
Sehari setelah acara pertunangan dilaksanakan, Awan dan Abimanyu, harus sudah kembali ke Amerika.
Mereka berdua, tidak mungkin berada di Indonesia dalam waktu yang lama, karena banyaknya tugas yang sudah menunggu mereka.
Meskipun sebenarnya, baik Awan ataupun Abimanyu, masih ingin berada di Indonesia lebih lama lagi.
Tapi karena tugas, yang merupakan tanggung jawab, mereka tidak bisa mengabaikan begitu saja. Karena, mereka berdua bukanlah orang-orang yang egois, dan mementingkan kepentingan dirinya sendiri.
Anjani dan kedua anaknya, Ara dan Anggi, masih bisa terus berada di Indonesia untuk waktu seminggu lagi.
Karena Ara, dalam masa skorsing, yang sudah ditentukan oleh dekan.
Begitu juga dengan Anggi. Dia baru saja selesai dengan ujian akhir tahun, dan akan naik kelas untuk depannya nanti.
Jadi saat ini, mereka bertiga, memutuskan untuk berlibur terlebih dahulu di Indonesia.
"Mas tidak apa-apa kan, sendiri di sana?" tanya Anjani, saat membantu suaminya, Abimanyu, untuk merapikan koper yang akan dibawa kembali ke Amerika.
Bukan sebuah koper yang besar. Hanya koper kecil, untuk barang-barang pribadi dan beberapa oleh-oleh, untuk teman-teman dekatnya, yang ada di kantor.
Tapi tentu saja, Anjani yang lebih bisa rapi, untuk menata koper tersebut, dibanding jika Abimanyu yang menatanya sendiri.
"Tidak apa-apa Bun. Tapi jangan lebih dari seminggu ya! Ayah akan merasa sangat kesepian nanti," jawab Abimanyu, dengan memegangi kedua pundak istrinya itu.
Sekarang, Anjani yang sudah selesai prepare untuk keberangkatan suaminya, membalikan badannya. Sekarang, dia menghadap ke arah suaminya.
"Ya Mas. Ara juga cuma tinggal seminggu aja waktunya. Biar dia dan Anggi melepas rindu di Jakarta dulu," ujar Anjani, dengan memegang kedua tangan Abimanyu, yang sedang berada di pundaknya.
Abimanyu menurunkan tangannya, kemudian mengengam kedua tangan Anjani.
"Ya, Mas ngerti Sayang. Jaga mereka berdua ya. Jangan lupa, itu si adek. Jangan sampai, pulang ke Amerika nanti, usilnya malah nambah."
Anjani tersenyum, mendengar perkataan yang diucapkan oleh suaminya sendiri, tentang Anggi. Anak kedua mereka, yang memang usil sedari kecil..
"Jika gak ada Anggi juga sepi kan Mas? makanya, waktu dia minta sekolah asrama, Mas menolaknya," tutur Anjani, mengingatkan Abimanyu, pada saat Anggi ingin pindah ke sekolah yang ada asramanya.
"Hehehe... iya Bun. Habisnya, jika hanya Ara, juga gak rame kan?" sahut Abimanyu, dengan terkekeh kecil, mengingat kembali, pada saat Anggi merengek minta sekolah asrama.
"Untungnya, dia percaya saja, pada saat Ara mengatakan bagaimana keadaan asrama, jika untuk anak-anak baru, dan bukan dari kalangan Amerika sendiri."
__ADS_1
"Pffh... iya, untung saja itu. Dia tidak ngeyel dan main percaya gitu aja."
Mereka berdua kembali mengingat masa-masa awal mereka hidup di Amerika.
Dan ini, adalah untuk pertama kalinya, Abimanyu pergi sendiri, balik ke Amerika tanpa istri dan anak-anaknya.
"Awan ke sini jam berapa?" tanya Anjani mengingatkan.
"Setengah jam lagi," jawab Abimanyu, setelah melihat jam di pergelangan tangannya.
"Ara sama Anggi ke mana Bun?"
Abimanyu melihat ke sekeliling ruangan, di mana dia tidak menemukan kedua anaknya itu.
"Ada di rumah ayah Edi. Tapi tadi sudah dalam perjalanan pulang kok Mas," jawab Anjani, sambil tersenyum melihat ke arah suaminya.
"Hemmm... apa kita masih ada waktu sedikit, untuk kita berdua?"
Anjani tersenyum, mendengar pertanyaan yang berhubungan dengan hal yang privasi, untuk mereka berdua.
Dan dengan senang hati, Anjani mengangguk mengiyakan permintaan dari suaminya itu.
Apalagi, Abimanyu akan pergi sendiri, dan mereka berdua, baru akan bertemu lagi untuk seminggu kemudian.
*****
Di rumah sakit.
Mita bersiap untuk pulang ke rumah. Dia minta untuk pulang terlebih dahulu, dan akan melakukan rawat jalan saja.
Dia merasa bosan dengan kondisi rumah sakit. Apalagi, saat dia mendengar kabar tentang keadaan Dika dan keluarganya, yang sekarang ini sudah tidak lagi sama seperti dulu.
Mita merasa khawatir dengan keadaan kekasihnya, yang sekarang ini sudah tidak bisa lagi dia hubungi.
"Pa. Lalu bagaimana dengan kak Dika? Di mana dia sekarang?" tanya Mita, saat papanya memberikan penjelasan, kenapa kekasihnya itu tidak pernah lagi datang ke rumah sakit.
Bahkan, telpon dan juga pesan yang dia kirim ke Dika, tidak ada satupun yang bisa sampai.
"Papa juga tidak tahu Sayang. Dan Papa tidak pernah menyangka jika, mereka adalah orang-orang yang licik dan berbuat amoral dengan penipuan seperti itu."
__ADS_1
Papanya Mita, yang juga merupakan seorang pengusaha, tentu saja tidak mau jika berurusan dengan seorang pengusaha yang tidak jujur.
Untungnya, perusahaan miliknya, baru saja bekerja sama dengan perusahaan PT ANTARA GROUPS.
Meskipun perusahaannya sudah mengeluarkan dana, untuk perusahaan PT ANTARA GROUPS, tapi itu belum bisa dikatakan dalam jumlah yang seharusnya.
Karena perusahaan milik papanya Mita, hanya mendanai kegiatan yang sedang berjalan. Dan bukannya menyerahkan dana begitu saja, untuk dikelola oleh PT ANTARA GROUPS.
Tapi sayangnya, anaknya itu, Mita, sudah terlanjur jatuh cinta pada anaknya pemilik perusahaan PT ANTARA GROUPS.
"Bagaimana kak Dika bisa bertahan hidup, jika semua fasilitas keuangan yang dia miliki dibekukan?" tanya Mita, dengan bergumam.
Dia benar-benar merasa khawatir, jika Dika tidak bisa melakukan apa-apa, untuk bisa bertahan dalam keadaan yang sulit.
Dari keterangan yang diberikan oleh papanya, keuangan keluarga Dika, seperti kartu ATM dan juga kartu kredit, sudah tidak busa lagi digunakan untuk bertransaksi.
Pihak bank, sudah mendapatkan perintah dari pihak yang berwenang, untuk membekukan semua fasilitas keuangan, baik yang digunakan oleh kedua pemilik perusahaan PT ANTARA GROUPS, dan juga keluarganya.
Dalam hal ini, Dika sebagai anak mereka satu-satunya, tentunya juga memiliki dampak yang sama seperti kedua orang tuanya juga.
Dan kini, keberadaannya malah tidak diketahui. Kedua orang tuanya juga tidak memberikan informasi, di mana anaknya itu.
Mereka berdua hanya mengatakan bahwa, anaknya itu, Dika, tidak terlibat dalam kasus yang mereka hadapi.
Karena memang Dika tidak pernah tahu, apa yang dikerjakan oleh kedua orang tuanya di luar rumah.
Dia hanya tahu bahwa, beberapa bulan kemarin, keuangan keluarganya meningkat, sehingga dia bisa meminta untuk menganti model mobil dan motor sport miliknya.
Tapi kini, semuanya sudah tidak ada lagi. Semuanya sudah disita. Dan bahkan, keberadaan Dika juga tidak diketahui.
Pada saat mamanya meminta waktu untuk bisa menelpon anaknya, nomor handphone milik Dika, sudah tidak bisa dihubungi lagi.
Dan pada saat mamanya Dika berganti untuk menelpon saudaranya yang berada di Medan ataupun Bandung, Dika juga tidak ada di sana.
Dika tidak tahu jika, mamanya yang saat ini sedang berada di dalam tahanan, sangat mengkhawatirkan keadaan dirinya.
Tapi mama dan papanya Dika juga tidak tahu bahwa, anaknya itu, Dika, sedang tidur pulas di sebuah kamar kontrakan, di pinggir kota.
Meskipun tidak ada lagi kemewahan dan kenyamanan bagi Dika, tapi itu semua lebih baik. Daripada dia ada di dalam kamar tahanan, atau di kampus. Tapi dengan tatapan mata orang-orang yang mengenalnya sebagai seorang anak dari pasangan keluarga yang korup dan penipu.
__ADS_1
Apalagi, dalam jumlah yang tidak sedikit.
**Kehidupan harus dilakukan dengan cara yang benar sesuai dengan kebutuhan. Bukan hanya sekedar sesuai keinginan.