Dia Milikku ( Berbagi Cinta )

Dia Milikku ( Berbagi Cinta )
Ada Banyak Duka


__ADS_3

Pernikahan Anjani dan Abimanyu akan segera dilaksanakan dua hari ke depan. Sekarang, Anjani sedang bersiap-siap untuk pergi ke makam ayah dan ibunya. Dia ingin berziarah, sekaligus meminta ijin dan restu mereka berdua, meskipun hanya lewat doa.


Di rumah Anjani, sudah ada beberapa saudara yang datang untuk membantu dalam persiapan pernikahannya. Membuat kue, dan makanan untuk hantaran dan juga hidangan bagi tamu-tamu yang datang nantinya.


"Om. Jani tinggal dulu ya, mau pergi ke makam ayah dan ibu dulu," pamit Anjani pada saudaranya yang sudah sering membantu dirinya.


"Iya hati-hati. kamu mau Om antar?" tanya Om Anjani, menawarinya untuk diantarkan ke area makam.


"Tidak usah Om, terima kasih. Jani bisa naik ojek di depan gang sana. Atau yang kebetulan lewat didepan juga ada banyak kok," jawab Anjani, menolak tawaran Om_nya itu.


Akhirnya, Anjani berjalan kaki keluar dari rumah, setelah om_nya mengangguk mengiyakan. Kebetulan, memang ada tukang ojek yang lewat depan rumah.


"Bang ojek!" teriak Anjani, memangil tukang ojek yang lewat.


"Ke area makam ya Bang," kata Anjani memberitahu, setelah dia naik ke atas boncengan motor.


"Iya Teh," jawab tukang ojek sambil mengangguk.


Setelah tiba di area pemakaman, Anjani turun dan membayar. "Terima kasih ya Bang," ucap Anjani, sambil mengangguk dan tersenyum tipis.


"Sama-sama Teh," jawab tukang ojek, kemudian memutar motornya, dan berlalu dari area pemakaman tersebut.


Anjani, berjalan di antara deretan batu nisan yang tertata rapi, seperti sebuah barisan. Dia, yang sudah membawa keranjang bunga dan dua botol air, langsung menuju ke makam kedua orang tuanya. Makam seduanya, memang disandingkan, sehingga Anjani tidak perlu lagi mencari salah satunya.


Anjani berjongkok, begitu sampai di antara makam ayah dan ibunya. Dia mengusap nisan ibunya terlebih dahulu, baru kemudian berganti dengan nisan ayahnya.


Anjani berdoa untuk keduanya, agar di berikan ketenangan dan tempat yang baik di sisi Tuhannya.


Setelah itu, Anjani menaburkan bunga di permukaan makam ayah dan juga ibunya, kemudian menyiramnya dengan air.


"Ayah, ibu. Semoga kalian berdua tetap tenang disana. Jani, mau memberi kabar, kalau dua hari lagi akan menikah dengan mas Abimanyu. Dia teman Jani, sewaktu masih kuliah dulu. Ayah, maaf. Jani tidak bisa melanjutkan pernikahan yang ayah wasiatkan saat Jani koma. Ini untuk kebahagiaan semuanya, bukan hanya untuk Jani, atau satu orang saja. Maaf yah. Nanti, setelah Jani dan mas Abimanyu sudah resmi menikah, Jani akan ajak dia kemari."


Setelah itu, Anjani kembali berdoa untuk ketenangan ayah dan ibunya. Tak lama, dia pun beranjak dari tempatnya dan berjalan untuk kembali pulang.


"Jani," sapa seseorang yang tidak Anjani kenal.


"Iya, siapa ya?" tanya Anjani dengan berusaha untuk mengingat-ingat, siapa orang yang ada di depannya saat ini.


"Aku Risma, teman sekelas waktu SMA dulu," jawab Risma, orang yang tadi menegur Anjani.


"Risma... Risma yang katanya sekarang ini, kerja jadi guru di SMA itu juga?" tanya Anjani memastikan.

__ADS_1


Risma mengangguk, sambil tersenyum dan merentangkan kedua tangannya untuk menyambut Anjani ke dalam pelukannya.


"Risma.... Apa kabar?" tanya Anjani, begitu mereka berdua saling berpelukan.


"Baik. Kamu sendiri apa kabar? Kenapa tidak pernah datang, saat ada acara reuni?" tanya Risma lagi, kemudian melepaskan pelukannya.


"Kamu kan tahu sendiri Ris. Aku tidak mudah bergaul seperti Kamu dan juga teman yang lain. Maaf ya," jawab Anjani, dengan wajah yang serba salah. Dia jadi tidak nyaman dengan pertanyaan Risma.


"Oh iya juga ya. Eh, Kamu dari makam ibu Kamu?" tanya Risma, yang memang sudah tahu, jika ibunya Anjani sudah meninggal dunia.


"Iya, dari makam ibu dan juga ayah."


"Lho, ayah Kamu sudah meninggal?" tanya Risma kaget.


"Iya, ayah meninggal saat kecelakaan yang terjadi denganku juga. Ah, sudah. Tidak usah dibahas lagi. Kamu mau ke mana?" tanya Anjani, mengalihkan perhatian Risma, karena tidak ingin membahas kecelakaan, yang membuatnya harus menjadi istri siri dari seorang Elang Samudra.


"Aku mau ke makam suamiku," jawab Risma sendu.


"Su... suami?" tanya Anjani kaget. Dia tidak pernah tahu, jika Risma sudah menikah dan sekarang justru suaminya itu, sudah meninggal dunia juga.


"Iya. Dia kena serangan jantung saat jatuh waktu naik tangga."


"Yang sabar ya Risma. Maaf, Aku tidak tahu," kata Anjani, sambil mengusap-usap lengan temannya itu.


"Oh ya Jani, Kamu sudah menikah?" tanya Risma, mengalihkan perbincangan mereka, agar tidak lagi bersedih.


"Sudah, eh maksudnya belum. Baru mau menikah, dua hari lagi."


"Oh ya? Wah, selamat ya, semoga lancar dan langgeng. Nanti buruan dapat anak juga. Oh iya, anakku sudah berumur dua tahun. sekarang ada di rumah, sama neneknya."


Anjani tersenyum, mendengar perkataan Risma tentang anak-anak. Dia jadi teringat Awan, anaknya Elang dan Adhisti.


"Awan, sehat-sehat ya nak," doa Anjani, untuk Awan, yang saat ini sudah berumur hampir dua tahun juga.


*****


Sepanjang perjalanan, Anjani jadi berpikir bahwa semua orang juga mengalami kesedihan, meskipun dalam keadaan yang berbeda. Tidak hanya dirinya saja yang merasa sedih, karena ditinggal oleh ayahnya, tapi Risma juga lebih bersedih lagi, karena suaminya sudah tidak bisa menemaninya sepanjang hidup ini, untuk membesarkan buah hati mereka, yang sekarang masih berumur dua tahun.


"Semoga, kamu bisa mendapatkan kebahagiaan Risma," doa Anjani, saat teringat dengan temannya itu.


Drettt

__ADS_1


Drettt


Drettt


Handphone milik Anjani bergetar di dalam tas. Anjani, yang baru saja keluar dari area pemakaman, berhenti terlebih dahulu untuk melihat, siapa yang sedang menelponnya saat ini.


..."Mas."...


Ternyata yang sedang menelpon Anjani saat ini adalah, Abimanyu, calon suaminya, dua hari lagi.


"Kamu ada dimana?" tanya Abimanyu, saat mendengar suara-suara kendaraan yang sedang berlalu lalang.


..."Jani ada di area pemakaman. Ini sudah mau pulang kok mas." ...


..."Jangan suka pergi-pergi sendiri. Apalagi, ini sudah mendekati waktunya. Aku tidak mau, jika terjadi sesuatu padamu, saat tidak ada." ...


..."Iya maaf mas. Jani, pulang dulu ya. Itu, ada ojek lewat."...


..."Iya hati-hati. Bilang pada tukang ojeknya, pelan-pelan saja!" ...


..."Iya mas."...


Klik!


Sambungan telpon di tutup. Anjani, memangil tukang ojek, yang kebetulan lewat di depan area pemakaman tersebut.


"Bang, Bang!"


"Ojek Teh?"


"Iya Bang. Ke kafe rumah ya," jawab Anjani, memberitahu tujuannya.


"Iya Teh."


Anjani bersyukur karena, kafe rumah miliknya, sudah cukup dikenal masyarakat, sehingga dia perlu repot-repot menjelaskan alamat rumahnya sendiri.


Tak lama, Anjani sampai di rumah.


"Lho, kafenya tutup Teh," kata tukang ojek, yang menyangka bahwa, Anjani datang sebagai pelanggan.


"Iya Bang. Memang tutup, karena dua hari lagi yang punya menikah, jadi kafenya tutup untuk sementara waktu."

__ADS_1


Tukang ojek, melihat Anjani dengan wajah bingung. Tukang ojek, tidak berkata apa-apa lagi, dia hanya menerima ongkos yang diberikan oleh Anjani sambil mengangguk, "terima kasih Teh."


"Iya sama-sama Bang," jawab Anjani, kemudian masuk ke halaman rumahnya, yang memang menjadi kafe untuk usahanya selama ini.


__ADS_2