
Kebahagiaan datang, tapi tetap saja ada kesedihan yang ikut mampir, membuat selingan.
Begitu juga dengan kesedihan yang ada, pasti ada kebahagiaan yang kita rasakan, meskipun tidak kita sadari sendiri, bahwa kebahagiaan itu ada untuk kita rasakan.
Begitulah kehidupan ini. Kebahagiaan dan kesedihan, datang saling mengisi, berdampingan dan tidak bisa terpisahkan.
Hanya saja, kadang kala kita yang tidak bisa menyadari. Atau bisa jadi, karena kita yang kurang bersyukur, atas semua yang sudah kita lalui dan kita terima.
Kunci dari semuanya adalah rasa syukur dan ikhlas dalam menjalani kehidupan ini.
Tuhan tidak pernah beristirahat, apalagi sampai tertidur. Dia selalu tahu, apa yang kita butuhkan. Bukan apa yang kita inginkan.
Yang kita rasa sebagai cobaan, bisa jadi, itu adalah jalan menuju kebahagiaan.
Dan bisa jadi, keberuntungan yang kita dapatkan, adalah jalan kerugian yang akan kita rasakan.
*****
Hari ini, Yasmin dan bayinya sudah diperbolehkan pulang oleh dokter.
Aksan dan ibu Sofie, yang menemani di rumah sakit, sudah menyiapkan semuanya, untuk kepulangan Yasmin dan anaknya.
Mereka, masih ada di rumah sakit, dan sedang mempersiapkan diri untuk pulang ke rumah.
Semua orang yang ada di rumah, ikut merasa bahagia juga, dengan kepulangan Yasmin ke rumah. Mereka berencana untuk membuat acara selamatan kecil-kecilan, untuk menyambut kepulangannya, dengan bayinya itu.
Anjani, tentu saja ikut membantu, menyiapkan segala sesuatunya untuk acara syukuran di rumah mertuanya. Rumah ayah Edi.
Paginya, saat anak-anak sudah berangkat ke sekolah, dan suaminya pergi ke kantor, Anjani datang ke rumah mertuanya itu.
Ternyata, di rumah ayah Edi, sudah ada Sekar dan juga bibi pembantu rumahnya, yang datang membantu juga. Bahkan, ada beberapa tetangganya yang ikut dalam persiapan acara ini.
Mereka semua tampak bergembira. Saling bercanda dan tertawa senang, dengan cerita yang ada dan jadi bahan perbincangan mereka.
"Oh ya Jani, Kamu tidak ada keinginan untuk nambah momongan? Sekar sebentar lagi, sedang Yasmin udah lahiran juga kan?"
Salah satu dari mereka, tetangga ayah Edi dan ibu Sofie, bertanya kepada Anjani, dengan maksud menggoda. Padahal sebenarnya dia juga tahu, jika anaknya Anjani sudah ada dua orang.
"Hehehe... masih proses Bu Lek."
Anjani tidak marah. Dia hanya tersenyum dan menjawab seadanya. Hal yang wajar, untuk menjadi sebuah jawaban.
"Tapi gak di bendung kan? Gak di tali juga?"
__ADS_1
Yang lain, ikut menimpali, saat Anjani selesai menjawab pertanyaan yang tadi.
"Aduh, tidak pernah Cing. Jani tidak memakai apa-apa, untuk mencegah kok." Anjani memberitahu, tentang alat kontrasepsi yang sedang mereka bicarakan.
"Belum rezekinya Neng Jani. Sabar," sahut yang lain lagi.
Anjani mengangguk dan tersenyum, mendengar berbagai macam pertanyaan dan komentar dari para tetangga. Karena semua ini juga, suasana di rumah ayah Edi, menjadi ramai dan meriah.
"Anggi sudah besar. Nanti, jika dia sudah sebesar Ara, Ara udah kuliah. Rumah jadi sepi lho Jeng Jani."
Ada lagi yang berkata, memberikan alasan, supaya Anjani segera hamil lagi, dan memiliki momongan untuk yang ketiga.
Tapi semua ditanggapi oleh Anjani dengan tersenyum. Dia tidak merasa marah, ataupun sedih, karena dia sudah tahu, jika kondisi dirinya dan suaminya, Abimanyu, hanya dirinya yang tahu dengan pasti.
Orang lain, hanya bisa melihat dari apa yang terlihat. Dan begitulah kira-kira, pikiran umum orang-orang. Sama seperti yang dia pikirkan juga, saat melihat keluarga yang lain.
Klunting
Klunting
Klunting
Handphone milik Anjani berbunyi. Ada panggilan masuk untuknya. Dan setelah diperiksa oleh Anjani, ada nama suaminya, Abimanyu.
Anjani menyingkir dari tempat berkumpulnya para tetangga, yang ikut membantu. Dia pergi ke teras samping rumah, untuk menjawab panggilan telpon dari suaminya itu.
..."Jani. A_Aku sekarang ada di rumah sakit, dekat dengan kantor."...
..."Lho, ada apa Mas?"...
..."Aku terserempet mobil. Tapi untungnya orangnya baik, dan mau menolong. Ini orangnya juga masih ada, menuggu di luar UGD."...
..."Jani ke sana sekarang ya Mas."...
..."Tidak usah Sayang. Mas cuma mengabari supaya Kamu pulang dulu ke rumah. Setelah ini, orangnya akan mengantar Mas pulang."...
..."Ya Allah Mas. Tapi Jani khawatir Mas."...
..."Tidak apa-apa. Hanya lecet-lecet kok. Motornya juga sudah ada di bengkel. Di urus security kantor. Tadi ada mama Amel dan Mas Elang juga. Tapi karena orangnya berjanji untuk bertanggung jawab dan mengantar Mas Abi, jadi mereka kembali ke kantor. Ada metting penting."...
Abimanyu, menjelaskan panjang lebar tentang keadaan dirinya saat ini.
Anjani, sesenggukan sendiri di teras rumah ayah Edi, tanpa ada yang mengetahui, apa yang sedang terjadi pada dirinya.
__ADS_1
Setelah selesai menerima panggilan telpon dari suaminya, Anjani masih dalam keadaan menangis. Dia tidak langsung kembali masuk ke dalam rumah, tapi membiarkan tangisannya mereda terlebih dahulu.
Dia tidak ingin, ada yang melihat dan bertanya kenapa dia menangis. Dia tidak mau, membuat mereka merasa khawatir dengan keadaan Abimanyu, yang katanya tidak kenapa-kenapa.
Meskipun Anjani sendiri juga tidak tahu, bagaimana keadaan suaminya itu, yang sebenarnya.
Setelah dirasa air matanya tidak lagi keluar, Anjani menuju ke arah kran air, yang ada tidak jauh dari teras samping rumah. Dia membasuh mukanya, supaya tidak terlihat jika baru saja selesai menangis.
Dengan menghela nafas panjang, Anjani mengatur perasaan dan pikirannya, supaya terlihat lebih tenang dan tidak ada yang bisa mencurigai, apa yang terjadi pada dirinya saat ini.
Setelah merasa yakin jika semua terlihat seperti biasa, Anjani kembali masuk ke dalam rumah. Dia mencari adiknya, Sekar, untuk pamit pulang terlebih dahulu.
"Dek. Mbak Jani mau pulang dulu ya."
Anjani berpamitan pada adiknya itu, karena Yasmin dan Aksan, belum sampai di rumah. Ibu Sofie, juga ikut mereka berdua, sedang ayah Edi, sedang bekerja.
"Lho Mbak, kok pulang? Yasmin dan bayinya belum juga sampai," tanya Sekar, yang bingung dengan sikap Anjani.
Sejak tadi, kakak iparnya itu tidak terlihat. Dan saat muncul, justru dia pamit untuk pulang.
"Apa apa sih Mbak?" Sekar kembali bertanya pada Anjani. Padahal pertanyaan yang dia ajukan tadi, belum juga dijawab oleh Anjani.
"Gak apa-apa kok Dek. Kakak hanya merasa tidak enak badan ini." Anjani memberikan alasan, kenapa dia ingin pulang terlebih dahulu.
"Istirahat saja di kamar Mbak. Kan ada kamar Mbak Jani yang dulu, kalau kamar Sekar, udah dipakai oleh Nanda sekarang," sahut Sekar, menawari Anjani, supaya beristirahat di rumah ayahnya saja.
"Gak Dek. Gak enak dengan yang lain. Masa yang lain pada kerja, Mbak malah enak-enakan tidur."
Sekar sepertinya tidak percaya dengan alasan yang dibuat oleh kakak iparnya itu.
"Nanti, jika Mbak udah merasa lebih baik, ke sini lagi kok," kata Anjani lagi, yang masih tetap kekeh, untuk pulang ke rumahnya terlebih dahulu.
"Ya sudah kalau begitu Mbak, hati-hati. Nanti, jika Yasmin udah sampai rumah, Sekar kabari."
Anjani mengangguk mengiyakan perkataan Sekar.
Setelah itu, dia pamit pada yang lain, yang ada di rumah mertuanya itu.
"Hati-hati ya Jani. Semoga cepat membaik ya. Terus ke sini lagi."
Anjani mengangguk dan mengucapkan terima kasih, kepada mereka semua. Dia juga meminta maaf, karena tidak bisa membantu segala sesuatu, untuk acara syukuran ini.
"Terima kasih atas doanya, dan Jani minta maaf juga ya semuanya. Nanti, Jani balik lagi, jika sudah membaik."
__ADS_1
Baru saja Anjani berjalan sampai di pintu, Sekar berteriak memanggilnya.
"Mbak, Mbak Jani! Payungnya ketinggalan."