
Mendengar jawaban dari Nanda, temannya itu mengerutkan keningnya, memikirkan apa yang dikatakan oleh Nanda padanya.
"Maksudnya Loe suka dengan sepupu Loe sendiri Nda?"
Teman ceweknya Nanda, terkejut mendengar jawaban dari pertanyaan yang dia ajukan sendiri pada Nanda tadi.
Tapi Nanda tidak menjawab iya ataupun tidak. Dia hanya tersenyum sinis, pada cewek yang saat ini melongo di depannya. Sepertinya dia sedang mencerna apa yang tadi dia dengar.
"Wah, Loe gak waras Nda!" oceh temannya tadi, dengan mengumpat tidak jelas, karena kata-kata yang tidak terdengar kasar.
Nanda tidak peduli, seandainya nanti beredar luas gosip atau apa pun itu, terkait dengan hubungan antara dirinya dengan Ara. Toh yang tahu kebenarannya juga ada.
Dan Nanda tidak ambil pusing, karena itu bisa menjauhkan Ara dari para cowok-cowok yang ingin mendekati dirinya.
Begitu juga dengan Nanda sendiri. Cewek-cewek yang ada di sekolah, ini, tidak akan memiliki harapan dengan cara mendekatinya, sama seperti yang dilakukan oleh cewek yang saat ini masih berdiri dengan tidak percaya, di depannya.
Sepertinya, cewek yang mendengar jawaban dari Nanda tetap tidak percaya, dan merasa yakin bahwa, semua yang dikatakan oleh Nanda hanya alasan saja, supaya dia pergi dan menyerah. Tidak lagi berusaha untuk mengejar-ngejar dirinya.
"Gue akan tanya langsung dengan cewek itu. Lihat saja, Loe gak akan bisa ngusir Gue dengan alasan gak jelas itu."
Cewek itu tidak menyerah begitu saja. Dia tetap berusaha untuk bisa mendapatkan perhatian dan hatinya Nanda. Padahal jelas-jelas, Nanda tidak mau dia mendekat.
Pesona yang ada pada Nanda, sepertinya menurun dari papanya, Wawan. Meskipun Nanda tidak banyak bicara dan pandai merayu seperti papanya. Tapi tetap saja, pesonanya ada dan di warisi oleh anaknya, Nanda, tanpa di sadari oleh Nanda sendiri.
"Serah," jawab Nanda asal.
Dengan wajah cemberut, teman cewek sekelas Nanda, meninggalkan tempat berdirinya, dengan perasaan yang kesal.
Itu tampak dari hentakan kakinya, saat melangkah keluar dari dalam kelas.
Nanda tidak menanggapi sama sekali, untuk sikap temannya itu. Dia justru kembali membaca pesan yang baru saja masuk, dari nomer yang sama juga.
Pesan itu berbunyi bahwa;
*Nda datanglah. Papa akan menjagamu, dan tidak akan ada kejadian yang sama seperti dulu lagi. Papa tidak lagi sama seperti waktu dulu. Sekarang, Papa sudah mapan, dan bisa memenuhi semua kebutuhan dan juga permintaanmu.
Jika Kamu mau, dan ikut tinggal dengan Papa, tentu akan membuat Papa semakin senang Nda. Janganlah abaikan pesan Papa ini terus-menerus.
__ADS_1
Sekarang Kamu sudah tahu, siapa yang mengirim pesan-pesan untukmu. Jadi, datang ya.
Papamu, yang merindukanmu*.
"Hah, papa? Maksudnya papa Wawan?" tanya Nanda, begitu selesai membaca pesan tersebut.
Dia tidak menyangka bahwa, papanya Wawan lah yang mengirim pesan-pesan itu untuknya, sedari seminggu yang lalu.
Tapi Nanda juga bertanya-tanya, dari mana papanya itu tahu, nomer handphone miliknya. "Papa tahu dari mana nomer ponselku?"
Tapi Nanda tidak bisa menjawab pertanyaan yang dia ajukan. Karena dia memang tidak tahu, siapa sebenarnya yang menjadi informan papanya, Wawan.
"Ngomong sama mama tidak ya soal papa Wawan? takutnya mama marah, dan ganti nomer ponsel Aku lagi," gumam Nanda lagi.
Tot!
Tot!
Tot!
Dia harus kembali berkonsentrasi, pada pelajaran selanjutnya, yang akan diajarkan untuk beberapa menit kemudian.
*****
Di rumah Abimanyu, ada tamu yang datang. Dan tamu itu adalah, sepasang suami istri, yang kemarin menyerempet motornya.
"Maaf ya, kami baru bisa datang lagi, karena kemarin itu kami langsung pergi ke luar kota. Jadi tidak sempat datang ke sini," ujar sang suami, begitu di persilahkan untuk duduk.
Anjani dan Abimanyu, hanya mengangguk dan tersenyum mendengar penjelasan dari tamunya itu.
Mereka berdua, Anjani dan Abimanyu, juga tidak mengharapkan apa-apa lagi, dengan kedatangan mereka berdua.
Setelah berbasa-basi sebentar, suami dari pasangan tersebut justru menawari Abimanyu, untuk bekerja di perusahaannya, secara freelance. Sama seperti yang dilakukan oleh Abimanyu, untuk perusahaan lain, selain di tempatnya bekerja saat ini. Yaitu PT SAMUDERA GROUP, yang merupakan milik papa Ryan dan keluarganya. Dengan papa Ryan sendiri, sebagai pemegang saham terbesar di perusahaan tersebut.
Sepasang suami istri itu tahu jika, Abimanyu bekerja di PT SAMUDERA GROUP karena, saat kecelakaan terjadi, dan Abimanyu dalam perawatan UGD, mama Amel dengan Elang, datang sendiri untuk menjenguk Abimanyu.
Menurut mereka berdua, Abimanyu bukanlah pegawai biasa di perusahaan tersebut. Meskipun dia hanya mengunakan sepeda motor, saat berangkat bekerja.
__ADS_1
Awalnya, mereka berdua tidak menyadari semua itu. Tapi selama seminggu ini, mereka baru berpikir bahwa, apa yang mereka pikirkan itu salah.
Itulah sebabnya, sekarang mereka berdua datang dan memberikan tawaran pada Abimanyu, untuk bisa bekerja di perusahaan milik mereka berdua, yang akan melakukan kerja sama dengan PT SAMUDERA GROUP dalam waktu dekat ini.
"Maaf. Bukan Saya menolak tawaran Anda Tuan. Tapi, pekerjaan Saya di sana saja terbengkalai saat ini. Bagaimana bisa Saya mengerjakan pekerjaan di perusahaan Anda juga nantinya?"
Abimanyu menolak tawaran tersebut, dengan cara yang baik, karena selama seminggu ini, dia memang tidak berangkat ke kantor, DNA hanya ada di rumah saja.
Meskipun sebenarnya, Abimanyu tetap bekerja di rumah, dengan dibantu oleh Anjani, istrinya.
"Wah, sayang sekali ya. Padahal Anda bisa mendapatkan pendapatan sampingan dari perusahaan kami juga, yang bisa menjadi tambahan income, untuk memenuhi kebutuhan hidup Anda sehari-hari."
Anjani dan Abimanyu, hanya bisa tersenyum tipis, mendengar perkataan dari wanita, istri dari tamunya itu.
Dan setelah beberapa lama mereka kembali berbincang-bincang tentang hal-hal lain, sepasang suami istri itu pamit untuk pulang. Mereka berdua juga berkata bahwa, mereka akan berkumpul lagi, untuk bertanya kepada Abimanyu, seandainya di bisa berubah pikiran nanti.
Tapi Abimanyu tetao saja tidak memberinya harapan. Dia tidak mau menerima tawaran pekerjaan di tempat lain, jika tidak mendapatkan ijin dari mama Amel sendiri.
Abimanyu juga tidak menerima tawaran pekerjaan, dari perusahaan yang justru bekerja sama dengan PT SAMUDERA GROUP.
Karena jika itu terjadi, bisa-bisa, kekacauan akan terjadi, dengan laporan-laporan yang di buat oleh Abimanyu.
Sepasang suami istri tadi, meninggalkan sejumlah uang, yang ditempatkan pada sebuah amplop coklat. Padahal Anjani dan Abimanyu, sudah menolaknya.
Anjani beralasan jika, suaminya, Abimanyu, sudah sembuh dan membaik keadaannya.
Begitu juga dengan Abimanyu sendiri. Dia juga mengatakan bahwa, dia sudah tidak lagi merasa sakit-sakit, dengan luka-luka yang dia alami kemarin.
Tapi istri dari tamunya itu tetap bersikukuh untuk memberikan amplop tersebut. Dia memaksa Anjani, untuk menerimanya sebagai tanda damai, dengan kejadian kemarin, yaitu kecelakaan yang terjadi pada mobil mereka dengan motornya Abimanyu.
Dengan sangat terpaksa, Anjani menerima amplop coklat pemberian mereka, karena tidak ingin membuat mereka berdua merasa kecewa dan juga terabaikan karena sudah berniat baik.
"Baiklah. Kami pamit pulang, dan kami tetap berharap Anda bisa memikirkan kembali tawaran yang kami berikan tadi," kata tamunya itu.
Abimanyu hanya mengangguk saja tanpa ada maksud untuk menerima tawarannya untuk bisa bekerja sama dengannya.
Anjani juga hanya tersenyum, mengantar mereka berdua hingga teras depan rumah. Dan baru masuk kembali, saat mobil tamunya itu sudah menghilang dari pandangan mata.
__ADS_1