
Dua bulan kemudian, pesta pernikahan Sekar berlangsung disebuah gedung yang cukup megah.
Ini karena dari keluarga pihak Juna, calon suaminya Sekar, juga dari keluarga yang mampu. Mereka juga orang-orang Jawa, yang ternyata, ayah dari Juna, adalah teman masa SMA ayah Edi.
Jadilah mereka semakin akrab, karena merupakan teman lama. Sekar jadi merasa sangat senang, karena tidak perlu ada yang dirisaukan lagi.
Semua persiapan, sudah di atur oleh pihak EO, yang disepakati bersama, antara Sekar dengan Juna. Mereka berdua sendiri, yang mencari dan mempertahankan segala sesuatunya untuk persiapan pernikahan mereka ini.
Orang tua mereka, hanya memberi arahan dan nasehat saja. Mereka tidak mau ikut campur, untuk urusan tema dan lain sebagainya, karena sudah percaya, jika anak-anak mereka, sudah dewasa dan bisa berpikir untuk memilih, mana yang lebih baik.
Anjani dan Abimanyu juga ikut merasakan kebahagiaan itu. Mereka, sudah datang ke Jakarta lagi, beberapa hari kemarin, untuk ikut dalam persiapan acara pernikahan adik mereka, Sekar dengan Arjuna.
Sayangnya, Yasmin tidak bisa pulang, karena belum mendapatkan cuti kerja dari pihak yayasan. Dia juga tidak bisa meminta ijin sesuka hati, karena memang belum ada satu tahun bekerja. Dus tidak ingin membuat masalah baru yang akan merugikan dirinya sendiri.
..."Mas. Yasmin hanya nitip hadiah buat kak Sekar ya. Nanti sekalian Aku kirim buat Nanda, seperti biasanya. Maaf, Yasmin tidak bisa pulang."...
Saat ini Yasmin sedang menelpon kakaknya, Abimanyu, untuk menyiapkan sebuah kado pernikahan, untuk kakaknya, Sekar.
..."Iya, nanti Mas sampaikan. Kamu tidak perlu repot-repot memikirkan banyak hal. Kamu berkonsentrasi pada pekerjaan dan hasilnya, untuk menutupi hutangmu yang belum lunas. Jika ada sesuatu, kamu bisa minta bantuan pada kami, saudara dan juga keluargamu sendiri."...
..."Iya Mas. Terima kasih. Nitip Nanda ya Mas."...
..."Iya, berhati-hatilah."...
Begitulah akhirnya, saat Yasmin menghubungi kakaknya, Abimanyu. Dia bukan hanya bisa membicarakan dirinya sendiri atau soal Nanda, tapi juga mendapatkan nasehat-nasehat yang membuat dirinya semakin sadar, jika keluarganya, masih ada dan tetap memberikan dukungan terhadap dirinya. Meskipun caranya memang berbeda dengan yang kemarin-kemarin mereka lakukan.
Anjani, yang ada di samping suaminya, Abimanyu, hanya bisa menitikkan air mata, ikut merasakan kesedihan yang dirasakan oleh Yasmin. Karena disaat keluarganya sedang dalam keadaan berpesta, dia justru tetap bekerja dan itu sangat jauh di Taiwan sana.
__ADS_1
Melihat istrinya yang sedang menangis, membuat Abimanyu menoleh, kemudian memeluknya dari arah samping, dimana mereka berdua sedang duduk berdampingan.
"Kamu kenapa menangis Sayang?" tanya Abimanyu, dengan masih memeluk istrinya itu.
"Jani merasa kasihan dengan Yasmin Mas. Hiks hiks hiks... kasihan dia Mas," jawab Anjani, masih dengan terus terisak-isak.
"Sudah-sudah. Mas juga sebenarnya tidak tega, tapi hanya dalam keadaan seperti itu, dua bisa berpikir dan menjadi dewasa. Jika kita terang-terangan membantunya dan memanjakannya, sama seperti dulu, dia akan merasa di atas angin, dan kembali lagi seperti dulu. Mas tidak mau jika itu terjadi pada Yasmin lagi."
Anjani mengangguk mengiyakan perkataan Abimanyu. Dia juga tidak mau, jika mendapat masalah lagi dengan adanya Yasmin di rumah.
Sudah dua kali Anjani mengalami hal yang sangat sulit dia terima, akibat ulah adik iparnya itu.
Kehilangan calon anaknya yang masih ada di dalam kandungan, dan itu adalah anaknya yang pertama dulu, dan yang kedua adalah kasus video, yang harus menyeret banyak pihak untuk ikut dalam kasus tersebut.
Anjani juga berharap, agar Yasmin bisa benar-benar berubah suatu hari nanti.
Di pesta pernikahan Sekar, mama Amel, yang ikut datang bersama dengan papa Ryan, merasa senang karena melihat Anjani yang sudah memiliki anak perempuan yang sangat cantik.
"Wah, Anjani. Anak Kamu sudah besar ya. Maaf lho, mama dan papa tidak bisa datang menjenguk karena kami benar-benar sedang sibuk-sibuknya. Tapi hadiah dari kami sampai kan ya?" Mama Amel, begitu antusias saat bertemu Anjani, yang sedang menggendong Ara. Meskipun saat ini, Ara sudah bisa berjalan, tapi karena pesta di gedung ini cukup besar, Anjani takut, jika Ara akan menghilang dan tidak tahu pergi kemana tanpa pengawasan darinya.
Nanda, sedang meminta pergi ke meja prasmanan, untuk mengambil kue-kue yang dia inginkan, bersama dengan baby sitter.
"Iya Ma, terima kasih. Jani sehat dan abik kok. Ini Ara Ma, anaknya Jani," jawab Anjani, sambil menunjukan anaknya, yang sedang ada di dalam gendongannya sendiri.
"Pah. Cantik ya Pah di Ara. Sama cantiknya dengan Anjani. Hihihi... jadi pengen punya cucu cewek ya Pah?" Mama Amel, berkata pada suaminya, papa Ryan, yang ada di sampingnya.
"Iya Ma. Nanti pulang dari sini, kita telpon Elang, supaya memberikan kita cucu perempuan juga. Kita kan baru punya satu cucu. Masa iya, anak cuma satu kok cucu juga cuma satu. Hahaha... minta yang banyak lah kita Ma." Papa Ryan, tertawa-tawa senang mendengar perkataannya sendiri.
__ADS_1
Mama Amel, jadi ikut tersenyum bahagia mendengar perkataan suaminya itu.
Anjani hanya tersenyum tipis mendengar perkataan mantan mertuanya, yang tetap bersikap baik terhadap dirinya sampai saat ini.
"Tante Amel, Om Ryan, silahkan menikmati hidangan. Maaf, Saya tidak bisa menemani lama-lama. Ada tamu ayah dari luar kota, dan sepertinya ayah butuh pertolongan."
Abimanyu datang dan meminta maaf pada kedua atasannya itu, karena keadaan pesta yang sedang banyak tamu. Abimanyu juga tidak mempermasalahkan soal kedekatan istrinya dengan mantan mertuanya itu.
"Iya Abi, tidak apa-apa. Kami masih bisa berbincang-bincang dengan Anjani. Ini anak Kamu bisa tidak, kalau kami minta. Hahaha... kalian bisa bikin lagi yang banyak, ya Mah?" kata papa Ryan, sambil bercanda.
Abimanyu hanya tersenyum mendengar perkataan atasannya itu. Dia tahu, jika kedua atasannya tersebut, memang suka bercanda dan tidak terlalu serius jika di luar pekerjaan.
Itulah sebabnya, mama Amel dan papa Ryan, masih terlihat muda di usia mereka yang sudah setengah abad lebih.
"Mari Om, Tante, Abi tinggal dulu," kata Abimanyu berpamitan.
Setelah di tinggal Abimanyu, mama Amel kembali bertanya pada Anjani, "mama harap, Kalian berdua berbahagia. Karena Mama melihat jika Abimanyu itu laki-laki yang baik dan bertanggung jawab. Untuk masalah yang kemarin-kemarin pernah Mama dengar, semoga itu hanya kesalahpahaman yang bisa segera diselesaikan dengan cara yang baik."
Ternyata, kasus Anjani terkait dengan video tersebut terdengar sampai di telinga mama Amel.
"Mama tahu soal itu?" tanya Anjani memastikan jika apa yang dikatakan mama Amel memang masalah yang terjadi kemarin, soal video.
"Iya. Mama tahu dari Abimanyu. Dia bercerita pada Mama, saat dia minta ijin untuk tidak masuk kantor, dalam beberapa hari. Karena tidak biasanya Abimanyu ijin terlalu lama, maka Mama jadi ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi. Dan akhirnya setelah Mama desak, Abimanyu mau bercerita juga, dan Mama hanya bisa memberi beberapa masukan dan saran saja."
"Iya Ma. Semua sudah terjadi dan sudah selesai juga. Kami bisa melewati semuanya itu. Doakan saja kami tetap bisa melalui segala sesuatu dengan kesabaran dan keikhlasan ya Ma. Kami tidak tahu, apa yang akan kami hadapi di depan nanti. Kami hanya bisa berdoa dan berharap agar semua baik-baik saja."
Anjani hanya bisa mengatakan apa yang dia harapkan. Meskipun dia tidak tahu apa yang akan terjadi kedepannya nanti. Tapi dia yakin, dia dan Abimanyu akan bisa melewati semua permasalahan yang ada.
__ADS_1