
Penyidikan yang dilakukan oleh pihak penyidik, sedikit mendapatkan hasil. Karena dari pantauan yang mereka lakukan, target tampak berjalan masuk ke dalam bangunan rumah tahanan negara.
"Kita pantau terus dia. Setelah dia keluar, Kamu ikuti dia. Aku yang akan masuk dan bertanya pada penjaga, siapa sebenarnya yang dia datangi ke penjara itu."
"Eh, tapi kok wajahnya tampak murung begitu ya?"
Dua orang pengintai, membagi tugas untuk masing-masing dari mereka.
Tapi yang satunya lagi, justru memperhatikan bagaimana kondisi wajah dari target yang mereka intai.
Mereka berdua, berpenampilan seperti penjual jajanan di depan bangunan rumah tahanan negara. Jadi, tidak mungkin ada yang curiga juga dengan keberadaan mereka selama ini.
Beberapa saat kemudian, tampak target intaian mereka keluar dari dalam rumah tahanan negara. Dengan wajah sedih, yang lebih besar, dibandingkan dengan pada saat dia masuk tadi.
"Eh, dia keluar!"
"Ya. Tetap hati-hati dan sesuai dengan rencana sebelumnya!"
Di pinggir jalan, papanya Dika berjalan seperti biasanya, tanpa menaruh curiga jika dia sedang diikuti.
Tapi lama-lama, dia merasa jika, seseorang yang sedang berjalan dibelakangnya, tampak mencurigakan. Karena sedari tadi, berjalan dibelakangnya, tanpa ada keinginan untuk berbelok ataupun berganti arah jalan.
Mungkin, instingnya mulai terasah. Karena dia sudah terbiasa dengan kehidupan hitam. Selama beberapa tahun terakhir ini.
Sekarang, untuk menyakinkan dirinya sendiri, papanya Dika membelok ke arah Maring kopi. Yang ada di pinggir jalan. Dia ingin memastikan bahwa, orang yang berjalan di belakangnya tadi bukan bermaksud untuk membuntuti dirinya.
Setelah beberapa saat kemudian, papanya Dika tampak keluar dari warung kopi tersebut. Dia celingak-celinguk mencari keberadaan orang tadi.
Tapi ternyata, orang tersebut sudah tidak tampak di mana-mana.
Dengan bernafas lega, papanya Dika berjalan lagi, menuju ke arah halte bus. Dia ingin pergi ke rumah sakit, untuk menjenguk dan melihat keadaan anaknya, Dika. Yang sampai saat ini, tidak juga menunjukkan tanda-tanda akan segera sadar dadi komanya.
Namun sayangnya, orang yang tadi mengikuti papanya Dika, sudah ada di halte bus.
Orang tersebut tampak asyik bermain game dari handphone yang ada ditangannya. Dan tidak mempedulikan kedatangan papanya Dika.
^^^'Aku pikir tadi diikuti. Ternyata orang ini memang mau pergi ke halte bus. Hufhhh...' batin papanya Dika, dengan bernafas lega.^^^
Papanya Dika tidak tahu bahwa, orang yang dia curiga tadi, memang sengaja menunggu dirinya di halte bus.
Orang itu sudah memperkirakan bahwa, target yang dia ikuti akan pergi ke halte bus ini.
Dia hanya pura-pura sibuk dengan game yang ada di handphone miliknya. Tanpa terlihat peduli dengan keadaan sekitarnya.
Dan pada saat ada bus, kemudian papanya Dika naik, orang tersebut juga ikut naik. Dengan bus yang sama, seperti yang dinaiki oleh papanya Dika.
__ADS_1
Tapi orang tersebut memilih tempat duduk yang berjauhan dengan targetnya. Dia tidak mau, jika target merasa curiga lagi dengan niatnya yang memang membuntuti sedari tadi.
Pada saat tiba di depan rumah sakit yang cukup besar, papanya Dika turun.
Tek tek tek!
Papanya Dika, mengetuk-ngetuk kaca bus, isyarat pada supir ahar berhenti.
"Kiri ya Bang!"
Bus berhenti, kemudian papanya Dika turun dari bus tersebut.
Tapi, orang tadi tetap duduk di tempatnya. Dia tidak mau ikut turun, karena itu akan menimbulkan kecurigaan lagi.
Setelah beberapa meter kemudian, orang tersebut meminta pada supir bus untuk kembali berhenti.
"Pak. Pak, Kiri!"
Bus kembali berhenti, baru kemudian orang itu turun.
Orang tersebut tampak berjalan ke arah rumah sakit. Sama seperti yang dilakukan oleh targetnya tadi.
Jadi, meskipun dia masih ada di dalam bus dan belum ikut turun. Dia tetap mengamati targetnya, yaitu papanya Dika.
Tapi sayangnya, begitu dia masuk ke dalam loby rumah sakit, papanya Dika sudah tidak terlihat lagi. Dia sudah pergi dan tidak tahu, ke mana arah lorong yang dia tuju.
"Ah, kurang cepat tadi!"
Orang tersebut mengerutu sendiri, dan memutuskan untuk menghubungi temannya. Yang tadi masih ada di rumah tahanan negara.
Tut tut tut!
Tut tut tut!
..."Ya halo. bagaimana?" ...
..."Target memasuki rumah sakit XXX. Tapi Aku kehilangan jejaknya. Sama seperti yang tadi Aku kabarkan. Jika dia mulai mencurigai keberadaan ku. Itulah sebabnya, Aku memberikan jarak."...
..."Tapi hasilnya bagaimana?" ...
"Belum. Ini Aku baru mau ke ruang keamanan untuk minta beberapa bukti cctv rumah sakit."
..."Oh, ya sudah." ...
..."Lalu, bagaimana keadaan di sana?" ...
__ADS_1
..."Ada beberapa keterangan yang memang menjurus ke arah balas dendam. Karena ternyata, target ke rumah tahanan negara ini, untuk bertemu dan berbicara dengan istrinya. Yang sudah ada di sini beberapa tahun lalu." ...
..."Istrinya?" ...
..."Iya istrinya. Kenapa?" ...
..."Lalu, yang ada di rumah sakit siapa?" ...
..."Itu kan tugas Kamu mencari tahu kawan! Bagaimana bisa Kamu jadi linglung. Hahaha..."...
..."Hehehe... iya-iya."...
..."Ya sudahlah. Kamu lanjutkan saja pekerjaan Kamu di sana!" ...
..."Ok-ok!" ...
Klik!
"Hufhhh..."
Dengan membuang nafas panjang, penyidikan akan dia lanjutkan dengan bekerja sama dengan pihak rumah sakit.
Dua harus meminta pada pihak IT, untuk memberikan beberapa rekaman cctv, yang tentunya ada banyak di sudut-sudut jalan dan bangunan rumah sakit ini.
Tanda pengenal kepolisian dan surat tugasnya sebagai penyidik, akan memudahkan dirinya dalam melakukan negosiasi dengan pihak rumah sakit. Terutama pada bagian humasnya.
Tak lama kemudian, keberadaan target dia ketahui. Bahkan, dia juga tahu, siapa orang yang sedang dirawat di sini. Dengan penyakit dan keadaan pasiennya juga. Sungguh miris. Dan membuat penyidik tidak langsung menangkapnya.
Dia akan meminta pendapat, sekaligus melaporkan semua hasil yang sudah dua dapatkan hari ini.
Setelah di rasa selesai, Penyidik minta untuk undur diri. Dia juga mengucapkan terima kasih, atas kerja sama yang baik untuk penyidikan yang sedang dia lakukan.
"Terima kasih atas semua bantuan yang diberikan. Tapi, Saya minta tolong. Agar apa yang terjadi sekarang ini, jangan sampai target tahu!"
"Siap pak polisi!"
Pihak humas dan it rumah sakit, mrnyangupi permintaan dari pihak penyidik.
"Semoga saja, semuanya akan terungkap secepatnya. Aku pribadi, sebenarnya tidak tega melihat keadaan anaknya target. Tapi mau bagaimana lagi. Kejahatan yang dia lakukan juga tidak ringan. Dan diduga, dia ikut bergabung dengan sindikat perdagangan manusia."
Penyidik tadi, bergumam seorang diri. Mengenai apa yang dilakukan oleh targetnya selama ini.
Setelah pamit, dia segera pergi ke kantor polisi. Karena tadi sudah punya janji temu dengan temannya, yang tadi masih ada di rumah tahanan.
Mereka berdua sepakat untuk bertemu di kantor polisi saja. Karena penyidikan yang dilakukan sudah membuahkan hasil.
__ADS_1