Dia Milikku ( Berbagi Cinta )

Dia Milikku ( Berbagi Cinta )
Kabar Baik


__ADS_3

Kebahagiaan yang sedang dirasakan oleh Anjani dan Abimanyu benar-benar membuat mama Amel terharu. Dia juga ikut merasakan kebahagiaan itu, dengan tersenyum dan tanpa sadar menitikkan air mata.


"Selamat ya Jani, Abi. Sebentar lagi, kalian akan menjadi orang tua. Kalian harus mensyukuri anugerah ini, dan menjaganya dengan baik."


Mama Amel, memberikan mereka berdua, Anjani dan Abimanyu, ucapan selamat dan juga beberapa nasehat. Dia ingin, pasangan muda yang ada di depannya ini, bisa akur dan bahagia selamanya.


"Terima kasih Tante Amel. Ini adalah anugerah yang tak terhingga dan patut untuk kami syukuri tentunya," sahut Abimanyu, kemudian melepaskan pelukannya pada Anjani. Dia menutun Anjani, untuk duduk di kursi tamu. Setelah itu, dia sendiri duduk di sebelah istrinya, kemudian beralih pada mama Amel, untuk memulai pembicaraan dari maksud kedatangannya ke Bogor hari ini.


Mama Amel, mengatakan maksud dari kedatangannya kali ini. Silain untuk pekerjaan rutin untuk Abimanyu terkait perusahaan miliknya, mama Amel juga mengatakan jika dia ingin mengajak Abimanyu untuk bekerja sama membuat suatu organisasi untuk mengawasi semua perusahaan, yang masih ada di bawah kepemimpinan keluarga Samudra.


Mama Amel percaya, jika Abimanyu mampu memimpin dan mengajari beberapa orang yang ikut serta dalam organisasi itu nantinya. Jadi, Abimanyu selain menjadi tim audit freelance untuk beberapa perusahaan yang biasa dia tangani, dia akan menjadi pemimpin organisasi audit yang bernaung di bawah Samudra Group.


"Bagaimana Abi, apa Kamu tertarik? jika iya, segera kasih Mama jawaban dalam waktu satu bulan ini ya, dan itu berarti kalian harus tinggal di Jakarta. Jangan kayak kemarin-kemarin, Anjani di tinggal-tinggal terus. Kafe ini biar di kelola pegawai saja. Itu akan membuat kalian berdua fokus dalam berumah tangga. Di Jakarta, kalian bisa tinggal di rumah milik Anjani yang dari Elang, atau kalau tidak mau, rumah itu bisa di jual dan cari rumah yang lain. Mama yakin, Abimanyu masih mampu membeli rumah yang lebih bagus dari rumah itu kok, tabungan Abimanyu itu banyak kok Anjani, jadi jangan khawatir, hehehe..."


Mama Amel, terkekeh sendiri, setelah selesai berbicara tentang rumah dan tabungan. Tapi dia yakin, jika Abimanyu mampu mencukupi kebutuhan keluarga mereka. Sebab, selama mama Amel mengenal Abimanyu, dia adalah pemuda yang rajin, dan tidak suka berfoya-foya, seperti pemuda lain yang memiliki banyak pendapatan dan uang.


"Kami akan bicara dan diskusikan ini terlebih dahulu Tante. Jadi, Kami tidak bisa memberikan jawaban dan juga keputusan saat ini juga," kata Abimanyu, agar mama Amel tidak berharap banyak jika ternyata dia ataupun Anjani sendiri, tidak ingin pindah ke Jakarta nanti.


"Tidak apa-apa. Tante tidak maksa kok Abi. Ini hanya usulannya Tante saja. Senyaman kalian, bagaimana baiknya. Ini Tante cuma usul karena akan memudahkan Kamu saat kerja di Samudra Group. Kamu tahu sendiri, perusahaan kami terus menambah anak cabang dengan berbagai macam jenis usaha juga. Sebenarnya Tante sudah capek, tapi bagaimana lagi, usaha harus terus berjalan agar tidak turun dan bangkrut. Bisa-bisa malah pengangguran bertambah gara-gara Samudra Group jatuh pailit karena tidak profesional dalam pengelolaannya."

__ADS_1


Setelah berbincang dengan serius, mereka bertiga juga berbincang-bincang dengan santai dengan topik yang ringan. Dari mulai makanan, tempat rekreasi keluarga yang sedang banyak diminati masyarakat serta kendaraan-kendaraan yang sedang laku di pasaran saat ini.


"Oh ya, Anjani kan tidak bisa menyetir. Ajari dong Bi, biar bisa kemana-mana sendiri kalau ada keperluan dan kepentingan yang kebetulan sedang tidak ada Kamu di rumah. Dia kan gak bisa naik motor karena trauma ya Jani, kalau tidak salah?"


Abimanyu, mengerutkan keningnya memikirkan apa yang baru saja dikatakan oleh mama Amel. Dia tidak tahu, jika Anjani ada trauma dengan motor.


"Benarkah itu Sayang?" tanya Abimanyu sambil melihat ke arah istrinya, Anjani.


Anjani hanya mengangguk. Dia akhirnya bercerita pada Abimanyu, bagaimana awalnya dia bisa trauma saat naik motor sendiri. Sebab itulah, selama ini, dia hanya membonceng saja. Kalau mobil, dia memang belum pernah belajar, karena ayahnya yang hanya seorang karyawan biasa, tidak mungkin mampu membeli sebuah mobil.


"Oh, jadi begitu ceritanya. hehehe... Aku pikir kenapa tadi," ucap Abimanyu, dengan terkekeh sendiri setelah mendengar cerita dari Anjani, soal ketakutannya naik motor sendiri.


Anjani, jadi teringat dengan kejadian waktu itu. Saat dia menabrak pagar rumah tetangga. Kaki dan tangannya luka dan cidera. Motor ayahnya juga rusak, tapi tetangga malah ngomel-ngomel pada ayahnya. Anjani jadi sedih, teringat dengan ayahnya yang sudah tiada.


Abimanyu, memeluk istrinya dari arah samping. Dia mengusap-usap lengan istrinya itu, dengan maksud menenangkan hati Anjani.


"Sudah-sudah. Kita bisa belajar lagi nanti, atau belajar nyetir sekalian. Tapi nanti jika sudah lahiran ya, atau mau sekarang ini?" tanya Abimanyu sambil tersenyum-senyum sendiri, menggoda Anjani agar tidak lagi bersedih.


"Oh ya Abi, Jani. Hujan sudah reda. Mama mau balik ke Jakarta dulu ya. Kasihan papa Riyan jika harus Mama tinggal kelamaan, bisa-bisa digaet orang nanti, hahaha..." Mama Amel, akhirnya berpamitan pada Anjani dan Abimanyu. Di luar, hujan memang sudah tidak lagi turun dengan derasnya. Hanya tinggal gerimis kecil yang masih belum mau pergi.

__ADS_1


*****


Setelah mendapat surprise tadi, sepulangnya dari Jakarta, Abimanyu merasa benar-benar menjadi seorang suami yang sempurna. Dengan kehamilan istrinya itu, dia akan menjadi seorang ayah, dalam waktu yang tidak lama lagi.


Dia terus mengembangkan senyumnya. Apalagi saat berpapasan dengan Anjani, atau sedang duduk berdua seperti malam ini.


"Mas, kenapa senyum-senyum terus sedari tadi? Apa ada yang aneh dan lucu ya dengan Jani?" tanya Anjani curiga. Dia takut jika ada yang salah dengan penampilannya, sehingga ditertawakan oleh suaminya itu.


"Tidak ada apa-apa Sayang. Mas hanya bahagia melihatmu, yang sedang mengandung anak kita. Besok kita periksa kandungan ya, Mas akan antar Kamu ke dokter kandungan untuk cek up."


Abimanyu, menjelaskan pada Anjani, bahwa kebahagiaan yang sedang dia rasakan ini, benar-benar tidak bisa diungkapkan dalam bahasa apapun. Dia juga meminta Anjani, agar mau diantar pergi ke dokter kandungan, untuk cek up dan mengetahui, sudah berapa lama kandungan Anjani itu, sehingga ketahuan juga, kapan perkiraan waktu untuk melahirkan nanti.


Dengan tersenyum, Anjani mengangguk setuju. Dia memang belum periksa ke dokter kandungan. Dia ingin menunggu kedatangan Abimanyu, dan pergi periksa bersama-sama. Dia ingin, Abimanyu mengetahui perkembangan anak yang masih berada di dalam rahimnya itu


"Kita kasih kabar ke eyangnya sekarang yuk! Mereka pasti akan ikut senang dan merasakan kebahagiaan yang sama seperti kita juga. Anak kita ini adalah cucu pertama mereka," kata Abimanyu, mengusulkan supaya memberitahukan kabar kehamilannya itu pada ibu dan ayahnya di Jakarta.


"Iya Mas. Jani pikir juga begitu. Biar kebahagiaan ini menular juga ke tempat lain.


Tapi sebelum Abimanyu sempat melakukan panggilan telpon untuk ibu dan ayahnya di Jakarta, handphone miliknya bergetar dan ada nama ibunya, yang tertera di layar handphone tersebut.

__ADS_1


__ADS_2