
Dua hari kemudian, Abimanyu benar-benar datang bersama dengan kedua orang tuanya, untuk melamar Anjani.
Anjani, yang sudah tidak memiliki orang tua, meminta bantuan kepada saudara dan tetangga yang dekat dengan rumahnya, untuk bisa datang membantu dan menyambut keluarga Abimanyu.
Basa basi antar dua keluarga, terjalin dengan akrab. Mereka, membicarakan tentang banyak hal, sampai akhirnya, ayah Abimanyu, menyampaikan maksud dari kedatangan.
"Karena anak-anak sudah cocok dan ada niat yang baik, kami sebagai orang tua, hanya bisa memberikan restu kepada mereka berdua. Kami, bermaksud untuk melamar ananda Anjani Ashita, yang akan menjadi istri dari anak kami, Abimanyu Sudrajat. Mungkin niat baik ini tidak akan kami tunda-tunda lagi, secepatnya akan kami tentukan tanggal untuk pernikahan mereka berdua."
Dari pihak Anjani, ada om Jamal, yang kemarin membantu Anjani menjaga rumah. Dia menerima lamaran dari ayahnya Abimanyu, Ahmad Sudrajat.
"Saya adalah Om dari Anjani Ashita, atas nama orang tuanya, dengan rasa syukur, merima lamaran dari nanda Abimanyu Sudrajat. Semoga niat baik ini, diberikan kemudahan dan kelancaran hingga akhir. Mendapat kebahagiaan serta rukun selalu hingga akhir juga."
"Aamiin."
"Aamiin..."
"Aamiin... syukurlah. Semua berjalan dengan baik."
Semua orang yang ikut datang, ikut merasakan kebahagiaan dan mendoakan yang terbaik untuk keduanya yang mempunyai niat untuk berumah tangga dalam waktu dekat ini.
Abimanyu, melihat ke arah Anjani dengan tersenyum. Dia merasa sangat bahagia dengan acara ini, karena berhasil meminang gadis pujaannya, yang lama dia cari selama ini. Meskipun status Anjani sudah jadi janda dari Elang Samudra, Abimanyu tidak mempermasalahkan soal itu. Dia tetap yakin, jika cintanya pada Anjani, tidak karena hal itu saja. Cintanya, tulus untuk Anjani.
Anjani juga sama. Dia sedari tadi menebar senyuman kebahagiaan. Rasa khawatir yang ada di hatinya, untuk masa depannya yang tidak jelas, kini ada harapan. Statusnya sebagai janda dari Elang, tidak dipermasalahkan oleh Abimanyu. Jadi Anjani bisa tenang dan nyaman dengan kehadiran cinta lamanya yang terpendam. Karena sesungguhnya, dia dan Abimanyu, sama-sama memiliki rasa sejak masa kuliah dulu.
"Mas Abi. terima kasih ya," ucap Anjani, saat acara berlanjut dengan jamuan makan bersama. Mereka berdua, duduk mengobrol di gazebo kafe rumah yang sedang tutup karena acara lamaran ini.
__ADS_1
"Aku yang seharusnya berterimakasih Jani," sahut Abimanyu dengan tersenyum manis. kebahagiaan karena cinta, terlihat jelas di wajah mereka berdua.
"Oh ya, Kamu dapat salam dari Tante Amel."
Tiba-tiba, Abimanyu menyampaikan salam dari mana Amel untuk dirinya.
"Mama Amel?" tanya Anjani, dengan menatap Abimanyu dengan rasa ingin tahunya.
"Iya. Kemarin Aku ketemu dia di kantor. Aku bilang jika ingin melamar_mu. Tadinya dia kaget dan ingin ikut, tapi, jadwalnya untuk pergi ke negara Jepang, tidak bisa di tunda lagi. Jadi dia hanya mengirim salam saja, dan ini," jawab Abimanyu, dengan memberikan sebuah bungkusan kotak kecil pada Anjani.
"Ini apa?" tanya Anjani bingung.
"Tidak tahu. Aku tidak bertanya apa-apa. Buka saja jika Kamu penasaran."
Abimanyu, menyarankan kepada Anjani, untuk membuka kotak pemberian mama Amel.
"Aku tidak tahu Jani," jawab Abimanyu pendek.
"Mas, tidak apa-apa? Aku dapat kiriman hadiah ini dari mantan mertuaku?" tanya Anjani, dengan wajah cemas.
"Kenapa? hubunganmu dengan Elang yang sudah selesai. Tapi, jika tante Amel sudah terlanjur sayang sama mantan menantunya, apa yang bisa Aku lakukan. Toh Tante Amel orang baik. Aku sudah lama mengenalnya, om Ryan juga. Kalau Mas Elang, Aku memang tidak dekat. Kami tidak pernah ketemu sama sekali, hingga kemarin itu, saat Kamu mempertemukan kami berdua."
Jawaban dari Abimanyu, dan semua penjelasan yang diberikan, membuat Anjani merasa lega. Dia tidak ingin ada kesalahpahaman antara calon suaminya itu, dengan keluarga mantan suaminya, suami siri. Elang Samudra.
"Kita akan secepatnya menikah Jani. Aku tidak mau kehilangan dirimu lagi," kata Abimanyu, dengan meraih tangan Anjani kedalam genggaman tangannya.
__ADS_1
"Kamu yakin dengan perasaan ini kan?" tanya Abimanyu pada Anjani, menyakinkan hatinya lagi.
Anjani tidak menjawab. Dia hanya mengangguk sebagai jawaban atas pertanyaan yang diajukan oleh Abimanyu. Dia yakin, perasaan yang kemarin ada untuk Elang, hanya karena rasa simpati dan terima kasih saja. Atau bisa jadi karena kebersamaan yang mereka jalani selama beberapa bulan kemarin. Karena pada kenyataannya, Anjani dengan cepat bisa melupakan perasaannya pada Elang, dengan cara menyibukkan dirinya sendiri, mengurus kafe di rumah
Berbeda dengan perasaan Anjani, terhadap Abimanyu. Sejak dulu, dia tidak pernah melupakan bagaimana tatapan mata Abimanyu saat bersirobok dengannya. Ada rasa yang berbeda di hati Anjani. Seperti ada di sebuah taman, dengan bunga berwarna-warni yang sedang bermekaran.
Anjani, membuka kotak kecil pemberian mama Amel dengan hati-hati. Dia ingin tahu, apa yang dikirimkan oleh mantan mertuanya itu.
Setelah berhasil membukanya, ternyata kotak kecil itu berisi kalung dengan liontin berbentuk inisial namanya, Anjani Ashita, disingkat menjadi AA. Terukir indah dan istimewa.
"Mas. Ini... ini apa tidak berlebihan?" tanya Anjani pada Abimanyu, meminta pendapat tentang hadiah yang diterima dari mama Amel.
"Tante Amel, ternyata sangat menyanyangi dirimu. Jika Kamu sampai menolaknya, apa dia tidak akan tersinggung?" jawab Abimanyu dengan memberikan pertanyaan yang menjelaskan juga, bagaimana sebaiknya Anjani memperlakukan hadiah dari mama Amel tersebut.
"Baiklah. Aku akan mengucapkan terima kasih padanya, nanti." Akhirnya, Anjani menerima hadiah tersebut dan berjanji akan menelpon mama Amel untuk berterima kasih.
*****
Menurut rencana kedua keluarga, pernikahan antara Anjani dan Abimanyu, akan digelar di dua tempat. Selain diadakan di Bogor, pesta pernikahan mereka juga akan digelar di Jakarta, karena rumah Abimanyu memang ada di Jakarta.
Anjani, hanya menurut saja. Dia yang sebelumnya sudah pernah menikah, tentu tidak ada pengalaman sama sekali karena waktu itu, dia tidak sadar dan dalam keadaan koma. Jadi, pernikahannya yang kedua kali ini, bersama dengan Abimanyu, sama saja yang pertama juga baginya. Dia pasrahkan urusan itu pada keluarga besar, yang akan mengurus nanti.
"Nanti, sehabis menikah Aku ingin kita tinggal bersama. Jadi, Kamu juga harus ikut Aku di Jakarta ya," pinta Abimanyu saat mendekati hari pernikahan, melalui telepon.
"Lalu usaha kafe rumahku bagaimana Mas?" tanya Anjani dengan cemas.
__ADS_1
Anjani, yang baru merintis usaha, tentu merasa khawatir, jika harus meninggalkan kafe rumah miliknya begitu saja. Semua usaha yang telah dia lakukan, akan terasa sia-sia saja dan tidak ada perkembangan sama sekali.