Dia Milikku ( Berbagi Cinta )

Dia Milikku ( Berbagi Cinta )
Rahasia Sekar Dan Ayah Edi


__ADS_3

Seminggu kemudian, Anjani yang sudah sehat, sedang berada di dapur, membantu bibi pembantu. Dia ditanya Abimanyu saat dirinya mau berangkat ke kantor.


"Sayang, Aku mau pergi dulu. Kamu mau dibawakan apa nanti, saat pulangnya?" tanya Abimanyu, agar istrinya itu tetap merasa diperhatikan, meskipun sekarang dia sering pergi untuk bekerja dan tidak banyak menghabiskan waktu bersama dengannya, sama seperti waktu berada di Bogor.


"Mau pergi bekerja kok dimintai pesanan, kan masih lama juga Mas pulangnya. Nanti malah keburu lupa," jawab Anjani, sambil tersenyum mendengar pertanyaan dari suaminya tadi.


"Hehehe... kan biar Kamu bersemangat gitu untuk hari ini. Nanti juga saat menunggu kepulangan Mas dengan semangat juga, karena ada yang ditunggu-tunggu," kata Abimanyu, memberikan penjelasan tentang alasannya bertanya tadi.


"Tidak usah Mas. Nanti kalau Jani ada butuh sesuatu, baru kirim pesan saja. Yang penting, Mas hati-hati dan juga pulang dengan selamat."


Anjani memegang tangan suaminya itu, agar tetap bisa berkonsentrasi pada pekerjaannya. Dia tidak ingin membebani Abimanyu, dengan pesan-pesanan apa itu yang sering dilakukan Yasmin, saat Wawan berangkat bekerja. Anjani memaklumi kondisi Yasmin yang sedang hamil, karena bisa jadi Yasmin sedang mengidam.


Dia jadi sedih, saat mengingat tentang kehamilan. Dia ingat saat dia harus merelakan kepergian calon bayi yang ada di dalam kandungannya. Meskipun saat itu dia tidak sadar, tapi begitu sadar, Anjani menangis untuk waktu yang lama.


Sekarang, dia sudah bisa merelakan kepergian calon bayinya, meskipun ada keganjalan di dalam hati. Begitu juga dengan suaminya, Abimanyu.


Saat dokter yang menangani Anjani bertanya, apa yang dia makan atau minum sebelum merasakan kesakitan, Anjani lupa, karena saat itu itu, di rumah sedang ada pesta pernikahan. Jadi, dia tidak mengingat semua yang sudah dia cicipi. Termasuk minuman yang dia minum.


Anjani, yang sudah terlalu bersedih, tidak ingin mengingat-ingat kembali semuanya. Dia ingin melupakan semua hal yang menjadi penyebab dirinya kehilangan calon anaknya itu. Dia juga tidak mau menangisi semua yang sudah terjadi. Dia harus tetap optimis dan berbahagia, supaya rahimnya cepat terjadi pembuahan lagi. Anjani ingin segera bisa hamil, agar tidak lagi merasakan kesedihan dan mendapatkan kebahagiaan yang sebenarnya.


Begitu juga dengan Abimanyu. Dia hanya bisa menghibur istrinya itu, tanpa membahas masalah yang bisa membuat Anjani menangis dan bersedih hati.


Tapi, itu berbeda dengan rasa penasaran Sekar dan ayah Edi. Mereka berdua merasa curiga, jika semua yang terjadi pada Anjani, ada yang menginginkannya. Yaitu membuat Anjani keguguran.


Mereka berdua, tidak mengatakan apa-apa tentang kecurigaannya itu. Ayah Edi hanya mengatakan pada Sekar untuk ikut memerhatikan bagaimana keadaan rumah, jika ada yang mencurigakan segera diminta untuk memberitahu ayah Edi.


Sekar juga tidak hilang akal. Dia yang tidak selalu ada di rumah, meminta bantuan pada bibi pembantu, jika ada sesuatu yang mencurigakan atau menemukan sesuatu yang tidak dikenal bibi pembantu diminta untuk menyingkirkan benda tersebut. Misalnya bungkus obat atau botol yang tidak biasa bibi lihat.


Bibi pembantu hanya mengangguk, mengiyakan permintaan Sekar. Dia juga merasa kahisan pada Anjani, yang sering mengajaknya bicara jika sedang membantu di dapur.

__ADS_1


"Mas, pesan otak-otak, goreng ya. Yang ada di dekat pertigaan jalan sebelum masuk ke daerah perumahan sebelah." Tiba-tiba, Yasmin datang ke dapur. Tadi, dia sempat mendengar pembicaraan mereka berdua, Anjani dan Abimanyu, sehingga dia ingin memanfaatkan kesempatan itu, untuk menunjukkan pada kakak iparnya, bahwa mas_nya Abimanyu masih juga memerhatikan dirinya, dan tidak hanya Anjani saja.


"Yang biasa itu?" tanya Abimanyu, karena hafal dengan kesukaan adiknya, Yasmin.


"Iya Mas," jawab Yasmin, sambil tersenyum sumringah karena merasa sangat senang.


"Baiklah, nanti kalau Kakak ingat pasti dibelikan kok."


Yasmin tersenyum dan merasa senang karena bisa mendapatkan perhatian kakaknya. Dia juga bisa membuktikan pada kakak iparnya, Anjani, jika dirinya masih bisa menyingkirkan dirinya dari hati kakaknya itu.


Saat Anjani tersenyum karena mendengar pembicaraan mereka, Yasmin dengan cepat menegurnya, "Kenapa? Aku hanya meminta otak-otak pada kakakku, apa itu salah?"


Anjani menggeleng sambil tersenyum. Dia tidak ada niatan apa-apa dibalik senyumannya. Dia hanya merasa iri, karena kandungan Yasmin lebih kuat daripada kandungannya sendiri.


"Sudah Yasmin. Kakak ipar Kamu kan tidak menegur_mu, kenapa Kamu bertanya seperti itu?" Abimanyu, bertanya pada adiknya, kenapa harus bersikap seperti itu pada istrinya.


"Habisnya, dia kayak gak suka gitu Mas, saat Aku meminta sesuatu padamu," jawab Yasmin manja.


Yasmin akhirnya pergi dari dapur, menuju ke kamarnya sendiri.


"Maaf ya Sayang. Mungkin hormon kehamilan Yasmin sedang tidak stabil," ujar Abimanyu, menutupi kelakuan adiknya yang sedang hamil.


"Iya Mas. Jani maklum kok, Yasmin kan sedang hamil. Itu biasa terjadi, kadang jutek, ingin marah, tapi sebenarnya itu bukan keinginannya juga," kata Anjani memaklumi kondisi Yasmin.


"Terima kasih ya Sayang. Mas berangkat dulu. Kamu hati-hati di rumah. Telpon Mas ya, kalau butuh sesuatu," pamit Abimanyu, seraya mencium kening istrinya, Anjani.


Anjani mengangguk dan mengantarkan suaminya itu sampai di teras depan rumah. Setelah Abimanyu berangkat, dia kembali ke dapur dan mengerjakan pekerjaan rumah yang ringan-ringan.


Bibi pembantu sudah melarangnya, tapi Anjani beralasan jika dia akan lebih capek jika tidak melakukan apa-apa. "Badan malah pada kaku dan pegal Bi." Begitulah jawaban Anjani jika bibi pembantu melarangnya melakukan pekerjaan rumah.

__ADS_1


*****


Beberapa bulan berlalu. Anjani masih berada di Jakarta, di rumah mertuanya. Dia juga sudah sehat dan kembali hamil lagi, masih lima minggu. Dia juga masih ikut membantu bibi pembantu, melakukan pekerjaan yang ringan seperti biasanya.


Abimanyu, sudah aktif dalam kegiatan tim audit yang dia bentuk, di bawah naungan perusahaan miliknya mama Amel. Dia juga sudah membeli rumah untuk dia tinggali bersama dengan istrinya, Anjani. Tapi karena Anjani belum mau pindah, karena beralasan dengan sepi jika dia sendirian di rumah, akhirnya mereka masih berada di rumah ini, bersama dengan Yasmin yang sedang hamil tua.


Beberapa minggu lagi, Yasmin akan melahirkan. Sesuai dengan hasil USG, dia tidak bisa melahirkan secara normal. Dia harus operasi Caesar, agar bisa menyelamatkan bayi dan juga dirinya sendiri.


Wawan, yang sudah mendapatkan promosi jabatan, bisa berbangga hati karena bisa memenuhi kebutuhan Yasmin. Dia juga bisa membelikan pakaian yang bagus-bagus untuk istrinya. Mengajaknya jalan-jalan ke mall dan makan makanan di restoran yang mahal.


Setiap pulang dari jalan-jalan, Yasmin selalu pamer jika dia dimanjakan oleh suaminya itu. Dia tidak lagi sama seperti yang dulu. Bahkan, dia juga membelikan tas dengan harga yang fantastis untuk ibunya, ibu Shofie.


Tentu saja, semua yang dilakukan oleh Yasmin dan Wawan mendapatkan pujian dan sanjungan dari ibu Shofie. Mereka berdua, juga jadi perbandingan untuk Anjani, yang jarang pergi-pergi hanya untuk jalan-jalan di mall atau belanja-belanja barang yang mewah.


"Wah, sekarang Wawan gajinya besar ya. Dia benar-benar pekerja keras, sehingga cepat naik jabatan. Yasmin bisa hidup enak dan tidak perlu berhemat, hanya karena takut kehabisan uang," kata ibu Sofie, saat dia diberi hadiah sepatu yang mahal, untuk ke kantor. Padahal tas yang dibelikan Yasmin, baru dia terima dua minggu yang lalu.


Yasmin tentu saja menjadi sombong. Dia juga mencibir kakaknya, Sekar, yang sudah selesai dengan skripsinya dan hampir lulus kuliah. Itu karena statusnya Sekar yang masih belum punya pacar atau kekasih yang bisa diajak pulang, untuk diperkenalkan pada kedua orang tuanya.


"Jomblo saja terus Kak. Bisa-bisa sampai nenek gak laku-laku kalau Kakak tidak merubah penampilan."


Yasmin, mengkritik penampilan kakaknya sendiri, yang tidak pernah mengikuti mode pakaian. Dia hanya mengunakan pakaian dengan model-model biasa dan tidak seksi juga.


"Kakak tidak apa-apa meskipun jomblo. Yang penting Kakak tidak punya kelakuan buruk, hanya untuk mendapat suami!"


Satu jawaban dari Sekar, membuat Yasmin merasa tersinggung karena tersindir. Dia berdiri dari tempat duduknya, dan berjalan dengan menghentakkan kakinya menuju ke dalam kamar.


"Sekar. Kamu tidak boleh mengungkit masalah itu lagi," kata ibunya, memperingatkan anaknya, Sekar.


"Ibu itu yang seharusnya banyak bicara, untuk menasehati Yasmin. Dia itu sudah keterlaluan, dan ibu malah membelanya? ibu akan tahu suatu hari nanti, apa yang sebenarnya terjadi pada anak dan menantu ibu itu."

__ADS_1


Sekar langsung pergi, setelah mengatakan semuanya pada ibunya, ibu Shofie, yang tidak mengerti kemana arah perkataannya tadi.


Sekar tidak membual. Dia dan ayahnya, ayah Edi, sudah tahu kebenaran yang terjadi pada Yasmin. Begitu juga dengan Wawan yang sekarang banyak uang, dan hidup berlebih-lebihan. Sekar dan ayah Edi, hanya menunggu waktu yang tepat, untuk mengungkapkan semuanya, agar tidak salah langkah dan di bilang iri hati.


__ADS_2