Dia Milikku ( Berbagi Cinta )

Dia Milikku ( Berbagi Cinta )
Mengingat Semua


__ADS_3

Tok tok tok!


Kaca jendela mobil, di ketuk dari luar. Ara dan Awan yang sedang bercanda ria di dalam mobil, sedikit terkejut dengan adanya gangguan dari luar.


"Eh!"


"Hemmm..."


Clek!


Ara segera membuka pintu mobil, karena yang datang dan mengetuk kaca mobil adalah Mita.


Dia datang bersama dengan Nanda. Tapi tentunya, mereka berdua tidak tahu, apa yang tadi terjadi di dalam mobil. Karena kaca mobil, mengunakan kaca yang tidak bisa tembus pandang jika di lihat dari luar.


"Maaf, lama menunggu ya pengantin baru..."


Mita memeluk Ara sekilas, kemudian mereka berdua cipika-cipiki. Khas para wanita jika bertemu dengan teman-teman dekatnya.


"Kalau pengantin baru sih, nunggu lama juga gak apa-apa. Gak bakal kerasa lama juga kan ya!"


Nanda menyahuti perkataan Mita, dengan maksud untuk menggoda kedua pasang suami istri, yang saat ini ada di depannya.


"Ihhh Kakak. Sama aja, bosan. Hehehe..."


Ara terkekeh sendiri, sambil memukul pelan lengannya Nanda. Dia sadar jika dia sedang di goda oleh kakak sepupunya itu.


Sedang Awan sendiri, hanya nyengir kuda. Melihat istrinya itu tetap saja terkesan manja dengan Nanda. Tapi dia juga tidak mempermasalahkan soal itu. Karena dia tahu, bagaimana hubungan keduanya sedari kecil, yang memang sudah dekat. Bahkan, Nanda juga dulunya hidup bersama dengan keluarganya Ara. Sebab, mamanya Nanda harus bekerja di luar negeri.


"Oh ya, ini tumben-tumbenan pengantin baru datang ke kampus. Bukan ke mana gitu, buat bulan madu?" tanya Mita, mengalihkan perhatian mereka semua.


"Ehem!"


Nanda berdehem menyahut.


"Ah, bisa aja. Kami kan dari kantor polisi tadi," jawab Ara, menjelaskan pada Mita.


"Oh..."


Mulut Mita hanya membola saja. Dia baru ingat kalau Ara belum boleh ke mana-mana, selama kasusnya ini belum selesai. Ingat ini, Mita jadi merasa prihatin terhadap kondisi pengantin baru didepannya.


"Hai, Kamu kenapa?" tanya Mita, melihat perubahan wajah Mita yang tampak sedih.


"Kasian Kamu Ra. Jadi gak bisa happy-happy, setelah menikah."


"Kenapa Kamu berpikir demikian? Di mana pun itu, pengantin baru bisa membuat suasana menjadi happy. Percaya sama Kakak." Nanda membantah dengan pemikiran yang baru saja diungkapkan oleh Mita tadi.

__ADS_1


Ara jadi tersipu, dengan mulut mengerucut pada Nanda.


Sedang Awan, hanya tersenyum tipis mendengar perkataan mereka berdua.


"Oh ya, tadi katanya mau ada yang diomongin. Soal apa?" tanya Nanda mengingatkan.


"Eh iya Kak. Tapi... cari tempat duduk yang nyaman yuk! masa iya berdiri begini?" Ara kembali teringat dengan tujuan utamanya datang ke kampus untuk menemui Nanda dan Mita.


Setelah sama-sama berpikir sejenak, mereka sepakat untuk memilih kafe yang ada di dekat kampus. Untuk tempat mereka bicara.


"Naik mobil saja ke sananya, kalian ikut kita!" usul Awan, pada Nanda dan Mita.


"Kalian aja yang naik mobil."


"Mita, Kamu ikut mereka ya! Nanti Kakak susul dengan motor," kata Nanda, meminta pada Mita, supaya ikut bersama dengan Awan dan Ara naik mobil.


Mita hanya mengangguk mengiyakan. Setelahnya, dia ikut masuk ke dalam mobilnya Awan.


Setelah mobil Awan pergi, Nanda berjalan menuju ke arah parkir motor. Yang tak jauh dari tempatnya berdiri tadi.


Tak lama kemudian, motor Nanda tampak melaju, meninggalkan area parkir kampus. Menyusul mobilnya Awan. Ke tempat yang sudah mereka sepakati bersama tadi.


*****


"Jadi, sampai sekarang kak Dika gak diketahui di mana tempat tinggalnya?" tanya Ara dengan mata memicing.


"Iya Ra. Bahkan dia tidak juga pamit atau sedekat say goodbye. Nomer HP nya langsung non aktif."


Mita terlihat berkaca-kaca, mengingat semua hal tentang Dika dan cintanya yang dulu.


Tapi dia juga merasa sangat sedih. Setelah tahu, jika Dika hanya memanfaatkan dirinya. Dengan semua ambisi Dika sendiri, dan juga kedua orang tuanya Dika.


"Aku juga baru tahu, saat Kak Nanda cerita tentang kelakuan dan semua perkataan Dika padanya. Aku benar-benar tidak mengerti. Kenapa dia melakukan semua itu padaku? hiks..."


Sekarang, Mita justru tidak lagi bisa menahan air matanya yang mengalir.


Dia memang baru tahu, semuanya tentang apa yang dikatakan Dika dan maksud terselubung yang direncanakan oleh Dika. Setelah beberapa bulan menjalin hubungan dengan Nanda.


Pada waktu itu, Nanda bercerita pada Mita. Karena Mita masih membela Dika, saat papanya mengatakan hal yang sebenarnya dialami oleh kedua orang tuanya Dika.


Kasus-kasus yang terjadi antara PT ANTARA GROUPS dengan PT SAMUDERA GROUP.


"Benarkah?" Awan bertanya kaget.


"Iya Kak Awan."

__ADS_1


"Benar."


Nanda dan Mita, menjawab pertanyaan Awan bersamaan.


Awan memang tahu, jika perusahaan yang dikelola ayahnya saat itu ada masalah. Tapi dia tidak tahu jika, PT ANTARA GROUPS itulah, yang menjadi penyebabnya.


"Emhhh... jika kedua cerita dari Kak Nanda dan juga Mita, Aku sepertinya menarik benang merah ini." Ara menjeda kalimatnya sebentar, dengan mengangguk-anggukkan kepalanya.


Setelah itu, Ara kembali melanjutkan kalimatnya lagi.


"Ini seperti yang Aku pikirkan sebelumnya. Makanya, Aku ajak Kakak untuk menemui mereka kan?"


"Sepertinya, ada hal yang menjadi latar belakang khusus, di balik perampokan dan penculikan kemarin."


Ara memegang tangan Awan, agar Awan bisa mengendalikan perasaannya.


Awan tampak menghela nafas panjang. Dia jadi teringat dengan temannya itu, Dika. Di saat masih sama-sama berseragam abu-abu.


Dia tahu betul, bagaimana ambisi Dika terhadap Ara. Dendam pada Ara, bahkan di awal Ara masuk menjadi siswi SMP, di yayasan sekolah yang sama dengan dirinya dan Dika juga.


"Mungkin, selain kasus kedua orang tuanya. Dika masih ada dendam sama Kamu Dek."


"Dendam?" tanya Ara bingung.


Dia tidak pernah merasa ada kasus besar dengan Dika. Selama mereka kenal, semuanya baik-baik saja. Kecuali penolakannya, terhadap lamaran Dika yang pada waktu itu disampaikan oleh mamanya sepulang sekolah.


"Yang kamu permalukan Dika di depan kelas. Waktu itu masih masa pengenalan terhadap lingkungan sekolah Dek."


Ara mengangguk-angguk kepalanya, di saat mengingat kembali kejadian itu. Tapi dia berpikir jika, semua tidak serumit sekarang ini. Meskipun sebenarnya, ada benang merah diantara semua cerita yang ada.


"Dulu, kak Dika memang sempat mau melamar Ara. Bahkan, mamanya yang ikut datang langsung ke rumah. Bunda yang ada waktu itu."


Ara kembali mengingat-ingat kejadian beberapa tahun yang lalu.


"Dulu, ayah kecelakaan. sepeda motornya diserempet mobil. Dan ternyata mobil itu dikendarai oleh papa dan mamanya Dika."


"Oh ya, itu Kakak juga ingat."


Awan membenarkan cerita Ara, tentang Dika dan mamanya.


"Kakak ingat kan waktu itu?" tanya Ara memastikan bahwa, ceritanya ini juga di ingat oleh Awan.


"Ya Kakak ingat. Kakak juga ingat, bagaimana Dika mengatakan pada Kakak. Jika dia akan membuat Kamu jatuh cinta padanya, tapi setelah itu akan dia campakkan."


Bukan hanya Ara yang merasa kaget, saat mendengar perkataan Awan yang terakhir ini.

__ADS_1


Nanda dan juga Mita, ikut merasa terkejut. Karena mereka berdua, tidak pernah menyangka kalau Dika seambisi itu terhadap Ara.


__ADS_2