Dia Milikku ( Berbagi Cinta )

Dia Milikku ( Berbagi Cinta )
Salah Sangka


__ADS_3

"Kakak nunggu siapa?"


Ara bertanya, pada Awan yang masih diam saja dengan wajah canggungnya.


"Emhhh... Ti_tidak. Mak_maksudnya... Ya ada."


Perkataan Awan yang gugup dan terputus-putus, membuat Ara menjadi yakin, jika ada sesuatu yang ingin disampaikan oleh Awan padanya.


Dan Ara juga yakin jika, orang yang tadi memanggil-manggil namanya adalah Awan juga.


"Jadi..."


Ara menunggu Awan melanjutkan kalimatnya, dengan sabar.


"Emhhh..." Awan hanya bergumam tidak jelas, kemudian mengeluarkan sesuatu dari dalam tas ranselnya.


"Ini."


Awan menyerahkan paper bag, yang sudah ditekuk-tekuk, dan tidak berbentuk dengan layak, karena ditempatkan di dalam tas.


Ara memicing sekilas, melihat apa yang diberikan oleh Awan padanya. "Apa ini Kak?" tanya Ara, yang tidak melihat isi dari paper bag tersebut.


"Emhhh... itu, itu titipan dari oma," jawab Awan, yang tampak bingung, dengan jawaban yang dia berikan.


Ara melihat isi paper bag tersebut. Setelah itu, dia tersenyum senang, karena melihat ada tas yang ada di dalamnya.


"Wahhh... terima kasih Kak. Emhhh... tolong sampaikan pada oma, terima kasih."


Awan mengangguk, dengan wajahnya yang berhias dengan sebuah senyuman kebahagiaan. Dia merasa senang, karena bisa melihat wajah Ara yang sedang berbahagia.


'Apa hadiah kecil seperti ini, bisa membuatnya merasa senang?' batin Awan, yang baru menyadari bahwa, apa yang dikatakan oleh omanya, mama Amel, ada benarnya juga.


Tapi, saat Ara menenteng paper bag tersebut Awan memegangi tangannya. "Tunggu," ucap Awan, dan itu tentunya membuat Ara tertegun.


"A_apa Kak?" Ara gugup, dan tidak bisa berbicara dengan lancar.


Awan meminta paper bag tersebut, dan Ara melihatnya dengan bingung, dengan apa yang dilakukan oleh Awan.


Dengan meminta paper bag itu, Awan mengambil tas yang ada di dalamnya, kemudian membuka resleting tas ransel milik Ara.


Tas hadiah tadi, Awan masukkan ke dalam tas ranselnya Ara. Dan paper bag yang sudah rusak, dia rusak lebih parah lagi. Setelah itu, baru di buang ke dalam tempat sampah, yang ada di pojokan area parkir.


"Hehehe... lebih praktis ya," ujar Ara, setelah tahu, apa yang dimaksud oleh Awan.


"Ayok!"


Awan mengajak Ara, untuk berjalan bersama menuju ke sekolah.


Mereka berdua, Ara dan Awan, tidak menyadari bahwa, sedari tadi, si Dika memperhatikan bagaimana mereka berdua berinteraksi.

__ADS_1


"Huh, Gue pikir dia tidak doyan cewek. Ternyata begitu. Dia mau main belakang dengan Gue, untuk mendapatkan Diyah."


Dika tersungut-sungut, dengan ocehannya yang tidak jelas. Dia merasa di tikung oleh Awan. Apalagi, dia juga melihat Awan, yang memberikan sebuah hadiah untuk cewek gebetannya itu.


Padahal, Dika juga sudah menyiapkan hadiah untuk Ara, yang kemarin dia minta dibelikan oleh mamanya, saat di mall.


"Ah, kan jadi gak guna nih!"


Dengan perasaan kesal dan jengkel, Dika meninju pintu warung Pak Lek.


Brak!


"Woi... itu pintu kagak saleh ye. Ade ape Loe?" teriak istrinya Pak Lek, yang asli orang Betawi.


Dika tersenyum canggung, karena merasa bersalah dan juga salah tingkah. "Maaf Cing. Tadi tangan Aye ada semut. Dan tak mau lepas semutnye," ujar Dika, menyahuti pertanyaan dari istrinya Pak Lek, pemilik warung.


"Ade-ade aje alasan anak jaman sekarang ni," gerutu pemilik warung, yang mendengar jawaban dari si Dika. Karena menurutnya, alasan yang di buat oleh Dika, tidak masuk akal.


"Cing. Total dulu, Gue mau masuk nih!" Dika meminta total harga makanan dan kopi yang dia minum pagi ini.


"Iye, sebutin aje Loe makan ama minum ape aje tadi," sahut istrinya Pak Lek.


Setelah selesai memberikan uang sesuai dengan yang diminta pemilik warung, Dika ke luar, kemudian berjalan menuju ke arah sekolah.


Dia akan pura-pura tidak tahu, apa yang tadi dia lihat, antara Ara dengan Awan di parkiran motor.


'Gue harus gerak cepat nih, sebelum Awan mendapatkan perhatian dari si Diyah.' Dika membatin, sambil terus berjalan dengan menendang apa saja yang ada di depan kakinya.


Pulang sekolah.


Ara menunggu kedatangan Nanda, sama seperti biasanya. Di depan kelasnya, kelas tujuh.


"Diyah," sapa Dika, yang memang menuggu kesempatan, untuk bisa bertemu dengan Ara berdua saja.


Hanya berdua.


"Eh, kok tumben sendirian Kak?" tanya Ara, yang terkejut dengan sapaan di Dika.


"Memangnya, Kamu berharap Aku dengan siapa? Dengan Kamu?" tanya Dika, dengan memajukan wajahnya, ke depan Ara.


Tentu saja, Ara jadi mundur untuk beberapa langkah. Dia gugup, menghadapi tingkah Dika, yang menurut Ara tidak biasa.


"Kak..."


"Hahaha... Canda ah!"


Ara menghembuskan nafas lega, mendengar suara Dika, yang mengatakan bahwa semua yang dia lakukan hanya candaan semata.


Dika juga sudah kembali memundurkan wajahnya, agar lebih menjauh dari posisi Ara yang berdiri dengan gugup.

__ADS_1


Tapi sepertinya kegugupan Ara, membuat Dika merasa senang. Dia tampak tersenyum sedari tadi, dengan mengangguk-angguk kepalanya beberapa kali.


"Kamu nunggu bodyguard Kamu ya?" tanya Dika, yang tidak suka menyebutkan namanya Nanda.


Ara hanya mengangguk saja, dengan nyengir kudanya. Dan Ara semakin kaget, saat Dika memberikan sebuah kado untuknya.


"Buat Kamu," kata Dika, memberikan kotak kado pada Ara.


Jadi, tas ransel sekolah Dika, tidak berisi buku-buku pelajaran, tapi kotak kado, yang sudah dia persiapkan untuk Diyah. Cewek incarannya, yang tadi pagi baru saja diberikan kado oleh Awan.


Sebenarnya, Dika berpikir bahwa, Ara sedang ulang tahun. Dan dia sangat bersyukur atas kebetulan yang dia miliki saat ini.


Dika sudah memiliki sebuah kado, yang bisa diberikan untuk hadiah ulang tahun Ara.


"Ini... ini apa Kak?" tanya Ara bingung.


Tentu saja Ara merasa bingung.


Pagi tadi, dia mendapatkan kado tas cantik, dan tentunya dengan harga yang sangat mahal dari Awan.


Tapi karena kata Awan, kado itu dari omanya, mama Amel, Ara pun memakluminya. Karena omanya Awan, memang tidak banyak waktu, jika itu hanya untuk sekedar bertemu dengan dirinya.


Dan bisa jadi, sebenarnya tas tadi adalah milik omanya Awan, yang terlanjur di beli, tapi merasa kurang pas, untuk ukuran usia omanya itu.


Tapi sekarang, siang-siang, di saat pulang sekolah, dia kembali mendapatkan sebuah kado dari cowok lain. Dan itu adalah temannya Awan sendiri, Dika.


"Buat Kamu," jawab Dika, dengan kata yang sama seperti yang tadi dia ucapkan untuk pertama kalinya memberikan kado tersebut.


"Dalam rangka apa?" tanya Ara lagi.


Ara merasa ini sedikit aneh. Dia tidak sedang ulang tahun, atau memenangkan suatu kompetensi. Tidak patut juga, mendapatkan perhatian dengan sebuah kado.


"Bukannya Kamu ulang tahun," jawab Dika, dengan menebak dan menyimpulkan sendiri, kejadian yang tadi pagi dia lihat, saat Awan memberinya sebuah kado, meskipun tanpa di bungkus dengan rapi dan cantik.


"Ulang tahun? Udah lewat lama sekali Kak."


Dika terbelalak, mendengar perkataan yang diucapkan oleh Ara.


Dia jadi merasa malu, karena sok tahu, dan tidak bertanya-tanya terlebih dahulu, sebelum mengatakan semuanya tadi.


Tapi karena sudah terlanjur, Dika pun akhirnya mengatakan bahwa, "Gak apa-apa. Kan waktu dulu, Kakak gak tahu. Ya anggap aja ini kado ulang tahun Kamu, yang nyangkut dan baru bisa diberikan. Hehehe..."


"Hihihi... gitu ya," ucap Ara, menanggapi perkataan dan penjelasan yang diberikan oleh Dika.


Mereka berdua, jadi tertawa-tawa, menyadari bahwa, ada kesalahpahaman antara mereka, yang belum sempat dijelaskan juga.


Tapi Dika tidak mempermasalahkan kesalahan, untuk tebakannya yang salah tadi, soal ulang tahun Ara.


Sedangkan Ara, mengira bahwa, apa yang dikatakan oleh Dika adalah benar adanya.

__ADS_1


Dari kejauhan, ada Nanda dan juga Awan, yang melihat Ara dan Dika sedang tertawa-tawa senang.


Mereka, dengan pikiran dan tebakannya sendiri, yang tentu saja, berbeda juga. Antara Nanda dan Awan, soal kedekatan Ara dengan Dika yang saat ini mereka berdua lihat.


__ADS_2