Dia Milikku ( Berbagi Cinta )

Dia Milikku ( Berbagi Cinta )
Kesibukan Fitting


__ADS_3

Empat bulan kemudian.


Hari yang dinanti-nanti oleh kedua belah pihak keluarga, akan segera tiba. Persiapan pernikahan antara Ara dan Awan, akan segera dilaksanakan. Semua sudah diserahkan kepada pihak WO yang ditunjuk oleh mama Amel.


WO yang sama juga, pada saat melaksanakan pertunangan cucunya, Awan dengan Ara.


Tentu saja, waktu seperti ini adalah waktu yang sudah ditunggu-tunggu oleh Awan, dan juga Ara tentunya..


Begitu juga dengan kedua belah pihak keluarga. Baik dari keluarga Abimanyu, maupun keluarga Elang. Terutama mama Amel.


Dia sepertinya sudah tidak sabar, menunggu waktu cucunya itu mengucapkan ijab kabul nantinya. Mama Amel juga terlihat begitu antusias, saat ada fitting baju pengantin, dan juga untuk baju seragam untuk kedua belah pihak keluarga.


"Lang, ayo cepetan! jangan sampai keluarga Abimanyu menuggu kita lama di butik." Mama Amel memperingatkan anaknya, agar bisa lebih cepat.


Padahal, Elang batu saja keluar dari dalam kamarnya sendiri. Karena hari ini, ada acara fitting baju di butik dari pihak keluarga.


Sedangkan Awan sendiri, sudah menjemput Ara sedari satu setengah jam yang lalu.


"Ma. Sabar ya Ma," kata papa Ryan menenangkan istrinya.


"Ih Papa. Elang itu kalau gak di suruh cepet-cepet, jadi santai Pa." Mama Amel, tidak mau disalahkan dalam keadaan seperti ini.


"Ayo Ma, Pa. Elang sudah siap!"


Sekarang, ketiganya keluar bersama dari dalam rumah. Mobil sudah tersedia, dan mereka akan di antar oleh supir ke tempat tujuan.


Mama Amel tidak mau disupiri anaknya, Elang. Karena dia tidak mau jika, Elang akan membawa mobilnya dalam keadaan santai. Apalagi, ini bukan untuk pergi bekerja atau ke kantor.


Tapi menurut mama Amel, ini juga merupakan hal yang sangat penting. Di banding dengan urusan kantor.


Itulah sebabnya, Awan di minta untuk ambil cuti untuk hari ini. Karena mama Amel tidak mau, ada keterlambatan ataupun alasan yang dibuat oleh Elang. Seandainya elang masih masuk kantor hari ini.


Di jalan, mama Amel terus menghubungi Awan ataupun Anjani. Dia bertanya pada mereka, apakah sudah tiba di butik atau belum.


..."Awan sedang perjalanan Oma. Bersama dengan Ara. Ayah dan bunda, juga Anggi, membawa mobil sendiri."...


..."Terus, ini yang nyetir siapa? Ara apa Kamu sendiri?"...


..."Awan Oma."...


..."Oh, ya sudah kalau begitu. Oma tutup ya telponnya!"...


..."Iya Oma, tidak apa-apa. Awan pakai handset juga kok."...

__ADS_1


..."Ya sudah, Kamu tetap hati-hati. Calon pengantin seharusnya sih gak boleh kemana-mana. Ah, pokoknya Kamu hati-hati!"...


..."Iya Oma, iya."...


Klik!


Di kursi penumpang bagian depan, Elang hanya tersenyum tipis. Mendengar mamanya yang sedang menelpon anaknya.


"Ma. Mama yang tenang Ma! Yang mau jadi pengantin wanitanya itu Ara Ma. Tapi ini kenapa Mama yang begitu sibuk dan tidak bisa tenang?" Elang mencoba untuk menenangkan mamanya.


Dia ingin, mamanya itu tetap bisa bersikap seperti biasanya. Dan tidak berpikir yang macam-macam.


"Ehmmm... begitulah mama Kamu Lang. Kayak gak kenal mama Kamu saja seperti apa," sahut papa Ryan, yang tetap kalem duduk di samping istrinya, di bangku penumpang bagian belakang.


"Kalian, para laki-laki memang bisa tenang? Mana yakin gak! Dulu, sewaktu Papa mau nikah sama mama bagaimana? panik dan tegang juga kan? ngaku aja deh Pa!"


"Hahaha..."


Papa Ryan tertawa terbahak-bahak, mendengar ucapan istrinya yang memang benar adanya.


Dulu, dia begitu panik. Tidak merasa tenang sama sekali. Sampai-sampai, dia lupa membawa cincin yang sudah dipersiapkan di meja kamarnya.


Untungnya, saat ada salah satu kerabat dekat meminta parfum dan masuk ke dalam kamar, melihat kotak cincin yang tergeletak. Kemudian berteriak memanggilnya, untuk memberikan kotak cincin tersebut.


Awan mengelengkan kepalanya beberapa kali, mendengar cerita dari mamanya. Tentang bagaimana historis pernikahan kedua orang tuanya itu.


"Sama kan itu? Semua pengantin ya begitu itu!" ucap mama Amel, menanggapi hal tersebut.


Oleh karena itu, dia tidak mau jika terjadi hal yang sama juga pada cucunya.


Mama Amel juga berharap, supaya cucunya, Awan, tidak mengalami nasib dan takdir yang sama seperti anaknya, Elang. Ayahnya Awan sendiri.


*****


Di butik, Awan dan Ara sudah tiba terlebih dahulu.


Dia sudah di sambut oleh pihak butik, yang sudah bekerja sama dengan pihak WO juga.


Ara sudah di ajak ke ruang ganti. Begitu juga dengan Awan. Mereka berdua, akan melakukan fitting baju pengantin untuk terakhir kalinya, sebelum acara di hari H nya.


Tak lama kemudian, Abimanyu dan Anjani tiba bersama dengan Anggi. Di susul dengan kedatangan mobil yang membawa mama Amel, bersama dengan Elang dan juga papa Ryan.


"Anjani!"

__ADS_1


Mama Amel memangil Anjani, yang baru saja akan masuk ke dalam butik.


Anjani tidak melihat keberadaan mama Amel dan keluarganya, karena dia memang sudah berjalan untuk masuk. Sedangkan mobil yang membawa mama Amel baru saja sampai.


Dengan segera, Anjani berbalik dan berjalan mendekat ke tempat mama Amel berada.


Begitu juga dengan Abimanyu dan Anggi. Mereka berdua, di ajak serta kembali, dan urung untuk masuk ke dalam butik.


Setelah saling menyapa dan cipika-cipiki, mereka masuk bersama-sama menuju ke dalam butik.


Dan yang berjalan paling belakang, tentunya ketiga pria, yang sebentar lagi akan menjadi keluarga juga. Yaitu Elang, papa Ryan dan Abimanyu.


"Ayah Edi tidak ikut Abi?" tanya papa Ryan, yang menanyakan keberadaan ayahnya, yaitu ayah Edi.


"Jadwalnya ayah dan keluarga Abi yang lain kan besok Tuan. Jadi, ya mereka besok kemari nya," jawab Abimanyu. Yang menjelaskan pada papa Ryan tentang keluarganya yang akan ikut fitting baju juga.


"Oh iya ya. Jika hari ini semua, bisa ambruk butiknya. Hahaha..."


Tawa papa Ryan menggema, karena dia tahu jika, keluarga Abimanyu itu cukup banyak juga. Meskipun hanya kedua orang tuanya dan adik-adiknya Abimanyu.


Tapi ada beberapa keponakan Abimanyu juga, anak-anaknya Sekar dan Yasmin, yang tentunya juga akan mengenakan pakaian yang sama juga. Di saat resepsi pernikahan Awan dan Ara nanti.


Sedangkan dari pihak Awan, tidak ada saudara dari Awan sendiri. Atau dari ayahnya, Elang. Yang memang menjadi anak tunggal di keluarga Samudra.


Begitu juga dengan almarhum Adhisti. Karena Adhisti, hidup di panti asuhan. Jadi, dia juga tidak punya saudara.


Sama seperti Anjani, yang juga hidup sendiri sebagai anak tunggal.


Karena pernikahan Awan dan Ara akan diadakan secara besar-besaran, tentunya undangan juga tersebar bukan hanya untuk keluarga dekat saja.


Semua saudara mama Amel dan papa Ryan, sudah mendapatkan undangan pernikahan ini.


Termasuk keluarga Atmojo. Yaitu keluarganya Mita.


Dari keluarga Abimanyu, juga sudah semuanya. Begitu juga dengan keluarga Anjani, yang ada di Bogor.


Bahkan, Nanda juga di minta untuk mengirimkan undangan untuk papa kandungnya. Yaitu Wawan, yang pastinya akan datang bersama dengan Mami, istrinya Wawan yang terakhir ini.


Anggi sibuk melakukan siaran langsung pada akun sosial media miliknya. Dia sibuk memamerkan koleksi-koleksi butik, dan sesekali meminta pada yang lain untuk menyapa di siaran langsung untuk dia lakukan.


Dan yang paling menghebohkan adalah, saat Ara dan Awan keluar dari ruang ganti.


"Woww! Calon pengantin kita sudah siap untuk ijab kabul!" ucap Anggi, memberikan komentarnya.

__ADS_1


Sedangkan siaran langsungnya masih dalam keadaan on.


__ADS_2