Dia Milikku ( Berbagi Cinta )

Dia Milikku ( Berbagi Cinta )
Belum Saatnya


__ADS_3

"Kamu gak kegerahan pakai handuk piyama buat tidur?" tanya Awan, yang melihat istrinya itu masih mengunakan piyama mandi wardrobe. Saat sedang bersiap-siap untuk tidur.


"Gak. AC kamar kan nyala," jawab Ara acuh.


Padahal, dia juga tidak merasa nyaman dengan pakaiannya saat ini.


Tapi menurutnya ini lebih baik, daripada mengunakan pakaian-pakaian yang saat ini ada di dalam kopernya. Itu sangat membuat dirinya merasa tidak nyaman sama sekali.


"Terus..."


"Sudah Kak, ayok tidur! Ara sudah sangat mengantuk. Hummh..."


Ara naik ke atas tempat tidur, dan menguap. Menandakan bahwa, dia memang benar-benar ingin cepat tidur.


Awan hanya bisa membuang nafas panjang. Dia tidak mungkin bisa meminta pada Ara, supaya bisa sedikit romantis, dalam keadaan seperti sekarang ini.


Apalagi, Awan juga menyadari bahwa, istrinya itu sedang dalam keadaan capek dan mengantuk.


"Hufhhh... ya sudah. Sini Kakak peluk. Tidur yang nyenyak ya!"


Ara hanya mengangguk, di saat tubuhnya di tarik oleh suaminya itu, agar lebih dekat dan posisi ke tengah tempat tidur.


Padahal sebenarnya, Ara sedari tadi juga dalam keadaan yang tidak nyaman. Dia masih malu dan belum terbiasa dengan Awan dalam keadaan seperti ini.


Dia juga tidak mau jika, melayani suaminya itu dalam keadaan yang tidak fit.


Itulah sebabnya, Ara mencari-cari alasan, supaya malam ini berlalu tanpa harus melakukan sesuatu yang biasanya dilakukan oleh pasangan pengantin baru. Biarlah besok-besok saja, jika dia sudah tidak lagi dalam keadaan seperti sekarang ini.


Tet tet tet!


Batu saja Ara memejamkan matanya, di dalam pelukan hangat suaminya, ada yang datang memencet bel pintu.


Awan yang baru saja terpejam, melepaskan pelukannya pada Ara. Mengucek matanya agar cepat tersadar, saat mendengar suara bel pintu.


Sama seperti yang dilakukan oleh Ara juga.


"Siapa Kak?" tanya Ara penasaran.


Awan mengambil handphone miliknya, yang ada di atas meja sebelah tempat tidur.


Jam sudah menunjukkan pukul setengah dua dini hari.


"Udah biarin aja! Jika ada urusan penting, orang itu akan memencet bel pintu lagi. Tapi jika tidak, berarti ada orang iseng yang ingin mengerjai kita," ujar Awan dengan mengembalikan handphone miliknya di atas meja.


Ara hanya mengangguk setuju, dengan apa yang dikatakan oleh Awan padanya.


Dan setelah beberapa saat kemudian, tidak ada lagi suara bel pintu berbunyi. Mungkin, orang yang ada di luar kamar mengira jika, kedua pengantin baru yang ada di dalam kamar sedang tidak ingin diganggu.


*****


Di luar kamarnya Awan.

__ADS_1


Mama Amel yang tadi memencet bel pintu, merasa tidak enak hati. Karena ternyata, cucunya itu tidak mau membukakan pintu untuknya.


Papa Ryan yang menemaninya, hanya diam dan mengangkat kedua bahunya. Kemudian berlalu menuju ke arah kamarnya sendiri. Dia tidak mau ikut campur urusan istrinya lagi, yang sedang merasa bersalah. Karena sudah mengerjai Awan dan juga Ara.


"Pa. Mereka marah sama Mama ya?"


Mama Amel mengekor suaminya, dan memberikan pertanyaan yang tidak bisa dijawab oleh papa Ryan.


"Pa!"


Mama Amel kembali memanggil suaminya, yang langsung masuk ke dalam kamar tanpa menoleh ke belakang.


Di saat keduanya sudah berada di dalam kamar, papa Ryan baru bicara.


"Ma. Tadi kan Papa sudah bilang, mereka berdua pasti tidak mau di ganggu. Mereka berdua itu pengantin baru. Masa Mama lupa, apa yang harus dilakukan?"


"Hughhh..."


Mama Amel mendengus dingin. Dia tidak tahu, apa yang harus dia katakan besok. Di saat bertemu dengan cucu-cucunya.


"Sudahlah Ma. Awan dan Ara, gak mungkin marah sama Mama. Pasti mereka berdua malah merasa sangat senang. Karena ini Mama ini, pasti membuat malam mereka menjadi lebih..."


"Ihhh, Papa!"


Mama Amel menepis tangan suaminya, di saat tangan tersebut ingin mencubit pipinya.


Dia tersenyum malu-malu, karena diingatkan oleh suaminya itu, dengan malam pertama sepasang pengantin.


Hal yang tentu saja tidak bisa dia lupakan seumur hidupnya.


Di luar rumah, terutama di dalam kamar, mama Amel adalah sosok wanita yang berwibawa, smart, dan tegas.


Dia adalah salah satu sosok pengusaha wanita yang sukses. Yang berhasil mendampingi suaminya dalam mengembangkan perusahaan mereka.


Dia disegani oleh banyak orang. Bukan hanya karyawan-karyawan yang ada di perusahaan miliknya saja. Tapi juga kolega-kolega bisnis yang mengenalnya.


Orang yang dermawan, tanpa harus dipublikasikan. Karena dia juga banyak menyalurkan dana sosial, tanpa harus merasakan kebanggaan dengan pamer ke sana sini.


Tapi di rumah, dia tetap seorang istri. Wanita yang ada di rumah, yang harus membahagiakan orang-orang yang dua sayangi juga. Terutama suami, anak dan juga cucunya.


Semua yang dia lakukan, hanyalah untuk kebahagiaan mereka semua.


Karena sejatinya, seorang wanita akan merasakan kebahagiaan. Jika melihat orang-orang yang dia sayangi tersenyum dan merasakan kebahagiaan yang sebenarnya.


Para wanita akan rela melakukan apa saja, demi untuk bisa membahagiakan dan membuat orang-orang terdekatnya selalu tersenyum.


"Sudah Ma. Tidak usah dipikirkan. Awan dan Ara pasti mengerti. Dengan maksud baik Mama."


Mama Amel mengangguk mengiyakan perkataan suaminya. Sekarang dia membalas pelukan suaminya itu, kemudian mengikuti apa yang diinginkan oleh suaminya.


Mengingat masa-masa indah, di awal pernikahan mereka berdua.

__ADS_1


Hal yang seharusnya dilakukan juga oleh Awan dan Ara. Sebagai sepasang suami istri yang baru saja menikah.


*****


Ara terbangun. Dia merasa kaget, saat merasakan ada tangan yang memeluk tubuhnya.


"Hah!"


Dia terbangun dengan cepat, kemudian menoleh ke arah yang tersebut.


"Hufhhh..."


Ara membuang nafas lega, di saat menyadari bahwa, sekarang ini dia sudah menjadi seorang istri dari Awan Samudra.


Laki-laki yang tadi memeluk tubuhnya.


"Hemmm... sudah bangun?"


Awan membuka matanya, dan tersenyum melihat Ara yang tampak kaget melihat keberadaan dirinya tadi.


Ternyata sedari tadi Awan sudah bangun. Tapi dia tidak tega membangunkan istrinya. Jadi, dia hanya kembali memeluk tubuh Ara, memberikan kenyamanan dan kehangatan. Agar Ara bisa tetap tertidur dengan nyaman.


"Kakak sudah terbangun dari tadi?" tanya Ara, yang merasa curiga.


"Hemmm..."


Awan hanya bergumam tidak jelas, karena dia memang sudah bangun tidur sejak tadi.


"Ihhh... curang!"


"Kok curang?" tanya Awan bingung, dengan apa yang dikatakan oleh istrinya itu.


"Pokoknya curang," sahut Ara lagi, dengan memberengut.


"Hahaha... malah bikin gemes!"


Awan menyahuti dengan mencubit kedua pipinya Ara. Tapi tentunya cubitan itu tidak menimbulkan rasa sakit.


"Emhhh..."


Ara pura-pura merasa kesal, dengan memasang wajah masam.


Tapi itu tidak membuat Awan melepaskan tangannya, yang sedang berada di pipinya Ara.


Dia justru menurunkan satu tangannya, untuk memegangi dagu istrinya itu.


Ara terdiam dan menahan nafas. Mendapatkan pergerakan dan perlakuan yang tidak biasanya seperti ini.


'Jangan sekarang Kak. Please jangan sekarang ya!' batin Ara takut, dengan menenangkan hati dan pikirannya sendiri.


Berbeda dengan yang ada di dalam hatinya Awan, dia tersenyum dan cekikikan sendiri.

__ADS_1


'Dasar Ara. Baru seperti ini saja sudah tidak bisa bernafas dengan normal. Hehehe...'


Padahal, Awan juga sedang menahan dirinya sendiri, agar tidak melakukan apa-apa. Karena dia merasa sangat yakin jika, Ara belum siap untuk diajaknya bercinta.


__ADS_2