Dia Milikku ( Berbagi Cinta )

Dia Milikku ( Berbagi Cinta )
Baper


__ADS_3

Drettt


Drettt


Drettt


Ting!


Ting!


Ting!


Handphone milik Ara, yang telah dia aktifkan lagi, setelah makan malam, bergetar.


Ada juga bunyi notifikasi pesan, yang datang bertubi-tubi, sehingga handphonenya itu tidak henti-hentinya berdenting.


Baik memberitahukan bahwa ada pesan yang masuk, ataupun panggilan telpon yang tadi seharusnya diterima oleh Ara.


"Ihhh... Kakak! Berisik banget sih handphonenya!"


Anggi mengerutu sendiri, karena merasa terganggu dengan bunyi-bunyian, yang keluar dari handphone kakaknya, Ara.


Dia sedang sibuk mencari gambar-gambar, yang besok harus dia bawa ke sekolah.


"Suruh diem dong Dek!"


Ara menyahut dari tempat tidur. Dia sedang tidur-tiduran, dengan posisi telungkup, sambil membaca buku-buku pelajaran sekolah.


"Mana bisa di suruh diem. Matiin aja deh, biar gak berisik tuh!"


Handphone milik kakaknya itu, Ara, ada di dekat tempat kakaknya berada. Tapi kakaknya itu, hanya sekilas melihatnya saja. Karena memang belum ada panggilan masuk yang harus di angkat.


Semua bunyi-bunyian tadi, hanya notifikasi pemberitahuan saja. Baik pesan ataupun panggilan tak terjawab.


Ara sebenarnya tahu, jika semua panggilan dan juga pesan-pesan tersebut dari kakak sepupunya, Nanda.


Tapi karena belum sepenuhnya rasa ngambeknya hilang, dia tidak menghubungi Nanda terlebih dahulu.


Dia hanya menunggu, karena sebentar lagi, Nanda pasti akan segera menghubungi dirinya, saat handphone milik Nanda, memberikan pemberitahuan bahwa, handphone yang tadi dia hubungi sudah aktif kembali.


Dan benar saja, tak lama kemudian, handphone milik Ara berbunyi. Nanda menghubungi dirinya, dengan panggilan telpon. Sama seperti yang dipikirkan oleh Ara tadi.


Klunting klunting klunting!


Klunting klunting klunting!


..."Ya Ka_kak."...


Ara menjawab telpon tersebut dengan takut-takut. Ini karena Ara berpikir bahwa, Nanda akan bertanya banyak hal, kenapa harus pulang sendiri, dan tidak memberikan kabar jika sudah sampai di rumah.


..."Sedang apa?"...

__ADS_1


Tapi ternyata dugaan Ara salah. Nanda bertanya hal yang biasa, dan tidak menyingung soal apapun, yang terjadi antara mereka berdua tadi.


..."Baca buku."...


..."Oh... jangan tidur malam-malam. Dan itu, jangan baca buku dengan tiduran juga. Kasihan mata Kamu Ra."...


..."Emhhh... iya Kak. Makasih."...


..."Ya sudah. Kakak mau mandi dulu."...


Klik!


Ara bengong, di saat panggilan telpon dari Nanda terputus. "Mau mandi?" gumam Ara, bertanya pada dirinya sendiri, dengan perkataan yang diucapkan oleh Nanda, sebelum memutus telponnya.


Di saat Ara melihat ke layar handphone miliknya, jam pada layar handphone tersebut, menunjukkan pukul delapan malam.


"Kak Nanda kok baru mau mandi? Apa dia baru saja datang ya?" gumam Ara lagi, dengan pertanyaan-pertanyaan yang dia miliki dalam hati.


"Kakak. Ngapain ngomong sendiri sedari tadi?"


Tiba-tiba, Anggi sudah duduk di dekat Ara, yang masih dalam keadaan tengkurap.


Tentu saja, Ara jadi kaget, karena dia tidak memperhatikan keadaan sekitarnya, dan juga Anggi yang baru saja duduk di dekatnya.


"Adek! Bikin Kakak kaget Ihsss!"


"Mana ada kaget? Kakak ngelamun sendiri ya... ayok ngelamunin siapa? kak Nanda, apa kak Awan?" Anggi menebak-nebak, apa yang sedang dipikirkan oleh Kakaknya saat ini.


"Ihhh... Adek, apaan sih! Sana-sana, gangguin aja deh," kata Ara, mengusir adiknya, supaya pergi dari sisinya.


Bug!


Sebuah buku kosong melayang, mengarah pada Anggi, yang berlari ke arah pintu kamar.


Tapi Anggi dengan cepat mengelak, sehingga buku kosong tersebut mengenai pintu, sehingga menimbulkan suara yang cukup keras juga.


"Weee... gak kena. Weee..."


Anggi justru meledek kakaknya, yang sedang kesal dengan sikap dan tingkah lakunya.


"Awas ya!" Ara mengancam adiknya, jika tidak mau diam.


"Wek-wek!"


Tapi dasarnya Anggi, jika di larang justru seperti mendapatkan perintah, untuk lanjutkan apa yang dia lakukan.


Kini Anggi keluar dari dalam kamar. Dia ingin pergi mengambil botol minum, supaya tidak perlu repot-repot ambil air, di saat terbangun tengah malam, ataupun bangun tidur nanti saat pagi hari.


Itulah sebabnya, Ara akhirnya diam, dan kembali pada posisinya semula. Yaitu tengkurap, dengan memegang handphonenya.


Sekarang, dia membaca semua pesan-pesan yang dikirim oleh Nanda tadi. Semuanya menggambarkan, bagaimana rasa khawatirnya Nanda, karena tidak bisa menemukan dirinya.

__ADS_1


Ara jadi tahu kenapa Nanda baru akan mandi tadi. Dan sekarang, dia ingin mengirim pesan untuk kakaknya, Nanda. Ara berpikir bahwa, semua ini juga kesalahan dirinya sendiri, yang membuat kebingungan pada Nanda.


"Iya itu pasti. Kak Nanda pasti gak berani pulang, jika Aku belum pulang juga. Uhhh, kan Aku jadi merasa bersalah ini."


Dengan demikian, Ara akhirnya benar-benar mengirim pesan, untuk Nanda. Membalas pesan-pesan yang dikirim oleh Nanda padanya tadi.


Ara meminta maaf pada kakak sepupunya itu, karena tadi marah dan juga ngambek saat pulang sekolah.


Tapi sampai Ara tertidur, pesan-pesan yang dia kirim, belum juga mendapatkan balasan. Bahkan, di baca oleh Nanda juga tidak.


"Ihsss, Kak Nanda ganti ngambek sama Aku," gumam Ara, tepat di waktu pintu kamarnya terbuka.


"Apa Kak, siapa yang ngambek?" tanya Anjani, yang baru saja masuk ke dalam kamar anaknya.


"Eh Bunda. Gak kok," jawab Ara, yang jadi kikuk, karena takut ketahuan jika dia sedang ngambek dengan kakak sepupunya tadi.


"Kata Anggi, Kakak gak belajar tuh. Malah ngelamun aja gitu."


Ara kaget, karena ternyata, adiknya ngadu ke bundanya, soal yang tadi, saat Ara kaget karena Anggi tiba-tiba ada di samping tempat tidurnya saat ini.


"Gak ah Bun. Anggi aja tuh yang mengada-ada," sahut Ara, yang membantah bahwa apa yang dikatakan oleh Anggi tadi benar adanya.


Anjani hanya mengangguk saja. Dia tidak mempermasalahkan soal alasan-alasan, yang dikatakan oleh Ara, dan juga apa yang tadi diceritakan oleh Anggi kepada dirinya.


"Kak. Jika ada sesuatu yang mengganjal atau tidak enak di dalam hati, ngomong ya. Jika tidak dengan Bunda, dengan ayah juga bisa. Pokoknya, jangan di pendam dan dipikirkan sendiri. Karena apapun masalah yang ada, pasti akan ada solusinya juga."


Ara mengangguk-angguk mengerti, dengan apa yang dikatakan oleh bundanya itu.


"Iya Bun. Maaf," ucap Ara, yang justru merasa bersalah, atas semua yang sudah terjadi pada Nanda tadi.


Padahal Anjani, bundanya Ara tidak tahu, apa yang sebenarnya terjadi pada dirinya, dengan kakak sepupunya, Nanda.


Tapi karena Ara sedang baper, dia jadi sensitif, untuk beberapa kata yang dia sendiri tidak tahu, apa arti dari kata yang diucapkan oleh bundanya barusan.


"Maaf Bun."


Ara hanya meminta maaf, tanpa menjelaskan, apa maksud dirinya meminta maaf.


Tapi Anjani hanya memeluk anaknya, Ara, tanpa bertanya apa-apa. Dia tidak mau jika Ara akan semakin baper.


Dan tak lama kemudian, Anggi masuk ke dalam kamar, bersama dengan ayahnya, Abimanyu.


"Ihhh, kok kakak aja yang dipeluk. Anggi kan juga mau..."


Anggi berteriak, sambil berlari-lari menuju ke tempat Ara dan Anjani berada. Dia menubruk kakak dan bundanya, agar bisa memeluk keduanya.


Abimanyu berjalan ke arah mereka, dengan tersenyum. Dia melihat ketiga wanita, yang sangat dia sayangi. Mereka bertiga adalah kekuatan Abimanyu, untuk tetap bertahan, dalam keadaan apapun selama ini.


Sekarang, Abimanyu merengkuh mereka bertiga, ke dalam pelukannya.


"Sayangnya Ayah," ucap Abimanyu, dengan mata berkaca-kaca.

__ADS_1


Dia ikut baper, sama seperti Ara dan juga istrinya, Anjani.


Sedangkan Anggi, hanya bisa diam, dalam pelukan ayah dan bundanya.


__ADS_2