Dia Milikku ( Berbagi Cinta )

Dia Milikku ( Berbagi Cinta )
Kedatangan Yasmin


__ADS_3

Seminggu kemudian, Yasmin benar-benar pulang. Penerbangannya dijadwalkan akan tiba di bandara internasional sekitar pukul setengah empat sore.


Ayah Edi dan ibu Sofie, sedang bersiap-siap untuk menjemput Yasmin. Sekar juga ikut, karena ini adalah hari minggu, jadi semua sedang libur kerja.


"Ayo Bu, nanti kita terlambat. Takutnya, jalan macet."


Ayah Edi, meminta pada istrinya untuk lebih cepat saat berdandan.


"Iya-iya Yah. Ini tinggal lipstik kan saja kok," sahut ibu Sofie, dari meja riasnya.


Tak lama kemudian, mereka berdua keluar dari dalam kamar. Di ruang tengah, Sekar sudah menunggu mereka berdua.


"Lama banget sih Bu. Gak usah dandan kenapa?" gerutu Sekar, yang memang tidak terbiasa memakai riasan berlebihan seperti ibunya.


"Mana bisa ibumu itu keluar dari rumah dalam keadaan polos? harus di lukis dulu baru bisa keluar rumah," kata ayah Edi, mengomentari perkataan anaknya, Sekar.


"Hihihi..."


Sekar terkikik mendengar komentar ayahnya itu. Begitu juga dengan ayah Edi, dia tersenyum, melihat istrinya yang cemberut karena perkataan tadi.


"Terus saja ngatain Ibu Yah!"


Ibu Sofie, melenggang pergi ke luar rumah terlebih dahulu, mendahului suami dan anaknya itu.


"Ayah sih! Ibu ngambek tuh," kata Sekar, melihat sikap ibunya.


"Ah kolokan, gak mau kalah sama cucu-cucunya saja, Ara dan Nanda. Mereka berdua saja gak kolokan kayak gitu kok, hahaha..."


Sekar malah tertawa-tawa, mendengar perkataan ayahnya barusan, yang membandingkan ibunya itu dengan keponakan-keponakannya yang masih kecil.


"Dasar Ayah... awas nanti malam, kamarnya di kunci lho! Ayah jadi tidur di luar. Hehehe..."


Ayah Edi pun meringis, saat mendengar komentar anaknya, Sekar.


"Sudah-sudah, ayo berangkat!"


Ibu Sofie menengahi keduanya, supaya tidak lagi memojokkan dirinya, dengan terus membicarakan kebiasaannya berdandan.


"Oh ya, mas Mu sudah berangkat belum?" tanya ibu Sofie, bertanya kepada anaknya, Sekar.


Ibu Sofie menanyakan tentang anaknya, Abimanyu pada Sekar.

__ADS_1


"Lagi bersiap-siap juga Bu. Itu tadi si Ara malah pup, untung saja mereka belum berangkat."


Sekar, menceritakan tentang keponakannya yang sudah mulai bisa ngomong dengan jelas. Suka bertanya tentang banyak hal.


"Ara itu banyak ngomong, gak kayak Mbak Jani ya Bu. Mungkin nurun Eyang putrinya, hehehe..."


Lagi-lagi, Sekar mengolok-olok ibunya, yang memang memiliki hobi berbicara, alias agak cerewet.


"Eh, Ibu itu gak banyak ngomong ya! kalau gak ada lawan juga," sahut ibu Sofie, dengan nada kesal. Tentu saja dia merasa kesal, karena sedari tadi, tema yang mereka perbincangkan suami dan anaknya, seputar dirinya sendiri. Meskipun sebenarnya dia juga menyadari, bahwa dirinya itu 'sedikit' cerewet.


"Coba telpon Abimanyu Bu. Mungkin saat ini sudah jalan. Kita kan bisa barengan samai di bandara nanti," kata ayah Edi, meminta pada istrinya itu, untuk menelpon anaknya, Abimanyu.


Ibu Sofie mengiyakan permintaan suaminya. Dia mengambil handphone yang ada di dalam tas, kemudian mencari kontaknya Abimanyu.


..."Halo Bi!"...


Ibu Sofie, langsung menyapa anaknya, begitu panggilan tersambung.


..."Ini Jani Bu. Mas Abi sedang nyetir."...


..."Oh, berarti sudah berangkat ya?"...


..."Iya, sudah Bu."...


..."Iya. Nanti Jani sampaikan pada mas Abi."...


Telpon terputus. Ibu Sofie, mengatakan kepada suaminya, jika Abimanyu dan Anjani, sudah berangkat menuju ke bandara, sama seperti yang dilakukan oleh mereka bertiga sekarang ini.


Ayah Edi, hanya mengangguk sambil terus berkonsentrasi pada setirnya. Sedangkan Sekar, sedang terkantuk-kantuk di kursi penumpang yang ada di belakang.


"Itu anak, tidur mulu kerjaannya Yah!" seru ibu Sofie, saat melihat anaknya, Sekar, yang sudah tertidur, padahal, perjalanan mereka ini, masih membutuhkan waktu yang lama.


"Biarkan saja. Ibu kalau mau ikut tidur, tidur saja. Biar Ayah konsentrasi juga," ucap ayah Edi, yang membuat istrinya itu jadi cemberut karena mendengar perkataannya tadi.


Perkataan ayah Edi, bisa diartikan sebagai perintah untuk ibu Sofie, agar diam saja dan tidak lagi banyak bicara, atau membicarakan sesuatu yang tidak ada artinya.


Tak lama, mobil Ayah Edi, sudah memasuki jalan tol, untuk menghindari kemacetan, yang mungkin akan mereka lalui dan terjadi. Dimana saja, dan di jalan-jalan yang memang terkenal dengan kemacetannya.


*****


Bandara internasional, sedang sibuk-sibuknya. Ada beberapa penerbangan, yang kebetulan datang secara bersamaan hari ini. Hal ini membuat petugas Bandara, lebih sibuk.

__ADS_1


Anjani dan Abimanyu, datang bersama Ara dan Nanda. Baby sitter Ara juga ikut. Ini membuat Anjani jadi lebih ringan dan tidak terbebani, untuk mengawasi dan menjaga anak-anaknya itu.


Mobil mereka, sampai di tempat parkir, seperempat jam kemudian, setelah mobil ayah Edi tiba. Jadi, ayah Edi dan ibu Sofie, menunggu kedatangan mereka terlebih dahulu, sebelum mereka masuk bersama-sama ke ruang tunggu. Menantikan kedatangan Yasmin, yang baru akan sampai sekitar setengah jam lagi.


"Nanda. Kamu kangen gak sama mama Yasmin?" tanya ibu Sofie, pada cucunya yang sudah besar.


"Kangen Eyang. Mama sering telpon Bunda Jani, terus kita video call juga. Tapi, Nanda juga pengen ketemu mama Yasmin. Kapan mama sampai Yang?"


Ibu Sofie, memeluk cucunya, Nanda, yang mengutarakan isi hatinya sendiri, disaat menunggu kedatangan mamanya, dari luar negeri.


Dia sudah tidak sabar, ingin berjumpa dengan mamanya, yang sudah lama tidak dia jumpai. Hampir dua tahun lima bulan, kalau tidak salah.


"Sebentar lagi ya Sayang. Mama pasti akan datang kok. Kamu makan dulu mau?"


Ibu Sofie, mencoba untuk mengalihkan perhatian cucunya, dengan menawarkan makanan.


Dia tidak tahu, jika Nanda sudah makan terlebih dahulu tadi, bersama dengan Jani dan juga Abimanyu, sebelum mereka berangkat tadi.


Nanda akhirnya menggeleng. Dia, yang sudah tidak lagi di peluk oleh ibu Sofie, berlari ke arah Anjani, dan berbisik-bisik ke telinga Anjani.


"Bunda," panggil nanda, sambil tersenyum malu-malu, di telinga Anjani.


"Iya Sayang, ada apa?" tanya Anjani, yang ingin tahu, apa keinginan keponakannya itu.


"Nanda mau itu!"


Nanda, memberitahu Anjani, jika dia ingin membeli minuman cokelat, yang ada di deretan kafe-kafe, yang ada di bandara.


Anjani, belum sempat menjawab dan juga menuruti permintaan Nanda, karena dari arah pintu keluar, Yasmin sudah berteriak-teriak, memangil keluarganya, satu persatu.


"Ayah. Ibu, Kak Sekar, mbak Jani, mas Abi."


Yasmin, sepertinya ingin mengabsen semua anggota keluarganya, dan telah lama dia tinggalkan.


"Yasmin!"


Mereka semua, hampir bersamaan menyapa Yasmin yang berjalan dengan cepat menuju ke arah mereka semua.


"Bunda!"


Nanda, yang tadi menginginkan sesuatu, jadi melupakan, apa yang sebenarnya dia inginkan tadi. Dia berlari menyongsong kedatangan mamanya, Yasmin, di pintu keluar dari arah lapangan terbang.

__ADS_1


"Nanda?"


Yasmin, seakan tidak percaya dengan apa yang dia lihat saat ini. Anaknya, Nanda, sudah besar dan sehat. Nanda tumbuh dengan cepat, dan tidak lagi sama seperti waktu dia meninggalkannya ke luar negeri dua tahunan yang lalu.


__ADS_2