
Meskipun terkesan pendiam dan tidak punya nyali, ternyata Awan tidak sama seperti yang terlihat.
Di Amerika sini, dia punya banyak teman dan rekan, yang juga bukan sembarang orang.
Dan dengan cepat, orang yang tadi di minta bantuan oleh awan, menemukan di mana lokasi mobil yang sudah membuatnya hampir kecelakaan bersama dengan Ara.
Awan bahkan belum pulang, saat menerima kabar dari orang tersebut. Meskipun malam sudah menunjukan pukul sebelas malam.
Dia masih berada di apartemen Abimanyu, dan sedang berbincang dengan calon mertuanya itu. Membahas tentang apa yang baru saja dia alami bersama dengan Ara juga tadi.
Awan menerima panggilan telpon, dari orang tersebut untuk memberikan kabar padanya.
..."Ya hallo Mr!"...
..."Mereka sudah di temukan sir."...
..."Benarkah? lalu bagaimana selanjutnya?"...
..."Ada tim yang akan menjemput mereka sir. Jadi, sekarang kita ke kantor polisi saja. Kita tunggu di sana!"...
..."Tunggu. Tadi Mr bilang mereka. Berarti lebih dari satu orang?"...
..."Iya. Mereka ada dua orang sir."...
..."Oh baiklah. Saya akan segera datang."...
Klik!
Awan memutus sambungan telpon yang masuk. Dia melihat ke arah Ara, dan juga yang lainnya.
"Ayah, dan yang lain di rumah saja. Biar Saya saja yang datang ke kantor polisi."
"Tapi Kak, Ara ingin tahu. Apa motifnya melakukan semua ini?" Ara ingin ikut Awan untuk datang ke kantor polisi.
"Tapi ini sudah larut. Atau bagaimana sebaiknya Yah?"
Akhirnya, Awan bertanya pada Abimanyu, agar bisa memberikan pendapatnya mengenai keinginan Ara. Yang ingin ikut bersama dengannya pergi ke kantor polisi juga.
"Karena kita tidak tahu, siapa dibalik semua ini. Entah itu orang yang tidak suka dengan Kamu, atau Ara. Jadi lebih baik Ara ikut juga tidak apa-apa. Ayah akan ikut menemani."
Akhirnya, Abimanyu memutuskan untuk mengijinkan anaknya, Ara, ikut bersama Awan ke kantor polisi. Tapi dia juga akan ikut bersama dengan mereka.
Karena Awan tadi sudah memanggil supir mension, mereka bertiga akhirnya diantar oleh supir tersebut.
Sedangkan Anjani dan Anggi, di minta untuk tetap berada di rumah saja.
__ADS_1
"Bunda dan Adek di rumah ya! Besok juga harus ke sekolah," kata Abimanyu, yang tidak mau dibantah lagi.
Anjani yang paham betul dengan karakter dari suami dan ayah anaknya itu, hanya mengangguk saja.
Berbeda dengan Anggi, yang tentu saja ingin tahu banyak. Apalagi, berita kecelakaan yang disampaikan oleh kedua kakaknya itu, juga sangat mengejutkan dirinya tadi.
Jadi, dia ingin tahu apa dan siapa orang yang punya dendam dengan kakaknya. Apakah mereka itu teman kakaknya Ara, atau dari pihak Awan.
"Anggi ikut Yah!"
Anggita mencoba untuk meminta ijin pada ayahnya, supaya diijinkan untuk ikut serta.
"Adek di rumah," kata Abimanyu sekali lagi.
"Eghhh..."
Anggi mendengus kesal. Dia tidak berhasil membuat ayahnya memberinya kesempatan untuk ikut serta ke kantor polisi.
"Gagal deh buat unggahan," gerutu Anggi, dengan mulut mengerucut kesal.
"Adek!"
Anjani memanggil Anggi, dengan mengelengkan kepalanya beberapa kali. Memberikan isyarat, agar Anggi tidak lagi ngeyel dan memaksa untuk ikut ayah dan kakaknya, Ara.
Akhirnya, Anggi diam saja, saat mendengar suara ayah dan kakaknya yang pamit pergi terlebih dahulu. Begitu juga saat Awan pamit.
Dan pada saat semua orang sudah pergi, Anjani memberinya nasehat. "Dek. Ini bukan hanya sebuah permainan. Dan hal semacam ini, itu serius. Jadi, wajar jika Ayah gak kasih ijin."
Anggi hanya diam saja. Dia tidak menyahuti perkataan yang diucapkan oleh bundanya. Meskipun dia sadar bahwa, apa yang dikatakan oleh bundanya itu memang benar.
"Ayo tidur! Bunda temani."
Mata Anggi berbinar senang, karena mendengar perkataan bundanya yang terakhir ini. Sudah sangat lama, dia tidak tidur bersama dengan bundanya itu.
"Ayok Bun!"
Akhirnya, Anggi pun berdiri dari tempat duduknya, dan merangkul pundak bundanya, yang sekarang ini sudah sejajar dengannya.
"Adek udah besar ya? Lihat deh! Tinggi adek, udah mau melebihi Bunda. Sebentar lagi juga sudah sama dengan kak Ara. Bahkan perawakan Adek lebih besar lho!"
Anggi hanya tersenyum, mendengar perkataan bundanya, tentang postur tubuhnya yang memang lebih besar jika dibandingkan dengan kakaknya.
Dia merangkul pundak bundanya dengan manja. Hal yang sepertinya, memang masih sering dilakukan oleh Anggi, jika sedang dalam keadaan merajuk seperti sekarang ini.
*****
__ADS_1
Di dalam mobil, saat perjalanan ke kantor polisi.
"Memang Kamu ada musuh Wan?" tanya Abimanyu, pada tunangan anaknya, Ara.
"Gak ada Yah. Awan merasa gak punya musuh atau saingan juga."
"Apa Kamu Ra?"
Sekarang, Abimanyu ganti bertanya kepada anaknya sendiri. Karena dia pikir, mungkin saja pergaulan anaknya di kampus ada yang tidak suka.
"Emhhh... gak tau juga Yah. Ara sih merasa baik-baik saja. Gak ada yang jadi saingan juga," jawab Ara, menjelaskan pada ayahnya.
"Teman Kamu yang dulu, udah gak jahat lagi kan? udah baik kan Kak?"
Abimanyu bertanya sekali lagi, tentang temannya Ara, yang dulu pernah membuat kasus.
Pada waktu itu, Abimanyu tidak melakukan tindakan apa-apa, untuk meminta penjelasan pada pihak kampus maupun pada temannya Ara sendiri.
Dia berpikir bahwa, itu hanya permasalahan yang ada di wilayah kampus. Di mana anaknya belajar di sana.
Bukan hanya belajar secara akademis, tapi juga pergaulan. Apalagi, banyak mahasiswa yang dari berbagai negara dan ras juga. Dan tentunya itu berpengaruh terhadap cara pandang dan berpikir juga.
"Apa mereka berulah lagi?" tanya Awan, yang juga berpikir hal yang sama seperti ayahnya Ara, Abimanyu.
Tapi Ara tidak mau berpikir negatif terhadap siapa pun. Karena dia memang merasa tidak ada masalah dengan teman-temannya.
Namun apa yang dipikirkan oleh Ara, ternyata tidak terbukti. Karena dua orang yang saat ini duduk dan di interogasi oleh penyidik, salah satunya adalah orang yang dia kenal.
Bahkan, dia juga berbincang akrab dengannya tadi siang. Juga beberapa hari kemarin, saat ada di mini market bersama dengan bundanya juga.
"Clarissa? Kamu... "
Orang yang bernama Clarissa, menoleh dengan cepat. Tapi dengan segera menundukkan wajahnya karena merasa bersalah. Meskipun rasa terkejut juga tampak dari sorot matanya.
Ternyata semuanya sudah direncanakan oleh Clarissa. Dia minta bantuan kekasihnya, untuk melakukan rekayasa kecelakaan yang tadi sudah dia lakukan.
Sayangnya, apa yang dia inginkan tidak terjadi.
Nyatanya, Ara baik-baik saja. Tidak ada cidera sama sekali.
Padahal tadi, Clarissa sudah merasa sangat yakin jika, mobil yang membawa Ara menabrak pembatas jalan. Bahkan terseret hingga beberapa jauh.
"Apa ini Clarissa?" tanya Ara, yang masih tidak percaya jika semua ini adalah perbuatan Clarissa.
"Clarissa?"
__ADS_1
Abimanyu dan Awan, bersama-sama mengulang kembali nama yang disebutkan oleh Ara.