
"Jangan-jangan, kalian berdua masih belum buka segel ya?" papa Ryan bertanya dengan sebuah tuduhan.
Dan itu adalah tuduhan yang memang benar adanya.
Tentu saja ini membuat Awan dan Ara blingsatan untuk menjawab dengan cepat. Mereka berdua harus mencari cara, agar bisa menjawabnya secara kompak. Agar tidak menimbulkan kecurigaan opa dan omanya.
Tapi sebelum Awan maupun Ara memberikan jawaban, bibi pembantu rumah datang memberi tahu pada mereka.
"Tuan, Nyonya. Makan malamnya sudah siap."
Untung ada bibi pembantu rumah tangga yang datang memberikan laporan. Jika makan malam sudah selesai dipersiapkan.
"Oh ya Bi, bentar lagi." Mama Amel menjawab, tapi tidak langsung berdiri.
"Udah Ma, sekarang ayok! Papa sudah lapar."
Mama Amel masih ingin melanjutkan pertanyaannya pada kedua cucunya itu. Tapi ajakan papa Ryan, tidak mungkin dia abaikan begitu saja.
Akhirnya, dia ikut ajakan suaminya itu. Kemudian berdiri dari tempat duduknya. "Ayok wan, Ra!" ajak mama Amel, pada Awan dan Ara. Agar mengikutinya juga ke meja makan.
"Hufhhh..."
"Hah!"
Keduanya, sama-sama membuang nafas lega. Karena akhirnya, kedua orang tua yang ada di depannya tadi, melupakan pertanyaan yang mereka ajukan.
"Kak," panggil Ara pelan.
"Apa Ra, mau buka segel sekarang? nanti ya, isi tenaga dulu biar ada power." Awan justru menjawab dengan candaan, bermaksud untuk menggoda istrinya.
"Eh, apa sih!" sahut Ara dengan bibir mengerucut, karena kesal atas jawaban suaminya yang asal.
"Hahaha... Udah yuk!"
Awan mengulurkan tangannya, agar Ara menyambut dan mengikutinya. Menuju ke tempat makan. Menyusul Oma dan opa nya tadi.
"Ayah mana Oma?" tanya Ara, di saat dia sudah duduk di kursi makan.
"Oh iya. Pasti masih ada di dalam kamar."
"Bi, tolong panggil Den Elang ya!"
"Iya Nyah," jawab bibi pembantu dengan menganggukkan kepalanya sopan.
"Eh, gak usah Bi. Biar Awan aja yang panggil!"
Dengan segera, Awan bangkit dari tempat duduknya, "Kakak panggil ayah dulu ya Ra," pamit Awan, pada Ara.
Setelah Ara mengangguk-anggukkan kepala, Awan berjalan menuju ke arah kamar ayahnya, Elang.
Akhirnya, mama Amel memberikan isyarat pada bibi pembantu, agar kembali ke tempatnya semula.
Tok tok tok!
"Yah. Ayah!"
Awan memanggil ayahnya, yang masih ada di dalam kamar.
Tok tok tok!
__ADS_1
Clek!
Pintu kamar terbuka. Tampak Elang yang terlihat baru saja bangun tidur.
"Eh, apa Wan?" tanya Elang, yang melihat anaknya di depan pintu.
"Makan malam dulu Yah. Udah di tunggu Oma dan Opa di meja makan. Ayok Yah!" Awan menjelaskan pada ayahnya, dengan maksud kedatangannya ke kamar ayahnya ini.
"Hemmm... iya, sebentar ya!"
Elang kembali masuk ke dalam kamar. Dan tak lama kemudian, dia sudah kembali lagi.
"Ayok!"
Mereka berdua, berjalan beriringan menuju ke meja makan.
"Udah tidur tadi Lang?" tanya Mama Amel, yang melihat anaknya masih terlihat muka bantalnya. Khas orang yang baru saja bangun tidur.
"Hemmm... "
Elang hanya bergumam tidak jelas, kemudian duduk di kursinya.
Papa Ryan mengajak mereka semua, untuk berdoa sebelum makan malam bersama ini.
"Ini adalah malam pertama, di mana Ara sudah resmi menjadi istrinya Awan. Semoga,. perjalanan rumah tangga mereka berdua, diberikan kemudahan dan mendapat kepercayaan dari Allah, dengan adanya anak-anak yang sholeh sholehah. Aamiin..."
"Aamiin."
"Anaknya kasih yang banyak ya Allah. Aamiin!"
Elang, Awan dan Ara, yang sebelumnya mengamini harapan dan doa yang dipanjatkan oleh papa Ryan, terkejut saat mendengar sahutan dari mama Amel.
Papa Ryan hanya menggelengkan kepalanya beberapa kali. Karena harapan istrinya yang sedari dulu ingin rumah ini ramai dengan kehadiran anak-anak kecil.
"Ma. Sabar Ma," ucap papa Ryan, sambil tersenyum ke arah Ara.
"Ra, di maklumi ya Oma ini. Dia emang begitu. Padahal belum tentu juga bisa mengendong cicit nya nanti. Hehehe..."
Papa Ryan kembali terkekeh sendiri, saat mencoba membuat suasana tidak kaku. Karena Ara terlihat canggung, di saat mendengar ucapan dan harapan yang diinginkan oleh mama Amel.
"Maaf Sayang. Bukan maksud Oma ingin Kamu jadi mesin pencetak anak. Ini karena Oma hanya bisa punya satu anak saja. Yah mertua Kamu itu."
"Dan Kamu juga tahu kan, Awan juga anak tunggal. Oma jadi merasa sepi sedari dulu. Hiks..."
Elang menghela nafas panjang. Saat mama Amel membahas tentang anak.
Awan hanya diam saja. Karena dia tahu, bagaimana rasanya tidak memiliki saudara kandung, di rumah sebesar ini.
Papa Ryan, sedari tadi mengusap-usap pundak istrinya. Mencoba membuat istrinya itu lebih sabar dan tidak lagi menyalahkan takdir.
Ara mengangguk mengiyakan. Dia sedikit tahu, dengan apa yang dialami oleh Oma mertuanya itu. Dan kenapa Awan tidak memiliki saudara yang lain.
"Sudah-sudah, tidak usah dibahas lagi. Ayo kita mulai makan saja!"
Papa Ryan mengajak semuanya, untuk segera makan malam. Dia tidak mau jika Ara, semakin merasakan kecemasan dan tidak nyaman.
Apalagi, dia baru saja sehari ada di rumah ini.
*****
__ADS_1
Di rumah ayah Edi.
Mobil pick up yang dikendarai oleh Wawan bersama dengan istrinya, Mami, tiba di depan rumah.
"Ayo Mi turun. Kita sudah sampai."
Wawan mengajaknya istrinya itu, untuk turun dari mobil. Dia juga menunjuk ke rumah ayah Edi, dan mengatakan bahwa mereka sudah tiba di tempat tujuan.
Mami ikut turun dan melihat bagaimana keadaan rumah mantan mertua suaminya.
'Emang jago suamiku ini. Mantan mertuanya aja kaya. Pasti istrinya juga cantik. Pantas saja, Nanda ganteng. Ternyata gak cuma nurun dari mas Wawan.'
Mami membatin dalam hati, bagaimana kira-kira mantan istrinya Wawan. Yaitu Yasmin, mamanya Nanda.
Tak lupa, Mami mengambil dua bungkus plastik berisi buah-buahan segar. Yang tadi dia beli untuk oleh-oleh.
Tok tok tok!
Wawan mengetuk pintu rumah ayah Edi.
Tet tet tet!
Dia juga mulai memencet bel pintu rumah, supaya segera di bukakan oleh tuan rumah.
"Assalamualaikum..."
Mami mengucapkan salam, berharap agar ada sahutan dari dalam rumah.
"Waallaikumsalam!"
Terdengar samar-samar, orang yang menjawab ucapan salam dari Mami.
Clek!
Pintu terbuka. Tampak Yasmin yang terkejut di saat melihat kedatangan tamu di rumah ayahnya malam ini.
"Ma... maaf. Cari siapa?"
Yasmin pura-pura bertanya pada Mami. Meskipun sebenarnya dia tahu, jika wanita yang berusia di atas kakaknya, Abimanyu, adalah istri dari mantan suaminya itu. Yaitu Wawan.
"Dek, Aku... Aku..."
"Maaf. Kami datang ke rumah ini, berniat untuk meminta maaf semua orang di rumah ini. Terutama pada mantan istri dari suami Saya ini."
Mami yang menjawab pertanyaan dari Yasmin. Dia tidak tahu jika, orang yang tadi bertanya adalah Yasmin sendiri. Mantan istrinya Wawan, yang merupakan mamanya Nanda.
Wawan mengangguk mengiyakan perkataan istrinya. Dia tersenyum canggung, karena merasa jika Yasmin melihatnya dengan tatapan marah.
"Siapa Ma?"
Dari arah belakang, muncul Nanda yang bertanya.
"Eh, Mami. Ada Papa juga?"
Nanda bingung dengan kedatangan papanya. Apalagi ada Mami juga yang ikut datang bersama dengan papanya ke rumah eyangnya ini.
"Ayo masuk Mi, Pa!"
Nanda mengajak ke-dua tamu itu, untuk masuk ke dalam rumah. Dia ingin tahu, apa maksud dari kedatangan papanya. Yang tiba-tiba saja datang ke rumah ini, dengan mengajak Mami juga.
__ADS_1