Dia Milikku ( Berbagi Cinta )

Dia Milikku ( Berbagi Cinta )
Keadaan Abimanyu


__ADS_3

Dokter yang menangani Abimanyu, tampak keluar dari ruangan. Dia meminta pada pihak keluarga korban, untuk menanda tangani penangganan khusus untuk Abimanyu.


Ayah Edi bertanya kepada dokter, apa yang sebenarnya terjadi pada anaknya, Abimanyu. Tapi dokter hanya bisa menjelaskan secara garis besar saja, jika Abimanyu memang tidak mengalami luka di bagian luar. Tapi dari hasil scan dan pemeriksaan tim dokter, pendarahan terjadi pada otak dan bagian tulang belakang Abimanyu ada yang retak. Hal ini bisa mengakibatkan terjadinya gegar otak, bahkan bisa jadi permanen, serta kelumpuhan, sehingga Abimanyu, tidak bisa melakukan aktivitas seperti biasa untuk kedepannya nanti. Bahkan, kemungkinan besar, Abimanyu bisa juga amnesia dan tidak mengenali siapa-siapa, termasuk dirinya sendiri. Hal yang sama sekali tidak di harapkan oleh semua orang.


Anjani menangis tanpa bisa bersuara lagi. Dia tidak tahu, bagaimana bisa menjalani hari-harinya, tanpa keceriaan yang diberikan oleh suaminya itu.


Sekar dan ibu Sofie, juga ikut terguguk sambil memeluk Anjani. Mereka bertiga, sama-sama menangis karena vonis sementara, yang dikatakan oleh dokter. Karena bisa jadi, hal yang lebih parah lagi mungkin saja terjadi pada Abimanyu.


Ayah Edi segera melakukan semua prosedur yang diminta oleh pihak rumah sakit. Ini dia lakukan agar anaknya segera mendapatkan penanganan dan pertolongan sebaik mungkin.


"Lakukan yang terbaik dokter. Kami pasti akan usahakan untuk membayarnya," kata ayah Edi, meminta lada dokter yang menangani Abimanyu, supaya melakukan penanganan segera.


"Kami pasti akan berusaha semaksimal mungkin Pak. Doakan saja, anak Bapak bisa bertahan dan Tuhan masih memberinya kesempatan," jawab dokter, sambil tersenyum dan mengangguk ke arah ayah Edi


"Yah. Apa mas Abi harus dioperasi otaknya, atau tulang belakangnya? Jika iya, dan butuh cangkok apapun itu, Jani siap Yah," kata Jani memohon pada ayah mertuanya.


"Jani, kita berdoa ya, semoga suami Kamu bisa bertahan dan tidak terjadi sesuatu padanya," jawab ayah Edi, menenangkan hati menantunya, yang sudah dia anggap sebagai anaknya sendiri.


Ibu Sofie bahkan tidak bisa lagi mengatakan apa-apa. Dia hanya bisa menangis dan menangis saja.

__ADS_1


Begitu juga dengan Sekar. Dia merasa sangat sedih melihat keadaan kakak iparnya itu. Dia juga merasa sangat khawatir dengan keadaan kakaknya, yang saat ini masih tidak sadarkan diri dan ada di ruangan IGD, dan bersiap untuk dibawa ke ruang operasi.


Juna, suaminya Sekar, yang baru saja datang dari luar, bertanya pada istrinya, "Sayang, bagaimana mas Abi?"


Sekar, dengan terbata-bata karena menangis, kembali menceritakan tentang keadaan kakaknya, Abimanyu. Dua tidak berhenti dalam tangisannya. Dia merasa jika kakaknya itu, akan mengalami hal yang tidak diinginkan.


"Apa dokter sudah memberitahu keadaan yang sebenarnya? maksudnya tidak hanya perkiraan saja?" tanya Juna, yang ingin tahu bagaimana keadaan Abimanyu saat ini, karena tadi, dia sedang mengurus mobil dan apa-apa, yang menjadi prosedur dari pihak kepolisian, sebagai anggota keluarga korban.


"Mas. Sebenarnya bagaimana kejadiannya, kok bisa mas Abi terseret begitu jauh dan terpental juga dari bahu jalan yang seharusnya?" tanya Sekar, yang juga ingin tahu, bagaimana kecelakaan yang terjadi pada kakaknya, Abimanyu, semalam di saat dalam perjalanan pulang ke rumah.


Akhirnya, Juna menceritakan kronologi kejadian yang dialami oleh kakaknya, Abimanyu semalam. Dari beberapa pantauan cctv jalanan dan juga beberapa toko yang ada di sekitar kejadian, ada sebuah truk kontainer yang berjalan dengan cepat dan tiba oleng, sehingga menimpa sebuah mini bus pariwisata.


Karena kejadian itu, sebuah mobil sedan yang kemungkinan besar supirnya, menyadari bahwa ada sebuah kecelakaan yang akan melibatkan dirinya, maka dia melajukan mobilnya lebih cepat lagi, tanpa menyadari jika kecepatan sudah di luar batas, sehingga tidak bisa dia kendalikan, dan mendorong dengan cepat mobil Abimanyu yang berjalan normal. Karena tidak siap dan kaget, kemudian Abimanyu salah menginjakkan kaki untuk rem dan justru injakan untuk gas yang dia injak.


Beberapa penumpang mini bus, meninggal di tempat. Supir dan penumpang yang lain mengalami luka parah juga. Sedangkan mobil sedan yang mendorong mobil Abimanyu, juga ikut terguling ke dalam saluran air, dan penumpang tertindih oleh badan mobil. Bisa dipastikan jika kemungkinan besar, kakinya mengalami patah tulang. Sedangkan satu penumpang yang lain, meninggal di tempat.


Para korban, dilarikan ke beberapa rumah sakit terdekat, karena jika satu rumah sakit, takutnya justru tidak tertangani semuanya dan waktunya tidak bisa dioptimalkan.


Itulah sebabnya, Abimanyu bersama dengan supir sedan dan beberapa penumpang bus yang ada di rumah sakit yang sama. Sedangkan yang lainnya, ada di rumah sakit, yang tidak terlalu jauh juga dari rumah sakit, tempat Abimanyu dirawat.

__ADS_1


"Semua sudah di tangani oleh pihak kepolisian. Supir truk kontainer juga sudah ditahan sebagai tersangka utama dalam kecelakaan ini, meskipun sebenarnya, sedan dan mobil mas Abi, tidak ada kaitannya dengan kecelakaan yang disebabkan olehnya, tapi karena dia juga, sedan dan mobil mas Abi, akhirnya ikut mengalami kecelakaan juga."


Juna menerangkan kepada Sekar, dan yang lainnya juga. Meskipun semua masih dalam keadaan menangis, tapi penjelasan yang diberikan oleh Juna, bisa mereka bayangkan sebagai sebuah keadaan yang mencengangkan. Dan itu sungguh mengerikan.


"Mau Aku belikan makan?" tanya Juna, menawari Sekar, untuk sarapan pagi yang sudah telat. Karena saat ini sudah pukul setengah sepuluh lebih sedikit.


"Mana bisa makan Mas di rumah sakit dalam keadaan seperti ini," jawab Sekar, yang merasa kehilangan selera makan dan juga rasa laparnya.


Dia tidak merasa haus, lapar dan yang lain. Hanya rasa was-was yang bercampur aduk dalam keadaan seperti saat ini.


Begitu juga dengan yang lain, terutama Anjani tentunya. Dia sedari tadi hanya diam dan tidak ada kata-kata yang keluar dari mulutnya. Seakan-akan, mulutnya terkunci, dan hanya isakan tangisnya saja yang terdengar sedari tadi.


"Kamu sudah mengabari pihak kantor Abimanyu?" tanya ayah Edi pada anaknya, Sekar.


"Sudah Yah, tadi asistennya yang menjawab, Dia juga kaget Yah, saat mendengar berita ini. Dia akan menyampaikan pada direkturnya, yang saat ini ada di Medan atau Batam gitu. Ada kunjungan di sana, sekalian menjenguk anak dan cucunya yang ada di Batam juga," jawab Sekar, yang tadi dimintai tolong oleh ayahnya, supaya memberikan informasi pada pihak kantor Abimanyu, supaya mereka tidak kebingungan, karena Abimanyu yang tidak bisa masuk ke kantor lagi.


"Kamu sendiri, tidak minta ijin ke kantor?" tanya ayah Edi pada anaknya, Sekar, yang seharusnya sudah berada di kantornya, saat ini.


"Sudah Yah. Mas Juna juga sudah minta ijin. Bagaimana dengan ayah dan ibu sendiri?" jawab Sekar, yang ganti bertanya kepada ayahnya, ayah Edi.

__ADS_1


"Iya, ayah malah belum ⁶, jika ayah tidak bisa masuk hari ini," jawab ayah Edi, saat sadar, jika dirinya sendiri belum mengurus ijin untuk tidak masuk kantor.


"Biar Juna saja Yah, yang kasih kabar ke kantor," sahut Juna cepat, yang hanya di tanggapi dengan anggukan kepala ayah Edi.


__ADS_2