Dia Milikku ( Berbagi Cinta )

Dia Milikku ( Berbagi Cinta )
Menemukan Ide Baru


__ADS_3

Seminggu kemudian, keadaan Anjani sudah semakin membaik. Dia sudah diperbolehkan pulang oleh dokter hari ini juga, meskipun Abimanyu tidak berharap secepat itu untuk kepulangan istrinya. Dia ingin kondisi kesehatan Anjani, benar-benar pulih.


Berbeda dengan Abimanyu, Anjani justru merasa senang karena sudah diperbolehkan pulang oleh dokter. Dia yang sangat sedih saat sadar dan mengetahui jika bayinya sudah tidak ada lagi, selalu merasa kesepian berada di rumah sakit. Dia ingin cepat-cepat pulang dan beraktivitas seperti biasa, agar bisa melupakan kesedihannya itu.


Siang ini, Sekar datang langsung dari kampus. Dia mampir terlebih dahulu, karena mendapatkan kabar dari kakaknya, Abimanyu, supaya ikut membantu Anjani saat pulang ke rumah. Dia berharap bisa menemani kakak iparnya itu, supaya tidak terus menerus berada dalam kesedihan yang panjang.


"Mbak Jani sudah berkemas-kemas?" tanya Sekar begitu melihat tas-tas yang ada di atas tempat tidur pasien. Anjani, duduk sendiri, menunggu suaminya, Abimanyu, yang sedang pergi ke ruang obat, untuk mengambil obat yang akan dibawa pulang.


"Iya Sekar. Mbak suntuk sendirian, sambil menunggu mas_mu, mbak berkemas-kemas saja."


"Ah, Mbak ini seharusnya beristirahat saja. Malah mengerjakan semua ini. Kan bisa nunggu Sekar," kata Sekar, menasehati kakak iparnya, Anjani.


"Ini kan cuma pekerjaan ringan Sekar. Mbak gak akan kenapa-kenapa kok. Kalau cuma diam dan tidak melakukan apa-apa, justru Mbak akan merasa capek dan badan rasanya kaku semua," jawab Anjani sambil tersenyum.


Sekar paham dengan perkataan istri mas_nya. Meskipun terlihat lemah dan tidak bisa melakukan apa-apa, kakak iparnya itu adalah wanita yang rajin dan tidak suka mengeluh. Dulu, dia sempat berpikir yang salah terhadap Anjani. Dia hampir saja termakan omongan ibunya sendiri, yaitu ibu Sofie.


Apalagi Sekar juga sudah tahu, bagaimana Anjani berbuat baik selama ini, meskipun dulunya dia tidak suka dengannya. Itu semua membuat Sekar sadar, dan tidak lagu mendukung semua perkataan dan rencana ibunya. Dia hanya bisa berharap, suatu saat nanti, ibunya akan menyadari kalau Anjani memang menantu yang baik dan juga cocok untuk mas_nya.


Tak lama kemudian, Abimanyu datang dengan membawa tas kecil dengan logo rumah sakit, yang isinya adalah obat-obatan untuk istrinya.


"Sekar sudah datang?" tanya Abimanyu, begitu melihat keberadaan adiknya.


"Iya Mas. Sekar baru saja datang kok. Malah semua ini sudah dibereskan mbak Jani sendiri," jawab Sekar sambil menunjuk tas-tas berisi barang-barang pribadi milik Anjani dan Abimanyu selama serada di rumah sakit.


"Oh, ya sudah. Kita pulang sekarang yuk!" ajak Abimanyu, pada Anjani dan juga adiknya, Sekar.


Keduanya berdiri, mengikuti langkah Abimanyu yang membawa tas besar. Sedang yang kecil dibawa oleh Sekar. Anjani, membawa tas kecil berisi obat, yang dibawa oleh Abimanyu tadi.


"Aku bawa motor Mas. Nanti Aku ikuti dari belakang ya," Kat Sekar, begitu mereka sampai di tempat parkir rumah sakit.


"Oh ya, gak apa-apa."


Abimanyu membuka bagasi mobil, kemudian memasukkan semua tas yang ada. Dia juga membuka pintu mobil untuk istrinya, Anjani. Setelahnya, dia baru masuk ke dalam mobil dan menghidupkan mesinnya, baru melakukannya untuk segera pulang ke rumah.

__ADS_1


Sekar, mengikuti mobil kakaknya. Dia yang biasa naik sepeda motor jika pergi ke kampus, tentu saja tidak mungkin meninggalkan motor itu di tempat parkir rumah sakit ataupun di kampus tadi. Dua sudah terbiasa mandiri dan tidak bergantung pada orang lain. Itulah sebabnya, dia pernah diejek adiknya sendiri, Yasmin, sebagai jomblo yang tidak bisa mendapatkan kekasih. Karena kemana-mana selalu sendiri.


*****


Di rumah, keadaan sepi karena ibu Sofie dan ayah Edi sedang bekerja di kantor. Wawan juga sudah bekerja di dealer motor. Yang ada di rumah hanya ada Yasmin bersama dengan bibi pembantu.


Bibi pembantu, menyambut kedatangan mereka dengan senang hati. Dia segera menyediakan minuman untuk Anjani dan jua Abimanyu. Bibi pembantu tidak tahu, jika ada Sekar yang akan datang dibelakang mereka juga. Tapi karena Sekar memang belum sampai di rumah, jadi bibi hanya membuat dua minuman saja.


Yasmin, yang baru melihat kedatangan mereka, hanya diam dan berlalu begitu saja. Dia pergi ke dapur untuk mengambil minum dan juga puding buah buatan bibi tadi pagi.


Saat dia tahu, jika bibi sedang membuat minuman untuk Anjani dan kakaknya, Abimanyu, Yasmin jadi ingin juga dibuatkan minuman yang sama seperti mereka.


"Bi, buatkan juga Yasmin ya. Sama seperti itu," kata Yasmin memberitahu bibi.


Bibi hanya mengangguk, kemudian membuat satu minuman lagi untuk Yasmin. Setelah selesai, dia membawa dua gelas minuman untuk diberikan kepada Anjani dan Abimanyu yang sedang duduk-duduk di ruang tengah.


"Silahkan den Abi, Non Jani."


Bibi menawarkan minuman itu untuk keduanya, sedangkan Yasmin yang ikutan duduk di ruang tengah tidak diberikan oleh bibi. Tadi, bibi berpikir jika Yasmin akan kembali ke kamar dan membawa minumannya sendiri ke dalam kamar.


"Oh, mau di bawa ke sini juga Non Yasmin?" tanya bibi pembantu, yang jadi tidak enak hati karena salah duga.


"Iyalah, masa mau di minum sendiri di dapur!" jawab Yasmin kesal.


Bibi pembantu pamit untuk pergi ke dapur, mengambilkan minuman untuk Yasmin, yang tadi sudah dia buatkan juga.


"Yasmin. Tidak usah pakai suara keras begitu kan bisa. Bibi juga manusia, bisa lupa, dan ingat ya, dia sudah meringankan beban pekerjaan di rumah ini. Jika di luar juga, Kamu harus bisa lebih sopan pada orang yang lebih tua dari Kamu." Abimanyu, berusaha untuk menasehati adiknya itu, supaya Yasmin bisa bersikap lebih sopan pada bibi pembantu di rumah ataupun dengan orang lain.


Yasmin tidak menyahuti perkataan kakaknya. Dia hanya melengos dan mulai bermain handphone lagi, sama seperti tadi.


Sekar, yang baru saja datang langsung masuk tanpa permisi. Dia duduk di samping Yasmin, yang sedang kesal karena ditegur oleh Abimanyu tadi.


"Kakak apa-apaan sih ini! datang-datang gak permisi gak cuci tangan malah nempel-nempel. Bau Ihsss!" kata Yasmin sambil menutup hidung. Dia merasa kesal, karena Sekar bau asap kendaraan.

__ADS_1


"Yahhh, maklumlah. Aku kan naik motor Yasmin. Mana ada bau rendang?" Sekar malah bergurau, agar Yasmin tidak melanjutkan acara kesalnya.


"Ihsss...!"


Tapi Yasmin tidak bisa menangkap sinyal becanda dari Sekar. Dia justru semakin kesal dengan mencibir kakaknya itu.


Bibi pembantu datang dengan membawa gelas minuman Yasmin. Tapi, sebelum diberikan pada Yasmin, Sekar mengambil duluan minuman itu dari tangan bibi pembantu.


"Terima kasih Bi," kata Sekar, tanpa bertanya terlebih dahulu, untuk siapa minuman itu dibawa oleh bibi.


Bibi yang tidak sadar kaget saat minuman itu sudah dihabiskan Sekar. Sedangkan Yasmin, melotot kearahnya.


"Bibi! Itu kan minuman buat Aku, kenapa diberikan pada kak Sekar?" tanya Yasmin marah. Dia merasa sangat jengkel Suang ini, terutama karena kedatangan Anjani, yang sudah sehat lagi.


"Eh, ini buat Kamu ya? maaf, Aku tidak tahu. hehehe..."


Sekar memperlihatkan gelas ditangannya yang sudah kosong. Dia juga cengengesan, melihat wajah Yasmin yang sedang marah.


Bibi pembantu, ketakutan melihat Yasmin, tapi langsung merasa lega, saat mendengar perkataan Abimanyu, "Sudah-sudah. Ini buat Kamu. Sekar kan baru datang. Dia tidak tahu jika minuman itu dibawa bibi buat Kamu Yasmin."


Abimanyu, menyodorkan gelas minumannya lada adiknya, Yasmin. Ini justru membuat Yasmin berada di awang-awang. Dia merasa jika mas_nya, Abimanyu, masih memperhatikan dan menyayanginya, dan itu tidak di geser siapa pun. Termasuk istrinya sendiri, yaitu Anjani.


"Terima kasih Mas," kata Yasmin dengan nada manja. Dia juga bergerak mendekat ke arah tempat duduknya Abimanyu.


"Mas, Jani ke kamar dulu ya. Mulai mengantuk ini," kata Anjani, pamit untuk pergi ke kamar.


"Iya. Istirahatlah," jawab Abimanyu sambil mengangguk membiarkan Anjani pergi ke kamar terlebih dahulu.


Yasmi jadi merasa senang. Dia berpikir jika Anjani cemburu karena kedekatannya dengan kakaknya itu. Dia berencana untuk membuat Anjani lebih cemburu lagi, dengan bermanja-manja pada Abimanyu, sama seperti waktu dia kecil dulu.


"Sepertinya ini lebih kena dari pada semua rencana yang dulu. Dia akan semakin kesal, dan berpikir jika mas Abi lebih perhatian padaku dari pada dengan dirinya."


Yasmin tersenyum dalam hati. Dia mendapatkan ide bagus, dan akan segera dia laksanakan. Dia merasa senang karena akan mendapatkan dukungan dari ibunya, ibu Sofie, mengenai semua rencananya tadi.

__ADS_1


"Ibu akan senang dan mendukungku. Aku tidak perlu capek-capek membuat dua tidak betah berada di rumah ini. Mungkin bisa jadi, dua akan minta cerai pada mas Abi, karena berpikir jika mas Abi tidak benar-benar mencintai dirinya."


Begitulah pikiran Yasmin. Dia tersenyum miring sambil minum minuman yang tadi diberikan oleh kakaknya, Abimanyu. Sedangkan Abimanyu, meminum minuman dari gelas bekas istrinya yang masih ada separo lebih.


__ADS_2