
"Memang kemana Pak ojek Kak?" tanya Ara, pada Nanda yang memintanya untuk segera naik ke atas boncengan motor.
"Pak ojek ada keperluan mendadak, dan bunda tidak mungkin menjemput Kamu. Makanya, bunda telpon Kakak, untuk minta tolong jemput Kamu sore ini," jawab Nanda, menjelaskan pada Ara, dengan alasan yang sudah dia persiapkan.
Ara pun mengangguk-anggukkan kepalanya, mendengar penjelasan dari kakak sepupunya itu.
Dia juga malas jika harus pulang sendiri sendiri, karena untuk naik angkutan atau bus, Ara harus berjalan ke halte, yang lumayan jauh jaraknya dari sekolah.
"Kak Nanda udah daftar sekolah?" tanya Ara, sebelum motor melaju untuk pulang.
"Belum. Mungkin besok."
Nanda menjawab pertanyaan dari Ara, kemudian segera bersiap untuk pergi dari depan gerbang sekolah. Mereka berdua, pulang ke rumah, dengan berputar-putar terlebih dahulu, karena Nanda beralasan untuk mencari sesuatu yang dia perlukan.
Padahal sebenarnya, Nanda sengaja membuat Ara terlambat untuk pulang ke rumah. Ini karena rencana ke-dua orang tua Ara, yang ingin membuat surprise.
Mereka semua harus sudah berkumpul di rumah, sebelum Ara tiba. Dan tadi, saat Nanda pergi untuk menjemput Ara, ayah Ara, Abimanyu, masih ada di perjalanan pulang dari kantor.
Bos Abimanyu, pemilik perusahaan tempat Abimanyu bekerja, juga mau ikut datang, bersama dengan keluarganya. Padahal sebenarnya, pesta ini hanya pesta kecil untuk keluarga mereka sendiri.
Karena bingkisan untuk syukuran, sudah dibagi-bagikan kepada tetangga sekitar rumah sejak siang tadi.
Anjani dan Sekar, dengan cepat memasak, karena dibantu oleh bibi pembantu rumah ayah Edi dan bibi pembantu rumah Sekar.
Ting!
Notifikasi pesan di handphone milik Nanda berdenting. Tanda jika ada pesan yang masuk.
Bunda Jani; 'Pulang Nda. Semua sudah berkumpul. Hanya nunggu bos ayah Abi saja. Tapi sepertinya mereka agak telat. Karena mereka pulang ke rumahnya sendiri terlebih dahulu.'
Nanda; 'Siap Bun.'
Nanda membalas pesan dari Anjani, dengan cepat, kemudian segera menyimpan handphone miliknya lagi ke dalam saku jaket.
"Ra. Gak ada deh yang Kakak cari. Kita pulang aja yuk!" ajak Nanda, setelah menyimpan handphone miliknya.
Ara pun mengangguk mengiyakan. Mereka berdua, berjalan lagi menuju ke tempat motor Nanda terparkir.
Tak lama kemudian, motor melaju ke arah jalan menuju pulang.
Ara tidak pernah menyangka dan juga berpikir bahwa, semua sudah diatur sedemikian rupa untuk dirinya. Bahkan dia sendiri lupa, jika hari ini adalah hari ulang tahunnya sendiri.
Pikiran Ara sudah terlalu penuh, dan kegalauan hatinya, membuat dirinya melupakan hari ulang tahunnya sendiri.
"Kok sepi Kak. Biasanya, Anggi sudah langsung membuka pintu, begitu mendengar suara motor Kakak, atau Pak ojek. Karena dia tidak pernah bisa tidur, jika Ara belum pulang sekolah."
__ADS_1
Ara merasa heran dengan keadaan rumah yang terlihat sepi. Pintu juga tertutup rapat. Tidak ada tanda-tanda, jika ada orang di rumah.
"Gak tahu juga Ra. Kakak gak tanya sih sama bunda. Dan bunda juga gak kasih kabar apa-apa tuh," jawab Nanda, seakan-akan dia tidak tahu apa-apa.
Ara turun dari bocengan. Dia berjalan dengan biasa, untuk mengetuk pintu rumah.
Tok tok tok!
Klek klek klek!
Ara mengetuk pintu, dan mencoba untuk membukanya juga. Tapi ternyata, pintu terkunci dan tidak bisa dibuka oleh Ara.
"Kak, kok di kunci? Gak ada orang di rumah nih. Bunda dan Anggi ke mana ya? Tante Sekar, masih dua bulan lagi kan lahirannya? apa tante Yasmin yang lahiran? jadi bunda ke rumah eyang?"
Ara bertanya dengan panik. Dia menduga bahwa, bunda dan adiknya, Anggi, pergi ke rumah eyangnya, karena mamanya Nanda, Yasmin, melahirkan.
"Gak. Mama masih dua puluh hari, kalau gak salah. Sepertinya bunda Jani nidurin Anggi."
Nanda mencoba mengalihkan perhatian Ara, agar tidak lagi berpikir macam-macam, dengan keadaan rumahnya yang sepi.
"Tapi Kak..."
"Surprise...!!!"
"Kakak!"
Pintu terbuka lebar, dan banyak orang yang keluar dari dalam kamar. Mereka semua, berteriak dengan senang, untuk membuat Ara menoleh ke arah mereka semua.
Anggi dan Miko, juga tidak mau ketinggalan, untuk membuat Ara terkejut.
Tentu saja, teriakan mereka semua mengagetkan Ara, yang sedang berbicara dengan Nanda. Dia membelalakkan matanya, mendengar dan melihat keadaan semua orang.
Anjani dan Abimanyu, bersama-sama mengandeng anaknya, Ara yang masih dalam keadaan terkejut dan bingung dengan apa yang terjadi di rumahnya saat ini.
Ada Ayah Edi dan juga istrinya, ibu Sofie, yang tadi ikut berteriak di depan pintu, mengatakan surprise untuk Ara.
Ada tantenya Sekar, yang dalam keadaan hamil, sedang duduk bersama dengan suaminya, Juna. Sedangkan tadi, Miko ikut menyambutnya di pintu rumah.
Di kursi yang lain, ada tantenya Yasmin, yang juga dalam keadaan hamil. Bahkan, sudah terlihat payah, karena sebentar lagi mau melahirkan. Suaminya Yasmin, sedang pulang ke kampung halamannya, dan baru akan kembali tiga hari lagi.
Balon warna-warni, tertata sedemikian rupa di ruang tamu, yang menjadi satu dengan ruang tengah juga. Karena rumah mereka ini, tidak begitu besar, sehingga tidak terlalu banyak ruangan juga.
"Bunda. Ayah. Ini ada apa?" tanya Ara bingung, karena melihat keadaan rumahnya yang tidak biasa.
Dari arah belakang kursi, yang diduduki tantenya Sekar, Ara dan Miko muncul dengan buku gambar mereka.
__ADS_1
Di buku tersebut, tampak tulisan yang tidak jelas terbaca oleh Ara, karena di tulis dengan pensil warna, dan tulisan Anggi serta Miko yang masih tampak berantakan juga.
Tapi karena Ara sudah terbiasa dengan tulisan mereka berdua, Ara jadi bisa membaca tulisan tersebut dengan jelas.
Di tangan Anggi, Ara membaca tulisannya, yang tertuju untuknya.
Selamat Ulang Tahun Kak Ara
Semoga Selalu Sayang Dengan Anggi
Tertanda, Anggi
Di tangannya Miko, Ara juga membaca tulisan yang sama seperti yang di pegang oleh Anggi.
Selamat Ulang Tahun Kak Ara
Semoga Tidak Nakal Sama Miko lagi
Tertanda, Miko
Ara terbelalak melihat tulisan mereka berdua. Dia merasa sangat terharu dengan cara adik-adiknya itu memberikan ucapan selamat ulang tahun untuknya.
Semua orang, menunggu dengan tersenyum, karena ingin mendengar apa yang akan Ara katakan, setelah melihat semua ini.
Tapi ternyata Ara tidak mengatakan apa-apa. Dia justru menangis sendiri. Dia menangis haru, dan bahagia dengan semua yang dia dapatkan di hari ulang tahunnya kali ini.
"Hiks hiks hiks... Bunda... Ayah..."
Ara mengambil tangan Anjani dan Abimanyu, untuk dia genggam dengan dua tangannya.
Setelah ayah dan bundanya ada di sampingnya, Ara memeluk keduanya, masih dengan keadaan menangis.
Anjani dan Abimanyu, juga ikut menitikkan air mata haru, karena bahagia melihat anaknya yang satu ini, sudah tumbuh menjadi gadis remaja, dengan segala keistimewaan yang dia miliki.
"Terima kasih Kak Ara. Kakak sudah ada, di saat ayah dan bunda dalam keadaan terpuruk dan tidak bersemangat. ikut menjaga Ayah, waktu Ayah sakit. Bahkan, banyak membantu bunda dan juga Ayah, pada saat perawatan Ayah waktu itu. Kakak juga tidak rewel, dan mengerti keadaan Ayah serta bunda, yang serba terbatas. Ayah bangga, pada Kamu Sayang. Semoga, kebahagiaan akan selalu ada di dalam kehidupanmu kedepannya."
Abimanyu, mengucapkan doa dan harapan untuk anaknya, Ara. Anak yang lahir dari rahim istri tercintanya, Anjani, setelah anak pertamanya, gagal untuk bisa dipertahankan.
Anjani, yang ikut mendengarkan semua perkataan yang diucapkan oleh suaminya itu, ikut menangis. Dia teringat dengan semua kenangan mereka, sewaktu Ara masih kecil dulu.
Bahkan, untuk acara ulang tahun kecil-kecilan untuk Ara, mereka tidak membuatnya. Itu karena mereka tidak ingat dengan hari lahirnya Ara, karena sibuk dengan mengurus Abimanyu, dan berkonsentrasi dengan penyembuhannya juga. Karena semua itu, membutuhkan waktu dan biaya yang tidak sedikit. Bahkan memerlukan kesabaran dan keikhlasan, dalam menerima jalan nasib mereka, yang sudah tidak memiliki harapan untuk kehidupan Abimanyu, karena sempat amnesia juga.
### Marhaban ya Ramadhan 🙏🙏🙏
Selamat menunaikan ibadah puasa, bagi yang menjalankan. Semoga tetap dalam keadaan sehat dan bisa melakukan aktivitas. Terima kasih semua 😍🙏🙏
__ADS_1