimanyu sudah membuktikan bahwa, cinta dan kasih sayang Anjani hanya untuk dirinya. Sebagai seorang suami.
__ADS_1