
Nanda menceritakan kepada Ara, bagaimana hubungannya dengan Mita yang sebenarnya. Karena pada saat ini, dia dan Mita, memang belum ada ikatan apa-apa. Masih sebatas teman dekat saja.
Dengan menghela nafas panjang, Ara membalas pesan tersebut. Dia menyarankan kepada kakak sepupunya itu, agar menjadikan Mita sebagai kekasihnya.
Ara yakin bahwa, Mita sebenarnya berharap dengan hal itu.
Tapi karena Nanda adalah orang yang sangat berhati-hati, Ara pun hanya bisa menyerahkan semua keputusan pada Nanda sendiri.
Setelah selesai berbalas pesan pada Nanda, Ara melihat jam di pergelangan tangannya.
Ternyata, setengah jam lamanya dia menunggu Awan datang. Itu artinya, sebentar lagi tunangannya itu akan tiba di depan gerbang.
Ara bangkit dari tempat duduknya, kemudian berjalan menuju ke arah depan.Dan benar saja, baru saja Ara keluar, mobil Awan tampak dari kejauhan. Membuat Ara tersenyum melihatnya.
Tin tin!
Terdengar suara klakson mobil Awan, kemudian mobil tersebut berhenti tepat di depan Ara.
"Yuk!"
Awan membuka pintu mobil dari dalam. Ara masuk dan mobil kembali berjalan membelah jalanan Atlanta.
"Sorry Ra. Tadi, Kakak ada metting. Dan handphone ada di ruangan kerja."
Ara hanya menanggapi dengan mengangguk saja.
"Ngambek ini?" tanya Awan, yang melihat reaksi Ara hanya mengangguk. Tanpa mengeluarkan sepatah katapun.
"Permohonan ijin Ara di tolak Kak." Ara mengatakan apa yang terjadi tadi di ruang office kampus, tanpa bermaksud untuk menjawab pertanyaan dari Awan.
"Oh..."
Hanya mulut Awan yang membola, menangapi apa yang dikatakan oleh Ara. Sekarang dia tahu, apa yang menyebabkan tunangannya itu terlihat kesal.
Tapi tentu saja, apa yang tadi dia katakan menambah rasa kesal yang datang di hatinya Ara juga.
Bibir Ara jadi tambah mengerucut, karena kesal. Tapi ini justru membuat Awan tertawa senang. Karena bisa melihat Ara yang sedang dalam keadaan seperti ini.
"Ihsss, apa sih Kak?"
Ara jadi merasa sangat tidak nyaman, karena tahu jika, Awan mentertawakan dirinya. Yang pada saat ini bersikap seperti anak kecil.
"Gak apa-apa. Lucu aja," jawab Awan, dengan melirik sekilas ke arah Ara.
"Emang badut?" sahut Ara dan dongkol.
"Hahaha..."
__ADS_1
Tawa Awan bergema. Dengan satu tangannya, yang mengacak rambut Ara dengan asal.
Tentu saja, ini justru menambah rasa kesal di dalam hatinya Ara. Tapi dia juga merasa senang. Karena perlakuan Awan yang mirip dengan ayahnya, Abimanyu.
"Mau langsung pulang apa ke mana dulu?" tanya Awan, di saat melihat Ara jauh lebih baik dan tidak lagi terlihat dongkol.
"Memang Kakak gak balik kantor?"
"Gak. Semua pekerjaan sudah Kakak selesaikan tadi. Sengaja mau menemani Kamu sore ini."
Ara langsung tersenyum senang, mendengar jawaban yang diberikan oleh Awan.
Tapi, Ara juga bingung. Mau ke tempat mana yang bisa membuat hatinya tenang dan melupakan kekecewaannya yang tadi di kampus.
Ara sangat tahu, jika Atlanta bukan Bali atau Nusa Tenggara, dengan destinasi pariwisata yang sangat cantik dan nyaman.
Karena dalam beberapa tahun terakhir, Atlanta telah menjadi pusat ekonomi dan budaya utama dan pusat lalu lintas udara yang penting. Bisnis internasional yang terkenal, termasuk Coca-Cola dan CNN, memiliki kantor pusat mereka di sini.
Jadi jangan berharap untuk menemukan kota selatan yang romantis, tetapi lebih merupakan kota Amerika yang besar, dengan pesona selatan dan banyak hal untuk dilihat dan dilakukan. Tempat-tempat wisatanya berkisar dari seni hingga olah raga dan mencakup tempat-tempat bersejarah, museum, dan taman.
Dan akhirnya, Ara memilih untuk mengajak Awan pergi ke museum Coca-Cola.
Museum itu bernama World of Coca-Cola yang terletak di Atlanta, Georgia, AS.
Museum ini didedikasikan sepenuhnya untuk penggemar Coca-Cola. Di sana pengunjung dapat melihat pameran mengenai sejarah minuman bersoda itu, perannya dalam budaya pop, dan proses pengemasannya.
Mungkin jika pada jaman pewayangan Coca-Cola sudah diproduksi, para tokoh di pewayangan juga menjadi orang-orang yang mengkonsumsinya minuman pop itu.
Tentu ini ada ilmu dan teknis pemasaran yang sangat cantik.
"Yakin ke sana?"
Awan menghentikan mobilnya di pinggir jalan, yang dikhususkan untuk berhenti sejenak. Dia ingin memastikan bahwa, Ara tidak salah memilih tujuannya.
Tapi ternyata Ara, mengangguk dengan pasti. Menjawab pertanyaan Awan yang tadi.
"Ok. Siap me princes!" Awan kembali menghidupkan mesin mobil, dan bersiap untuk menjalankannya lagi.
Ara melihat ke arah Awan, yang sedang menatapnya. Keduanya, sama-sama tertawa senang. Di dalam mobil yang membawa mereka ke arah museum Coca-Cola, yang tadi disebutkan oleh Ara sendiri.
*****
Anggi pulang di antar oleh Ahmed. Karena Anggi tidak mau dititipi Ahmed, dengan kue buatannya tadi.
Dan sekarang, mereka berdua sudah berada di depan pintu rumah Anggi.
Tet tet tet!
__ADS_1
Anggi memencet bel pintu rumahnya. Sedangkan Ahmed, menunggu di belakangnya.
Tak lama kemudian, Anjani membuka pintu rumah.
"Adek."
"Lho, sama Ahmed juga. Ayok masuk-masuk!"
Anjani bertanya, karena dia sudah tidak lagi mengajari temannya Anggi itu, sejak dua minggu yang lalu. Dengan pelajaran memasak, atas permintaan dari Ahmed sendiri.
"Iya nih Bun. Dia mau pamer, jika sudah bisa buat kue khas Indonesia." Anggi menjawab sambil berlalu menuju ke arah tempat duduk.
"Oh, bagus dong itu," sahut Anjani, dengan mempersilahkan pada Ahmed untuk duduk juga.
"Ayo duduk Nak Ahmed!"
Ahmed mengangguk mengiyakan ajakan Anjani. Setelah duduk, dia menyerahkan paper bag yang tadi dia bawa.
"Ini kue buatan i Tante. Coba Tante, terus kasih nilai. Soalnya, kue ini kue pertama yang i buat, tanpa didampingi oleh Tante." Ahmed meminta pada Anjani, untuk mencicipi kue putri ayu yang dia buat tadi.
Anjani menerima paper bag tersebut, kemudian membukanya.
Di dalam paper bag tersebut, ada kotak makan berukuran sedang, yang berisi kue-kue putri ayu. Yang tadi diceritakan oleh Ahmed, jika itu adalah kue buatannya sendiri.
Dengan tersenyum lebar, Anjani membuka kotak makan tersebut. Dia mengambil satu kue yang ada di dalamnya.
Perlahan-lahan, Anjani menggigit kue putri ayu yang berwarna hijau. Sama seperti warna daun, dari aroma daun pandan yang tercium dari kue tersebut.
"Hemmm..."
Anjani menguyah kue tersebut dengan tersenyum puas. Rasanya juga enak, dan tidak terlalu manis. Pas untuk lidah Anjani.
"Enak."
Kata pertama yang keluar dari mulut Anjani, untuk menilai kue buatan Ahmed.
Mendengar kata enak, Ahmed tersenyum senang. Dia ingin mendengar apa yang akan dikatakan lagi oleh guru dadakannya itu.
"Ini enak Nak Ahmed. Kamu sukses membuat kue ini," ujar Anjani memberikan gambaran tentang kue yang saat ini dia makan. Kue putri ayu buatan Ahmed.
Dari arah samping, muncul Abimanyu yang baru saja keluar dari dalam kamar.
"Apa Bun itu?" tanya Abimanyu, yang melihat istrinya sedang memakan kue.
"Ini lho Yah, kue buatan calon mantu!"
"Bunda!"
__ADS_1
Anggi langsung berteriak kaget, di saat bundanya menyebutkan Ahmed sebagai calon menantunya.