
Rumah mama Amel sepi. Dari luar, tampak tidak berpenghuni, meskipun terang benderang dan megah dari luar.
Mobil yang membawa Elang pulang ke rumahnya, memasuki halaman rumah. Dia segera turun, begitu mobil berhenti.
"Tuan. Tuan, kita sudah sampai," panggil pak supir, membangunkan Elang.
"Oh, baik Pak. Terima kasih." Elang terbangun dan merapikan pakaian, kemudian bersiap turun dari mobil.
"Bapak bisa tunggu di paviliun ya!" kata Elang, pada supirnya.
"Iya Tuan," jawab pak supir, dengan mengangguk patuh.
Elang turun, kemudian berjalan masuk ke dalam rumah. Dia mencari keberadaan mama Amel, dan juga papa Ryan.
"Ma, Pa!" panggil Elang, karena tidak siapa-siapa di dalam rumahnya itu.
"Kok sepi, pada kemana ya?" tanya Elang pada dirinya sendiri.
Beberapa saat kemudian, mama Amel muncul dari anak tangga. Dia membawa beberapa berkas di tangan.
"Mama pikir, Kamu baru akan datang besok-besok. Mama belum menyiapkan semuanya Lang."
Perkataan mama Amel, membuat Elang menyipitkan matanya untuk mencoba menerka apa arti dari perkataan mamanya itu.
"Maksud Mama apa?" tanya Elang, setelah tidak tahu lagi harus memikirkan apa, dengan maksud dari perkataan mama Amel.
"Tidak apa-apa. Sebenarnya, Mama sudah lama ingin membicarakan tentang masalah ini pada Kamu, tapi karena melihat Kamu yang begitu bahagia ada bersama dengan Istrimu yang sekarang, Mama tidak tega mengatakannya. Lagipula, Mama pikir dia akan berubah jika sudah menjadi istri Kamu, tapi ternyata tidak. Dia justru semakin menjadi-jadi, ditambah dengan adanya Anjani kemarin. Itulah sebabnya, Anjani pergi dari sisi Kamu. Dia tidak ingin melihat Kamu lemah dan tidak bisa berbuat apa-apa dalam keadaan seperti sekarang ini."
"Ma. Ini masalah apa sih? Elang benar-benar tidak mengerti apa maksud dari perkataan Mama tadi," tanya Elang, meminta penjelasan dari mamanya.
__ADS_1
Papa Ryan, datang dari arah anak tangga. Sepertinya, dia baru saja menerima panggilan telpon, entah dari siapa, karena handphone yang dia pegang, masih dalam keadaan menyala, dan belum padam layar sentuhnya.
"Ma. Jelaskan saja pada Elang. Ini Papa baru saja di telpon Abimanyu, jika dia sudah menemukan beberapa rekening yang tidak terdaftar sebagai rekening perusahaan atau instansi terkait yang berhubungan dengan perusahaan milik Elang."
Perkataan papa Ryan, membuat Elang semakin bingung. Dia belum mengetahui, kemana sebenarnya arah pembicaraan mereka saat ini.
"Pa, Ma. Bisa tidak bicara lebih jelas lagi, biar Elang ty merasa bingung dengan semua perkataan Mama dan Papa juga."
Papa Ryan, yang sekarang sudah duduk di sofa, di samping istrinya, mama Amel, menghela nafas panjang, sebelum akhirnya menceritakan semuanya pada Elang. Dia ingin, Elang tahu apa yang sedang terjadi dan siapa yang sebenarnya menjadi musuhnya selama ini. Dia bukan orang baru dan juga bukan orang jauh.
Elang, mendengarkan semua cerita dari papa dan mamanya. Dia tidak tahu, harus berkata apa setelah mendengar cerita itu. Dia juga tidak percaya begitu saja, karena dia tahu, jika kedua orang tuanya, memang sudah tidak suka sedari awal, saat dia mau membuat usaha sendiri.
"Apa Papa dan Mama bisa buktikan, jika apa yang Mama dan Papa bilang itu benar, bisakah Elang lihat secara nyata?" tanya Elang, mencoba menyakinkan dirinya sendiri dengan apa yang sudah dia dengar tadi, dari papa dan mamanya juga.
"Buka mata Kamu Lang. Lihat, apa yang sebenarnya dan buktikan jika apa yang kami katakan tadi itu benar. Kamu bisa lihat beberapa berkas ini. Ini adalah bukti yang sudah di rangkum dengan jelas sama Abimanyu."
"Jika kamu tidak bisa mengambil keputusan untuknya, biar Mama dan Papa yang melakukan. Biar dia tahu, jika orang tua Kamu ini bukan hanya sekedar orang yang sudah tua dan tidak tahu apa-apa."
Elang, memejamkan matanya untuk membuang rasa tidak percaya yang dia rasakan. Tapi, semua bukti sudah ada. Dia tidak mungkin mengelak lagi, jika sudah ada berkas-berkas ini juga.
"Buatkan keputusan yang tepat. Mama harap kali ini, Kamu bisa menjadi seorang yang tegas demi masa depan dan juga keberhasilanmu sendiri. Kami hanya membantu untuk mengawasi, karena tidak ada orang tua yang rela, jika anaknya ada dalam keadaan yang tidak baik-baik saja. Apalagi sudah ditipu selama bertahun-tahun juga. Mama sebenarnya sudah gemes ingin kasih tahu Kamu, tapi Anjani selalu melarang Mama."
"Jani tahu masalah ini Ma?" tanya Elang kaget. Dia tidak pernah menyangka, jika Anjani, mantan istrinya itu tahu lebih dari pada dirinya sendiri.
"Iya. Jani tahu, tapi dia hanya diam. Dia tidak mau jika Kamu salah sangka." Papa Ryan, ganti yang menjawab pertanyaan Elang.
Kini, hanya ada penyesalan yang dirasakan oleh Elang. Dia juga tidak mungkin bisa, meminta pada Anjani, agar mau kembali lagi padanya.
*****
__ADS_1
Elang sampai di rumah saat malam sudah larut. Adhisti, tertidur pulas, begitu juga dengan Awan yang berada di box bayi.
Elang, masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri terlebih dahulu. Dia ingin bisa secepatnya tidur, agar bisa melupakan semua cerita dari mama dan papanya tadi. Dia berharap, jika semua ini adalah mimpi yang tak pernah ada dalam kehidupan nyatanya.
Setelah selesai mandi, Elang tidak langsung menyusul Andhisti tidur. Dia mendekat ke tempat tidur anaknya, Awan, yang ada di box bayi.
"Sayang. Tumbuh sehat dan kuat ya. Jangan hiraukan apa yang terjadi di sekitar Kamu saat ini. Ayah dan bunda akan membuat semuanya baik-baik saja kedepannya. Pasti kami bisa, demi Kamu," kata Elang pada anaknya, Awan, yang masih berumur hitungan mingu.
Dengan hati-hati, Elang mencium kedua pipi anaknya, dan juga mengelus-elus kepala Awan, yang tidak ada rambutnya, karena baru saja di cukur beberapa hari kemarin saat acara selamatan.
Awan mengeliat beberapa kali. Dia seperti ikut merasa kegelisan, yang sedang dirasakan ayahnya, Elang.
"Eak... oek... oek...!"
Akhirnya, Awan terbangun. Dia menangis dan mencoba mencari-cari sesuatu yang bisa dia pegang.
"Awan. Lho Mas, sudah pulang?" tanya Adhisti, yang terbangun dari tidurnya, karena mendengar suara tangisan Awan. Adhisti, jadi kaget, saat melihat keberadaan suaminya yang ternyata sudah berada di rumah.
"Iya. Baru saja selesai mandi, dan lihat Awan. Malah jadi bangun kan dianya," jawab Elang, memberitahu Adhisti dengan kegiatannya barusan.
"Oh, Aku pikir belum pulang. Kenapa tidak bangunin Aku Mas?" tanya Adhisti lagi, merasa bersalah karena tidak tahu jika Elang sudah pulang ke rumah.
"Tidak apa-apa. Kamu pasti juga capek, mengurus Awan yang masih bayi ini."
Elang, mengelus kepala Awan, yang sedang menyusu pada Andhisti.
"Maaf ya Mas, kalau Aku tidak dengar tadi, saat Mas pulang," kata Adhisti meminta maaf.
"Iya, tidak apa-apa. Kamu bisa tidur lagi, setelah Awan tidur. Aku mau ke ruang kerja sebentar. Ada yang mau Aku selesaikan dulu," pamit Elang pada Andhisti, yang masih menyusui anaknya, Awan.
__ADS_1