
Di dalam mobil. Ara merasa bingung sendiri, karena arah mobil yang dikendarai oleh Awan, berbeda dengan jalur yang seharusnya menuju ke arah kampus tunangannya yang dulu.
"Kak. Ini kan bukan arah ke kampus?" tanya Ara, karena Awan tidak memberikan penjelasan kepada dirinya.
Tapi Awan hanya mengangguk saja, tanpa mau menjawab pertanyaan tersebut.
"Sebenarnya kita mau ke mana Kak?" tanya Ara lagi.
Dia tidak tahu, apa yang sebenarnya diinginkan oleh tunangannya itu.
Tapi, setelah melewati beberapa menit kemudian, mobil berhenti di depan sebuah bangunan khas Eropa pada umumnya.
Dan itu adalah sebuah butik, yang juga ada salon di dalamnya.
Ara tidak langsung turun dari mobil. Hingga Awan membukakan pintu untuknya. "Ayok!"
Dengan sorot matanya, Ara bertanya kepada Awan, untuk apa datang ke tempat seperti ini.
Tapi, Awan hanya tersenyum saja. Dan mengulurkan tangannya untuk membawa Ara keluar dari dalam mobil. Sekarang, keduanya sama-sama berjalan beriringan menuju ke dalam butik tersebut.
Ara masih belum mengerti, apa yang sebenarnya diinginkan oleh Awan saat ini. Hingga akhirnya, Awan membawanya ke arah pojok ruangan, di mana ada banyak gaun dan dress, dengan berbagai macam jenis dan model.
Dengan membelalakkan matanya, Ara mengeleng beberapa kali, dengan melihat semuanya ini.
Ara juga melihat ke arah Awan, dengan tersenyum canggung.
Dia tidak mungkin bisa memilih dan memakai pakaian seperti yang ada di butik ini.
Seorang pramuniaga butik datang mendekat, kemudian menganggukkan kepalanya pada Awan dan Ara.
Pramuniaga tersebut, sudah mengenal Awan, sehingga dia langsung tahu, apa yang seharusnya dia lakukan.
"Please Mr wait, i m upstairs to take your order." ( Silahkan Tuan menuggu. Saya akan ke atas sebentar, untuk mengambilkan pesanan Anda )
Awan menganggukkan kepalanya, mengiyakan perkataan dari pramuniaga tersebut.
Dan pramuniaga tadi, meminta Awan serta Ara untuk duduk menunggu kedatangannya. Atau diperbolehkan juga untuk melihat-lihat koleksi butik. Karena siapa tahu, ada yang menarik dan bisa mereka beli juga.
Setelah pramuniaga tersebut pergi, Awan mengajak Ara untuk duduk menunggu.
"Kita tunggu pramuniaga butik dulu. Tadi sudah Aku kabari, untuk menyediakan gaun yang cocok dan gak akan kebesaran untuk ukuran orang-orang Asia. Terutama orang Jawa yang ada di Indonesia."
__ADS_1
"Kita duduk dulu menunggu pramuniaga datang. Atau Kamu mau gaun dan baju yang lainnya?"
Awan mengajak Ara untuk duduk terlebih dahulu, karena pramuniaga sedang ada di atas, untuk mengambil pesannya.
Dia juga menawari Ara, jika ada baju yang dia suka, boleh untuk diambil juga.
"Gak ah Kak. Gak cocok untuk Ara," jawab Ara, sambil mengelengkan kepalanya, melihat beberapa koleksi yang ada di manekin atau etalase besar didepannya.
Ternyata, butik ini adalah langganan mama Amel. Dan dari omanya itu juga, Awan mendapatkan rekomendasi untuk mengajak Ara. Supaya Ara bisa memilih gaun yang bisa dia kenakan.
Apalagi, ada salon kecantikan juga di butik tersebut.
"Tapi Kak... Ini kan cuma opera di area kampus. Apa sampai seperti ini persiapannya?" tanya Ara bingung.
Dia berpikir bahwa, acara-acara seperti itu hanya akan dihadiri oleh mahasiswa-mahasiswa, dan juga alumni kampusnya saja.
Meskipun ada juga para dosen dan petinggi kampus, tapi tentunya tidak se_resmi acara kenegaraan, yang perlu sebuah gaun yang luar biasa. Apalagi harus berdandan juga.
"Ini opera untuk acara amal Ra. Dan acara ini hanya ada dua tahun sekali. Ada beberapa pejabat negara, yang di undang juga. Jadi, acara ini bukan hanya acara kampus biasa."
"Jika acara seperti ini, biasanya orang-orang juga akan mengunakan pakaian resmi seperti acara malam pada umumnya di sini."
Ternyata, semua sudah dipikirkan oleh Awan. Dan dia juga sudah memesan setelan jas, yang serasi dengan gaun nya Ara nanti.
"Sorry Mr Awan Awan. This is the dress and suit you ordered." ( Maaf Tuan Awan. Ini adalah gaun dan jas yang Anda pesan )
Seorang pramuniaga butik, menyerahkan sebuah kotak besar, yang berisi gaun dan jas pesanan Awan kemarin.
Pramuniaga tersebut, meminta Ara dan Awan untuk mencobanya terlebih dahulu. Karena jika ada kekurangan, akan segera diperbaiki.
Selain butik dan salon, ada taylor, atau ruangan menjahit, untuk pembuatan pakaian-pakaian yang dipesan khusus di butik ini.
Dengan menganggukkan kepalanya, Awan menerima kotak tersebut. Dia meminta pada pramuniaga butik, untuk membantu Ara menyiapkan diri.
"**Please** help him, and also tidy up his appearance. She is girl friend." ( Tolong bantu dia, memperbaiki penampilannya. Dia adalah kekasihku )
Dengan tersenyum ramah, pramuniaga tersebut mengangguk mengiyakan permintaan dari Awan. Kemudian mengajak Ara untuk masuk ke dalam ruangan ganti, sekaligus ke ruangan salon.
Sedangkan Awan sendiri, mengambil jas yang masih ada di dalam kotak, kemudian menuju ke kamar ganti.
Beberapa saat kemudian, Awan sudah selesai dan kembali ke tempat duduknya yang tadi. Menuggu Ara, yang beluk selesai untuk di make over.
__ADS_1
Sambil menunggu Ara yang belum selesai, Awan melihat beberapa pesan yang masuk ke dalam prosesnya.
Hanya ada beberapa pesan dari omanya, dan juga teman kampusnya.
Tapi, beberapa saat setelah dia membaca dan membalas pesan-pesan tersebut, ada pesan masuk dari ayahnya Ara. Yaitu Abimanyu.
Calon mertuanya itu bertanya kepada Awan, dengan persiapan mereka berdua untuk datang ke acara opera.
Tadi, Awan memang mengatakan pada ayahnya Ara, jika dia meminta ijin pulang dari kantor lebih awal. Sebab, akan mengajak anaknya itu, Ara, untuk mampir ke butik terlebih dahulu.
Dan Abimanyu tidak merasa keberatan dengan rencana mereka.
Itulah sebabnya, sekarang ini Abimanyu bertanya pada Awan, tentang persiapannya itu.
Awan pun menjawab pertanyaan dari ayahnya Ara. Jika saat ini mereka masih berada di butik. Dan Ara sedang dalam proses make over.
Abimanyu hanya memberikan pesan, agar keduanya hati-hati. Dan juga tidak pulang terlalu malam.
Baru saja selesai membalas pesan dari calon mertuanya itu, Ara datang dengan didampingi oleh pramuniaga tadi.
Selama ini, penampilan Ara memang biasa saja. Sama seperti cewek-cewek remaja lain, yang tampil natural dengan gaya busana yang kasual juga.
Tapi sekarang, Awan terpana melihat perubahan dari penampilan Ara untuk kedua kalinya.
Yang pertama adalah kemarin, saat acara pertunangan mereka berdua.
Dan yang kedua adalah hari ini. Di saat mereka berdua sedang dalam rencana mereka, untuk menghadiri acara opera yang ada di kampus Awan. Meskipun sebenarnya Awan sudah selesai dan tidak lagi kuliah di kampus tersebut.
"Kak," tegur Ara, karena Awan hanya diam melihat ke arahnya tanpa berkedip.
"Eh. Ehem!"
Pramuniaga tersebut tersenyum disembunyikan, karena melihat perubahan Awan yang salah tingkah sendiri, di saat melihat penampilan kekasihnya itu.
"Mr Awan. Bagaimana penampilan kekasih Anda sekarang? Apa Mr Awan puas?" tanya pramuniaga tersebut, meminta pendapat pada Awan.
Awan hanya tersenyum, mendengar pertanyaan yang sebenarnya tidak memerlukan sebuah jawaban juga.
Dia tidak percaya, jika yang ada didepannya sekarang ini adalah Ara. Calon istrinya sendiri.
"Cantik sekali," gumam Awan, tanpa bisa menahan diri untuk tidak berkomentar.
__ADS_1
Tapi itu diucapkan oleh Awan, saat pramuniaga sudah pergi. Untuk membereskan baju-baju Ara dan Awan, yang tadi dikenakan sebelum berganti pakaian dari butik.