Dia Milikku ( Berbagi Cinta )

Dia Milikku ( Berbagi Cinta )
Main Enak


__ADS_3

"Kak Ara mana kak Awan?" Anggi bertanya, pada saat sarapan pagi dan tidak menemukan keberadaan kakaknya, Ara.


"Ada di kamar," jawab Awan, tanpa memberikan keterangan lebih lanjut.


"Tumben. Gak sakit kan?"


Anggi kembali bertanya, dengan wajahnya yang terlihat jelas jika sedang merasa khawatir.


"Gak. Cuma masih ada di dalam kamar mandi. Kamu cepat sarapannya. Pak ojek udah nunggu!"


Perkataan Awan, hanya diangguki oleh Anggi. Dia akhirnya tidak lagi bertanya-tanya. Karena harus secepatnya menyelesaikan sarapan pagi. Pak ojek langganan, sudah menunggunya, sama seperti biasa.


Sepertinya Awan berhasil membuat perhatian Anggi teralihkan. Dari pertanyaan tentang kakaknya, Ara, dengan waktu yang harus dia kerjakan saat ini juga.


"Kak. Tolong pamit kan sama kak Ara ya!" pinta Anggi, dengan terburu-buru.


Dia meneguk air minum, sebelum benar-benar beranjak dari tempat duduknya di kursi makan.


Awan pun hanya mengangguk saja. Kemudian senyuman tipis terbit di sudut bibirnya. Dia berhasil menyembunyikan keadaan Ara yang sebenarnya dari Anggi.


"Hufhhh... aman juga akhirnya."


Dengan bernafas lega, Awan menyenderkan kepalanya di sandaran kursi.


Tak lama kemudian, dia pun bangkit dari tempat duduknya, kemudian berjalan menuju ke arah kamar. Dia ingin mengajak Ara untuk sarapan pagi terlebih dahulu.


Clek!


Pintu kamar terbuka. Tampak Ara duduk di pinggiran tempat tidur dengan was-was.


"Bagaimana Kak? Anggi sudah berangkat sekolah kan?" tanya Ara cepat, begitu melihat Awan masuk ke dalam kamar.


Awan hanya menjawab pertanyaan tersebut dengan anggukan kepala. "Kita sarapan yuk!" ajak Awan, dengan mengulurkan tangannya agar dipegang oleh istrinya itu.


"Emhhh..."


"Apa masih sakit?" tanya Awan dengan mengerutkan keningnya, saat melihat Ara yang ragu untuk mengatakan sesuatu.


"Eh, gak. Gak sakit kok Kak."


"Lalu?"


"Cuma... cuma gak nyaman jika dipakai untuk berjalan," ujar Ara dengan tersipu-sipu.


"Hahaha... tapi enak kan?" tanya Awan, yang membuat Ara merenggut kesal.


"Awas tuh bibir. Bisa-bisa Kakak gak ijinkan Kamu ke mana-mana hari ini."


"Ihhh, kok gitu?" tanya sara cepat.


Dia kesal karena Awan jadi semakin messumm saja sekarang ini. Beda dengan dulu, saat belum mereka belum menikah.


"Kita lembur buat cucu ayah dan bunda. Terus buta cicit juga buat Oma dan Opa. Hehehe..." Awan semakin menjadi-jadi, ketika Ara kesal dan ngambek ala-ala pengantin baru.

__ADS_1


"Yang penting sekarang ini kita sarapan. Buat tenaga lembur nanti."


Huppp!


"Ahhhh!"


Ara berteriak keras, saat tubuhnya melayang ke udara lagi. Karena ternyata, lagi-lagi Awan membopong tubuhnya, ala bridal style. Mirip-mirip dengan cerita putri dan pangeran atau novel-novel romantis yang sedang tenar.


"Kakak belajar dari mana ini?" tanya Ara, dengan sikap Awan yang berubah romantis.


Sekarang ini, Ara mengalungkan tangannya di leher suaminya itu. Sama juga seperti gambaran umum tentang putri dan pangeran. Sehingga wajah mereka berdua juga tampak sangat dekat. Bahkan, hembusan nafas Awan, bisa dia rasakan di sekitar wajahnya.


Cup!


Tiba-tiba Awan mengecup bibirnya sekilas.


"Kakak romantis juga buat Kamu. Mesummm juga cuma buat Kamu. Dari pada gak peduli, mau pilih yang mana Kamu?"


Ara menutup mulutnya Awan, dengan jadi telunjuknya. Ini membuat Awan gemas dan mengigit kecil jari tersebut.


"Aughhh... sakit Kak!" seru Ara, dengan menarik jari tangannya yang digigit Awan.


"Salah sendiri. Kakak kan mau cium lagi, masak di tutupin," sahut Awan cepat, dengan tersenyum miring.


Sekarang, mereka berdua sudah sampai di meja makan. Dengan hati-hati, Awan menurunkan tubuh istrinya itu ke sebuah kursi yang tadi dia duduki sebelumnya.


"Duduklah. Kita makan du ya!"


Ara mengangguk patuh. Sama seperti seorang anak kecil, yang menurut pada ayahnya.


Awan menunjuk ke arah box makanan, yang ada di atas meja makan. Dia meminta pada istrinya itu, untuk memilih makanan yang dua sukai.


"Ini beli banyak banget kak!"


Ara bertanya kepada Awan, dengan menatap tidak percaya. Karena ada banyak box makanan, dengan jenis-jenis makanan yang berbeda-beda juga.


"Gak apa-apa. Selain meng_larisi jualan orang pagi-pagi, Kamu juga gak perlu memasak seharian ini."


"Lagipula, biasanya Miko juga mampir ke sini dulu, saat pulang dari sekolah. Gak langsung pulang ke rumah kan dua?"


"Terus... biasanya juga cari makanan dulu. Iya kan?"


Pertanyaan demi pertanyaan yang diajukan oleh Awan memang benar adanya. Dia mulai menghafal bagaimana keadaan keluarga, dan saudara-saudara Ara.


Dari mulai Anggi, yang memang sudah terbiasa. Nanda yang sudah dia kenal tapi belum begitu dekat. Di tambah lagi dengan si Miko yang manja, doyan makan tapi lucu dan menggemaskan. Dan ini membuat Awan merasa memiliki banyak saudara.


Belum lagi adiknya Miko yang mulai banyak bicara dan juga bertanya. Khas anak-anak yang sedang tumbuh kembang, serta keingintahuan yang tinggi.


Awan jadi betah tinggal di rumah ini. Karena dia tidak merasa sendiri, dengan adanya banyak saudara Ara yang ada di perumahan yang sama juga.


Saat mereka berdua menikmati sarapan pagi, handphone milik Awan berdering.


"Tolong ambilkan Dek!"

__ADS_1


Handphone miliknya memang ada di dekat tempat duduknya Ara. Karena tadi, kursi yang diduduki oleh Ara adalah tempat duduknya. Dia saat dia menemani Anggi sarapan.


"Kak. Ini Oma."


Layar handphone milik Awan, menampilkan profil mama Amel.


"Angkat aja!"


"Gak ahhh, Kakak aja!"


Ara menyerahkan handphone tersebut, pada suaminya yang duduk di seberang meja. Tepat berada di depannya.


..."Halo Oma. Apa kabar Oma?"...


..."Hai! kapan balik ke rumah?"...


..."Ke rumah mana Oma? Awan kan udah ada di rumah."...


..."Mana? gak ada Kamu kok."...


..."Hahaha... Awan ada di rumah ayah Abi Oma. Kan sama aja rumah Awan juga sekarang."...


..."Ah Kamu ini!"...


..."Hehehe..."...


..."Eh, bagaimana keadaan Ara? Gak apa-apa kan?"...


..."Maksud Oma?"...


..."Helehhh... masa gak ngerti maksud pertanyaan Oma?"...


..."Oma tanya apa?"...


..."Ihsss... ini anak muda, baru jadi pengantin baru aja udah lupa segalanya. Hahaha..."...


Mama Amel justru tertawa senang, mendengar perkataan Awan yang tidak tahu, apa maksud dari pertanyaan yang dia ajukan.


..."Kalian kapan ke Bogor? Oma ikut ya!"...


..."Emhhh... opa bagaimana?"...


Akhirnya mereka berdua berbincang tentang rencana ke Bogor. Untuk menyambangi Abimanyu dan Anjani, yang saat ini ada di kota hujan, Bogor.


Ara hanya diam menyimak pembicaraan suaminya dan juga mama Amel. Dia merasa sangat senang, karena Oma dari suaminya itu sangat perhatian dengan ayah dan bundanya juga.


Meskipun Ara tahu juga, bagaimana sejarah kehidupan yang rumit, antara kedua orang tuanya dan juga ayah mertuanya. Ayahnya Awan, yaitu Elang.


Setelah menutup panggilan telpon dari mama Amel, Awan mengajak Ara untuk segera menyelesaikan sarapan pagi mereka.


"Ayo Dek, dihabiskan! Setelah ini kita akan main lagi."


"Main ke mana Kak?" tanya Ara bingung. Karena mereka berdua memang tidak ada rencana untuk pergi ke luar rumah hari ini.

__ADS_1


"Ya main yang bikin enak. Hehehe..."


"Ahhh... Kakak mesummm!"


__ADS_2