Dia Milikku ( Berbagi Cinta )

Dia Milikku ( Berbagi Cinta )
Di Kantor Polisi


__ADS_3

Satu jam lamanya Ara dan Anggi di ruangan penyidikan. Mereka berdua, mendapatkan beberapa pertanyaan, yang diajukan oleh pihak penyidik. Terkait mereka berdua yang menjadi korban penculikan kemarin.


Tapi keduanya juga ditemani oleh lawyer, yang memang ditugaskan untuk mendampingi mereka.


Sedangkan Awan, Abimanyu dan Anjani, menunggu di luar ruangan penyidikan. Karena giliran Abimanyu bersama dengan Anjani, masih nanti. Setelah kedua anaknya selesai.


Untuk Nanda dan Miko, masih besok pagi. Jadi, mereka berdua juga tidak ikut pergi ke kantor polisi sekarang ini.


"Bagaimana Kak, Dek?" tanya Abimanyu, saat kedua anaknya ke luar dari pintu ruangan penyidikan.


"Alhamdulillah Yah, lancar."


"Gak apa-apa yah."


Ara dan Anggi, menjawab pertanyaan dari ayahnya. Dengan jawaban yang sama artinya. Mereka berdua, merasa mampu, dan bisa menjawab semua pertanyaan yang diajukan oleh pihak penyidik.


"Tuan Abimanyu dan Nyonya Anjani!"


Salah satu anggota penyidik, memanggil nama Abimanyu dan juga Anjani. Untuk segera masuk ke dalam ruangan, yang baru saja ditinggalkan oleh kedua anaknya barusan.


Lawyer masih ada di dalam. Dia menunggu, untuk mendampingi Abimanyu, bersama dengan Anjani juga.


Sedangkan Awan, kini berganti menemani istri dan adik iparnya di luar ruangan.


"Bagaimana tadi penyidik? Apa dia mengajukan pertanyaan yang memojokkan Kamu?" tanya Awan pelan, di dekat telinganya Ara.


"Tidak Kak. Mereka justru berhati-hati. Mungkin mereka takut jika, kami berdua masih ada trauma. Jika sampai ingat dengan kejadian itu."


Awan mengangguk mengerti. Dia tidak lagi bertanya, kemudian pamit untuk keluar sebentar. "Kakak ke depan sebentar ya! Mau beli minum."


Ara mengangguk. Sedangkan Anggi, memesan minuman dengan rasa coklat vanila.


"Anggi mau yang rasa coklat vanila ya Kak Awan. Tapi jika gak ada, yang buah juga gak apa-apa kok. Hehehe..."


Awan tersenyum dan mengangguk mengiyakan. "Kamu mau yang rasa apa Dek?" tanya Awan pada Ara. Karena istrinya itu tidak memesan rasa yang dia inginkan.


"Terserah. Yang ada aja," jawab Ara sambil tersenyum.


"Es tawar mau?" tanya Awan lagi, dengan maksud menggoda dan bercanda.


"Ihsss... es cekek aja. Hehehe..."


Anggi cekikikan sendiri, saat mendengar jawaban yang diberikan oleh kakaknya, soal tawaran dari kakak iparnya itu. "Es cekek. Hihihi..."


"Es cekek? Apa iTunes cekek?"


Awan justru bertanya dengan bingung. Karena dia tidak tahu dengan istilah es cekek.


Es cekek adalah minuman yang dimasukkan ke dalam plastik kiloan bening, dengan sedotan yang digunakan untuk minum.


Minuman jenis ini cukup populer dengan sebutan es cekek. Nama es cekek ini merujuk pada cara membawa minuman di mana tangan seolah seperti tengah mencekik. Karena cukup sederhana, harga es cekek pun relatif cukup murah.

__ADS_1


Biasanya digunakan oleh para anak-anak, saat membeli es teh atau es sirup. Tapi tidak diminum di tempat beli. Alias di bawa pulang.


"Oh..."


Mulut Awan membola, saat Ara memberikan penjelasan kepada suaminya itu, tentang es cekek tadi.


Sedangkan Anggi, hanya meringis saja. Karena sebutan es cekek hanya ada di kalangan anak-anak menengah ke bawah. Tentu saja, Awan yang notabene anak konglomerat tidak akan tahu istilah tersebut.


Beberapa saat kemudian, Awan sudah kembali lagi. Di tangannya, ada plastik berisi tiga botol minuman dan beberapa camilan.


"Ini Ra, Ngi!"


Ara menerima plastik pemberian Awan, kemudian meminta pada adiknya, Anggi, untuk memilih sendiri minuman yang dia inginkan.


"Ini camila nya juga Dek."


"Nanti aja Kak."


Anggi langsung membuka tutup botol minuman yang dia pilih, kemudian meminumnya hingga setengah. Ternyata, menjawab pertanyaan dari para penyidik tadi, membuatnya kehausan juga.


Begitu juga dengan Ara. Dia juga meminum minuman, yang tutupnya dibukakan Awan hingga hampir habis.


"Ini Kalian kayak gak minum dua hari ya?" tanya Awan meledek istri dan adik iparnya itu.


"Sebulan malah," jawab Anggi asal.


"Hah!"


Awan justru melongo. Dia terkejut dengan jawaban yang diberikan oleh adik iparnya itu, yang hanya asal menjawab.


Tawa Ara yang cekikikan, menyadarkan Awan dari rasa terkejutnya.


"Eh, Kakak pikir beneran tadi. Mau Kakak daftarin ke MURI lho! Hehehe..."


Ketiganya saling bercanda. Melempar jok-jok berupa ledekan, agar tidak merasa bosan. Karena menuggu kedua orang tua mereka di ruangan penyidikan.


Satu jam berlalu. Abimanyu dan Anjani, tampak keluar dari pintu yang terbuka.


Ara langsung berdiri dari tempat duduknya. Begitu juga dengan Anggi dan Awan.


"Bagaimana Yah, Bun?" tanya Ara dengan cepat.


Sepertinya dia tidak sabar ingin tahu, apa yang ditanyakan oleh para penyidik tadi. Apakah pertanyaan yang diajukan kepada ayah dan bundanya itu, sama seperti yang tadi dia terima. Ataukah pertanyaan juga berbeda.


"Gak apa-apa Kak. Cuma tanya waktu kejadian, kronologi dan beberapa motif yang bisa dijadikan bahan penyidikan aja kok."


Abimanyu memberikan penjelasan kepada anak-anaknya, agar mereka bisa tenang dan tidak khawatir.


"Tapi gak ada intimidasi terhadap pertanyaan mereka kan Yah?" tanya Awan lebih detail.


"Gak. Gak ada semacam itu."

__ADS_1


Awan menghela nafas lega. Begitu juga dengan yang lainnya.


"Bunda mau pulang sekarang Yah. Sedikit pusing ini," ajak Anjani, yang memang tidak terbiasa berada di ruangan seperti tadi.


Tentu kesan dan perasaan akan berbeda, jika berada di dalam ruangan penyidikan. Ada rasa was-was, tertekan dan tidak nyaman. Karena semua ini akan mempengaruhi segala sesuatu, yang berhubungan dengan kasus untuk kelanjutannya nanti.


Akhirnya, mereka semua pulang. Setelah lawyer yang tadi mendampingi keluar dari dalam ruangan penyidikan.


Di parkiran, Awan dan Ara menyalami tangan kedua orang tuanya dan juga Anggi. Pamit untuk pulang ke rumahnya sendiri.


"Gak ikut pulang bersama kita Kak?" tanya Anggi saat pamit dengannya.


"Oma menunggu di rumah Dek," jawan Ara dengan tersenyum tipis.


"Besok-besok aja ya, jika gak ada acara."


Awan memberikan jawaban yang lain. Sehingga Ara menolehkan kepalanya ke arah suaminya itu.


"Ya kan, jika kita tidak ada acara. Dan gak di tunggu Oma juga di rumah. Hehehe..."


Ara hanya tersenyum tipis, mendengar penjelasan yang diberikan oleh suaminya itu. Dia juga mengeleng beberapa kali, saat melihat ke arah adiknya.


"Ayok Dek!"


Anjani memangil Anggi, supaya cepat masuk ke dalam mobil. Dia ingin secepatnya bisa sampai di rumah.


"Iy_iya Bun!"


"Kak, Anggi balik dulu ya!"


Anggi segera pamit dan masuk ke dalam mobil. Dia tidak ingin bundanya menunggu lebih lama lagi.


Tin tin!


Abimanyu membunyikan klakson mobil, tanda untuk pamit pada kedua anaknya itu.


Awan dan Ara mengangguk mengiyakan, dengan melambaikan tangan mereka ke arah mobil ayahnya.


Setelah mobil tersebut benar-benar tidak terlihat lagi, Awan mengajak Ara untuk pulang. "Kita pulang sekarang ya!"


"Kak," panggil Ara, tanpa berniat untuk mengikuti ajakan Awan.


Awan menaikkan satu alisnya, untuk bertanya pada Ara.


"Kita jalan-jalan yuk! Ara bosan tadi di kantor polisi," ajak Ara dengan merajuk.


"Eh, tapi..."


"Nanti Ara yang telpon Oma."


Sepertinya, Ara tidak mau ada penolakan. Dia ingin membuang pikirannya yang kusut sejak penculikannya kemarin itu.

__ADS_1


Mungkin, di luar dia tampak biasa saja. Tapi di dalam hati dan pikirannya, ada banyak sekali pertanyaan dan praduga tentang perampokan dan penculikan dirinya.


Tapi dia tidak mau mengatakan apa-apa pada siapapun. Karena ini akan menjalar ke mana-mana. Jika sampai benar apa yang dus pikirkan.


__ADS_2