
"Kak!"
Ara menoleh saat mendengar suara panggilan adiknya, Anggi.
"Kakak gak persiapan untuk besok?" tanya Anggi kemudian, di saat kakaknya sudah melihat kearahnya.
"Persiapan untuk besok?" Ara mengulang kembali pertanyaan yang diajukan oleh adiknya tadi.
Anggi mengangguk cepat. Dia tampak tersenyum, dan bersemangat saat mengangguk.
Ini membuat Ara curiga, dengan apa yang sedang dipikirkan oleh adiknya itu.
"Persiapan untuk apa?" tanya Ara, yang tidak mengerti ke mana arah pertanyaan Anggi tadi.
"Kakak kan mau pergi dengan kak Awan besok. Memangnya gak perlu menyiapkan gaun, atau sepatu yang cocok gitu lho Kak..." sahut Anggi, dengan penekanan setiap kata-kata yang dia ucapkan. Agar kakaknya itu, mengerti dengan apa yang dia maksudkan.
"Oh..."
Tapi Ara justru hanya membulatkan mulutnya, menanggapi penjelasan yang diberikan oleh Anggi padanya.
"Ihsss..m gak peka."
"Ini kan cuma nonton opera Dek. Bukan pesta dan semacamnya, yang perlu gaun khusus juga." Ara tetap bersikap biasa saja, karena merasa ini bukan hal yang luar biasa.
"Oh, Kakak! Ini kan ajakan kak Awan yang pertama kali, tanpa ada orang lain diantara Kakak berdua."
Ara masih belum mengerti, apa yang dikatakan oleh Anggi. Dia tidak tahu, jika adiknya itu justru lebih dewasa, untuk menyikapi suatu situasi yang seperti ini.
Karena melihat kakaknya yang tetap diam dan tidak juga melakukan hal yang dia katakan, akhirnya Anggi menangkupkan kedua tangannya, pada wajahnya sendiri.
"Kakak gak tahu, jika ajakan kak Awan itu sama seperti sebuah ajakan untuk kencan yang tidak perlu ada penganggu?"
Mata Ara membola, mendengar perkataan yang diucapkan oleh Anggi barusan. Dia berpikir bahwa, Anggi terlalu banyak melihat konten-konten video yang ada di sosial media. Sehingga otaknya itu terpengaruh oleh apa yang dia lihat dari isi konten tersebut.
Dengan tersenyum sinis, Ara mencubit hidung adiknya, "otaknya masih ada di tempat kan? Gak usah mikir yang aneh-aneh deh!"
Tapi tentu saja, Anggi tidak mau kalah dengan apa yang dia pikirkan. Dia tetap kekeh mengatakan bahwa, ajakan Awan itu adalah ajakan kencan. Bukan sekedar menonton sebuah opera biasa.
"Kak. Nanti cerita-cerita ke Anggi ya! Gimana rasanya kencan terus di..."
Anggi tidak melanjutkan kalimatnya, tapi justru jemarinya menari-nari di bibirnya yang sedang mengerucut.
"Idihhh... Adek apaan sih!"
Ara merasa malu, dengan apa yang diperlihatkan oleh adiknya itu.
__ADS_1
"Hahaha..."
Tapi Anggi justru tertawa senang, meledek kakaknya yang terkesan kaku dengan pacarnya sendiri.
"Kamu tahu gitu-gitu dari mana? Awas ya, jangan bilang jika Kamu sudah..."
Ara tidak melanjutkan kalimatnya, karena melihat Anggi yang tersenyum malu-malu, dengan menundukkan kepalanya.
"Dek. Kamu gak ikut-ikutan teman Kamu di sekolah kan?" tanya Ara cepat, karena rasa khawatirnya yang tiba-tiba muncul. Karena sudah hal yang biasa terjadi, jika anak-anak seusia Anggi, telah melakukan hal yang seperti itu di negara bebas seperti Amerika ini.
"Apa sih Kak. Gak lah. Meskipun Anggi juga penasaran dengan rasanya. Hehehe..."
Ara memukul kepala Anggi dengan bantal yang dia pegang. "Otaknya jangan bergeser!" seru Anggi, memperingatkan adiknya itu, agar tidak terpengaruh pergaulan teman-temannya di sekolah.
"Ihhhsss, Kakak!"
Anggi tidak terima dengan perlakuan yang diberikan oleh kakaknya barusan.
"Sudah-sudah, ayok tidur! Besok Kamu masih harus berangkat sekolah."
Ara menyudahi perdebatan mereka berdua, dan meminta pada adiknya, Anggi, supaya secepatnya untuk tidur.
Dan tak lama kemudian, Anggi pun terlelap dalam mimpinya sendiri.
Ara bangun dari tempat tidurnya, kemudian memeriksa keadaan adiknya, yang sudah tertidur. Dia tampak tersenyum tipis, bagaimana cara adiknya itu tidur.
Ara kebingungan sendiri, untuk menentukan gaun mana yang harus dia pilih.
Dari beberapa gaun yang tergantung di almari, dan juga yang terlipat rapi, Ara tidak menemukan yang dirasa cocok.
Beberapa saat kemudian, Ara menyerah juga. Dia menghempas tubuhnya di atas tempat tidur, dengan mengelengkan kepalanya lemah. Karena tidak menemukan gaun yang cocok, menurutnya, untuk dia kenakan, dalam acara opera, bersama dengan Awan.
"Anggi benar. Tadi, aku hanya pura-pura tidak paham dan memperlihatkan padanya tetang kepanikan ini."
Tadi, sebenarnya Ara sudah merasa panik juga. Karena dia sadar, tidak ada banyak gaun yang ada di almari pakaian miliknya. Dia hanya tidak mau menjadi bahan ledekan Anggi, karena harus kebingungan sendiri, untuk menentukan gaun yang dirasa cocok.
"Apa Aku harus mengunakan pakaian kasual, untuk acara besok?" gumam Ara, yang merasa dirinya tidak cocok juga, jika mengenakan gaun yang biasa digunakan oleh remaja-remaja Amerika, pada saat ada event kampus.
"Aku kirim pesan kak Awan aja deh. Semoga dia belum tidur. Jadi, Aku bisa tanya, tema acara opera nya itu apa besok."
Akhirnya, Ara memutuskan untuk mengirim pesan pada tunangannya itu, untuk bertanya tentang acara besok. Ini karena tadi, dia tidak ada kesempatan untuk membahasnya secara langsung bersama dengan Awan.
Dan untungnya, pesan yang di kirim oleh Ara pada Awan, cepat di baca, kemudian mendapatkan balasan juga.
Ara pun tersenyum senang, melihat pesan balasan tersebut.
__ADS_1
Sekarang, dia bisa tidur dengan nyaman. Karena tidak lagi kepikiran tentang gaun yang harus dia persiapkan.
*****
Di Jakarta, di rumah ayah Edi.
Nanda menerima panggilan telpon dari papanya Mita, dengan mengunakan ponselnya miliknya Mita.
..."Halo Mita, ada apa?"...
..."Ini om Nak Nanda."...
..."Eh, maaf Om. Nanda pikir ini Mita."...
..."Iya tidak apa-apa. Tadi, Om yang sengaja cari nomor handphone Kamu. Om mau minta tolong pada Nak Nanda."...
..."Minta tolong. Minta tolong apa ya Om? Apa ada yang bisa Nanda lakukan?"...
..."Apa sekarang... emhhh... Nak Nanda ada acara? atau kegiatan begitu?"...
..."Tidak ada Om. Saya ada di rumah saja ini"...
..."Syukurlah. Apa Nak Nanda bisa ke rumah sakit sekarang?"...
..."Ke rumah sakit? Apa Mita sakit lagi?"...
..."Dia ada terapi kemo untuk pertama kalinya. Dan sepertinya, dia butuh seseorang, yang bisa memberinya semangat lebih. Kami tidak tahu harus berbuat apa lagi Nak Nanda. Om ju, tidak tahu, harus minta tolong pada siapa."...
Terdengar suara helaan nafas panjang dari seberang sana. Dan Nanda bisa membayangkan, bagaimana keadaan papanya Mita sekarang ini.
Tapi di rumah, Nanda juga sedang menjaga adiknya Miko. Tadi, tantenya Sekar, sedang ada keperluan. Kemudian memintanya untuk menjaga adiknya Miko. Karena bibi pembantu rumah yang ada di rumah tantenya itu, sedang pulang kampung.
Sedangkan Miko sendiri, belum pulang dari sekolah.
Bibi pembantu di rumah ayah Edi, juga sedang di ajak pergi sama Eyang Putrinya. Dan Eyang kakungnya, yang mengantar eyang Putrinya itu, bersama dengan bibi pembantu rumah. Praktis di rumah tidak ada orang juga.
Dan ini membuat Nanda jadi bingung harus berbuat apa dan bagaimana caranya dia bisa pergi. Memenuhi permintaan dari papanya Mita tadi.
..."Bagaimana Nak Nanda?"...
..."Emhhh... Itu Om. Saya, Saya usahakan untuk secepatnya bisa segera datang ke rumah sakit Om."...
Akhirnya, Nanda hanya bisa menjawab. Meskipun dia sendiri tidak yakin. jika bisa dengan cepat datang ke rumah sakit.
Karena tantenya Sekar, masih setengah jam kemudian baru pulang.
__ADS_1
..."Baiklah. Terima kasih Nak Nanda. Om akan sangat senang sekali, jika Nak Nanda bisa datang." ...