
Beberapa saat kemudian, Nanda membuka matanya perlahan-lahan. Dia terbangun, saat Ara mengerakkan kepalanya.
"Emhhh..."
Ara mengeliat, merenggangkan otot-otot tubuhnya yang terasa kaku.
Begitu juga dengan Nanda. Dia juga mengerakkan kepalanya, ke kiri dan kanan, karena lehernya terasa capek, saat tadi harus menahan posisinya saat tidur.
Anggi dan Miko, sudah tertidur kembali, setelah tadi berhasil mendapatkan beberapa gambar foto, saat Ara dan Anggi sama-sama tertidur.
"Kak," panggil Ara pada Nanda.
"Hem," sahut Nanda, dengan menolehkan kepalanya ke arah Ara.
"Hehehe... minum. Tolong dong Kak."
Ternyata Ara ingin minum. Dia meminta pada Nanda, supaya mengambilkan air minum yang ada di dalam dus.
"Ini. Bukain gak?" tanya Nanda, dengan raut wajah bergurau. Dia ingin mengerjai adik sepupunya itu.
"Gak usah ah, Ara bisa sendiri kok," jawab Ara, yang merasa curiga, dengan perubahan pada wajah kakaknya.
"Hahaha..."
Nanda tertawa-tawa, karena ketahuan juga, sebelum dirinya sempat mengerjai Ara.
Anggi, yang duduk di kursi depannya, terbangun dari tidurnya, saat mendengar suara tawa Nanda.
"Hemmm..." Gumam Anggi tidak jelas.
Setelah mengumpulkan kesadarannya, Anggi melihat ke kursi belakang, dengan naik dan berdiri di atas kursi.
"Kakak, berisik tau!"
Nanda mendongak menatap ke arah Anggi, yang ada di depannya. Tapi, Nanda hanya nyengir kuda, dan tidak mengatakan apa-apa.
"Aha...!"
Anggi ingat dengan apa yang tadi dia lakukan bersama dengan Miko. Dan sekarang, dia berusaha untuk membangunkan Miko.
"Miko. Miko bangun!"
"Hemmm... apa sih?"
Miko malas untuk bangun. Dia kembali memejamkan matanya, dan menganti posisi tidurnya menjadi ke arah jendela bus.
"Ihhh... Miko! Kak Nanda sama kak Ara udah bangun. Ayo, liatin foto yang tadi."
Ara masih berusaha untuk membangunkan Miko. Dia ingin menunjukkan foto-foto tersebut pada kedua kakaknya itu.
Tapi Miko masih belum mau bangun. Dia belum mau membuka matanya, untuk menuruti kemauan Anggi.
"Sini deh, hapenya!"
__ADS_1
Anggi merebut ponsel Miko, yang ada di dalam saku jaketnya.
"Eh... eh, gak!"
Miko akhirnya terbangun karena tidak mau membiarkan ponselnya dipegang oleh Anggi. Dia merebut kembali ponsel tersebut.
"Sini hapenya! Anggi, sini!"
Akhirnya, mereka berdua saling berebut dan membuat yang lain jadi ikut terbangun, karena mendengar suara ribut mereka berdua.
"Anggi, Miko. Ada apa?" tanya Anjani, yang tadi baru saja tertidur.
Abimanyu dan yang lainnya, juga ikut terbangun, kemudian melihat ke arah tempat duduknya Anggi dan Miko. Mereka semua ingin tahu, apa yang terjadi pada kedua anak tersebut.
"Ada apa? pengen pipis?"
Ayah Edi, eyang kakung mereka, bertanya tentang keributan yang diciptakan oleh kedua cucunya itu.
Dia berpikir bahwa, keduanya sedang ingin pipis, dan akhirnya ribut sendiri, karena tidak tahu, ke mana harus pipis dengan bus yang masih dalam keadaan berjalan.
"Ini Anggi ambil hape Miko," jawab Miko dengan bibir mengerucut.
"Anggi, dibalikin Sayang," kata Anjani, meminta pada Anggi, supaya mengembalikan handphone milik Miko.
"Ihhh, cuma liat bentar kok. Mau nunjukin ini lho!"
Anggi menunjukkan layar handphone tersebut, pada bundanya, Anjani. Dia juga memperlihatkan kepada eyang kakungnya, dan semua orang yang ada di bus itu.
Tapi tidak dengan Ara dan Nanda. Mereka berdua jadi merasa penasaran, dengan apa yang diperlihatkan oleh Anggi pada yang lain.
"Apaan sih?" tanya Nanda, yang merasa penasaran dengan apa yang diperlihatkan oleh Anggi itu.
"Rahasia!" sahut Anggi, cepat dengan tersenyum penuh arti.
Ara juga ikut merasa penasaran. Tapi karena Anggi menolak permintaan Nanda, dia tidak jadi ikut bertanya. Karena jika Ara bertanya pun, hasilnya tetap sama, tidak akan diperlihatkan juga.
Miko akhirnya tidak lagi ngambek. Dia tersenyum-senyum bersama dengan yang lainnya juga. Karena foto itu juga hasil kerja samanya dengan Anggi tadi.
"Ihhh, apa sih?"
Akhirnya, Ara tidak tahan untuk bertanya juga. Dia merasa penasaran, dengan apa yang dilihat oleh orang-orang. Karena mereka tertawa-tawa, dengan melihat ke arahnya berada.
"Apaan sih Kak?" tanya Ara pada Nanda, karena tidak ada yang mau menjawab pertanyaan darinya.
"Tuh, Anggi sama Miko."
Nanda hanya menjawab apa yang dia tahu. Padahal, dia juga tidak tahu, apa yang ada pada layar handphone milik Miko, yang diperlihatkan pada orang lain. Sedangkan mereka berdua tidak boleh melihatnya.
Akhirnya, Ara yang merasa penasaran dengan apa yang terjadi, merebut handphone tersebut dan melihat ke layar.
Dan Ara melotot, saat melihat apa yang dia lihat pada layar handphone tersebut.
Di layar handphone milik Miko, ada foto dirinya bersama dengan Nanda, dalam keadaan tidur, dengan posisi tangannya Ara yang ada di dada Nanda, dan tangan Nanda ada di bawah dagunya Ara.
__ADS_1
Posisi tangan Nanda, sama seperti orang yang sedang menadahkan tangan, untuk mencegah air liurnya Ara menetes saat tidur.
Tentu saja, foto tersebut membuat Ara marah. Dia membuang nafas kasar, sambil melihat ke arah kedua adiknya. Anggi dan Miko.
"Apa sih Ra?" tanya Nanda, yang ikut merasa penasaran juga.
"Lihat deh Kak ulah mereka berdua!"
Dengan gerakan yang sangat jelas, jika sedang marah, Ara menyerahkan handphone tersebut pada Nanda.
"Hahaha..."
Nanda justru tertawa senang, melihat layar handphone tersebut. Dia tidak marah-marah, sama seperti yang dilakukan oleh Ara.
"Ihhh, Kakak!"
Sekarang, Ara jadi merasa kesal, karena Nanda justru tertawa terbahak-bahak, melihat apa yang ada di layar handphone milik Miko.
Tapi, Anggi dan Miko merasa senang, karena semua orang jadi bangun, dan tertawa bersama saat melihat hasil jepretannya tadi.
*****
Awan masih berasa di dalam kamar, saat omanya datang mengetuk pintu.
Tok tok tok!
"Wan. Sudah bangun kan?"
Awan bangkit dari tempat tidur, kemudian berjalan menuju ke arah pintu kamar.
Clek!
"Sudah Oma. Ada apa?" tanya Awan, begitu pintu dia buka dan mendapati omanya, mama Amel, yang berdiri di depan pintu kamarnya.
"Syukurlah. Oma mau ajak Kamu jalan ke Mall. Temani Oma ya?"
Awan mengerutkan keningnya, mendengar permintaan dari omanya itu. Dia berpikir bahwa, saat libur begini, ingin tidur seharian, dan tidak pergi ke mana-mana.
"Mau beli spa sih Oma?" tanya Awan, yang malas untuk bepergian.
"Ada yang ingin Oma beli. Dsn mumpung Kamu libur, ayok temani Oma. Ya, Sayang ya?"
Awan menghela nafas panjang, dan akhirnya mengangguk mengiyakan permintaan omanya itu.
"Memangnya, opa sama ayah ke mana Oma?"
Awan bertanya kepada omanya, tentang keberadaan opanya, papa Ryan dan juga ayahnya, Elang.
"Mereka berdua pergi main golf. Ada turnamen katanya," jawab mama Amel, memberikan alasan, kenapa dia meminta pada Awan untuk menemani dirinya ke mall hari ini.
"Awan ganti pakaian dulu Oma," kara Awan, yang akhirnya mau di ajak pergi ke mall.
"Ok. Oma tunggu di bawah ya?"
__ADS_1
Awan mengangguk setuju, dengan perkataan omanya. Dia tidak mungkin membiarkan omanya pergi sendirian, apalagi dalam keadaan kecewa, karena dia menolak permintaannya tadi.