Dia Milikku ( Berbagi Cinta )

Dia Milikku ( Berbagi Cinta )
Abimanyu Marah


__ADS_3

Seminggu kemudian, Wawan baru bisa dibebaskan dari tahanan polisi karena uang untuk jaminan baru terkumpul. Dari Abimanyu dan Anjani, serta uang pinjaman dari ibu Sofie dan juga ayah Edi.


Yasmin merasa senang dan sangat berterima kasih pada ayah, dan ibunya. Dia juga mengatakan terimakasihnya pada Anjani dan kakaknya, Abimanyu. "Terima kasih Mas Abi, Mbak Jani. Berkat kalian juga, mas Wawan bisa bebas."


Sekarang, Wawan mencari pekerjaan sendiri. Ayah Edi, sudah tidak mau membantunya lagi, untuk mencarikan pekerjaan. Wawan pun mulai menghubungi teman-temannya, yang biasa dia ajak bermain untuk mencarikan pekerjaan untuknya. Dasarnya Wawan pandai bicara, ada saja yang percaya dan memberikan pekerjaan itu untuknya.


Sekarang, Wawan diterima bekerja pada sebuah toko percetakan, yang ada di dekat sebuah kampus swasta. Selain percetakan, pemiliknya juga punya salon yang dikelola oleh anak gadisnya, yang masih kuliah juga. Wawan pun bekerja dengan baik, dan tidak lagi berbuat ulah, karena dia tidak di bagian kasir dan memegang keuangan.


Yasmin sudah bisa tersenyum lega, karena suaminya sudah bekerja lagi. Dia mulai bersikap baik dan tidak jutek seperti dulu. Meskipun kadang-kadang, kelakuannya tetap sama, suka ngomong sesuatu tanpa dipikir terlebih dahulu, sama seperti malam ini, di saat Sekar baru saja datang dari sebuah pertemuan.


"Kakak pulang malam terus, kencan ya?" tanya Yasmin, saat melihat Sekar yang baru saja pulang. Maksud Yasmin ingin menggoda kakaknya itu, tapi sepertinya bahasa yang dia gunakan tidak bisa diterima telinga Sekar.


"Gak. Kakak sedang mempersiapkan acara wisuda minggu depan," jawab Sekar sambil berlalu ke dalam kamar. Mencoba untuk tidak menanggapi perkataan Yasmin.


Tapi dengan antusias, Yasmin mengikuti langkah Sekar dari arah belakang. Dia terus berbicara, memprovokasi kakaknya itu, dengan berbagai pertanyaan yang dia ajukan.


"Kakak kapan mau dapat pacar? sudah mau lulus kuliah juga lho ini! Masak iya nunggu Aku punya anak lagi sih!"


Perkataan Yasmin, tentu saja membuat Sekar tersinggung. Dengan cepat, Sekar membalas perkataan adiknya itu. "Aku tidak mau punya pacar hanya karena malu dan merebut pacar orang lain. Apalagi dengan insiden yang memalukan keluarga!"


Mendengar jawaban kakaknya, Yasmin menjadi marah-marah, karena disingung dengan kejadian waktu dulu. Dia tidak terima begitu saja, dengan perkataan kakaknya, Sekar, yang mengolok-oloknya.


"Huh, itu karena Kakak iri saja Aku bisa mendapatkan mas Wawan, yang sebenarnya adalah pacarnya teman Kakak yang gak jelas itu kan? apalagi, mas Wawan memang jadi rebutan banyak orang kan waktu itu?" Yasmin berkata dengan bangga, dengan apa yang dia raih selama bisa mendapatkan suaminya itu.


"Dasar tidak tahu malu Kamu Yasmin!" ucap Sekar gregetan. Dia tidak bisa mengontrol emosi lagi.


Mereka berdua bertengkar di dalam kamar Sekar. Karena kamar Sekar tidak jauh dari kamar Anjani dan Abimanyu, tentu saja mereka berdua mendengar keributan yang terjadi di kamar tersebut.


"Sekar sedang berantem sama Yasmin ya? kok kayaknya adu mulut begitu," tanya Anjani pada suaminya, Abimanyu, seraya menajamkan pendengarannya.


Karena merasa penasaran, akhirnya Anjani dan Abimanyu datang melihat apa yang sebenarnya terjadi di kamar Sekar.


"Kalian apa-apaan sih? Sudah pada besar masih saja berantem. Apa yang buat kalian berantem gini?" tanya Abimanyu, membentak kedua adiknya yang ribut malam-malam.

__ADS_1


Keduanya terdiam, tapi Yasmin tiba-tiba bicara dan menjelekkan Sekar dengan menuduhnya yang tidak-tidak.


Abimanyu tentu saja tidak langsung percaya begitu saja. Dia melihat ke arah Sekar dengan membelalakkan matanya mendengar perkataan adiknya itu, Yasmin.


"Wow, hebat ya Kamu Yasmin. Seharusnya Kamu bisa jadi pengarang cerita yang bagus. Sayangnya, itu semua kebalikan dari cerita yang Kamu buat sendiri."


Sekar melangkah ke arah laci nakas yang ada di sebelah tempat tidurnya. Dia mengambil sesuatu dari dalam laci tersebut.


Dari dalam laci, Sekar mengeluarkan sebuah plastik bening berisi botol kecil yang sudah tidak jelas tertulis apa di sana.


"Kakak bisa periksa ini ke laboratorium rumah sakit dan mencari tahu juga ke kantor polisi, untuk mencari sidik jari siapa yang ada di botol tersebut, selain punya bibi yang pastinya ada di sana."


Perkataan Sekar itu membuat Yasmin kaget, apalagi saat melihat plastik yang dipegang Sekar. Dia seakan-akan mati kutu.


Abimanyu bingung, di saat Sekar memberinya plastik tersebut. Dia tidak tahu, apa yang sebenarnya dimaksudkan oleh adiknya itu.


"Ini apa?" tanya Abimanyu sambil melihat isi plastik tersebut.


Anjani juga melihat dengan bingung. Dia merasa ada sesuatu yang akan terjadi, dengan adanya barang tersebut.


Anjani dan Abimanyu, kaget saat mendengar jawaban Sekar. "Maksud Kamu?" tanya Abimanyu ingin kejelasan. Dia tidak mengerti, kemana arah perkataan adiknya, Sekar.


Akhirnya Sekar menceritakan tentang botol yang ada di dalam plastik tersebut, dan dari mana dia mendapatkannya juga.


Yasmin menundukkan kepalanya saat Sekar mulai menceritakan tentang botol obat itu. Dia tidak pernah menyangka, jika kakaknya mengetahui tentang kelakuannya, yang tidak pernah diketahui oleh orang lain.


"Benarkah itu Yasmin?" tanya Abimanyu yang tidak percaya begitu saja dengan semua yang sudah diceritakan oleh Sekar. Dia tidak menyangka jika adiknya itu tega melakukan semua ini pada istrinya.


Anjani menangis saat tahu, jika kejadian yang sudah membuatnya kehilangan anak pertamanya itu, adalah adik iparnya sendiri, yaitu Yasmin.


"Maaf Kak," ucap Yasmin dengan menunduk.


Plak!

__ADS_1


Abimanyu menampar Yasmin.


Sekar, Anjani dan terlebih lagi Yasmin, tentu saja merasa kaget. Mereka bertiga tidak pernah menyangka jika Abimanyu akan melakukan tindakan seperti itu.


Yasmin memegang pipinya yang terasa sakit, akibat tamparan tersebut. Dia menangis terguguk sambil menunduk.


"Ayo Sayang, sebaiknya kita pindah ke rumah kita sendiri malam ini. Aku tidak mau, hidup diantara ular yang kita rawat, dan ternyata dia itu berbisa!"


Kali ini, Abimanyu benar-benar marah. Dia tidak bisa mentolerir kelakuan adiknya itu, Yasmin. Dia juga tidak mau, jika terjadi sesuatu lagi pada istrinya dan juga calon anaknya di kemudian hari.


Anjani hanya mengangguk dengan masih dalam keadaan menangis. Dia sendiri juga tidak habis pikir kenapa adik iparnya setega itu terhadapnya, apalagi menghilangkan calon anaknya, yang sebenarnya juga keponakannya sendiri.


Keributan yang terjadi di dalam kamar Sekar, terdengar oleh ayah Edi dan ibu Sofie, yang berada di dalam kamarnya sendiri. Di lantai bawah. Apalagi saat melihat Anjani dan Abimanyu turun dari tangga dalam keadaan Anjani yang menangis dan Abimanyu terlihat marah.


"Apa yang terjadi?" tanya ayah Edi ingin tahu.


"Ada apa Abi?" Ibu Sofie ikut bertanya kepada anak laki-lakinya itu.


"Kami akan pindah ke rumah kami sendiri, malam ini juga," jawab Abimanyu, dengan menekan kata 'pindah' biar ibu dan ayahnya bertanya lagi, untuk mengetahui alasannya.


"Kenapa mendadak?" tanya ayah Edi bingung.


Sedari kemarin-kemarin, tidak ada perbincangan tentang kepindahan anaknya itu ke rumah barunya. Tapi tiba-tiba malam ini, Abimanyu mengatakannya dengan nada yang tidak biasa. Tentu saja, ini membuat ayah Edi bertanya-tanya.


"Kami tidak mau terjadi sesuatu pada anak kami lagi. Kami juga tidak mau hidup bersama dengan ular yang berbisa!"


Abimanyu masih menjawab pertanyaan dari ayahnya dengan nada kesal. Dia benar-benar marah dan kecewa dengan kelakuan adiknya, Yasmin.


"Maksud Kamu apa, ular berbisa?" tanya ibunya dengan heran, saat mendengar jawaban dari Abimanyu yang tidak dia ketahui apa kejelasannya.


"Tanyakan pada anak Ibu yang sudah punya keluarga, tapi seperti anak kecil yang sering membuat masalah!"


Setelah berkata demikian, Abimanyu kembali melangkah seraya mengadeng Anjani yang masih terus menangis. Dia tidak lagi mempedulikan pertanyaan dari ibunya.

__ADS_1


Ayah Edi yang merasa ada sesuatu yang tidak beres di lantai atas, mencoba untuk mencari tahu tentang kejadian yang sebenarnya.


Apalagi saat terdengar keributan dari arah kamar Sekar. Ada suara kedua anak perempuannya yang sedang bertengkar dan membahas sesuatu yang tidak dia mengerti sama sekali.


__ADS_2