Dia Milikku ( Berbagi Cinta )

Dia Milikku ( Berbagi Cinta )
Mau Kue Putu


__ADS_3

Bus rombongan keluarga ayah Edi, sudah sampai di kampung halamannya Aksan, saat hari sudah sore.


Keluarga Aksan, yang ada di kampung, menyambut kedatangan mereka semua dengan hangat.


"Sugeng rawuh."


"Selamat datang."


"Alhamdulillah, sampai dengan selamat."


"Mari. Mari masuk!"


Anggota keluarga Aksan, mempersilahkan pada tamu-tamunya itu, untuk beristirahat, di rumah Aksan yang sudah dibersihkan dan dipersiapkan untuk kedatangan mereka semua.


Makanan dan minuman, juga disajikan, agar semua bisa menikmati dan mengisi perut terlebih dahulu, sebelum mereka beristirahat, setelah melakukan perjalanan jauh ini.


"Anggi mau yang itu!"


Anggi menunjuk pada sepiring kue putu, yang menurutnya berbetuk aneh.


"Miko juga mau itu!" sahut Miko dengan cepat, karena dia juga menginginkan kue ulang yang sama, seperti yang diinginkan oleh Anggi.


Yaitu kue putu.


Kue putu adalah jenis kudapan tradisional Indonesia berupa kue dengan isian gula jawa, dibalut dengan parutan kelapa, dan tepung beras butiran kasar. Kue ini di kukus dengan diletakkan di dalam tabung bambu yang sedikit dipadatkan.


Di kota, atau pun di desa-desa, kue putu ini dijual dengan mengunakan gerobak, atau sepeda, dan juga sepeda motor, dengan suaranya yang khas, saat menjajakan kue putu tersebut.


Kue putu, di masak dengan mengunakan bambu atau pipa berisi adonan kue, kemudian dimasak dengan uap panas. Lubang ini jugalah yang mengeluarkan suara khas seperti peluit, karena itu juga kue putu ini dinamakan dengan sebutan putu menangis.


Ada lagi cerita yang lainnya. Yaitu kata para penjual kue putu.


Nama kue itu diambil dari singkatan putu, pencari uang tenaga uap. Berasal dari cara membuatnya dengan mengukus kue di atas uap. ( Benar atau tidaknya, begitulah menurut mereka 🤗🤗✌️ )


Anggi dan Miko, langsung menyantap kue putu tersebut, sampai habis.


Sedangkan Ara dan Nanda, juga ingin mencicipi kue khas tersebut.


Namun sayang, kedua adiknya itu, sudah lebih dulu menghabiskan satu piring kue putu yang tersaji.


"Di habisin mereka semua Kak," kata Ara, mengadu kepada Nanda.


"Minta aja lagi Ra," sahut Nanda, yang sebenarnya juga ingin menikmati kue tersebut.


"Ihhh, malu ahhh!"


Ara tidak mau ikut saran yang diberikan oleh Nanda. Dia malu, jika harus meminta pada tuan rumah, untuk kue yang sama, kue putu, yang sudah dihabiskan Anggi bersama dengan Miko.


"Ya udah. Entar Kakak mintain sama Bu Lek."


"Bu Lek?" Ara bertanya, dengan mengulang kata yang sama, seperti yang dikatakan oleh Nanda. Yaitu Bu Lek.

__ADS_1


"Iya Bu Lek. Adik sepupunya papa Aksan. Rumahnya, ada di gang belakang sana."


Akhirnya, Nanda menjelaskan pada Ara, siapa yang dia maksud dengan Bu Lek tadi.


Tapi Ara melarang Nanda. Dia merasa malu, jika harus meminta kue putu lagi. Ara takut jika ternyata di dalam, sudah tidak ada persediaan kue putu tadi, dan itu pastinya akan merepotkan tuan rumah.


Meskipun rumah ini adalah rumahnya Aksan, suami dari tante Ara sendiri, yaitu Yasmin. Tapi yang menyambut kedatangan mereka dan mempersiapkan segala sesuatunya adalah keluarga Aksan, yang ada di kampung.


Sedangkan Aksan dan Yasmin sendiri, juga baru saja datang, bersama dengan rombongan mereka tadi.


"Tidak usah Kak. Bikin repot nantinya."


Tapi Nanda tetap saja melangkah menuju ke dalam rumah, di mana hidangan yang belum dikeluarkan ada di dalam sana.


"Bu Lek. Maaf, kue putu nya masih tidak?" tanya Nanda, saat berpapasan dengan adik sepupunya Aksan. Papa sambungnya Nanda.


"Masih ada itu, satu piring di meja. Kamu gak kebagian ya tadi?" jawab Bu Lek, dengan menunjuk ke arah meja, dan juga bertanya kepada Nanda.


Ternyata, Bu Lek tahu jika, Nanda tidak kebagian kue putu.


Akhirnya, dengan senang hati Nanda mengambil piring yang berisi kue putu. Dia membawa kue tersebut ke luar, untuk di nikmati bersama dengan Ara nanti.


Tapi sepertinya keberuntungan belum berpihak pada Ara dan juga Nanda.


Di tempat duduknya Ara, ada Anggi dan Miko juga, yang sedang makan kue-kue yang lainnya.


Dan pada saat melihat kedatangan Nanda dengan sepiring kue putu, mereka berdua langsung berteriak memanggil Nanda.


"Kak Nanda, mau itu!"


"Anggi juga mau!"


"Miko aja!"


"Ihhh, Kamu tadi udah banyak Miko!"


"Kamu juga sudah makan banyak tadi!"


Akhirnya mereka berdua kembali berdebat, mengenai kue putu yang tadi sudah mereka makan.


"Shttt... Ini buat Kakak sendiri, sama kak Ara. Kasian dia gak ke bagian tadi. Kan dihabiskan sama kalian berdua," kata Nanda, memberitahu pada Anggi dan Miko.


Tapi karena Ara dan Nanda adalah kakak-kakak yang baik, mereka berdua juga merelakan kedua adiknya itu, Anggi dan Miko, ikut menikmati kue putu itu lagi.


Jadi, sepiring kue putu yang diambil oleh Nanda dari dalam rumah, dimakan bersama empat orang.


Setelah merasa kenyang, sekarang Nanda mengajak Ara dan kedua adiknya itu, untuk berkeliling sekitar rumah.


Melihat pekarangan rumah papanya Aksan, dan juga melihat pemandangan sore di kampung, yang ternyata sangat indah. Sama seperti yang sering mereka lihat dalam galery foto ataupun lukisan-lukisan alam di buku-buku pelajaran sekolah.


*****

__ADS_1


Di rumah mama Amel.


"Ini Wan. Besok kasih ke Ara ya," kata mama Amel, dengan menyerahkan satu paper bag, yang tadi di bawa pulang dari mall.


"Oma. Awan bagaimana kasih ke Ara?"


Awan bingung, dengan cara yang akan dia lakukan, untuk memberikan hadiah tersebut kepada Ara besok.


"Tinggal di kasih Wan. Gitu aja bingung."


Mama Amel tidak tahu, jika Awan tidak bisa bicara banyak dengan Ara, apalagi di minta untuk memberikan hadiah, yang tidak tepat saat ada moment yang pas, menurut Awan.


Padahal yang sebenarnya diinginkan oleh mama Amel adalah, memberikan alasan, agar Awan bisa bicara dengan Ara, dan bisa jadi cara, supaya mereka berdua bisa lebih dekat lagi.


Menurut mama Amel, Awan terlalu pendiam untuk seorang remaja. Apalagi seorang cowok, yang memiliki segalanya.


Tapi Awan tidak bisa melakukan semua itu. Kepribadiannya yang sedikit tertutup, dan tidak banyak bicara, membuatnya lebih mirip seperti orang yang tidak peduli. Terlalu cuek, dan kaku.


Mungkin ini karena masa kecil Awan, yang tidak banyak berinteraksi dengan orang lain.


"Tapi Oma..."


"Udah. Pokoknya, besok Kamu udah harus kasih itu hadiahnya pada Ara."


Awan tidak bisa membantah lagi, jika omanya itu sudah memutuskan segala sesuatunya. Karena itu seperti sebuah perintah, yang wajib dilakukan oleh Awan.


Sekarang, Awan yang menjadi bingung sendiri, untuk mencari cara, agar hadiah tas tersebut, bisa sampai di tangan Ara.


Dia harus bisa menghilangkan rasa canggung, pada saat memberikan tas tersebut kepada Ara besok paginya.


"Oma..."


"Oma mau dengar jika Kamu sudah berhasil memberikan tas tersebut kepada Ara."


Awan tidak lagi meneruskan kalimatnya, karena sudah di potong oleh omanya. Yaitu mama Amel sendiri.


Akhirnya, Awan dengan terpaksa mengambil tas tersebut, yang masih diulurkan omanya itu, ke arah dadanya.


"Pokoknya harus di kasih ke Ara ya!"


Mama Amel kembali berkata, memberikan pesan kepada Awan, dengan tas hadiah tersebut.


'Bingung sendiri kan jadinya ini,' batin Awan, yang pada akhirnya menerima tas pilihan omanya itu.


Setelah Awan menerima paper bag yang diberikan olehnya, mama Amel tersenyum tipis, kemudian pamit untuk pergi ke kamar. Dia ingin membersihkan dirinya.


"Oma mau mandi dulu ya. Gerah ini seharian jalan."


Awan hanya mengangguk saja, kemudian menghela nafas panjang, saat omanya sudah berlalu, masuk ke dalam kamarnya sendiri.


Dan sekarang, Awan melihat ke arah paper bag, yang berada di tangannya. "Bikin susah Aku aja nih tas," gumam Awan, dengan mengelengkan kepalanya beberapa kali.

__ADS_1


__ADS_2