
Awan baru berangkat ke rumah sakit, di saat mama Amel tiba di rumah. Bersama dengan papa Ryan juga. Meskipun sebenarnya, sudah ada ibu Sofie yang datang terlebih dahulu, bersama dengan ayah Edi. Sebelum mama Amel tiba.
Tapi, Awan tidak langsung pergi begitu saja. Karena dia juga ingin bertemu dengan omanya dan opanya terlebih dahulu.
"Ya sudah Kamu pergi aja sekarang! Oma udah sampai kan ini?"
"Ceritanya ini Oma ngusir Awan ya?"
Mama Amel tertawa senang, karena bisa melihat bagaimana keadaan cucunya, Awan. Yang saat ini sudah tidak dingin dan datar lagi, sama seperti dulu, sebelum menikah dengan Ara.
"Hahaha... iya Oma usir Kamu! Karena sekarang ini, sudah jadi urusan para wanita saja. Hehehe..."
Mama Amel kembali tergelak, saat mendengar perkataannya sendiri.
Ibu Sofie dan Ara, yang mendengar perbincangan mereka berdua, juga ikutan tertawa senang. Karena Awan jadi tampak masam . Di saat mendengar perkataan yang diucapkan oleh mama Amel.
"Kak. Udah sono buru! Ntar pak supir nungguin lho!"
Sekarang, ganti Ara yang ikutan mengusir suaminya, agar segera pergi ke rumah sakit. Karena Awan, memang sudah seharusnya berangkat sedari tadi.
"Tuh... Ara jadi ikutan ngusir gitu. Hehehe..."
"Eh Sayang. Kok gitu sih!"
Awan bukannya langsung pergi. Tapi dia justru merengek pada istrinya, dengan wajah masam. Akhirnya, Awan menjadi bahan olok-olokan mama Amel dan juga ibu Sofie.
Ke-dua wanita paruh baya itu senang sekali, menggoda pasangan muda ini. Karena mereka berdua juga jadi teringat, dengan masa-masa muda mereka. Pada saat awal-awal menikah dan hamil untuk pertama kalinya.
"Dulu Mas Edi, ayahnya Abimanyu itu, juga kayak gitu itu. Kalau mau pergi, ngambek-ngambek dulu. Maunya bareng mulu!"
Ibu Sofie malah menceritakan tentang bagaimana kelakuan suaminya. Di saat dia hamil Abimanyu.
Untung saja, saat ini ayah Edi dan papa Ryan sedang berjalan-jalan ke depan komplek. Dan tidak ikut bergabung dengan istri-istri mereka. Jadi, mereka berdua tidak ikut mendengarkan semua pembicaraan mereka, yang sebenarnya membicarakan tentang mereka di masa lalu.
"Lho kok sama itu jeng Shofie. Tapi, karena pada saat itu kami sedang mengembangkan perusahaan, ya... gitu. Gak bisa bareng-bareng terus. Sesuai dengan keinginan kami juga."
Ara pun akhirnya melihat ke arah suaminya. Di mana sekarang ini, kedua nenek tersebut, sedang berbicara tentang nostalgia masa lalu mereka berdua.
Dengan kode yang bisa ditangkap oleh Awan, akhirnya Ara pun bertanya kepada suaminya itu, "Kakak jadi pergi sekarang?"
__ADS_1
"Eh iya. Oma, Eyang. Awan pergi dulu ya! Nitip Ara dulu." Awan pamit pada keduanya, yang sama-sama masih berbincang-bincang.
"Iya-iya Wan. Hati-hati ya!" kata mama Amel memberikan pesan.
"Nanti langsung antar Dika ke rumahnya atau mampir ke sini dulu?" tanya ibu Sofie ingin tahu.
"Langsung aja Eyang. Lagian, sekarang ini rumahnya sedang dibersihkan. Diperkirakan, pada saat Dika sampai di rumah, semuanya sudah selesai."
"Yang penting kan area kamar, dapur kamar mandi, dan ruang tamu dengan tengah aja. Yang bagain atas gak usah dulu. Bisa kapan-kapan itu."
Ibu Sofie mengangguk-anggukkan kepalanya, mendengar penjelasan yang diberikan oleh Awan.
Akhirnya, benar-benar pamit. Untuk pergi ke rumah sakit terlebih dahulu.
Setelah Awan pergi, mama Amel bertanya pada Ara. Tentang keinginannya saat ini. "Kamu gak ingin makan sesuatu gitu Ra?"
"Gak Oma. Ara gak pengen makan apapun saat ini."
"Ngomong aja Ra, jika ingin makan sesuatu. gak usah di tahan ya! Pokoknya harus bilang, pada siapa pun itu, yang ada di rumah atau dekat Kamu."
Mama Amel memaksa Ara, supaya mengatakan keinginannya untuk makan sesuatu yang diinginkan saat ini.
"Kalau Kamu gak mau ngomong, dan gak keturunan itu yang sedang Kamu inginkan. Besok-besok, saat anak Kamu lahir, dia bisa ileran."
"Meskipun sebenarnya itu tidak masuk akal, tapi memang ada benarnya juga. Karena wanita yang sedang hamil itu perlu di perhatikan. Di manja dan dituruti. Karena tidak semua wanita bisa merasakan hamil, dan hanya wanita yang bisa hamil."
"Itulah sebabnya, laki-laki, sebagai seorang suami, harus bisa memberikan perhatian dan kasih sayang untuk istrinya. Coba aja dia yang hamil, gak mungkin bisa dia pergi-pergi main kan? Tuh eyang Kakung dan opa Ryan. Mereka berdua bisa kemampuan yang mereka mau. Karena mereka tidak pernah merasakan bagaimana rasanya hamil."
Ibu Sofie banyak sekali mengatakan apa saja yang memang ada benarnya. Meskipun sebenarnya itu tidak bisa dibuktikan secara medis, tapi mitos turun temurun itu memang menjadi hal yang luar biasa bagi wanita hamil.
Karena hanya pada saat hamil, mereka bisa meminta apa saja. Meskipun itu pada waktu tengah malam sekalipun.
Mama Amel, juga banyak memberikan beberapa tips untuk Ara. Agar kehamilannya bisa sehat dan Ara tetap bisa segar selama masa kehamilan.
*****
Di rumah sakit.
Awan langsung pergi ke kamar rawat inap Dika. Untuk melihat keadaan temannya itu.
__ADS_1
Di ruangan tersebut, ada pak supir, yang tetap siaga berjaga-jaga. Untuk keselamatan Dika, yang memang tidak bisa mengingat apa-apa. Bahkan, namanya saja dia lupa.
Dari keterangan yang diberikan oleh pak Supir, Dika sudah diperbolehkan pulang ke rumah. Karena semua luka dan kesehatannya secara keseluruhan memang sudah baik-baik saja. Tidak ada keluhan apapun. Selain dari amnesia dan badannya yang tidak bisa dia gerakkan dengan normal, sama seperti dulu.
Itulah sebabnya Awan meminta pada pak supir dan istrinya. Untuk bisa tinggal bersama dengan Dika. Menjaga dan membantunya untuk melakukan segala sesuatu, dan juga kebutuhannya sehari-hari.
Karena Awan hanya bisa membiayainya saja. Dia tidak mungkin bisa menjaga Dika sendiri.
Pak supir juga sudah setuju. Dia akan mengajak istrinya pindah ke rumah yang akan mereka tempati. Untuk menjaga Dika.
Sedangkan rumah pak supir, akan ditunggui oleh saudaranya. Karena dua anak pak supir, sedang kuliah di kota gudeg. Yaitu Jogyakarta.
"Istrinya sudah bersiap kan pak?" tanya Awan, yang tidak mau jika kepulangan Dika belum diketahui oleh istrinya pak supir.
"Sudah Den. Bapak sudah menghubungi istrinya Bapak. Dan dia juga sudah berkemas kok."
Awan mengangguk-anggukkan kepalanya, mendengar jawaban yang diberikan oleh pak supir.
Pada saat Awan mau berdiri dari tempat duduknya, handphone miliknya berdering. Ada Panggilan masuk untuknya.
"Ayah?"
Awan membaca layar handphonenya, yang menampilkan mama ayahnya, Elang.
'Ada apa ya? Apa ini masalah rumah?' batin Awan bertanya-tanya. Karena tadi, ayahnya memberikan kabar bahwa, rumah yang akan ditempati oleh Dika, sedang dalam keadaan pembersihan.
..."Assalamualaikum... Yah. Ada apa?"...
..."Waallaikumsalam... Itu Wan. Emhhh... rumahnya Dika sudah siap. Semua sudah dibersihkan oleh tim yang bertugas."...
..."Oh ok Yah. terima kasih Yah."...
..."Ya-ya. Hati-hati ya! Jia perlu, cari perawat juga yang bisa merawat Dika. Karena jika yang merawat itu dari ahli medis, akan banyak membantu perkembangan kesehatan Dika juga."...
..."Wah, ide bagus Yah. Nanti Awan bicara tentang ini pada dokter."...
..."Iya. Itu lebih baik lagi. Biar dokter juga yang mencarikan solusi terbaik untuk Dika."...
..."Siap Yah!"...
__ADS_1