
Pagi hari, Awan benar-benar datang ke apartemen Abimanyu, untuk menjemput Ara.
Dia sudah mengabari Ara, jika dia akan datang pagi ini.
Tet!
Tet!
Tet!
Bunyi bel di apartemen, membuat Ara, yang sedari tadi sudah siap menunggu langsung berdiri dari tempat duduknya, kemudian berjalan menuju ke arah pintu, dan membukanya.
Clik!
"Assalamualaikum... Ha_hai." Awan mengucapkan salam, dan menyapa dengan kikuk setelah melihat Ara yang membukakan pintu untuknya.
Hatinya serasa deg-degan, karena ini untuk pertama kalinya, dia akan mengajak Ara, setelah saling tahu, bagaimana perasaan masing-masing.
"Waallaikumsalam. Masuk dulu Kak," ucap Ara, mempersilahkan pada Awan, untuk masuk ke dalam rumah.
Anjani, bundanya Ara, datang dari arah dapur.
"Pagi Bun," sapa Awan, pada Anjani, di saat dia sudah masuk ke dalam ruangan apartemen..
"Pagi juga Wan. Ayo,. silahkan duduk."
Anjani mempersilahkan Awan, agar duduk terlebih dahulu. Dan dia, yang sedang membawa nampan berisi makanan kecil, meletakkannya di atas meja, di ruang tamu, sekaligus ruang keluarga.
Sedang Ara, langsung masuk ke dalam dapur, membuat minuman untuk Awan. Kekasihnya, yang baru saja jadian.
Ara, yang teringat jika sekarang, dia dan Awan sudah menjadi sepasang kekasih, jadi tersenyum-senyum sendiri, saat membuat minuman.
Di tempat yang lain, ruang tamu, Awan duduk di temani oleh Anjani. Sedangkan Ara, belum juga keluar dari dapur.
"Ini coba dicicipi Wan. Tadi, bunda buat resep brownies baru. Semoga enak ya. Misalnya gak enak, ya... bilang aja enak. Hehehe..."
Anjani terkekeh sendiri, saat mempersilahkan Awan, untuk mencicipi kue brownies buatannya. Yang baru saja dia buat, dengan resep yang baru saja dia lihat di akun sosial media.
Tak lama kemudian, Ara datang, dengan membawa minuman untuk Awan.
"Nah, itu minumannya sudah datang. Gak bakal seret deh, makan brownies-nya." Tutur Anjani lagi, di saat Ara menyuguhkan minuman untuk kekasihnya itu.
"Hehehe... iya Bun. Terima kasih," ucap Awan, sambil tersenyum melihat ke arah Ara, yang juga sedang tersenyum dengan malu-malu.
__ADS_1
Tak lama kemudian, Awan bertanya tentang keberadaan Anggi, yang sedari tadi tidak terlihat olehnya. "Emhhh, itu si adek kok gak kelihatan Bun dari tadi?"
"Anggi maksud Kamu?"
Awan mengangguk, saat Anjani balik bertanya.
"Sekolah dia. Udah berangkat, di jemput bus sekolah tadi," ujar Anjani, menjelaskan.
Anggi bersekolah di sebuah sekolah milk pemerintah, yang mengharuskan berangkat dan pulang sekolah, dengan mengunakan jasa angkutan bus sekolah, yang memang disediakan oleh pihak sekolah juga.
Di sekolah Anggi, tidak diperbolehkan siswa siswinya, di antar jemput secara pribadi.
"Oh, Awan pikir dia sedang ke mana gitu," ujar Awan, dengan mengangguk.
"Oh ya Wan. Kamu kan ngajak Ara ke kampus, terus, dia Kamu tinggal sendiri, saat Kamu ada kelas. Apa gak bahaya? Kan gak biasa Ara di kampus kamu," tanya Anjani, dengan rasa khawatir jika, akan terjadi sesuatu pada Ara, saat di tinggal Awan untuk mengikuti jam kelasnya nanti.
"Gak Bun. Nanti buar Ara nunggu di cafetaria kampus, atau di perpustakaan kampus. Perpustakaannya nyaman, dan ada penjaganya juga. Nanti, biar Ara pakai kartu mahasiswa milik Awan, saat masuk ke perpustakaan."
Anjani jadi merasa lebih lega, saat mendengar penjelasan yang diberikan oleh Awan.
Anjani hanya merasa khawatir, jika terjadi pada anaknya itu. Apalagi Ara bukan mahasiswa di kampus tersebut. Bukan juga orang asli Amerika, dan perbedaan yang ada pada Ara dengan penghuni kampus, tentunya sangat mencolok.
Perbedaan itu sangat mencolok, dari segi fisik Ara, yang terlihat lebih mungil, di banding dengan orang-orang Amerika, dan juga warna kulitnya yang tentu saja berbeda juga.
*****
Di sekolah Anggi.
Hari ini adalah kelas olah raga. Jadi, seharian penuh, hanya ada kegiatan di luar jam pelajaran formal. Dan biasanya, di isi dengan berbagai macam jenis olah raga juga.
Ada renang, dengan latih juga untuk gaya lompatan yang indah, untuk memulai awal berenang.
Ada lompat jauh, dan loncat indah juga.
Banyak sekali, cabang olah raga yang dipadukan dengan kesenian. Sehingga, bukan hanya untuk sekedar kegiatan olah raga saja, tapi juga mengenal teknik-teknik, dan gaya dari seni-nya olah raga.
Jadi, olah raga di sekolah anggi, dipadukan dengan kesenian, jika ada yang berminat.
Kelas ini, di hadiri dari berbagai tingkatan juga, dan bukan hanya untuk satu kelas saja.
Jika ada yang tidak mau ikut, boleh mencari cabang olahraga yang lain, yang mereka minati.
Seperti lari, tinju, bela diri dan cabang olah raga lainnya. Bahkan, ada juga catur dan panjat dinding.
__ADS_1
Anggi, sedang berada di arena lompat indah, dengan mengunakan tali temali, sebagai alat bantunya.
"Wah, biasanya, dulu waktu Aku kecil, biasa main tali karet dengan Miko. Eh, sekarang malah jadi cabang olah raga, dengan gaya yang indah. Aneh-aneh saja, cabang olah raga ini," gumam Anggi, sambil memperhatikan beberapa temannya, yang memulai lompat indah, dengan mengunakan bantu alat tali.
"Hi Anggi, what are you talking about?" ( hai Anggi.Apa yang Kamu bicarakan? ) tanya salah satu temannya Anggi, yang mendengar suara gumaman-nya Anggi.
"Ora opo-opo." ( Aku tidak apa-apa )
Tapi, Anggi justru menjawab pertanyaan tersebut, dengan sebuah jawaban yang tidak dimengerti oleh temannya itu.
"Hai, Anggi!"
"Udah ah. Aku lagi malas. Mending ke kafetaria saja, cari burger," sahut Anggi, saat temannya itu meminta penjelasan dari perkataannya tadi.
Temannya itu, tentu saja tidak tahu apa-apa, tentang apa yang dikatakan oleh Anggi.
Tapi, Anggi juga sedang malas membuat jawaban. Dia sedang tidak ada niatan juga untuk usil.
"Huh... kalau sudah begini, Aku jadi kangen sama Miko," ujar Anggi, yang akhirnya beranjak dari tempat duduknya.
Dia terus saja bergumam tidak jelas, sambil berjalan menuju ke tempat loker atau ruang ganti, yang ada lemari kecil, untuk semua anak yang ada di sekolah tersebut.
Di loker tersebut, sudah ada nomer-nomer khusus, yang tentunya, hanya pemiliknya saja yang bisa membukanya.
Karena di loker tersebut, tersimpan semua barang-barang pribadi, pemilik loker.
Seperti baju ganti untuk olah raga, dan seragam sekolah harian. Ada juga buku-buku pelajaran sekolah, yang akan di pelajari hari ini.
Ini dikarenakan tidak adanya kelas khusus. Siswa siswi, harus mencari kelas, atau ruangan guru, yang ingin mereka ikuti, sesuai keinginan dan bakat serta kemampuan mereka sendiri.
Tidak ada paksaan dari pihak sekolah atupun guru, jika ada siswa siswi yang tidak mengikuti pelajaran sekolah, karena tidak berminat pada pelajaran tersebut.
Mereka, para siswa siswi, hanya dilatih untuk disiplin, dan mengasah kemampuan dan keterampilan yang mereka miliki, serta minati juga.
"Hai, , you are Indonesian?" ( hai, Kamu orang Indonesia? )
Tiba-tiba, Anggi dikejutkan oleh suara seseorang, yang menyapanya di pintu masuk ruang ganti.
"Ya," jawab Anggi, yang merasa yakin, jika orang tersebut juga berasal dari Indonesia.
Meskipun orang itu, jauh lebih tinggi, dan juga berwajah timur tengah, dengan matanya yang mirip orang China, atau bisa jadi orang Jepang.
"Ah, ternyata dugaannku tidak salah," ucap orang tersebut, dengan nafas lega, mendengar jawaban yang diberikan oleh Anggi, meskipun hanya sekedar kata ya, saja.
__ADS_1
'Maksudnya apa sih dia tanya-tanya?' batin Anggi, bertanya pada dirinya sendiri juga.