Dia Milikku ( Berbagi Cinta )

Dia Milikku ( Berbagi Cinta )
Rencana Dan Rencana


__ADS_3

Setelah selesai merencanakan segala sesuatunya dengan ayah Edi, Abimanyu pamit, untuk beristirahat dan pergi tidur, menyusul istrinya ke kamar. Badan dan matanya, sudah menuntut untu segera di istirahatkan. Dai tidak mungkin, bergadang malam ini, menemani ayahnya, sambil memikirkan langkah selanjutnya, untuk masalah Yasmin.


Ayah Edi, menggoda Abimanyu, agar berhati-hati, dalam melakukan kegiatan malam_nya. Apalagi saat ini, istrinya itu sedang hamil muda. "Awas, jangan kasar-kasar. Yang lembut dan pelan-pelan saja ya, biar cucu Ayah tidak kaget, hehehe..." kata ayah Edi, sambil terkekeh geli, mendengar perkataannya sendiri.


"Ayah, apaan sih," jawab Abimanyu, sambil tersenyum malu. Mereka berdua, sama-sama laki-laki yang normal, jadi tentunya tahu apa maksud dari perkataan ayah Edi.


"Hahaha..., obat capek itu Bi. Biar bisa tidur pules!" kata ayah Edi lagi, memberikan informasi tentang 'obat capek' untuk pasangan yang sudah sah.


"Ayah juga tidur saja, besok kita sama-sama mencari keberadaan laki-laki brengsek itu."


Ayah Edi, hanya mengangguk kemudian kembali lagi menatap ke arah pagar rumah. Dia tentu merasa tidak tenang, saat anak perempuannya, melakukan kesalahan yang fatal dengan akibat yang tidak mungkin bisa disembunyikan setiap harinya nanti.


Akhirnya Abimanyu beranjak dari tempat duduknya, kemudian berjalan ke dalam rumah. Dia menuju ke dalam kamarnya, dimana istrinya sudah pergi beristirahat tadi.


"Bi."


Sebuah panggilan pelan terdengar di telinga Abimanyu. Dia melihat ke sekeliling, mencari keberadaan suara tersebut. Ternyata, itu adalah suara ibunya, yang sembunyi di bawah tangga.


"Ibu. Ibu belum tidur?" tanya Abimanyu, saat mengetahui keberadaan ibunya yang sedang bersembunyi.


"Shttt... diam, pelan-pelan. Ibu cuma ingin tahu, apa yang direncanakan oleh ayah Kamu tadi?" tanya ibu Sofie dengan suara sepelan mungkin. Dia penasaran dengan langkah yang akan diambil oleh suaminya, untuk anaknya, Yasmin.


"Rencana apa?" tanya Abimanyu, yang belum mengerti kemana arah pertanyaan ibunya tadi.


"Itu, untuk pacarnya Yasmin," jawab ibu Sofie, masih dengan berbisik-bisik. Dia takut, ketahuan oleh suaminya sendiri. Ayah Edi.


"Tidak ada. Paling cuma nyari saja buy, dimana keberadaan pacarnya Yasmin sekarang, lewat beberapa teman terdekatnya nanti."


Mendengar jawaban dari Abimanyu, ibu Sofie hanya mengangguk saja. Dia pikir, suaminya membuat rencana yang sedikit berbeda dari biasanya, ternyata cuma seperti itu.


"Ya sudah Bu. Abi mau tidur dulu," kata Abi, berpamitan pada ibunya.


Ibu Sofie, hanya mengangguk samar. Tapi itu tidak berarti apa-apa untuk Abimanyu, toh dia sudah mendapatkan pesan dari ayah Edi, supaya tidak membocorkan rencana mereka berdua, meskipun pada ibunya sendiri. Jadi, Abimanyu tidak mungkin mengkhianati ayahnya sendiri dengan menjawab pertanyaan dari ibunya, dengan jawaban yang sebenarnya.


Setelah Abi pergi dari hadapannya, ibu Sofie segera pergi dan masuk ke dalam kamar juga. Dia harus pura-pura tidur, supaya suaminya tidak merasa curiga, saat masuk ke dalam kamar nanti.


"Apa mungkin, rencana ayah akan berhasil? bukankah tadi Yasmin bilang, jika pacarnya itu sudah tidak ada di tempat tinggalnya yang biasa? teman-temannya juga tidak ada yang tahu, lalu ayah dan Abimanyu, mau mencari ke mana?" tanya ibu Sofie, di dalam hatinya. Dia meragukan rencana yang sudah dirancang suami dan anaknya.

__ADS_1


Sekarang, dia justru memiliki rencana sendiri, untuk membantu masalah Yasmin. Dai yakin, jika rencananya itu akan lebih efektif daripada rencana suaminya yang tidak bisa diketahui, kapan akan berhasil.


Akhirnya, ibu Sofie bisa tertidur sambil tersenyum tipis. Dia berpikir, jika sudah menemukan solusi yang terbaik untuk Yasmin, anaknya yang sekarang ini sedang hamil.


*****


Pagi, saat sarapan pagi belum dimulai. Anjani, yang sudah selesai membantu bibi untuk menyiapkan menu makanan, pergi kembali ke dalam kamar, untuk merapikan dirinya lagi.


Tak lama, ibu Sofie datang bersama suaminya, ayah Edi. Di susul oleh Sekar, yang sudah siap dengan tas dan beberapa peralatan praktek_nya di kampus. Risma, juga datang dengan jalannya yang pincang. Pagi ini, dia ingin berpamitan dengan keluarga ibu Sofie, untuk pulang ke rumahnya sendiri.


"Abimanyu belum turun?" tanya ayah Edi pada yang lain.


"Ibu belum lihat dia Yah," jawab ibu Sofie dengan menggeleng.


"Lho, mas Abi kan sudah balik ke Bogor Yah?" tanya Sekar heran. Setahu Sekar, mas_nya Abimanyu, sudah kembali ke Bogor kemarin.


"Dia datang lagi semalam," jawab ayah Edi, memberitahu Sekar.


"Oh ya, makan untuk Yasmin, tolong bawa ke kamar ya Bi," kata ibu Sofie, pada bibi pembantu.


"Tidak usah Bik, biar Sekar panggil dia turun dan ikut sarapan di sini. Nanti tambah manja dia!"


Ibu Sofie diam dan tidak berani membantah perkataan suaminya. Dia hanya mengangguk pada bibi pembantu, supaya tidak menyiapkan makanan untuk di bawa ke kamar.


Sekar berdiri, kemudian berjalan ke arah kamarnya Yasmin. Saat berada di anak tangga, dia berpapasan dengan Anjani, yang turun terlebih dahulu, disusul kakaknya, Abimanyu di belakang istrinya.


"Mbak Jani!" teriak Sekar, kemudian memeluk kakak iparnya. Dia merasa senang, karena bertemu kembali dengan istri kakaknya, Anjani.


"Apa kabar Sekar?" tanya Anjani, yang masih dipeluk Sekar.


Sekar, melepaskan pelukannya pada Anjani. Dia tersenyum lebar, kemudian menjawab dengan antusias, " Sekar sehat Mbak. Mbak Jani apa kabar?"


"Alhamdulillah baik Sekar."


Anjani menjawab pendek. Dia melihat ke arah meja makan, dimana semua orang sudah duduk berkumpul tapi belum memulai sarapan paginya. Mungkin menunggu kedatangannya atau masih ada yang belum datang.


"Sekar naik dulu ya Mbak, mau panggil Yasmin."

__ADS_1


Anjani, hanya mengangguk sambil tersenyum tipis mendengar perkataan Sekar, yang pamit meneruskan tujuannya untuk ke lantai atas.


"Ayok Sayang," ajak Abimanyu, pada Anjani, sambil mengandeng tangan istrinya itu.


"Bu," sapa Anjani pada ibu mertuanya, sambil menyalaminya dengan sopan.


Di tempat duduk yang lain, Risma terbelalak melihat siapa istrinya Abimanyu, dia adalah teman masa sekolahnya dulu. Anjani Ashita, yang pendiam namun aktif di berbagai cabang olahraga yang tidak biasa bagi seorang cewek pada umumnya.


Anjani, juga sama kagetnya. Dia melihat ke arah Risma, dengan pandangan tidak percaya begitu saja, jika itu adalah Risma, temannya, yang pernah bertemu di area pemakaman saat dia sedang berziarah ke makam ayah dan ibunya. Waktu itu, Risma baru kehilangan suaminya dan Anjani akan melangsungkan pernikahannya dengan Abimanyu, beberapa hari kemudian.


"Risma," sapa Anjani untuk memastikan kebenaran yang dia lihat di depan matanya sekarang.


"Anjani?" Risma juga melakukan hal yang sama seperti Anjani.


Akhirnya, keduanya sama-sama berjalan mendekat dan berpelukan erat. "Risma, apa kabar?" tanya Anjani, saat memeluk Risma.


Risma juga bertanya hal yang sama seperti yang ditanyakan Anjani, "Jani, Kamu apa kabarnya?"


Ayah Edi dan Abimanyu saling bertatapan mata, melihat kejadian antara Anjani dan Risma. Mereka berdua tidak pernah menyangka, ternyata, Anjani dan Risma, sudah saling mengenal. Suatu kebetulan yang baik.


Ayah Edi jadi tersenyum di kulum. Dia bisa memastikan bahwa, semua rencana istrinya akan gagal total, untuk mendekatkan Abimanyu dan Risma. Ayah Edi melihat, jika Risma adalah seorang teman yang menghargai temannya juga. Jadi, tidak mungkin Risma nekad ikut rencana istrinya.


Berbeda dengan ayah Edi, ibu Sofie justru tersenyum tipis, melihat 'drama' yang dia lihat sekarang ini. Dia pikir, Risma sedang bersandiwara, karena merasa tidak enak hati, dengan istrinya Abimanyu, yang ternyata adalah temannya sendiri.


"Apaan sih, pake peluk-peluk segala pagi-pagi. Sok kenal." Yasmin, datang bersama dengan Sekar. Dia mencibir kakak iparnya itu, yang dia pikir sok akrab dengan Risma, teman ibunya.


"Bukan sok kenal Yasmin. Kami ini memang saling kenal, dia Risma teman Mbak Jani, sewaktu masih sekolah dulu," jawab Anjani, menjelaskan pada Yasmin yang sudah salah paham dengan keakrabannya dengan Risma.


Tadi, Yasmin berpikir jika ibunya sedang memperkenalkan Risma dengan kakak iparnya, Anjani. Ternyata, tanpa dikenalkan, mereka berdua sudah saling kenal. Yasmin jadi melihat ke arah ibunya, yang sedang mengalihkan pandangannya ke tempat lain.


"Wah, gagal rencana ibu, untuk mendekatkan mas Abi dengan Risma," kata Yasmin dalam hati. Dia tidak memikirkan permalasahan sendiri, tapi justru sibuk memikirkan permalasahan orang lain.


"Duduk Yasmin. Dan mulai sekarang, Kamu tidak usah kemana-mana. Tapi, tetap melakukan semua aktivitas di rumah seperti biasanya," kata Ayah Edi, memberikan instruksi kepada anaknya, Yasmin.


Yasmin hanya mengangguk, dengan wajah di tekuk. Dia merasa tidak bebas, jika sudah seperti ini. Tapi, dia juga sudah punya rencana sendiri untuk kakak iparnya, Anjani, agar hari-harinya di rumah tidak membosankan.


"Untung dia ikut datang ke sini, lihat saja, apa yang akan Aku lakukan nanti," kata Yasmin, masih di dalam hatinya. Dia tersenyum miring, saat mendapat ide yang bagus untuk bisa membuat kakak iparnya itu, Anjani, tidak betah di rumah ini nanti.

__ADS_1


__ADS_2