
Rumah Abimanyu jadi kembali ramai, meskipun tidak ada acara yang berkaitan dengan prosesi pernikahan Ara dan Awan lagi.
Ini karena adanya perampokan di rumahnya tadi.
Pihak kepolisian juga sudah melakukan tugasnya. Dengan dibantu oleh semua pihak yang diminta keterangan.
Semua keterangan sudah dikumpulkan oleh pihak kepolisian. Mereka juga melakukan penyidikan secara singkat di rumah Abimanyu. Melakukan olah TKP.
Sayangnya, para Pengacau tidak meninggalkan sidik jari di mana pun. Karena mereka semua mengunakan sarung tangan.
Dengan begitu, satu-satunya jalan untuk bisa menemukan posisi para Pengacau melalui handphone milik Nanda. Jadi mereka harus segera menghubungi pihak IT kepolisian, untuk bekerja sama dengan pihak telekomunikasi Indonesia. Melacak keberadaan ponsel milik Nanda secepatnya.
Miko yang sudah sadar dari pingsannya, ditenangkan oleh mamanya, Sekar.
Sedangkan Juna dan Aksan, menemani Abimanyu dan Anjani di depan. Ada ayah Edi dan Nanda juga. Yang menjawab semua pertanyaan demi pertanyaan yang diajukan oleh pihak penyidik.
Mama Amel dan papa Ryan, menghubungi pihak pengacara dan orang-orang yang bisa dimintai bantuan untuk lapangan.
Begitu juga dengan Elang. Dia menghubungi beberapa orang lapangan, yang biasanya berkecimpung dengan orang-orang yang bermasalah seperti itu.
Sedangkan Awan sendiri, belum bisa memastikan, apa yang seharusnya dia lakukan.
Tapi pada akhirnya, dia mencari beberapa teman yang bisa dia hubungi. Karena orang tua mereka, ada yang menjadi detektif. Dengan begitu, setidaknya orang tua temannya itu, bisa dipastikan mengenal beberapa bandit atau semacam geng mafia di kota Jakarta ini.
Dengan begitu, bisa juga untuk menyebarkan anak buahnya, demi mencari keberadaan Ara dan Anggi.
"Apa ini penculikan, dengan dalih perampokan? setelah itu, mereka juga akan minta tebusan." Tiba-tiba, Yasmin mengatakan pemikiran yang ada di dalam otaknya.
"Ya bisa jadi itu. Siapa tahu, ini benar penculikan. Tapi bagaimana cara mereka menghubungi mas Abi Yasmin?" tanya Sekar, yang ikut membenarkan pemikiran adiknya itu.
Karena semua handphone milik keluarga Abimanyu diambil oleh para Pengacau. Jadi mereka semua tidak tahu, bagaimana cara para Pengacau akan menghubungi mereka nantinya.
Semua orang juga sepemikiran dengan Sekar. Tapi berbeda dengan Nanda. "Pasti dia akan menghubungi salah satu nomer handphone milik keluarga kita nanti. Tapi itu jika mereka memang berniat menculik, dan minta tebusan. Jika benar yang mereka katakan bagaimana?"
Mereka berbincang-bincang dengan pemikiran mereka masing-masing.
Karena pihak kepolisian sudah meninggalkan tempat, tapi berjanji untuk segera bertindak. Demi menemukan dan melindungi korban, yang di bawa pergi oleh para Pengacau.
Begitu juga dengan para tetangga, yang tadi ikut membantu keluarga mereka. Para tetangga pun mengucapkan, jika mereka turut prihatin. Dengan kejadian yang menimpa keluarga Abimanyu.
Dan para tetangga pamit untuk pulang ke rumah masing-masing. Karena hari sudah menjelang subuh.
"Kasihan ya keluarga pak Abimanyu. Padahal besok hari pernikahan Ara lho."
__ADS_1
"Iya juga ya. Terus bagaimana itu pesatnya nanti?"
"Semoga saja, Ara segera ketemu. Jadi semua bisa berjalan dengan baik."
"Ya semoga saja ya!"
"Kasihan Ara dan Anggi ya, jika benar-benar akan dijual."
"Wah ngeri ya sekarang para perampok. Gak hanya harta aja yang diincar. Tapi anak-anak gadis juga dijadikan target utama untuk dijual."
"Iya. Makanya harus hati-hati dan waspada terus. Kejahatan itu tidak pernah bisa diduga kejadiannya."
"Apa Pak Abi itu Ara musuh ya?"
"Eh, pak Abi dan keluarganya kan lama ada di Amerika. Musuh apa ini?"
"Rampok gak usah cari musuh. Mereka yang penting ada target. Mungkin saja, para perampok ada yang mendengar adanya pesta pernikahan. Jadi mereka berpikir, pasti Ara banyak uang dan perhiasan yang ada di rumah Pak Abi."
"Haduh, ngeri ya!"
"Semoga cepat ketemu itu Ara dan Anggi nya."
"Iya-iya, semoga saja. Aamiin..."
Para tetangga yang pulang ke rumah masing-masing pun, memberikan beberapa tanggapan, dari apa yang terjadi pada keluarganya Abimanyu.
Yang pasti, mereka semua ikut prihatin. Fan berharap jika pihak kepolisian segera mengambil tindakan untuk menemukan Ara dan juga Anggi yang ikut di bawa para Pengacau.
*****
Di suatu tempat, yang tidak diketahui oleh orang lain.
Ara dan Anggi, berada di suatu ruangan. Mereka berdua diikat dengan posisi saling membelakangi. Dan saat ini, mereka berdua duduk di kursi yang berbeda, dengan satu ikatan tali tambang pada tangan mereka.
Mata mereka di tutup dengan kain. Sedangkan mulut mereka juga di plester.
Praktis semua itu membuat mereka berdua tidak tahu apa-apa. Mereka juga tidak tahu, di mana mereka saat ini.
Yang pasti, mereka hanya tahu jika, saat ini keduanya tidak dalam keadaan baik-baik saja.
"Emhhh... emhhh..."
Anggi berusaha membuat suara, untuk membuat kakaknya bicara.
__ADS_1
Tapi tentu saja, Ara juga tidak bisa menyahuti suara Anggi. Karena dia juga dalam keadaan yang sama seperti adiknya juga.
Hanya jari-jari tangan Ara, yang berusaha untuk bisa menyentuh jari tangan Anggi. Memberikan isyarat agar Anggi diam dan bersama-sama mencari jalan keluar. Supaya mereka berdua bisa bebas dan selamat dari para Pengacau itu.
Akhirnya Anggi pun mengerti dengan isyarat yang diberikan oleh kakaknya. Dia tidak lagi membuat suara. Agar para Pengacau itu tidak kembali dan melakukan sesuatu yang tidak diinginkan.
Dari balik pintu, para pengacau hanya tertawa-tawa senang. Karena melihat jika target mereka sudah diam.
"Mungkin mereka berdua kelelahan, karena memberontak terus tadi di jalan."
"Mungkin mereka juga tidur. Secara, semalaman ini mereka berdua tidak tidur."
"Bisa jadi. Ya sudah, biarkan saja! Kita segera hubungi Bos kalau begitu."
"Ini bagaimana?"
Mereka berbincang-bincang tentang dua orang yang mereka bawa. Begitu juga dengan barang rampasan, yang berhasil mereka bawa.
"Kita bagi berlima. Bos bilang, dia tidak butuh semua itu. Dia hanya butuh mereka berdua!"
"Hahaha... Bos maruk juga ya! masak mau kakaknya, adiknya juga," sahut yang lain, mentertawakan keinginan Bos mereka.
"Biarin aja sih! Nanti jika dia bosan juga di bagi ke kita-kita. Yang penting, semua hasilnya buat kita semua. Hahaha..."
"Iya betul juga itu. Hahaha..."
Mereka semua merasa puas dengan hasil yang di dapat kali ini.
Selain target yang diminta oleh Bos mereka, ada hasil rampasan dengan jumlah yang cukup banyak.
Ada lima handphone, sekotak perhiasan yang tadi di ambil di kamar Anjani. Semua perhiasan Ara, baik yang milik pribadi maupun pemberian Awan sebagai seserahan tadi malam. Dan juga beberapa perhiasan yang Anggi kenakan.
Semua itu jika di jual sudah menghasilkan banyak uang.
Mereka semua bisa berlibur ke mana saja yang mereka inginkan. Karena biasanya, mereka akan mengulang dalam beberapa waktu ke depan. Demi menjauh dari kejaran polisi.
Tentu saja, mereka semua adalah orang-orang yang terlatih dalam bidangnya. Ada beberapa orang, yang menjadi pemimpin dari orang-orang seperti mereka.
Dan lima orang ini, ada dalam satu kelompok dengan dari pemimpin.
Tapi, biasanya mereka harus bekerja lebih dulu, untuk mencari target.
Berbeda dengan pekerjaan kali ini. Semua informasi, sudah ada di tangan Bos mereka. Jadi, mereka semua tinggal melakukan operasi perampokan.
__ADS_1
Karena situasi yang ada di tempat sasaran, sudah sangat diketahui oleh Bos mereka. Itu yang membuat operasi mereka jadi lebih mudah malam tadi.