
Satu tahun sudah berlalu. Semua berjalan dengan baik, sebagaimana mestinya.
Awan sudah lulus kuliah di Amerika, dan sedang mempersiapkan diri untuk menjadi pemimpin perusahaan yang ada di Amerika juga. Karena Abimanyu, sudah ingin berada di Indonesia saja.
Ara, masih ada di pertengahan waktu untuk bisa lulus kuliah. Sekitar satu tahun lagi.
Dan Anggi, masih dua tahun kemudian, baru lulus dari sekolah dasarnya di sana.
Tapi itu tidak menjadi masalah besar, bagi Anggi sendiri. Dia bisa bebas melanjutkan sekolahnya. Baik di Indonesia ataupun terus berada di Amerika. Karena Ara juga masih harus menyelesaikan studinya terlebih dahulu.
"Ayah gak bisa gitu, ada di Amerika dulu?" tanya Anggi, yang merasa keberatan dengan keputusan yang diambil oleh ayahnya, Abimanyu.
"Ayah masih ada beberapa bulan di sini Dek. Mendampingi kak Awan, sebelum benar-benar Ayah lepas untuk memegang perusahaan sendiri."
Sebenarnya, Abimanyu merasa jika dia sudah tidak mampu beradaptasi dengan iklim yang ada di Amerika.
Tubuhnya yang sudah tidak senormal orang-orang pada umumnya, akibat kecelakaan yang dulu. Dan juga umur semakin tua, tidak bisa diatasi dengan hanya sekedar obat.
Anjani, sebenarnya juga tidak tega, jika harus memilih berpisah dengan kedua anaknya, atau dengan suaminya.
Tapi, dari pihak keluarga Mama Amel sendiri, Anjani diberikan kebebasan bersama dengan Abimanyu.
Dan akhirnya, Anjani memilih untuk pulang ke Indonesia, beberapa bulan ke depan. Sedangkan kedua anaknya, akan terus berada di Amerika, karena menyelesaikan pendidikan mereka berdua.
Untuk kepentingan mereka sendiri, Ara dan Anggi, akan menempati mension milik keluarga Awan.
Dengan tinggal di mension, ada pelayan dan juga supir yang siap antar jemput Anggi ke sekolah. Begitu juga dengan Ara jika harus pergi ke kampus.
Dan untuk Awan sendiri, tetap berada di flat sederhana miliknya, selama dia belum menikah dengan Ara.
"Ayah..."
Anggi berdiri dari tempat duduknya, kemudian berlari menuju ke tempat ayahnya duduk. Dia memeluk ayahnya itu, dari arah samping.
"Hiks... balik ke Jakarta besok aja Yah. Waktu kak Ara dan Kak Nanda udah nikah. Jadi, Anggi juga gak kelamaan sendiri di Amerika sini," tutur Anggi, yang merajuk pada ayahnya.
Anggi merasa sedih, dan juga bimbang. Dia tidak mau berpisah dengan ayah dan bundanya. Tapi, dia juga tidak mau pindah sekolah, dan ingin menyelesaikan pendidikan sekolah dasarnya di Amerika saja.
"Sayang. Adek. Dengar apa yang Ayah katakan ya!"
"Adek bisa terus ada di Amerika, bersama dengan kak Ara. Tapi jika Adek gak mau ya... terpaksa, harus pulang juga ke Indonesia. untuk sekolah, bisa lanjut di Jakarta saja. Ambil yang berstandar internasional."
__ADS_1
Abimanyu memberikan penjelasan dan beberapa masukan untuk anaknya, Anggi.
Dan itu diangguki juga oleh istrinya, Anjani, bersama dengan anaknya yang pertama. Ara.
"Hiks. Tapi Yah..."
"Kenapa lagi?" Ara bertanya, memotong kalimat Anggi yang belum selesai diucapkan.
"Kakak sih enak. Di Amerika juga bareng kak Awan. Kan gak lama lagi juga nikah. Anggi bagaimana?"
Ternyata, Anggi merasa sendiri. Seandainya kakaknya itu sudah menikah nantinya.
"Eh, apa maksudnya gitu?" tanya Ara cepat. Dia merasa bingung, dengan apa yang dipikirkan dan dikatakan oleh adiknya itu.
Anjani, yang sedari tadi hanya diam dan tidak mengatakan apa-apa, sekarang tersenyum tipis. Karena akhirnya dia tahu, apa yang membuat Anggi merasa bimbang dan juga bingung dengan apa yang harus dia putuskan.
"Dek. Kakak nikah masih setahun lagi. Sedangkan Ayah dan Bunda, akan balik ke Jakarta dua bulan lagi. Jadi, terserah Adik juga, mau tetao ada di sini, atau pulang ke Jakarta."
"Agh... Bunda. Hiks... maunya Ayah dan Bunda, tetao ada di sini!"
Anggi terus merajuk, tanpa mau tahu, apa yang sebenarnya terjadi pada ayahnya.
Ara memanggil adiknya itu, kemudian mengelengkan kepalanya, di saat Anggi sudah melihat ke arahnya.
Sebenarnya, Ara sudah tahu, apa permasalahan yang dihadapi oleh ayahnya. Dari kondisi kesehatan, dan umur. Ayahnya itu memang sudah diharuskan tidak bekerja dengan beban pikiran yang berat.
Dan memimpin suatu perusahaan, membutuhkan tenaga, pikiran, dan juga konsentrasi penuh. Supaya perusahaan yang dipimpin tetap bisa berjalan dengan baik dan maju, sebagaimana mestinya.
Tapi, tentu saja itu tidak terpikirkan oleh Anggi, yang memang belum dewasa secara umur dan pikirannya.
Dengan melihat gelengan kepala kakaknya, akhirnya Anggi tidak lagi merajuk seperti tadi. Meskipun isakan tangisnya belum bisa dia hentikan.
*****
Saat ada di dalam kamar, Ara akhirnya memberikan pengertian kepada adiknya itu.
Dia tidak mau jika, apa yang diminta oleh Anggi pada ayahnya tadi, akan mempengaruhi kesehatan ayahnya juga.
"Hiks... Tapi Kak. Anggi harus bagaimana nantinya? Jika tidak ada ayah dan bunda di sini."
"Ada Kakak Dek. Tapi jika Kamu tidak mau, ya terpaksa. Kamu ikut pulang bersama ayah dan bunda ke Jakarta."
__ADS_1
Ara memberikan pilihan untuk Anggi. Jika ingin melanjutkan sekolahnya di Amerika sini, dia tidak bisa ikut pulang bersama ayah dan bundanya ke Indonesia.
Tapi, Anggi juga tidak boleh memaksakan kehendaknya, supaya kedua orang tuanya itu tetap mengikuti keinginannya.
Dan jika Anggi tidak mau bersama Ara di Amerika, dia harus merelakan pendidikannya, dengan pindah sekolah di Jakarta.
"Baiklah. Anggi pikir-pikir dulu ya Kak. Ayah juga masih dua bulan lagi kan pulangnya?"
Ara mengangguk mengiyakan pertanyaan yang diajukan oleh adiknya itu.
"Kita juga harus memikirkan kesehatan ayah Dek. Jangan minta ayah untuk memaksakan diri, karena ikut apa yang kita mau."
Anggi akhirnya bisa mengerti, dengan apa yang dikatakan dan dijelaskan oleh kakaknya.
"Kak. Ayah akan tetap sehat kan? Ayah gak akan pernah ninggalin kita kan Kak?"
Ara justru menangis sendiri, saat mendengar pertanyaan yang diajukan oleh adiknya itu.
Dia jadi teringat, saat masih kecil, dan bagaimana keadaan ayahnya waktu itu. Dengan segala kekurangan dan perjuangan bundanya, hingga saat ini.
Ara pun akhirnya menceritakan tentang keadaan keluarga mereka, saat Anggi belum ada di dunia ini. Waktu itu, Ara masih kecil dan belum bersekolah.
"Kakak... Anggi gak akan rewel lagi. Hiks... Anggi gak akan manja-manja lagi."
Akhirnya Anggi tahu, bagaimana keadaan ayahnya itu, dari cerita kakaknya, sebelum dia lahir dulu.
"Makanya, jangan paksa ayah untuk tetap ada di sini. Karena kesehatan ayah jauh lebih penting Dek."
Anggi pun mengangguk. Mengiyakan perkataan yang diucapkan oleh kakaknya. Sekarang, dia berjanji dalam hatinya sendiri, jika dia tidak akan pernah meminta ayahnya, untuk mengikuti kemauannya.
"Maaf Kak. Anggi gak tau. Ayah juga gak pernah mengeluhkan kondisi tubuhnya selama ini."
"Iya Dek. Gak mungkin juga kan, ayah mengeluh pada kita? Dia gak mungkin mau membuat kita khawatir dengan kondisi kesehatannya," sahut Ara, dengan wajahnya yang sendu.
"Kalau begitu, Anggi pulang aja ke Jakarta ya Kak? Kakak gak apa-apa kan di sini sendiri?" tanya Anggi, memutus apa yang dia inginkan.
"Gak apa-apa. Kakak juga gak bisa pergi kan? nanggung ini kuliahnya mau kelar."
Akhirnya, Anggi memeluk kakaknya itu dengan erat. "Maaf ya Kak. Anggi gak akan manja-manja lagi."
Tak lama kemudian, mereka berdua bersiap-siap untuk tidur. Karena malam sudah semakin larut.
__ADS_1