
Dulunya, Dika kuliah di Malaysia. Tapi, satu tahun terakhir ini, dia baru saja pindah kuliah di Jakarta.
Dika pindah karena, ke dua orang tuanya, sedang ada masalah keuangan.
Dan oleh karena itu juga, akhirnya untuk mengurangi pengeluaran keuangan mereka, Dika diminta oleh mamanya, untuk kembali pulang, dan kuliah di di universitas yang ada di Jakarta saja.
Dan baru beberapa bulan lalu, perusahaan mama dan papanya Dika, bekerja sama dengan perusahaan orang tuanya Mita.
Dari kedekatan kedua orang tuanya itulah, akhirnya Dika dan Mita ikut dekat juga. Apalagi, Dika yang masih berambisi untuk mendapatkan Ara, mencari tahu tentang keberadaan dan kabarnya Ara, dari Mita.
Tapi karena dia terlalu gengsi untuk bicara soal Ara, akhirnya dia terpaksa harus meminta Mita untuk menjadi kekasihnya.
Dengan manjadi kekasih Mita, jika sedang berbincang-bincang ke mana-mana yang tidak jelas, Dika sesekali bisa menyingung soal Ara, dengan pura-pura bertanya pada Mita.
*****
Di dalam mobil sport mewah Dika.
"Tadi Gue ketemu sama si Nanda. Kamu masih ingat gak sama kakak sepupunya si Ara, teman Kamu itu?" tanya Dika, yang berusaha menyingung Ara, dengan pertemuannya yang tidak sengaja dengan Nanda di kampus tadi.
"Sudah lama banget, gue gak pernah liat batang hidungnya Ara," kata Dika lagi, melanjutkan pertanyaannya yang belum dijawab oleh Mita.
"Kapan ketemu kak Nanda?"
Mita justru bertanya balik, dengan menanyakan tentang Nanda.
Dika menoleh sekilas, ke arah tempat duduknya Mita. Dia sedikit kesal, karena Mita tidak menjawab pertanyaannya, dan justru bertanya soal Nanda kepadanya.
"Kok nanyain Nanda sih?" tanya Dika, yang terlihat sekali jika sedang dalam mode kesal.
Dan ini membuat Mita salah paham. Dia berpikir bahwa, pacarnya itu, Dika, merasa cemburu, karena dia bertanya tentang Nanda.
"Ciehhh... cemburu nih. Hihihi..."
Mita terkikik sendiri, dengan wajah yang sumringah, karena merasa bahagia.
Tentu saja Mita merasa bahagia, karena Dika seperti terlihat sedang dalam keadaan cemburu.
Itu artinya, Dika memang benar-benar mencintainya.
Bukan seperti yang awal-awal Mita sangka bahwa, Dika hanya menjadikan dirinya pacar, karena hubungan kedua orang tuanya, yang sedang berbisnis.
"Apa sih!"
"Itu tadi di kampus, ada acara amal korban banjir. Dan ternyata ketua panitianya si Nanda."
Akhirnya, setelah tadi terdiam dan merasa kesal, Dika menjawab juga pertanyaan yang diajukan oleh Mita.
"Wah, jiwa kepemimpinan dan sosial Kak Nanda tetap ada ya. Gak berubah sedari dulu."
"Ck. Malah bahas soal Nanda."
Dika mengerutu sendiri, setelah mendengar perkataan Mita, yang secara tidak langsung, memuji Nanda.
"Hihihi..."
Mita masih dalam keadaan tertawa-tawa kecil, meskipun Dika dalam keadaan mengerutu dan kesal, karena harus menjawab pertanyaannya.
__ADS_1
Padahal sebenarnya, di dalam hatinya Dika juga masih berharap, agar Mita segera menjawab pertanyaan yang tadi, soal Ara.
"Ara... dia sekarang tidak ada di Jakarta Kak Dika."
Mita pun akhirnya menjawab pertanyaan dari Dika, yang pada awalnya bertanya tentang Ara.
Dika dengan cepat menoleh ke arah Mita, yang bicara tanpa melihat ke arahnya.
Mita menatap lurus ke depan, karena sedang teringat akan teman baiknya itu.
"Maksudnya, Ara kuliah di luar kota?" tanya Dika, beberapa saat kemudian, setelah dia kembali lagi dalam keadaan menatap jalanan.
"Bukan."
Jawaban Mita, kembali membuat Dika menolehkan kepalanya ke arah dirinya.
Tapi Dika tidak lagi bertanya. Dia hanya menunggu Mita, untuk menjelaskan jawaban, tentang keberadaan Ara sekarang ini.
Dan benar saja. Tak lama kemudian, Mita kembali bersuara, untuk menjelaskan pada kekasihnya itu, tentang pertanyaannya soal keberadaan Ara, sepupunya Nanda.
"Ara saat ini ada di Amerika. Lebih tepatnya ada di Atlanta."
Dika mengerutkan keningnya, mendengar penjelasan Mita tentang keberadaan Ara, yang sudah lama dia cari-cari.
"Jauh sekali."
Mita tersenyum tipis, mendengar perkataan Dika, yang menanggapi jawabannya.
"Ya. Jauh sekali memang. Dan itu sejak dia naik ke kelas delapan beberapa tahun yang lalu."
Sekarang, Dika mengangguk-anggukkan kepalanya, tanpa berkomentar lagi soal keberadaan Ara.
Begitulah batin Dika, yang memang sudah tidak pernah bertemu lagi dengan Ara, sejak dia mengikuti ujian dan kelulusan.
Dia hanya melihat Nanda, yang pulang pergi ke sekolah sendiri.
Padahal, biasanya Nanda selalu menempel dengan Ara, adik sepupunya, yang dia jaga sama seperti menjaga kekasihnya sendiri.
"Apa Kamu masih sering bertukar kabar dengan Ara?"
Dika kembali bertanya, setelah beberapa saat terdiam dan tidak ada pembicaraan di antara mereka berdua.
Mita hanya menggelengkan kepalanya, tanpa menoleh ke arah kekasihnya, Dika.
Meskipun tidak menjawab, Dika tahu, apa yang menjadi jawabannya.
Selama Ara ada di Amerika sana, Mita memang tidak pernah bertukar kabar dengan temannya itu. Ini karena Ara, ada di sekolah asrama.
Dan Mita juga baru tahu, saat dirinya berbincang-bincang dengan Nanda, sewaktu berada di kereta api, saat dirinya pulang ke Cirebon, dan Nanda ke Jawa Timur.
Tapi tentu saja, Mita tidak membahas tentang Nanda, dan apa yang dia ketahui tentang Ara dari Nanda.
Dia tidak mau jika, Dika akan merasa cemburu lagi pada Nanda.
Mita tidak tahu, apa dan bagaimana sebenarnya perasaan Dika terhadap dirinya.
*****
__ADS_1
Di kampus, Nanda sedang menunggu semua orang, yang tadi ikut dalam acara pengalangan dana, untuk menghitung dan menyusun rencana selanjutnya, untuk menyalurkan dana yang sudah di terkumpul.
"Kak, tinggal dua orang yang belum datang. Tapi sudah di kabari, untuk segera kembali ke pos."
Nanda mengangguk mengerti, dengan apa yang dikatakan oleh temannya, satu tim.
"Iya, tidak apa-apa. Kita tunggu mereka."
Yang lain pun akhirnya ikut mengangguk, mengiyakan perkataan Nanda.
"Nda, besok yang mau ke lokasi penampungan korban siapa? terus ini diberikan dalam bentuk uang, barang-barang atau bagaimana?"
Salah satu anggota tim, bertanya pada Nanda.
"Kita ikut rencana awal. Kita serahkan semua uang yang terkumpul, pada panitia atau ketua yang ada di penampungan. Biar kita tidak terlalu ribet, untuk membelanjakan dan membawa barang-barang ke sana."
"Lagi pula, kita juga ada banyak tugas dari kampus. Kasihan yang harus kejar-kejar waktu, karena bentrok dengan acara ini."
Nanda menjelaskan lagi, bagaimana caranya menyalurkan dana yang sudah mereka kumpulkan tadi.
"Sippp. Ok kalau begitu Nda. Kita secepatnya menyerahkan uang tersebut, agar tidak ada tanggungan lagi. Biar plong!"
"Setuju-setuju."
"Ya, Gue setuju itu."
"Begitu lebih aman."
"Hebat ya kita semua. Hahaha..."
"Huh, muji diri sendiri!"
"Ye... nunggu di puji orang lain kelamaan!"
"Hahaha..."
Mereka banyak juga yang bercanda, menghilangkan kejenuhan dalam keadaan yang tadi mereka ikuti.
"Bagus-bagus. Aku ikut lagi ya, jika ada acara-acara seperti ini. Aku diajak ya!"
"Sip. Gampang itu."
"Nda. Jangan lupa ya catat nama-nama peserta kita ini."
"Ok."
Beberapa orang memberikan apresiasi yang baik, untuk semua usaha mereka bersama ini.
Dan untuk yang belum pernah ikut, jadi tertarik untuk bisa ikut lagi, jika ada kegiatan yang sama seperti yang mereka lakukan tadi.
Keseruan dan candaan yang mereka lakukan, hanya sekedar penghilang rasa jenuh dan bosan saja.
Yang pasti, tujuan utama mereka adalah untuk kebaikan dan membantu orang yang membutuhkan.
Nanda hanya mengangguk dan tersenyum, mendengar perkataan teman-temannya itu.
Dia merasa senang, karena bisa mengisi waktu dengan kegiatan yang positif dan membawa kebaikan untuk orang lain bersama dengan yang lainnya.
__ADS_1
Ini untuk melatih jiwa sosial mereka dan kepekaan terhadap lingkungan. Dan ini juga kebaikan untuk diri mereka sendiri, meskipun secara tidak langsung.