Dia Milikku ( Berbagi Cinta )

Dia Milikku ( Berbagi Cinta )
Cinta Yang Buta


__ADS_3

Aku lahir entah dari mana, karena Aku besar di sebuah panti asuhan. Banyak teman, dan katanya saudara juga, karena sama-sama berada di panti asuhan itu.


Harus bisa berbagi, dalam segala hal. Makanan, hadiah, baju, dan sebagainya.


Saat Aku mulai sekolah menengah atas dan kenal dengan seorang cowok, kami sama-sama anak baru, Aku merasa dia selalu memperhatikan diriku. Bukannya Aku gr, tapi itu memang benar adanya. Dia dengan mudah memperkenalkan dirinya dan mengatakan bahwa dia menyukai Aku.


Awalnya, Aku tidak percaya begitu saja. Dia, yang berpenampilan menarik, tentu saja bisa dipastikan bahwa dia dari kalangan berada, dan tidak sama seperti diriku sendiri, yang hanya anak panti dan bisa bersekolah di SMA ini karena beasiswa.


Tapi seiring dengan berjalannya waktu, Aku yang awalnya tidak tahu siapa dia, lama-lama tahu juga bahwa dia adalah anak tunggal dari pasangan orang kaya, yang mempunyai banyak usaha.


Dia sering mentraktirku dan juga teman-teman. Aku pikir, tidak ada salahnya jika Aku menerima cintanya. Aku bisa memanfaatkan dirinya, untuk bisa menjauhkan diri dari panti asuhan, jika sampai bisa menikah dengannya suatu hari nanti.


Dan ternyata, dia benar-benar mencintaiku dengan tulus dan tidak pernah berpindah ke lain hati. Meskipun sebenarnya, kedua orang tuanya, terutama mamanya, tidak menyukai dan merestui hubungan kami ini.


Tapi demi sebuah status, Aku bertekad untuk bisa tetap bertahan dengannya, apapun yang terjadi. Karena apa? karena jika Aku sudah menikah dengannya, Aku tentu busa hidup enak dan berkecukupan tanpa harus berbagi dengan teman dan saudara, sama seperti di panti asuhan.


Aku akan memperlihatkan pada kedua orang tuanya, jika Aku layak menjadi menantu mereka, dan masuk ke dalam keluar Samudra.


Dan begitulah akhirnya, Aku bisa kuliah dengan beasiswa juga, dan kebutuhan sehari-hari dan yang lain, di penuhi oleh dia.


Saat kami lulus kuliah, kami sepakat untuk membuat usaha sendiri, untuk kehidupan kita nanti jika sudah menikah.


Aku tentu saja merasa senang karena bisa bebas dari pantauan kedua orang tuanya, terutama mamanya, yang terlihat seperti orang yang curiga dengan diriku.


Tapi naas. Saat kami berencana untuk membuat foto prewedding, kecelakaan itu terjadi dan membuatnya harus bertanggung jawab, dengan menikahi korban, yang masih berstatus gadis.


Apalagi, ayah gadis itu meninggal dunia dan berpesan agar dia menikahi anaknya, yang pada saat itu sedang koma.


Akhirnya dia menikah juga dengan gadis itu. Padahal seharusnya, Aku yang menjadi pengantinnya!


Aku hancur dan marah. Tapi Aku tidak bisa berbuat apa-apa. Aku hanya pasrah dan berharap dia tidak ingin meninggalkan Aku setelah menikah dengan gadis itu.


Gadis yang dalam keadaan koma, dan berwajah rusak akibat kecelakaan yang melibatkan dia sebagai terdakwa.

__ADS_1


Tapi Aku merasa senang, karena dia tetap akan menikahiku, sama seperti yang sudah direncanakan. Aku berharap, gadis yang koma itu mati saja atau tidak akan pernah sadar dari komanya.


Tapi ternyata nasib berkata lain. Gadis itu sadar dan Aku yang sedang dalam keadaan hamil, jadi tidak bisa melakukan apa-apa dan membuat semua Seakan-akan baik-baik saja.


Gadis itu tinggal di depan rumah kami. Aku yang meminta dia membeli rumah itu saat dijual pemiliknya, dengan alasan untuk memudahkan dirinya sendiri agar bisa mudah berkunjung.


Padahal Aku hanya ingin memantau keadaan dan hubungan mereka berdua untuk seterusnya.


Aku masih merasa tenang saat dia berwajah hancur. Tapi itu tidak berlangsung lama, karena kehadiran mama mertua yang memberikan usulan dan suntikan dana untuk operasi wajah pada gadis itu.


Aku marah, tapi diam. Aku hanya bisa mengangguk dan memberikan semangat pada dia agar bisa mengembalikan wajah gadis itu sama seperti dulu lagi.


Tapi Aku lupa, jika kepura-puraan yang Aku lakukan akan menjadi bumerang untuk ku sendiri. Saat gadis itu kembali cantik dan dia jadi lebih perhatian dengannya dari pada aku yang sedang dalam keadaan hamil tua.


Mereka gadis yang itu bilang, jika hubungan antara mereka berdua hanya sebatas kakak adik, tapi Aku tetao saja tidak percaya.


Dia normal dan gadis itu juga normal. Mana ada yang bisa bertahan hampir satu tahun tanpa berdekatan secara benar sebagai suami istri.


Aku tidak percaya!


Aku sering membuat cerita dan gambaran-gambaran yang bisa membuat gadis itu tidak betah menjadi istrinya dia. Aku harap dia segera meminta cerai agar Aku bisa terus menguasai dirinya.


Tapi semua berakhir, saat dia sakit dan gadis itu akhirnya minta cerai. Aku merasa sangat senang dengan melihat adegan itu. Aku berpikir jika semua selesai dan sesuai dengan apa yang Aku rencanakan.


Aku salah. Aku tidak pernah memperhitungkan posisi mertuaku yang cerdik dan jauh lebih berpengalaman dalam bidang usaha.


Aku kalah dan semuanya terbongkar!


Untungnya, dia masih bisa memaafkan diriku. Dia mengajakku dan anakku untuk pergi dari kehidupan kota yang sudah tidak nyaman untuk kami tinggali. Kami pergi ke kota ini, untuk sebuah perubahan yang dia inginkan.


Tapi tidak denganku.


Buat apa berdikari dengan memulai semuanya dari awal lagi? Dia anak tunggal dan semua harta kedua orang tuanya tentu miliknya. Kenapa harus capek-capek kerja dan memulai bisnis sendiri dari bawah?

__ADS_1


Aku tidak mau susah. Aku mau menerimanya dulu, karena ingin hidup enak dan tidak susah, sama seperti waktu di panti asuhan dulu. Kenapa malah jadi susah lagi, kalau seharusnya semau bisa Aku nikmati sebagai istri dan menantu mereka yang kaya raya.


Aku marah padanya, tapi Aku tidak mau jika terlihat jelas. Aku berontak dengan caraku.


Terserah dia mau bagaimana setelah ini. Yang pasti, Aku tidak mau hidup susah, jika ada yang menyenangkan dan enak, kenapa mesti bersusah diri!


*****


Elang menghela nafas panjang, setelah selesai membaca semua tulisan istrinya, Adhisti.


Sekarang dia sadar, jika sikap mamanya dulu, tidak semuanya salah. Dia yang terlalu percaya pada Adhisti, sehingga dia tidak tahu, apa yang sudah direncanakan oleh kekasih dan calon istrinya itu.


Cintanya terlalu buta, sehingga tidak bisa membedakan antara cinta, dan sebuah pengkhianat hati.


Adhisti hanya memanfaatkan dirinya, untuk bisa keluar dari kemiskinan dan kesusahan yang dia alami sedari kecil di panti asuhan.


Sekarang, Elang baru sadar, jika apa yang dikatakan mamanya benar. Bahwa, mempertahankan bibit bebet dan bobot, sama seperti filsafat orang-orang tua dahulu, itu tidak salah dan bukan untuk keegoisan semata.


Itu digunakan untuk memudahkan kita mencari tahu, apa dan bagaimana seseorang akan menjadi pendamping hidup kita nanti.


Bukan hanya sekedar ambisi muda, yang berkedok dengan kata cinta saja.


Pantas saja, orang sering bilang, jangan menasehati orang yang sedang jatuh cinta. Itu karena mereka sedang tidak punya akal untuk berpikir. Jika cinta buta, tahi kucing katanya rasa coklat.


Dan sekarang, saat semuanya sudah terjadi dan tidak hanya sebuah kata cinta yang diperlukan, barulah kesadaran itu ada.


Terlambat?


Elang tidak bisa menjawab pertanyaan yang dia ajukan sendiri pada dirinya. Dia tidak tahu, apa yang harus dia lakukan untuk kedepannya setelah semua ini terbuka.


"Aku harus bagaimana lagi? Apa yang harus Aku perbuat untuk bisa menyadarkan Adhisti lagi?"


Elang terus bertanya-tanya dalam hati. Dia belum bisa memberikan keputusan untuk hidupnya dan Adhisti.

__ADS_1


Entah masih harus mempertahankan atau mengakhiri semuanya. Elang masih belum bisa memutuskan untuk waktu dekat ini.


__ADS_2