
Ara sangat senang, saat tahu jika adiknya, yang masih ada di dalam kandungan bundanya, berjenis kelamin cewek. Sama seperti yang dia inginkan. Punya adik cewek dan bukan cowok, sama seperti yang diinginkan oleh ayahnya, Abimanyu.
"Hore... adik Ara cewek!"
Ara berteriak-teriak senang, karena akhirnya memiliki adik cewek, yang bisa dia ajak bermain-main dan dia dandani nantinya.
"Maaf ya Mas. Tidak sama seperti yang mas Abi inginkan," kata Anjani sambil tersenyum tipis. Dia merasa tidak enak hati, karena jenis kelamin anaknya, tidak sama seperti yang diinginkan oleh suaminya itu.
"Tidak apa-apa Sayang. Mau cewek atau cowok, sama saja kan. Lihat tuh Ara! Dia sangat senang sekali. Itu sudah membuatku merasa sangat bahagia kok," jawab Abimanyu, sambil tersenyum melihat ke arah anaknya, Ara.
Saat ini, mereka bertiga, berada di sebuah klinik ibu dan anak, untuk memeriksakan kandungan Anjani.
Ara memaksa untuk ikut, karena selain sendirian di rumah, klinik tersebut juga tidak terlalu jauh dari rumah mereka.
"Terima kasih ya Mas," kata Anjani, sambil mengadeng tangan suaminya itu.
Sekarang, mereka berjalan keluar dari klinik tersebut untuk kembali pulang ke rumah.
Ara berceloteh sepanjang perjalanan mereka. Sedang Abimanyu, hanya tersenyum-senyum saja, jika ada perkataan anaknya yang di rasa lucu.
Anjani tahu, jika ada sedikit rasa kecewa yang sedang dirasakan oleh suaminya itu. Bukannya tanpa alasan, jika Abimanyu merasa kecewa. Ini hal yang manusiawi, jika orang tua, menginginkan jenis kelamin yang berbeda untuk anak keduanya, karena merasa sudah memiliki yang pertama.
Tapi, mungkin Tuhan masih meminta mereka, terutama Abimanyu, untuk tetap bersabar dan bersyukur dengan semua anugerah yang diberikan oleh Tuhan.
Anjani berharap, agar suaminya itu tidak merasa kecewa yang berkepanjangan.
"Bunda-bunda. Ara mau beli itu dong!"
Ara yang berjalan di depan, menunjuk pada sebuah gerobak panjang, yang berada di tepi jalan, karena memang mangkal di situ, yang menuju ke gang rumah mereka. Gerobak itu, menjual aneka makanan dari timur tengah, seperti kebab dan yang lain-lainnya juga.
Abimanyu dan Anjani, yang berjalan di belakang Ara, jadi ikut berhenti dan menuju ke gerobak tersebut.
Ara meminta pada ayah dan bundanya, untuk membelikan kebab untuknya.
"Aku mau kebab Turki yang gede. Tapi tidak pedas ya Om," kata Ara, memesan pada penjual.
"Iya Neng," jawab penjual kebab, mengiyakan pesanan Ara.
__ADS_1
"Namaku Ara, bukan Neng Om!"
Ara membenarkan panggilan penjual untuknya. Dan ini membuat sang penjual tersenyum lebar, karena merasa lucu dengan protes yang dia dengar dari anak kecil.
"Hahaha... maaf ya Pak. Dia tidak tahu, jika panggilan neng itu untuk anak cewek," sahut Abimanyu, yang tertawa lepas melihat tingkah anaknya yang sedang protes karena merasa salah saat dipanggil oleh penjual kebab.
Penjual kebab hanya mengangguk mengerti. Dia sudah terbiasa dengan para pembeli yang datang dengan berbagai macam jenis tingkahnya.
Akhirnya, Abimanyu menjelaskan pada anaknya, Ara, tentang berbagai macam panggilan untuk anak-anak cewek yang sering dipakai dalam masyarakat pada umumnya.
Ara mendengarnya penjelasan dari ayahnya itu dengan serius. Apalagi dia juga sudah memesan kebab yang ukuran besar untuk dibawa pulang. Dia bersemangat sekali untuk bisa menikmati kebab tersebut nanti di rumah.
"Bunda tidak ikut pesan?" tanya Abimanyu, setelah selesai memberikan penjelasan pada Ara.
"Iya, sudah pesan kok Mas. Tapi tidak pedas, sama buat mas Abi juga. Anjani juga memesan kebab untuk ayah dan ibu. Nanti kita ke sana dulu ya Mas?" jawab Anjani, yang memang sudah memesan empat bungkus lagi untuk dirinya sendiri, suaminya dan kedua mertuanya.
"Oh iya, nambah satu lagi deh, buat bibi pembantu di rumah ayah juga."
Anjani memesan satu lagi, untuk diberikan kepada bibi pembantu, yang ada di rumah mertuanya.
Sambil menunggu pesanan kebab selesai di buat, Ara berkeliling mencari makanan yang lain, yang banyak di jual di pinggir jalan menuju ke arah rumah.
Apalagi jika sore hari atau sedang hari libur dan cuaca juga cerah seperti sekarang ini. Tempat ini jadi mirip pasar sore yang busa dijadikan wisata kuliner, untuk masyarakat setempat. Ramai dan banyak pilihannya juga.
Ini membuat anak-anak senang, karena bisa mendapatkan makanan yang mereka sukai dengan mudah tanpa harus pergi jauh-jauh dari rumah mereka.
Orang tua juga tidak perlu khawatir, karena di tempat ini bersih dan termasuk area yang cukup aman untuk anak-anak, karena tidak berada di kawasan yang terlalu ramai.
*****
Di rumah ayah Edi, sekarang ini jadi semakin sepi. Ini karena tidak ada lagi anak-anak di rumah tersebut.
Sekar dan Juna bersama dengan anaknya, sudah tinggal di rumah mereka sendiri.
Begitu juga dengan anaknya, Abimanyu. Sudah pindah bersama dengan keluarga mereka sendiri, beberapa bulan yang lalu.
Apalagi, Nanda juga sudah bersama dengan mamanya di Taiwan.
__ADS_1
Jadi, praktis rumah ayah Edi sepi, karena hanya ada dirinya sendiri dan istrinya, ibu Sofie, bersama dengan satu pembantu rumah tangga, yang menemani mereka di rumah.
"Kita main ke rumah Abimanyu yuk Yah!" ajak ibu Sofie, yang sedang berada di ruang tengah, menemani suaminya yang sedang membaca majalah olahraga.
"Kenapa tidak pergi sendiri?" tanya ayah Edi, menjawab permintaan istrinya itu.
Ayah Edi bicara seperti itu karena, biasanya, tanpa pamit, istrinya itu juga sering datang ke rumah anak-anaknya, Abimanyu dan juga Sekar. Karena letak rumah mereka memang masih bisa dijangkau dari rumah mereka sendiri.
"Kan Ibu sudah biasa sendiri. Bareng Ayah kan jarang. Lagi pula, hari ini Anjani pasti akan periksa kandungan Yah. Kita temani Ara di rumah," kata ibu Sofie, memberikan alasan pada suaminya itu.
"Kok Ibu tahu, jika Anjani hari ini periksa kandungan?" tanya ayah Edi, memicing karena curiga jika istrinya itu memata-matai keluarga anaknya, Abimanyu.
"Ara yang cerita pada Ibu, dua hari yang lalu Yah," jawab istrinya cepat.
"Oh..."
Ayah Edi, mengangguk paham dengan jawaban istrinya itu. Tapi dia tetap saja diam, dan tidak bergeming untuk segera beranjak dari tempat duduknya.
"Ayo Yah!" ajak ibu Sofie lagi.
"Eh, sekarang Bu?" tanya ayah Edi kaget, karena mendengar ajakan istrinya yang terdengar kesal.
"Iyalah Yah. Masa tahun depan sih!"
Ibu Sofie, menjawab dengan cemberut.
"Hahaha... iya-iya."
Akhirnya, mereka berdua bersiap-siap untuk berangkat ke rumah Abimanyu, dengan maksud untuk menemani cucunya, Ara, saat di tinggal Anjani dan Abimanyu untuk pergi periksa kandungan.
Tapi, saat ayah Edi baru saja mau mengeluarkan mobil dari dalam garasi, dari arah pintu pagar rumah, keluarga anaknya, Abimanyu, sudah terlihat terlebih dahulu.
"Lho, itu mereka datang!"
Ayah Edi, memberitahu istrinya, jika Abimanyu dan Anjani datang bersama dengan anak mereka, Ara.
"Mana Yah?" tanya ibu Sofie, dari arah dalam rumah.
__ADS_1
Dan benar saja, saat dia keluar dari dalam rumah, tampak Ara berjalan dengan melompat-lompat kecil, masuk ke halaman, di susul oleh ayah dan bundanya dari arah belakang.
Mereka berdua, ayah Edi dan ibu Sofie, tersenyum menyambut kedatangan anak dan menantunya itu, bersama dengan cucu mereka, Ara.