Dia Milikku ( Berbagi Cinta )

Dia Milikku ( Berbagi Cinta )
Menunggu Wali Datang


__ADS_3

Menurut pengakuan yang diberikan oleh Clarissa, dia melakukan semua ini karena masih merasa marah.


Clarissa marah, dan dendam pada Ara. Karena dengan kejadian waktu itu, dia harus pergi dari Amerika dan jauh dari kekasihnya.


Sayangnya, apa yang sudah dia rencanakan ini gagal. Bahkan, dua tertangkap di saat baru saja tiba di sebuah diskotik. Untuk merayakan apa yang tadi dia pikir berhasil.


Sekarang, dia harus mempertanggungjawabkan perbuatannya itu, dengan jeratan hukum yang berlaku di negaranya.


Apalagi, kasus ini adalah kasus berencana.


Dari penuturan orang yang menyelidiki, dari beberapa kamera cctv jalan, yang sebenarnya berpusat di kantor kepolisian pusat, tentu saja, keberadaan mobil Clarissa bisa cepat terlacak.


Ini karena kecanggihan teknologi informasi dan komunikasi dalam organisasi kepolisian.


Dari hasil kamera cctv jalan yang dikumpulkan, ternyata Clarissa sudah membuntuti mobil Awan sejak keluar dari kampus. Setelah selesai menonton opera.


Jadi, saat ada di restoran Korea, Clarissa dan kekasihnya itu, juga sudah berada di tempat yang sama. Bahkan, mereka berdua juga makan malam di restoran Korea itu.


Sayangnya, Ara tidak menyadari semua itu. Begitu juga dengan Awan, yang memang tidak mengenal Clarissa.


Clarissa sendiri melupakan keamanan dirinya sendiri. Dia lupa jika, jalan-jalan di kotanya ini, ada banyak sekali kamera cctv.


Karena itu bisa membantu pekerjaan polisi lalu lintas. Dan tidak perlu terjun langsung untuk melihat keadaan jalan dan pelanggar lalu lintas juga.


Surat pelanggaran, akan datang dengan sendirinya ke alamat yang dituju. Sesuai dengan tangkapan kamera cctv, yang disesuaikan dengan catatan kepemilikan surat-surat kendaraan dan SIM. Dan itu bisa dilihat dari tangkapan kamera, dari wajah orang yang melintas.


Itulah sebabnya, wajah Clarissa dengan cepat bisa terdeteksi. Dan akhirnya dengan cepat bisa ditangkap.


Ara mengeleng beberapa kali, mendengar penjelasan yang diberikan oleh orang yang sudah membantu menyelidiki kasus kecelakaan ini.


"Mobil Anda sudah di bawa ke bengkel sir," kata orang itu lagi, setelah mengatakan bahwa mobilnya juga sudah di selidiki dan di foto di beberapa bagian yang rusak.


Ini untuk bukti yang menunjukkan bahwa, kecelakaan itu memang benar terjadi, dan akan dibawa ke pengadilan. Jika semua prosedur sudah selesai dilakukan, secepatnya membawa Clarissa ke sidang pengadilan, untuk mendapatkan hukuman atas perbuatannya itu.


Tapi Clarissa juga tidak mau tinggal diam. Dia meminta pada pihak kepolisian, untuk memberinya kesempatan. Dia ingin menghubungi papanya, untuk meminta bantuan.


"Saya mau menghubungi Papa. Setidaknya, biarkan Papa Saya memberikan pendampingan dan pengacara untuk urusan ini."


Clarissa merasa sangat yakin jika, papanya punya pengaruh besar di kota ini. Karena posisi jabatan papanya di perusahaan, juga bukan hanya sekedar karyawan biasa saja.


Karena Clarissa di anggap masih sebagai remaja yang memang perlu wali, untuk setiap kegiatan dan aktivitasnya. Jadi pihak kepolisian juga memberikan ijin pada Clarissa, atas permintaannya tadi.

__ADS_1


Dia juga tidak langsung dimasukan ke dalam tahanan, karena menunggu walinya datang.


"Bagaimana? Apa Papa Anda akan segera datang?" tanya Awan, yang sebenarnya tidak sabar menunggu lagi.


Dia sudah merasa gregetan, dengan apa yang dilakukan oleh temannya Ara itu.


""Iya. Dia pasti akan datang."


Clarissa juga menjawab dengan pasti.


Akhirnya, Awan hanya bisa kembali ke luar ruangan interogasi, di mana Ara dan ayahnya menuggu.


"Bagaimana Kak?" tanya Ara, begitu Awan keluar dari ruangan tersebut.


"Kita tunggu saja sampai walinya datang."


Di ruang interogasi. Tentu tidak sama seperti ruangan yang lain.


Keadaan tegang pasti dirasakan oleh setiap orang, yang masuk ke dalamnya. Apalagi, jika orang tersebut adalah tersangka dari sebuah kasus.


Tapi ini berbeda dengan Clarissa. Dia terlihat masih cukup tenang. Sedangkan kekasihnya justru terlihat sangat cemas.


Sedari tadi, tangan kekasih Clarissa tidak berhenti meremasi tangannya sendiri. Pertanda bahwa dia sedang tidak baik-baik saja.


"Sepertinya tersangka yang cowok itu sedang tidak dalam keadaan normal," ujarnya pada rekan sesama polisi.


"Maksud Kamu?"


"Perhatikan saja, bagaimana dia yang tidak bisa diam sedari tadi."


Akhirnya, untuk membuktikan kebenaran yang dipikirkan oleh salah satu dari anggota polisi tadi, mereka berdua, Clarissa dan kekasihnya, di minta untuk tes urine.


Pada saat keduanya di bawa ke kamar kecil untuk tes urine, Awan dan Ara, segera bangkit dari tempat duduknya.


Mereka berpikir jika, kedua tersangka sudah akan dibawa ke sel tahanan.


"Walinya belum datang. Apa ada konfirmasi jika walinya tidak bisa datang?" tanya Awan, yang membuat Abimanyu jadi ikut berdiri, karena merasa penasaran.


"Bukan. Tersangka akan di tes urine. Jika mereka berdua terbukti sebagai pemakai narkoba, tentu saja mereka akan mendapatkan hukuman yang berlapis."


Clarissa dan kekasihnya, yang tentu saja ikut mendengarkan perkataan polisi tersebut, saking pandang.

__ADS_1


Ada ketegangan di mata mereka berdua.


"Jadi, mereka melakukan rencananya juga dalam keadaan pengaruh obat?" tanya Awan menebak.


Polisi hanya mengangguk saja. Dia kembali mengawal kedua tersangka, untuk di bawa ke kamar kecil.


"Kak," panggil Ara, yang sebenarnya merasa kasihan juga dengan nasibnya Clarissa.


"Sudah. Tidak apa-apa. Ini suatu kebetulan juga. Dan ini untuk hukuman orang yang sudah menganggu calon istrinya Kakak."


Ara tersenyum tipis, meskipun sebenarnya dia juga merasa tidak enak hati. Dia sedikit banyak tahu, tentang bagaimana keadaan Clarissa.


Keluarga Clarissa yang berantakan, karena perceraian kedua orang tuanya. Meskipun Clarissa ikut mamanya, tapi mamanya juga akhirnya menikah lagi.


Sedangkan papanya, yang memang belum menikah, tapi ternyata peminum alkohol berat.


Itulah sebabnya, Clarissa juga tidak diperbolehkan untuk ikut bersama dengan papanya.


Dan Abimanyu ataupun Awan sendiri tidak pernah tahu jika, manager di perusahaan mereka, adalah seorang peminum.


Dari arah pintu masuk, ada seorang laki-laki yang bertubuh besar dan tinggi. Dia datang bersama dengan seorang perempuan, yang memakai pakaian kerja.


"Apa itu papanya Clarissa?" tanya Ara, yang mirip dengan sebuah gumaman, untuk dirinya sendiri.


Tapi Awan dan Abimanyu tentu saja dapat mendengarnya. Sehingga mereka berdua, juga ikut menoleh ke arah pintu masuk kantor polisi.


Awan dan juga Abimanyu, kaget saat melihat laki-laki tersebut. Mereka berdua, tentu sangat mengenalnya.


Begitu juga dengan laki-laki tadi, yang baru saja datang memasuki kantor polisi.


Laki-laki tersebut memandangi Awan dan Abimanyu secara bergantian. Dan cara dia memandang, tentu meminta sebuah penjelasan.


Wanita yang datang bersama laki-laki tersebut, berhenti di sampingnya. Karena orang yang datang bersamanya, berhenti dan diam di tempatnya, sambil melihat dua orang laki-laki yang duduk bersama dengan seorang gadis muda.


"Sir. Apa gadis itu anakmu? Tapi kenapa tidak mirip?"


Laki-laki tersebut hanya mengeleng, sebagai jawab atas pertanyaan yang dia dapatkan.


"Lalu, di mana anakmu sir?"


"Mr Awan. Mr Abimanyu!"

__ADS_1


Laki-laki tersebut mengabaikan pertanyaan dari wanita yang bersama dengannya. Dia justru memangil dua orang laki-laki, yang sangat dia kenal dan hormati.


Dia juga tidak tahu, apa kepentingan kedua orang laki-laki, yang pemimpin di perusahaan tempatnya bekerja sekarang ini.


__ADS_2