
Awan dan temannya, keluar dari dalam kelasnya Ara, untuk menuju ke kelas sebelah. Tapi sebelum mereka berdua sampai di pintu, ada suara yang memangil mereka.
"Maaf Kak panitia. Boleh bertanya?"
Semua orang, termasuk guru dan juga Awan, tentu saja menoleh ke arah sumber suara. Dan ternyata, itu adalah Ara, yang sedang berdiri dan mengacungkan tangan ke arah atas.
Teman Awan terbelalak melihat siapa orang yang sekarang sedang berdiri dari tempat duduknya, di deretan kursi siswa baru kelas tujuh.
"Ada apa Bro?" tanya Awan pada temannya.
"Mati Gue Wan!"
Awan mengerutkan keningnya, mendengar jawaban dari temannya itu, yang terdengar tidak jelas dan ngawur.
"Apa sih, gak jelas ngomongnya!" sahut Awan cepat, dengan memukul pundak temannya pelan.
"Ada apa Ara?" tanya guru pada Ara , yang tadi membuat interupsi dan mengehentikan kedua anak SMA itu.
Ara maju ke depan, dan berkata pada guru tersebut, "Begini Pak, itu kakak yang dari SMA, kemarin saat ada tes penerimaan beasiswa berprestasi, Ara bertemu dengannya dan bertanya tentang letak toilet aula, tapi ternyata dia memberikan petunjuk yang salah, sehingga Ara hampir terlambat dan gagal ikut tes. Untungnya, ada kakak SMA lainnya, yang memberitahu dan benar, sehingga Ara bisa ikut tes dengan waktu yang tepat, sebelum tes di mulai."
Awan mengerti, apa yang terjadi pada temannya itu sekarang ini. Dia bisa menebaknya. "Itu Loe Bro?" tanya Awan, untuk memastikan jika tembakkannya itu memang benar.
Sebelum guru bertanya pada kedua anak SMA tersebut, teman Awan mengucapkan permintaan maafnya terlebih dahulu pada Ara, dan ingin pergi dari kelas itu secepatnya. Dia merasa sangat malu, dengan apa yang dia lakukan dulu pada anak baru itu.
"Maaf Pak. Yang dimaksud oleh adik ini adalah Saya. Waktu itu, Saya hanya iseng dan tidak ada maksud lain. Sungguh, Saya meminta maaf untuk semua kesalahan itu," ucap teman Awan, menjelaskan tentang kesalahan yang dia lakukan pada Ara.
"Minta maaf? Seandainya Saya terlambat semenit saja, kemudian gagal ikut tes, sehingga tidak diterima di sini, apa Kakak juga akan minta maaf? Keisengan Kakak, bisa menjadi jalan buntu untuk masa depan seseorang, jika hal itu sampai terulang lagi."
Semua orang, termasuk guru yang ada di kelas itu, mengangguk setuju dengan perkataan Ara.
Awan, diam-diam mengagumi keberanian anak baru, yang tidak mengenal siapa mereka berdua di sekolah ini. Itu pertanda bahwa, anak baru ini, menegur yang salah, tanpa memandang status dan kedudukan orang tersebut.
Awan benar-benar salut dengan cara anak itu menyampaikan pesan dan teguran, sayangnya, kesalahan itu terjadi pada temannya, yang tentunya membuat malu dirinya juga.
"Sial Loe Bro!" umpat Awan pelan, di samping telinga temannya itu.
Guru mendekat ke tempat berdirinya Awan dan temannya. "Besok-besok, kalau ada yang bertanya, jika Kamu malas menjawab atau memang tidak tahu, lebih baik bilang jika Kamu itu tidak tahu. Dari pada Kamu membuat orang lain tersesat, bisa-bisa malah celaka, dan itu disebabkan oleh kesalahan Kamu secara tidak langsung," kata guru memberikan pesan atas kejadian ini.
__ADS_1
"Iya Pak. Maaf," ucap teman Awan, sambil mengangguk mengiyakan.
Rona wajah teman Awan, sudah memerah karena malu, diperhatikan oleh semua siswa baru di kelas tersebut.
"Sono gih, minta maaf ke orangnya langsung," kata Awan menyuruh temannya itu, untuk meminta maaf pada Ara secara face to face.
Ara masih berdiri di depan kelas. Dia bekum kembali ke tempat duduknya, karena menunggu orang itu memberikan konfirmasi dari kebohongan yang dia lakukan padanya.
"Maaf Dek. Waktu itu, Saya benar-benar hanya iseng dan tidak ada maksud lain. Sumpah. Maafin ya!"
"Huhuhu...!"
"Yeee, asyikkk!"
"Aduh kayak romantis gitu deh!"
Seisi kelas menyoraki teman Awan dan Ara, yang mirip dengan adegan romantis dalam panggung sandiwara.
Sedangkan Ara, hanya mengangguk saja, tanpa mengatakan apa-apa. Dia segera kembali ke tempat duduknya, meskipun sebenarnya dia juga malu, dan dia menahannya, sehingga wajahnya juga ikut memerah.
Awan dan pak guru, mengeleng samar, dengan apa yang baru saja terjadi.
"Permisi Pak , adik-adik semua. Selamat datang dan selamat bergabung di sekolah ini. Semangat belajar ya!" ucap Awan berpamitan pada semuanya.
Setelah berada di luar kelas, Awan menghela nafas lega. Begitu juga dengan temannya tadi.
"Gila Bro. Bener-bener gila!" ucap temannya Awan, dengan mata yang tidak bisa diartikan.
"Loe yang gila Man!" ucap Awan mengatai temannya itu.
"Berani banget ya anak kecil tadi. Sial! Gue jadi malu kan," kata teman Awan dengan nada kesal.
"Yeee, itu kan salah Loe Bro. Benar kata dia, coba seandainya Loe yang digituin, gimana?" tanya Awan, memposisikan temannya itu pada posisi Ara.
"Ya kesel lah Gue. Marah dan ingin bogem tuh orang!" jawab temannya Awan dengan cepat.
"Nah itu. Mungkin, dia juga berpikir hal yang sama seperti yang Kamu pikirkan. Dia sudah merasa sakit hati, dan ingin membalas dendam pada Loe jika ketemu. Dan untungnya, dia diterima dan parahnya, kali pertama masuk justru ketemu juga dengan Loe. Hahaha... kan Gue jadi ngakak ini!"
__ADS_1
"Sial Loe. tertawa di atas penderitaan Gue!" umpat temannya Awan, sambil memukul bahu Awan.
Tapi karena Awan mengelak dengan cepat, akhirnya pukulan itu hanya mengenai angin.
"Hahaha..."
Awan tertawa senang, karena temannya itu jadi merasa semakin kesal.
Sayangnya, mereka berdua sudah ada di depan kelas tujuh, yang ada di sebelah kelas tadi. Dan ini membuat mereka berdua harus mengakhiri candaan, dan ejekan mereka satu sama lain.
*****
Di sekolah Anggi.
Anggi duduk di kelas kecil. Sedangkan Miko, ada di kelas besar sehingga mereka berdua tidak ada di dalam kelas yang sama.
Anjani juga menunggui, karena ini adalah hari pertama Anggi sekolah. Lagipula, biasanya hanya perkenalan sekitar sekolah dan teman-teman yang tentunya juga baru. Besok-besok, dia juga tidak akan di perbolehkan menunggu, karena untuk melatih keberanian dan kemandirian anak-anak, sehingga tidak ada kecemburuan sosial, antara anak yang ditunggui dengan yang tidak.
"Bunda Jani!"
Dari arah kelas besar, Miko menyapa Anjani. Saat ini adalah waktu yang masih bebas dan belum ada pelajaran untuk mereka, sehingga masih banyak bermain di luar kelas.
Anjani tersenyum dan mengangguk ke arah Miko, yang memangilnya.
"Anggi sudah masuk Bunda?" tanya Miko, setelah mendekat ke tempat duduknya Anjani, yang ada di depan kelasnya.
"Iya sudah. Kamu kenapa keluar?" tanya Anjani heran.
"Gak apa-apa. Kan belum ada Bu guru. Miko mau lihat Anggi ahhh!"
Setelah mengatakan itu, Miko berlari menuju ke kelas Anggi. Dia mencari-cari sepupunya, yang tampak berkerumun dengan temannya yang lain.
"Anggi. Anggi!"
Miko berteriak memanggil-manggil Anggi, karena dia tidak melihat keberadaan Anggi, diantara anak-anak baru itu. Apalagi mereka semua belum memakai seragam, sehingga tampak membingungkan Miko, untuk mengenali sepupunya, Anggi.
"Ihsss... si Miko ngapain ke sini!" batin Anggi dengan wajah kesal.
__ADS_1
Anggi tampak cemberut, karena kedatangan sepupunya itu. Akhirnya, mereka berdua, jadi pusat perhatian teman-teman barunya. Apalagi Miko juga memanggil namanya dengan suara yang keras tadi, sehingga didengar oleh semua orang yang ada di kelasnya, bahkan suara Miko juga terdengar hingga ke luar kelas, karena pintu dan jendela kelas terbuka.