
Dua hari Anjani berada di Jakarta. Ini juga karena Abimanyu, ada beberapa pekerjaan yang harus dia ambil secepat mungkin, karena ada perusahaan yang memintanya cepat mengerjakan pekerjaan itu dalam waktu dekat ini.
"Bu, bisa Jani bantu?" tanya Jani, pada ibu mertuanya yang sedang berada di dapur bersama bibi pembantu.
"Kamu bisa masak? kan yang masak di kafe Kamu itu orang lain, bukan Kamu sendiri."
Dengan jelas, ibu mertuanya meragukan kemampuan Anjani dalam memasak. Ibu Abimanyu, berpikir jika Anjani tidak bisa mengerjakan urusan dapur.
Anjani, hanya tersenyum tipis mendengar perkataan yang pedas dari ibu mertuanya. Dia merasa disepelekan, tapi dia hanya diam dan mengerjakan yang lain. Yaitu, membersikan alat-alat dapur yang sudah selesai dipakai dan ada di tempat cucian piring.
Ayah mertuanya, datang ke dapur dan meminta tolong pada ibu mertuanya untuk ke depan. Ada tukang paket yang mencari dirinya.
"Bu, tolong keluar sebentar. Ada paket itu lho di depan!" panggil ayahnya yang, pada istrinya.
"Wah, sudah datang ya paketnya? cepat juga ya," jawab ibu Abimanyu, dengan tersenyum senang karena paket pesanannya sudah datang.
Sekarang, Anjani dan bibi pembantu yang ada di dapur, karena ibunya Abimanyu sudah pergi ke depan rumah, menemui kurir paket.
"Bi. Masak apa? Jani bantu ya, biar Jani juga bisa belajar masak." Anjani, meminta ijin pada bibi pembantu, untuk membantunya memasak.
"Boleh non. Tadi ibu ingin masak ikan asam pedas manis. Bibi sudah bersihkan ikannya kok, tinggal bikin bumbunya ini." Bibi pembantu, menerangkan pada Anjani, apa yang akan dia masak tadi bersama dengan ibu mertuanya itu.
"Ya sudah, biar Jani yang kerjain. Bibi bisa masak yang lainya ya," kata Anjani, menyanggupi untuk melanjutkan pekerjaan yang tadi, yaitu membuat ikan asam pedas manis.
"Non... non bisa?" tanya bibi, meragukan kemampuan Anjani dalam memasak makanan. Dia berpikir seperti itu, karena tadi ibu majikannya, mertuanya Anjani, berkata seperti meremehkan Anjani dalam hal memasak.
__ADS_1
Anjani, hanya tersenyum tipis dan melanjutkan pekerjaan tanpa banyak bicara. Dia dengan telaten, memilih-milih bumbu yang akan dia gunakan.
Bibi pembantu, tercengang melihat kepiawaian Anjani. Dia merasa malu, karena ikut berkata-kata yang tidak pantas, dengan meremehkan kemampuan Anjani.
"Wah Non, bisa hafal gitu dengan semua bumbu-bumbu dapur tanpa bertanya pada Bibi. Maaf ya Non, Bibi tadi ikut meragukan kemampuan Non Jani dalam urusan masak."
Anjani menoleh sekilas ke arah bibi pembantu. Dia hanya tersenyum dan kembali melanjutkan pekerjaannya. Sedangkan bibi, menyesal karena telah ikut-ikutan terprovokasi oleh majikannya sendiri.
"Sepertinya, non Jani akan mendapatkan perlakuan yang kurang baik di rumah ini. Secara, ibu mertuanya saja seperti tadi saat bicara. Padahal non Jani, bicara baik-baik dan menawarkan diri untuk mambantu. Kasihan dia, semoga yang lain tidak ikut-ikutan terprovokasi, sama seperti Aku tadi," kata bibi pembantu dalam hati. Dia tidak tahu, jika di rumah ini, Anjani memang kurang di terima dengan baik oleh penghuninya. Yaitu, adik-adiknya Abimanyu tidak menyukai kakak iparnya itu.
Bibi pembantu, masih memperhatikan Anjani sesekali. Dia melirik-lirik untuk melihat bagaimana Anjani dengan luwes menggoreng ikan tanpa harus ada drama terkena cipratan minyak goreng. Dia juga memerhatikan bagaimana Anjani, membumbui ikan itu dan memasaknya lagi, sehingga aromanya jadi menguar harum dan menggugah selera.
Dia jadi bersimpati dan kagum dengan Anjani, setelah melihat semua itu. Ternyata, penilaiannya di awal tadi salah besar.
Saat semua hampir beres, dan ikan asam pedas manis sudah matang, tinggal menuangkan ke piring saji, Anjani pamit ke kamar mandi karena ingin buang air kecil.
"Huh, hanya basa-basi. Nyatanya, di tinggal keluar, dia juga ikutan pergi. Hanya cari muka saja!" Ibu mertua Anjani, menggerutu dalam hati, menilai jika Anjani tidak bisa dipercaya bisa mengerjakan pekerjaan rumah.
"Sudah matang ya Bi. Hemmm... harumnya. Tumben Bi, tidak perlu Saya tunggu sudah bisa kayak gini? Biasanya harus ditunggui karena bibi kan tidak hafal dengan bumbunya saat yang tepat. Ini pasti lezat, karena terlihat sempurna."
Bibi pembantu hampir saja bicara yang sebenarnya, yaitu bukan dia yang memasak, tapi Anjani, menantunya itu. Tapi, bibi pembantu tidak jadi bicara yang sebenarnya, karena dari arah belakang majikan ceweknya itu, ada Anjani yang tampak menggeleng, dengan menaruh satu jari telunjuk di depan bibir. Memintanya tetap diam dan tidak mengatakan yang sebenarnya terjadi.
Akhirnya, bibi pembantu hanya bisa diam dan tidak menjawab pertanyaan dari majikannya itu. Dia tidak tahu, kenapa Anjani melakukan semua ini. Padahal, dia bisa membelanya tadi.
*****
__ADS_1
Saat makan malam.
Semua orang sudah berkumpul untuk makan malam bersama. Malam ini, adalah malam terakhir Anjani dan Abimanyu ada di rumah ini. Besok sore, mereka berdua akan pulang ke Bogor, ke rumah Anjani.
"Wah Bu, masak ikan asam pedas manis ya. Hemmm... baunya enak. Siapa yang masak?" tanya ayahnya Abimanyu pada sang istri.
"Tadi ibu yang mau masak, tapi Ayah panggil Ibu keluar karena ada kurir paket kan tadi? jadi bibi yang melanjutkan masak. Semoga saja enak, sama seperti penampilan dan aromanya juga," jawab istrinya, yang masih meragukan rasa dari makanan tersebut.
"Kalau tidak enak, Aku tidak mau makan," kata salah satu dari adik Abimanyu. Yang lain, ikut-ikutan mengangguk sambil menuangkan nasi ke piringnya sendiri.
Anjani, hanya diam saja dan tidak berkata apa-apa, untuk mengatakan yang sebenarnya.
Saat sang ayah sudah diambilkan nasi dan potongan ikan oleh istrinya, dia mencicipi ikan itu terlebih dahulu. Ayah tahu, jika yang lain, anak-anaknya, menunggunya untuk mengatakan bagaimana rasa ikan asam pedas manis tersebut.
"Hemmm... ini lebih lezat dari biasanya. Tidak ada aroma amisnya juga," kata ayah memberikan penilaian.
Sang istri jadi merasa penasaran, karena secara tidak langsung, suaminya itu memuji makanan yang di masak bibi pembantu, dari pada masakan yang dia buat seperti hari-hari sebelumnya.
"Wah, berarti yang ibu ajarkan sukses Yah. Bibi bisa kan karena Ibu yang mengajari," kata sang istri, membela diri dengan mengatakan jika dialah yang mengajari bibi pembantu memasak yang enak seperti ini.
Ayah tersenyum dan mengangguk, mendengar perkataan istrinya itu. Dia tidak mau berdebat, hanya karena soal masakan yang dia puji. Dia juga merasa bersalah karena sudah memuji masakan orang lain dan bukan hasil masakan istrinya itu.
Adik-adiknya Abimanyu, dengan segera ikut mengambil ikan tersebut, setelah mendengar penilaian dari ayahnya. Mereka berdua ingin tahu, apakah yang dikatakan ayahnya itu benar atau tidak.
"Eh iya benar. Ternyata enak. Wah Bu, ini tidak seperti biasanya," kata anaknya yang lain, memberikan penilaian yang sama seperti yang dilakukan oleh ayahnya tadi.
__ADS_1
Sang ibu, jadi ikut merasa penasaran dan mencicipi daging ikan tersebut. Setelah itu, dia akhirnya terdiam dan merasa ragu, jika ikan asam pedas manis ini adalah hasil masakan dari bibi pembantu. Tapi, dia juga tidak mungkin berpikir jika Anjani_lah yang sudah memasak makanan untuk lauk makan malam mereka ini. "Tidak mungkin Anjani kan? tadi dia tidak ada di dapur saat Aku datang," tanya ibu Abimanyu, di dalam hatinya sendiri.
Begitulah kira-kira, pertanyaan dan pikiran yang ada di hati ibu mertua Anjani. Dia tidak mungkin percaya, jika Anjani yang sudah memasak.