
"Dari mana?"
Wawan terkejut, dengan pertanyaan yang diajukan oleh istrinya, yang tiba-tiba muncul di belakang, saat dia baru saja masuk di area pangkalan barang-barang bekas milik istrinya itu.
"Emhhh, itu Mi. Aku... Aku dari luar situ aja kok," jawab Wawan , dengan suara terbata-bata. Dia merasa gugup.
Tentu saja Wawan merasa gugup juga, karena tidak pernah menyangka jika, istrinya itu akan bertanya.
Tadi, Wawan berpikir jika istrinya itu sedang pergi ke pangkalan tetangganya. Jadi tidak ada di rumah. Karena ada sesuatu yang sedang di urus oleh istrinya.
"Bertemu siapa tadi!" tanya istrinya lagi, yang seakan-akan curiga, jika Wawan sedang bertemu dengan seseorang, dan dia tidak mengetahui siapa orang tersebut.
"Maksud Mami siapa?" tanya Wawan, yang pura-pura tidak tahu, apa maksud dari pertanyaan yang diajukan oleh istrinya itu.
"Yang tadi Kamu temui lah!"
Wawan tampak pias. Dia tidak menyangka, jika istrinya itu tahu, dengan pertemuan yang dia lakukan bersama dengan anaknya, Nanda.
'Ngaku gak ya?' tanya Wawan dalam hati.
Mungkin Wawan merasa bingung. Dia merasa takut jika, istrinya itu akan marah besar, karena dia sudah berani bertemu dengan anaknya secara diam-diam, tanpa sepengetahuan dari istrinya itu.
Wawan juga merasa takut jika, setelah ini, istrinya itu tidak akan memberinya kebebasan, untuk bisa mendapatkan waktu dan juga uang, yang bisa dia berikan untuk Nanda nanti.
"Siapa tadi?" tanya istrinya lagi, mendesak agar Wawan mengakuinya dengan jujur.
"Emhhh... itu Mi, dia... dia anakku."
Akhirnya Wawan mengakui bahwa, yang baru saja dia temui tadi adalah anaknya.
"Anak? anak kandung atau anaknya selingkuhan Kamu?"
Pertanyaan yang diajukan oleh istrinya kali ini, membuat Wawan sedikit tersinggung. Dia belum pernah bermain dengan wanita lain, selama hidup bersama dengan istrinya yang ini.
"Anak kandung Mi."
Mata Wawan berkaca-kaca, saat menjelaskan pada istrinya itu, tentang anaknya, Nanda.
Wawan akhirnya menceritakan tentang keadaan rumah tangganya yang dulu, bersama dengan mamanya Nanda.
Tapi tentu saja, itu menurut versinya Wawan sendiri, dengan cerita yang sudah dia karang dan rekayasa sedemikian rupa, sehingga membuat istrinya itu semakin bersimpati kepada dirinya.
"Oh... jadi begitu ceritanya, sehingga Kamu di larang mantan istri dan mertuamu, untuk bertemu dengan anak Kamu sendiri."
Istrinya Wawan, tentu saja bersimpati kepadanya, setelah mendengar penjelasan dan cerita yang disampaikan oleh Wawan.
Dan Wawan, tentu merasa senang dan tersenyum dalam hati, karena berhasil membuat istrinya itu percaya dan tidak menyalahkan dirinya dalam gagalnya membina hubungan rumah tangga di pernikahannya yang dulu.
"Makanya Mi, Aku ingin dekat dengan anakku itu. Sekarang dia sudah besar, dan pasti akan tahu mana yang sebenarnya baik, atau cuma pura-pura baik. Iya kan Mi?"
__ADS_1
Istrinya Wawan, hanya mengangguk-angguk saja. Dan itu membuat Wawan sedikit lebih lega, karena istrinya mempercayai, apa yang dikatakan tadi.
"Itu memang sudah benar. Kamu memang harus membiayai anakmu. Karena bagaimanapun, dia adalah anak kandungmu sendiri."
Perkataan yang diucapkan oleh istrinya itu, membuat Wawan semakin besar kepala. Senyuman kebahagiaan terpancar dengan jelas di wajahnya.
"Terima kasih Mi. Aku sayang sama Mami yang pengertian. Sekali lagi terima kasih Mi."
Wawan memeluk istrinya itu, dengan penuh semangat. Dia tidak merasa malu, untuk menunjukkan perasaannya saat ini, karena di pangkalan milik istrinya, sudah sepi.
Semua orang sudah pulang ke rumah masing-masing, karena hari sudah berganti dengan malam.
Istrinya juga merasa senang, karena beranggapan jika, suaminya itu sudah tidak lagi sama seperti yang dikatakan oleh orang-orang di sekitarnya kemarin-kemarin.
*****
"Terima kasih Kak!"
Nanda hanya melambaikan tangan kepada Ara, yang baru saja dia turunkan di depan rumah. Dia langsung putar balik, untuk pulang, karena hari memang sudah malam.
Di rumah, Anjani sedang menyiapkan makan malam. Sedangkan Anggi, berteriak sambil berjingkrak-jingkrak senang, saat melihat kedatangan kakaknya itu.
"Yeye... yeye... Kakak sudah pulang. Kakak sudah pulang!"
Anjani yang sedang berada di dapur, melongok keluar, saat Anggi berteriak-teriak dengan menyebut nama kakaknya.
"Tumben Kak?" tegur Anjani, saat melihat kedatangan Ara.
"Memang ada kegiatan di sekolah?"
Ara mengangguk mengiyakan pertanyaan yang diajukan oleh bundanya. Tapi, dia juga menceritakan tentang tadi, soal pertemuannya dengan papanya Nanda. Wawan.
"Nanda nemuin papanya lagi?" tanya Anjani, memastikan bahwa, apa yang dikatakan oleh anaknya itu benar.
Ara hanya mengangguk mengiyakan. Setelah itu, dia pamit untuk pergi ke kamar, untuk membersihkan diri.
"Kenapa Nanda menemui Wawan lagi? ada apa ya dia?"
Anjani jadi berpikir tentang Nanda, yang mulai berhubungan dengan papanya lagi. Apalagi, rencana kepindahan mamanya, ke kampung halaman Aksan, sebulan lagi.
"Apa ini ada kaitannya dengan rencana Yasmin ya?" tanya Anjani, pada dirinya sendiri.
Dia tidak bisa bertanya pada suaminya, Abimanyu, karena saat ini, Abimanyu sedang ada di Tangerang, dan baru pulang besok.
Ada tugas kantor yang harus dia kerjakan di Tangerang sana, dan itu membuatnya harus bermalam. Anjani melarang suaminya itu, untuk pulang pergi sejauh itu, mengingat kondisi tubuh suaminya, yang belum pulih benar.
Sebenarnya, Anjani melarang suaminya itu, untuk bertugas ke kantor cabang, yang tentunya jarak dari rumah lebih jauh lagi.
Tapi karena ini merupakan tugas penting, yang tidak bisa di lakukan dari rumah, serta tidak bisa diwakilkan oleh orang lain juga, akhirnya Anjani dengan berat hati, membiarkan suaminya itu untuk bertugas.
__ADS_1
Dia hanya bisa berdoa, untuk keselamatan dan kesehatan suaminya, selama bertugas dan tidak ada di rumah.
Tok tok tok!
"Kak. Kakak, udah selesai belum? ayok makan!"
Anjani memanggil Ara, yang belum juga keluar dari dalam kamar.
"Ya Bun, sebentar!"
Terdengar suara Ara, yang menyahut panggilan dari bundanya. Dan tak lama kemudian, Ara muncul dengan wajah yang sudah kembali segar, karena baru saja selesai mandi.
"Dek, ayok!"
Anjani berganti memanggil Anggi, supaya ikut makan malam juga.
Tentu saja, Anggi merasa senang, karena tiba saatnya untuk makan malam.
Tadi sore, Anggi sudah request lauk pada bundanya, untuk makan malam mereka. Dan tentunya, bundanya itu juga menyanggupi permintaan dari anaknya, Anggi.
"Hore... Ayam goreng Upin Ipin!"
Anggi berteriak dengan senang, saat melihat ayam goreng pada bagian paha.
Dan karena itu juga, Anggi memberikan nama ayam goreng tersebut dengan sebutan ayam goreng Upin Ipin.
Sama seperti film kartun kesukaan Anggi, yang sering tayang di stasiun televisi swasta. Si kembar Upin Ipin, sangat suka dengan ayam goreng pada bagian paha.
"Bunda. Anggi mau ayamnya dua ya?"
Ara melotot ke arah adiknya, saat Anggi selesai bicara.
"Adek! Itu nanti Kamu gak makan nasi, cuma makan ayam goreng udah kenyang itu," ujar Ara, menasehati adiknya. Anggi.
Tapi Anggi tetap tidak peduli. Setelah selesai mencuci tangan, Anggi langsung mengambil dua potong ayam goreng, kemudian ditaruh di piringnya sendiri.
Setelah itu, Anggi juga menyendok nasi, dengan hanya sepucuk sendok nasi saja.
"Tuh kan!"'
Ara kembali menegur kelakuan adiknya itu.
"Kak, sudah-sudah. Ayok makan," sahut Anjani, berusaha untuk melerai kedua anaknya, yang terus saja berdebat mengenai ayam goreng.
"Wekkk!"
Anggi menjulurkan lidahnya, pada kakaknya, Ara.
"Awas ya!" sahut Ara, dengan melotot ke arah adiknya.
__ADS_1
Anjani hanya bisa menghela nafas panjang, dan menggelengkan kepalanya beberapa kali, melihat tingkah kedua anaknya, Ara dan Anggi.