
Usai sarapan pagi, ibu Sofie berangkat ke kantor terlebih dahulu, tanpa berpamitan pada Anjani. Dia cuma berpesan pada Yasmin, supaya berhati-hati di rumah. Dia berangkat lebih awal, agar tidak terjebak dalam kemacetan lalu lintas Jakarta.
Sekar juga berangkat ke kampus lebih awal. Sedangkan ayah Edi, baru pergi bersama dengan Abimanyu, setelah semuanya pergi, kecuali Yasmin.
Risma, yang tadi sudah berpamitan untuk pulang, berbincang-bincang dengan Anjani terlebih dahulu, sambil menunggu kedatangan taksi, yang tadi sudah di pesan.
Sebenarnya, tadi ayah Edi dan Abimanyu, sudah menawari Risma, agar bisa mengantar pulang ke rumahnya sendiri. Tapi sepertinya Risma tidak enak hati pada Anjani, dan takut jika kedua laki-laki itu akan terlambat dengan tujuan mereka. Setahu Risma, mereka berdua akan mencari keberadaan pacarnya Yasmin.
Saat Risma dan Anjani mengobrol di ruang tamu, Yasmin berteriak kencang meminta tolong. "Aaa.... tolong!"
Anjani dan Risma, tentu sangat kaget mendengar teriakan Yasmin. Mereka pikir, telah terjadi sesuatu pada Yasmin yang sedang hamil.
Tapi ternyata, saat Anjani sampai di tempat Yasmin berada, tidak ada sesuatu yang terjadi. Dia bingung, dengan teriak Yasmin tadi.
"Ada apa Yasmin. Kenapa berteriak?" tanya Anjani, ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi pada adik iparnya itu.
Risma datang dengan terseok-seok, karena kakinya masih pincang, walaupun sudah tidak separah waktu itu. Dia melihat Yasmin yang tidak kenapa-kenapa, dan tetap baik-baik saja.
"Yasmin kenapa?" tanya Risma. Dia juga ingin tahu, apa yang terjadi pada anaknya ibu Sofie yang satu ini. Menurut Risma, Yasmin sepertinya tidak begitu suka dengan adanya Anjani. Tapi dia tidak tahu alasan yang sebenarnya.
"Tadi ada kecoa lewat," jawab Yasmin asal.
Bibi pembantu, tergopoh-gopoh datang dari arah belakang. Dia kaget saat menjemur pakaian, mendengar teriakan anak majikan ceweknya yang sedikit manja itu.
"Ada apa Non?" tanya bibi pembantu, ingin tahu.
"Ada kecoa Bi, kata Yasmin," jawab Anjani, mewakili adik iparnya yang hanya diam saja.
"Di rumah ini, sepertinya tidak pernah ada kecoa. Bibi tidak pernah ketemu. Kan ada obat serangga yang dibeli den Abimanyu. Obat serangga itu, manjur kok, karena selama Bibi pakai obat itu, tidak pernah lagi ada serangga-serangga seperti kecoa."
Bibi pembantu, menjelaskan tentang keadaan rumah, yang selalu dia bersihkan setiap hari.
"Nyatanya, tadi Yasmin lihat," jawab Yasmin ngeyel.
"Ya sudah-sudah. Mungkin kecoa lewat saja Bi. Mau pergi keluar," kata Anjani menengahi.
Bibi pembantu mengangguk, mendengar perkataan Anjani. Dia akhirnya kembali, untuk melanjutkan pekerjaannya yang tadi, menjemur pakaian. Anjani dan Risma, juga kembali ke ruang tamu, melanjutkan obrolan mereka yang terpotong oleh teriakan Yasmin.
"Jani, Kamu sepertinya harus berhati-hati, dengan adik ipar Kamu yang satu itu." Risma memperingatkan Anjani, agar berhati-hati terhadap Yasmin.
"Kenapa?" tanya Anjani bingung dengan perkataan Risma tentang Yasmin.
__ADS_1
"Sepertinya dia tidak suka dengan kehadiran dirimu di sini," jawab Risma memberitahu.
Anjani menggeleng cepat. Dia juga membantah penilaian Risma tentang adik iparnya, Yasmin. "Itu mungkin hormon kehamilan Yasmin saja yang membuatnya seperti ini. Sama seperti Aku, yang selalu merasa khawatir jika tidak ada kabar dari mas Abi."
Mendengar jawaban dari Anjani, Risma mengerutkan keningnya memikirkan apa arti perkataan temannya itu. Kemudian Risma bertanya untuk memastikan tebakannya, "maksud Kamu, sekarang ini Kamu sedang hamil?"
Anjani mengangguk samar. Tapi dengan cepat Anjani menutup mulutnya sendiri, dengan jari telunjuk, agar Risma diam saja.
"Kenapa?" tanya Risma bingung dengan sikap Anjani.
"Aku belum kasih tahu semua orang di sini. Cuma mas Abi saja yang tahu. Aku ingin membuat kejutan, tapi dalam keadaan Yasmin yang seperti itu, Aku tidak mungkin berbahagia di atas kebingungan ayah dan ibu juga kan?"
Anjani sepertinya bingung. Dia ingin memberitahu tentang kehamilannya itu, tapi takut membuat suasana jadi tidak enak. Apalagi dia tahu, jika ibu mertuanya, tidak begitu suka dengan keberadaannya, menjadi istri anaknya, Abimanyu.
Tin tin!
Terdengar suara klakson mobil. Sepertinya itu taksi yang dipesan Risma, sudah datang.
Anjani melihat ke luar rumah, dan ternyata benar. Itu adalah taksi pesanan Risma.
Risma juga ikut keluar dengan membawa tas besar. Tapi, tentu dia kerepotan karena jalannya yang masih pincang.
"Sini, biar Aku saja yang bawa Risma," kata Anjani, meminta tas yang diseret Risma.
Risma tidak membiarkan temannya itu membawakan tasnya. Dia tidak mau merepotkan Anjani, yang dalam keadaan hamil muda.
Untungnya, supir taksi turun dan membantu Risma membawa tasnya, kemudian menaruh tas tersebut ke bagasi taksi.
Bibi datang. Dia membawa tas kecil, yang tertinggal di ruang tamu.
"Non, ini ketinggalan!" teriak bibi dengan berjalan cepat ke arah Anjani dan Risma.
"Oh iya Bi, terima kasih ya," ucap Risma pada bibi pembantu.
Bibi hanya mengangguk sambil tersenyum dan ikut menunggu Risma masuk ke dalam taksi, setelah berpamitan pada Anjani dan juga dirinya.
"Hati-hati Risma," ucap Anjani, setelah taksi mulai berjalan meninggalkan halaman rumah.
Bibi juga mengatakan hal yang sama seperti yang Anjani katakan.
"Non, Bibi mau membuat puding. Non mau rasa apa?" tanya bibi pembantu, yang tadi secara tidak sengaja, mendengar perkataan Risma tentang kehamilan menantu majikannya ini.
__ADS_1
"Apa saja Bi. Nanti kalau Anjani mau, pasti di makan kok," jawab Anjani tersenyum.
Mereka berdua pun, masuk ke dalam rumah bersama-sama.
Di saat bibi sibuk di dapur, Anjani membantunya menyapu lantai ruang tengah, yang kata Yasmin ada kecoa_nya.
Anjani, juga membersihkan setiap sudut-sudut sofa dan di bagian bawah juga, supaya bersih dan tidak ada serangga yang datang.
Tapi, Yasmin justru mendapat ide untuk membuat pekerjaan Anjani sia-sia. Dia menaburkan remahan camilan-camilan yang dia makan di lantai, supaya semut dan serangga datang. Dia juga membiarkan bungkus-bungkus makanan tersebut tergeletak di atas meja, bahkan ada yang jatuh ke lantai juga. Dia tidak berniat untuk memungutnya dan malah pergi begitu saja. Yasmin berjalan, meninggalkan semua sampahnya dan pergi ke kamarnya sendiri.
"Terima kasih ya Non, sudah bantu Bibi menyapu. Biasanya bibi nyapu sebentar lagi Non. Kalau semua orang sudah tidak ada di rumah. Tadi Bibi pikir, non Yasmin juga akan pergi juga, tapi ternyata dia tidak pergi ke kampus seperti biasanya ya."
Bibi pembantu, mengatakan kebiasaan waktunya bekerja di rumah. Tapi, karena ada Anjani, dia jadi terbantu dengan pekerjaan ringan yang dikerjakan Anjani.
"Tidak apa-apa Bi. Cuma pekerjaan nyapu saja kok," ujar Anjani dengan tersenyum.
"Oh ya, non belum ngidam? maksudnya Non mau makan apa gitu? Biasanya orang yang hamil ingin makan sesuatu yang lain dan tidak biasa lho!"
Anjani mengerutkan keningnya, mendengar pertanyaan dari bibi pembantu. Dia merasa tidak mengatakan apa-apa padanya tadi.
"Bibi tahu dari mana Anjani hamil?" tanya Anjani memastikan bahwa dia memang tidak mengatakannya tadi.
"Hehehe... maaf Non. Tadi tidak sengaja Bibi dengar saat Non berbincang-bincang dengan ibu Risma."
"Oh begitu ya, hihihi... belum Bi. Jani belum ngidam apa-apa kok saat ini. Semoga saja ngidamnya tidak yang aneh-aneh ya, kasihan mas Abi nanti kalau repot."
Bibi pembantu dan Anjani tidak tahu, jika obrolan mereka itu, didengar oleh Yasmin, yang baru saja datang, untuk mengambil minuman.
"Oh, dia juga sedang hamil. Awas saja, kalau cari perhatian dengan kehamilannya itu," kata Yasmin dalam hati.
"Ehem!"
"Eh, Yasmin!" Anjani kaget saat melihat kedatangan Yasmin yang sedang memegang gelas di tangan.
"Apa? cuma mau ambil air kok."
Anjani meringis, mendengar jawaban Yasmin yang terdengar ketus.
Bibi pembantu hanya bisa menggeleng, mendengar jawaban dari Yasmin, yang tidak ada sopan santunnya sama sekali pada kakak iparnya itu.
Setelah Yasmin pergi dari dapur, bibi pembantu berkata, "yang sabar ya Non. Sudah biasa hal ini terjadi, antara ipar dengan ipar. Sama seperti kebanyakan sinetron yang ada di televisi, yang sering bibi tonton."
__ADS_1
Anjani, hanya tersenyum tipis mendengar perkataan bibi pembantu yang ada benarnya. Dia juga sering mendengar permasalahan yang sama, seperti yang dia alami ini, dari beberapa orang yang sedang mengobrol di kafe miliknya, atau beberapa teman yang mengeluhkan tentang ipar-ipar mereka.
Anjani jadi tahu, jika cerita itu memang ada dan tidak hanya sebuah karangan yang di buat untuk sebuah dongeng, atau sekedar untuk perbincangan yang hangat.