Dia Milikku ( Berbagi Cinta )

Dia Milikku ( Berbagi Cinta )
Masih Di Meja 17


__ADS_3

Kamar kecil restoran untuk wanita, tidak terlalu jauh dari kamar kecil laki-laki.


Saat Ara masuk, Awan sedang keluar dari kamar kecil juga. Dan sekilas, dia melihat seseorang, yang mirip dengan Ara.


"Itu Ara bukan sih?" gumam Awan, bertanya kepada dirinya sendiri. Dia merasa penasaran, dengan sosok yang tadi dia lihat, meskipun hanya sekilas saja.


'Tapi ini bukan Jakarta Wan, yang bisa saja Ara memang kebetulan ada di tempat yang sama dengan kamu.' Batin Awan, membantah pandangan dan pertanyaan yang dia ajukan sendiri.


Awan menghela nafas panjang, kemudian melangkah meninggalkan tempatnya berdiri. Dia berpikir bahwa, dia hanya terbayang-bayang dengan Ara.


'Ya, mungkin Aku hanya sedang kangen dengan dia. Ini sudah satu tahun lebih, Aku tidak melihatnya. Apa mungkin, dia masih ingat Aku? atau jangan-jangan, justru sekarang ini, dia sudah punya pacar?' tanya Awan ragu.


Dug!


"Aduh!"


Awan mengaduh, saat dia tidak memperhatikan pintu kaca, yang menghubungkan antara lorong kamar kecil, dengan ruangan restoran, sehingga kepalanya membentur pintu kaca tersebut.


"Hati-hati Mas," kata salah satu pelayan, yang melihat kejadian itu.


Dengan wajah menahan rasa malu, Awan menganggukkan kepalanya, tanpa mengeluarkan sepatah katapun.


Baru setelah sampai di bawah tangga, sebelum dia naik, Awan menghembuskan nafas lega.


"Huhfff... akhirnya. Eh, semoga saja, yang mau ditemui Oma belum datang. Jadinya Aku gak terlambat."


Awan berharap supaya, seseorang yang katanya datang untuk menemui omanya, masih belum datang, sehingga dia tidak malu, karena dia belum juga ada di tempatnya.


Tapi harapan yang baru saja selesai diucapkan oleh Awan, tidak menjadi kenyataan.


Orang tersebut, yang mau ketemu omanya, sudah duduk bersama dengan omanya. Bahkan, datang juga bersama dengan keluarganya yang sudah Awan kenal.


"Kak Awan..."


Kesadaran Awan kembali, saat ada suara yang memangilnya.


"Dek Anggi," sapa Awan, yang berusaha untuk tetap berjalan dengan tenang menunju ke meja 17.


'Apa yang tadi aku lihat memang...'


"Gak nyangka lho Kak, ternyata ayah ngajak ke restoran ini buat ketemu oma dan Kakak juga." Anggi berseru dengan senang, karena memang dia tidak tahu, jika ada Awan yang akan mereka temui.


"Malam Om Abi, Bunda Jani."


Akhirnya Awan menyapa, kemudian menyalami Abimanyu dan juga Anjani terlebih dahulu, sebelum menyahuti perkataan yang diucapkan oleh Anggi.

__ADS_1


"Hehehe... iya Dek. Kakak juga gak nyangka, bisa ketemu sama Kamu di sini. Oma gak bilang sih, jika mau ketemu sama keluarganya Adek."


"Udah lama banget Kak kita gak pernah ketemu. Kakak gak masih di Jakarta? sering ketemu kak Nanda atau Miko gak?" tanya Anggi, yang memberikan banyak pertanyaan pada Awan.


"Adek," tegur Anjani, yang memperingatkan anaknya, Anggi.


Tapi sepertinya Anggi tidak bisa diperingatkan. Dia merasa ingin tahu lebih banyak lagi, dari apa yang sekarang ini terjadi di Jakarta sana.


Padahal sebenarnya, Awan juga ingin bertanya pada Anggi, tentang Ara. Tapi karena Anggi yang masih mendominasi pembicaraan mereka, akhirnya Awan hanya menanggapi hal itu dengan senyuman saja.


"Namanya anak-anak Jani. Lagipula, dia sudah lama tidak berada di Jakarta. Dia juga tidak tahu, jika selama ini Awan ada di sini, bukan di Jakarta." Mama Amel, menegur Anjani, yang memperingatkan anaknya itu, supaya tidak bertanya pada Awan, tentang banyak hal.


"Oh ya, Anggi mau makan apa Nak?" tanya mama Amel, mengalihkan perhatian Anggi dari semua pertanyaan yang dia miliki, untuk ditanyakan kepada Awan.


"Emhhh... soto ada tidak Oma?" jawab Anggi, dengan bertanya tentang jenis makanan yang dia inginkan, sedari tadi, saat masih berada di rumah.


"Emhhh... ini menu-menu soto dan sate. Anggi bisa pilih ya," jawab mama Amel, menyodorkan satu buah buku menu makanan khusus untuk soto dan sate, di depannya Anggi.


Tentu saja, Anggi menerima buku menu tersebut dengan senang hati.


Sekarang, dia sibuk membuka-buka buku dan memilih soto yang dia inginkan.


Awan melihat sekeliling. Dia masih penasaran, dengan bayangan yang tadi dia lihat di kamar kecil wanita.


"Emhhh... Awan, Awan ikut Oma aja, mau pesan apa."


Mama Amel mengelengkan kepala, melihat kegelisahan yang terlihat jelas dari cara pandang dan bicaranya Awan.


Apalagi, Abimanyu ataupun Anjani, tidak membahas tentang Ara, sedari tadi.


"Masak sih mau ikut menu pesanan Oma? Memang Kamu mau makan serabi?" tanya mama Amel, memancing cucunya, agar tidak lagi gelisah dan memperhatikan sekeliling mereka.


Awan mengalihkan perhatiannya ke arah omanya, kemudian tersenyum malu.


Kini, Awan menerima buku menu, yang diberikan oleh omanya itu untuknya, supaya dia bisa memilih sendiri, makanan dan minuman yang dia inginkan. Sama seperti yang dilakukan oleh Anggi tadi.


Tak lama kemudian, di saat Awan masih sibuk memperhatikan buku menu, Ara tiba di samping adiknya.


"Kak Ara, Kakak mau makan soto juga gak? kayak Anggi."


Tapi Ara tidak menyahut perkataan yang diucapkan oleh adiknya, Anggi. Dia justru terdiam dengan memandang ke arah depan adiknya, yang ada di seberang meja.


Di tempat duduknya, Awan juga melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan oleh Ara. Dia tidak menyangka, jika pendengarannya sendiri tidak bermasalah, saat mendengar perkataan Anggi, yang menyapa kakaknya, Ara.


Itulah sebabnya, dia langsung mengalihkan perhatiannya dari buku menu, ke arah Anggi, di mana Ara sedang berdiri di sampingnya adiknya itu.

__ADS_1


Ara juga merasa surprise, saat melihat keberadaan Awan, yang tidak pernah dia sangka, akan berada di meja yang sama seperti keluarganya saat ini.


Mereka berdua, Ara dan Awan, saling pandang tanpa mengeluarkan sepatah kata.


"Kak duduk dulu," tegur Abimanyu, yang memang menyisakan satu tempat duduk untuk anaknya, Ara.


"Eh, i_iya Yah." Ara tersadar, dan mengiyakan permintaan ayahnya dengan gugup.


Awan juga dengan cepat mengalihkan pandangannya dari Ara, ke buku menu lagi.


Posisi duduk dengan meja besar yang berbentuk melingkar, mama Amel, Awan, Abimanyu, kursi untuk Ara, Anggi dan Anjani, Tentunya membuat posisi duduk Awan dan Ara juga saling berhadapan, karena berdampingan dengan tempat duduknya Anggi.


Tak lama kemudian, mama Amel memanggil salah satu pelayan restoran, untuk memesan makanan yang akan mereka pesan.


*****


"Jadi, Kamu pindah ke sini, begitu semester selesai, tanpa menunggu hasil rapor dulu?" tanya Awan, saat ada kesempatan untuk berbicara dengan Ara sendiri.


"Iya Kak. Tapi Aku juga langsung masuk asrama, karena waktu pendaftaran dan libur di sini, berbeda dengan Jakarta."


Awan mengangguk mengerti, dengan apa yang dikatakan oleh Ara.


"Semua diurus pihak yayasan sekolah, jadi Aku tinggal berangkat, dan belajar menyesuaikan diri saja di asrama sekolah yang baru."


Awan kembali menganggukkan kepalanya paham, dengan apa yang dikatakan oleh Ara barusan.


"Pantes saja, sebelum acara perpisahan sekolah, Kamu sudah tidak pernah terlihat lagi," kata Awan, menanggapi perkataan Ara.


"Memang Kakak tahu?" tanya Ara cepat.


Dia merasa senang, karena ternyata Awan memperhatikan dirinya, di sekolah.


"Ya... kan diparkiran Nanda selalu sendiri," sahut Awan dengan cepat, dan sedikit gugup.


"Oh..."


Ara jadi merasa kecewa, dengan perkataan Awan yang barusan itu. Dia merasa sudah terlalu berharap, jika Awan benar-benar memperhatikan dirinya.


Tapi ternyata, semua karena kebiasaan mereka, yang sering bertemu di parkiran motor milik Pak Lek.


Namun Ara tidak tahu jika, Awan menyesali perkataan yang diucapkan, untuk menutupi kegugupannya di depan Ara.


'Harusnya kan Aku ngaku aja, kenapa sulit sih? Ngaku dong Wan, biar Kamu juga tahu, bagaimana perasaan dia sama Kamu.'


Awan berkata dengan marah, di dalam hatinya sendiri, untuk dirinya sendiri juga.

__ADS_1


__ADS_2