Dia Milikku ( Berbagi Cinta )

Dia Milikku ( Berbagi Cinta )
Bisa Karena Biasa


__ADS_3

Seminggu kemudian.


Semua kembali berjalan dengan normal. Abimanyu akan pergi mengurus surat keterangan sekolah untuk Anggi. Dia pergi ke sekolahnya Anggi, tak lama setelah Anggi pergi ke sekolah pagi tadi. Tanpa memberitahu pada Anggi sendiri.


"Bunda lanjut beres-beres saja. Ayah pergi sendiri, sekalian antar Ara ke kampus."


"Iya Yah. Tapi, itu Anggi sekalian di ajakin pulang gak nanti?" tanya Anjani memastikan.


Karena Anggi memang tidak tahu jika, ayahnya akan pergi ke sekolahnya hari ini. Untuk mengurus surat-surat yang diperlukan untuk pindah sekolahnya ke Indonesia.


"Liat nanti aja Bun," sahut Abimanyu, yang tidak tahu bagaimana aturan sekolah di tempat Anggi, jika akan pindah sekolah.


Apalagi, ini pindahnya juga lintas negara. Meskipun Anggi sendiri memang berasal dari Indonesia.


"Ra! Udah siap belum?" tanya Abimanyu pada Ara.


"Ya Yah."


Ara pun keluar dari dalam kamar. Dia sudah tampak siap untuk berangkat bersama dengan ayahnya.


"Pergi dulu ya Bun," pamit Ara, pada bundanya.


Anjani mengangguk mengiyakan. Begitu juga di saat Abimanyu berpamitan dengannya.


"Ayah sekalian pergi ke kantor juga Bun. Nengok aja, soalnya udah gak ada yang ayah kerjakan juga di sana."


"Iya Yah, hati-hati. Tapi, jika Anggi langsung ikut pulang gak ke kantor kan?" tanya Anjani. Karena merasa khawatir jika Anggi akan langsung ikut pulang bersama dengan ayahnya.


"Belum tahu Bun. Tapi jika Adek mau ikut pulang ya, Ayah langsung pulang. Gak jadi ke kantor," jawab Abimanyu, sambil mengambil kunci mobilnya yang ada di atas meja.


Setelah keduanya, Abimanyu dan Ara pergi, Anjani kembali ke rutinitas sehari-hari. Yaitu membereskan segala sesuatunya yang perlu dibereskan.


Dia juga sudah menyimpan koper yang sudah di paking ke tempat yang aman.


Drettt drettt drettt!


Drettt drettt drettt!


Handphone milik Anjani bergetar. Ada panggilan masuk untuknya. Dan pada saat dia melihat ke layar handphone, ada nama Ara di layar tersebut.


"Ara? Ada apa ya?" tanya Anjani, yang merasa bingung karena, anaknya itu baru saja pergi bersama dengan ayahnya.


..."Ya Kak. Ada apa?" ...


..."Bun. Handphone ayah ada di meja gak?" ...


..."Handphone Ayah? bentar ya!" ...


Anjani berjalan dari dapur ke arah ruang tamu. Tapi dia tidak melihat keberadaan handphone milik suaminya.


..."Di meja tamu gak ada Kak. Ayah taruh di mana tadi?" ...

__ADS_1


Terdengar Ara yang sedang bertanya pada ayahnya. Tapi, ayahnya justru menjawab jika lupa meletakkan di mana handphone miliknya. Kemudian terdengar suara Abimanyu, yang meminta pada istrinya, untuk mencarinya ke dalam kamar.


..."Coba meja di dalam kamar Bun!" ...


..."Iya Yah. Ini bunda juga udah masuk ke dalam kamar kok." ...


Anjani memeriksa meja dan tempat tidur. Tapi, handphone milik suaminya tidak juga terlihat.


..."Coba matikan Ra. Terus hubungi nomor handphone milik Ayah. Jika ada di rumah, bunda pasti bisa dengar." ...


..."Oh iya Bun, bentar!" ...


Klik!


Beberapa saat kemudian, terdengar suara dering handphone. Tapi bukan dari handphone milik Anjani.


Dengan mempertajam daya pendengarannya, Anjani mencari sumber suara. Dia yakin jika, itu adalah suara handphone milik suaminya yang tertinggal di rumah.


Dan ternyata, suara tersebut berasal dari arah dapur. Ada di atas lemari pendingin.


"Ayah. Ternyata ada di sini dia naruh. Pasti pas ayah ambil minum tadi," gumam Anjani, dengan mengelengkan kepalanya.


Dia ambil handphone milik suaminya itu, kemudian memencet tombol hijau untuk menyambungkan panggilan telpon dari Ara.


..."Halo Kak." ...


..."Ketemu Bun?" ...


..."Hehehe. di mana tadi Bun?" ...


..."Di atas lemari pendingin. Ayah Kamu mulai pikun itu Kak. Hihihi..." ...


..."Hahaha... memang sudah tua kan Bun. Tak lama juga punya mantu kita." ...


Yang terakhir adalah suaranya Abimanyu, yang sedang menyahuti perkataan yang diucapkan oleh istrinya. Di saat tadi mengatakan dia sudah pikun.


..."Hehehe... iya Yah. Tak lama setelah itu juga, punya cucu kita. Hihihi..." ...


..."Ih, Bunda!" ...


Ara merajuk seperti anak kecil, karena merasa di ledek oleh ayah dan bundanya. Meskipun itu lewat panggilan telpon saja.


..."Ya sudah Bun. Kami lanjut perjalanan lagi. Ini tadi berhenti dulu."...


..."Iya-iya, hati-hati."...


Klik!


Anjani mengelengkan kepalanya beberapa kali, saat teringat dengan kebiasaan lupa suaminya itu, untuk beberapa hari terakhir ini.


Sama seperti saat mandi kemarin. Abimanyu lupa membawa handuk, dan akhirnya mengeringkan tubuhnya dari pakaian kotor yang dia pakai sebelum mandi.

__ADS_1


"Hemmm... sepertinya, waktu pensiun ayah memang harus dipercepat. Gak bisa ditunda lagi. Apalagi, menunggu Ara wisuda."


"Takutnya, kebiasaan pikuk ayah akan mempengaruhi pekerjaannya di perusahaan. Kan bahaya jika sampai lupa tanda tangan atau berkas penting lainnya."


Anjani terus bergumam seorang diri, sambil bekerja. Melanjutkan pekerjaannya yang tadi sempat tertunda, karena penggilan telpon dari Ara.


*****


Di jalan.


"Ayah sudah banyak pikun Ra," kata Abimanyu, pada saat panggilan telpon ke istrinya di tutup.


"Ayah. Ayah itu sehat. Tapi karena ayah sedang ada pikiran aja kan? Jadi kayak gini," sahut Ara, yang tidak mau jika, ayahnya banyak berpikir yang tidak-tidak.


"Mungkin juga Kak. Ayah tak lama lagi ada di sini. Kamu masih harus di sini. Hemmm... ayah gak bisa berbuat banyak Kak," tutur Abimanyu, yang tentunya memikirkan banyak hal tentang anaknya, yang akan tinggal sendiri di Amerika sini.


"Ayah. Jangan bilang begitu. Ara jadi sedih. Apa Ara ikut pulang ke Indonesia saja?"


"Tidak-tidak Kak. Semua Ayah di dunia ini, pasti akan berpikir yang sama seperti ayah juga. Khawatir dengan keadaan anak-anaknya. Apalagi jika anaknya itu ada di tempat yang jauh dari dia."


Ara menahan air mata haru. Dia merasa sangat bahagia, karena ayahnya ini selalu perhatian. Meskipun di luar tampak datar dan tidak banyak bicara.


"Ayah..."


Ara memeluk ayahnya, dari arah samping. Dia merasa sangat bahagia, tapi juga sedih. Karena sebentar lagi, dia akan di tinggal pergi ayahnya itu, untuk balik ke Indonesia.


"Kakak ikut pulang bersama kami, untuk melakukan pernikahan kan?" tanya Abimanyu, yang memang sudah punya rencana untuk menikahkan anaknya itu terlebih dahulu, sebelum Ara dilepas sendiri hidup di Amerika bersama dengan Awan.


"Iya Yah. Ara tidak mau Ayah kepikiran tentang Ara."


Abimanyu mengusap-usap rambut anaknya itu, dengan satu tangannya. Sedangkan satu tangan yang lain, masih memegang setir mobil.


Saat tersadar, Ara melelahkan pelukannya pada ayahnya. Dia tidak mau jika, ayahnya jadi tidak berkonsentrasi pada kemudi.


Abimanyu tersenyum, dan kembali memegang kemudi dengan dua tangannya.


"Kamu udah siap kan, jadi istri dari Awan Samudra?"


"Maksud Ayah?"


Ara tidak tahu, apa maksud dari pertanyaan yang diajukan oleh ayahnya itu.


"Hehehe... soalnya, Awan itu tampak datar dan gak perhatian Ra. Tapi, itu jika dengan orang yang tidak dekat dengannya saja. Kamu pasti paham kan, dengan apa yang ayah katakan ini?"


Ara tersenyum malu, mendengar perkataan ayahnya.


Dia paham jika, calon suaminya itu memang tampak datar dan tidak banyak bicara. Apalagi, Awan juga tidak punya saudara, dan terbiasa sendiri.


Jadi, dia harus bisa mengimbangi sikap dan kebiasaan Awan. Yang tentu saja berbeda dengan dirinya.


"Nanti lama-lama juga akan terbiasa Yah," sahut Ara, setelah terdiam sejenak.

__ADS_1


"Hahaha... iya-iya Kak. Nanti juga terbiasa dan bisa tentunya."


__ADS_2